My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
SEASON2(EX-LOVER) : BAB 05



Ada Keiyla di gendongannya, Valerie turun dari dalam mobil bersama dengan Zeal, menengadah memandangi bangunan pencakar langit dihadapannya, "Kenapa kita kesini, Ze..? Aku kan udah bilang, aku ingin mencari kontrakan di daerah kemarin. Kenapa kau malah membawaku kesini?"


"Kau banyak tanya, ikuti aku saja."


Langkah tertatih-tatih, Valerie mengikuti Zeal masuk kedalam gedung itu, sedangkan Miko memarkirkan mobil di basement.


Sepanjang perjalanan entah menuju kemana, Valerie hanya diam tidak bertanya lagi, mereka menaiki lift membawa mereka kelantai tujuh.


Tiba didepan sebuah unit apartemen, Zeal kemudian mengetik sebuah password agar pintu apartemen memberikan akses masuk untuk mereka berdua. "Tinggal-lah disini. Kau pasti tidak buta untuk tidak melihat kata sandi yang aku ketik tadi. Disini kau lebih aman."


"T-tapi-- disini jauh dari tempatku kerja."


"Kau sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku kan? Permintaanku adalah kau tinggal disini."


Zeal berjalan menuju sofa dan duduk disana. Kaki dia pangku menatap lamat Valeria yang sedang mengamati sekeliling ruangan apartemennya. "Kalau bukan karena Aiyla aku tidak peduli barangkali kau mau tinggal di kolong jembatan, di bordir ataupun di hutan."


"Ummm... Kira-kira kalau menginap di apartemen seluas dan sebagus ini, berapa biayanya perbulan?" Tidak pernah terhapus dalam memorinya, beberapa kali Valerie pernah menyambangi tempat ini.


Zeal menyungging senyum penuh ejekan. "Kalau kau membayar dengan tubuhmu, untuk biayanya perbulan bisa lunas separuh."


Tubuh Valerie mundur dua langkah, terintimidasi akan penuturan Zeal. Semakin mengeratkan pelukannya pada sang bayi yang terbalut bedong.


"A-aku tidak bisa menggunakan tubuhku. A-ku masih memiliki Suami."


"Heh? Lantas? Apa yang bisa Suamimu lakukan? Menyeretmu pergi dan menganiayamu dirumah kalian? Atau--membunuh bayi kalian?" Tatapan Zeal terpusat pada Aiyla kecil.


"Aku tidak berniat mencampuri urusan rumah tangga kalian, tapi aku hanya merasa malang pada Aiyla mempunyai Ayah sepertinya."


"D-dia tidak seperti itu. Semua perlakuannya berdasarkan suatu alasan.."


"Pihak terus saja Pria pilihamu itu!" Membuang napas kasar, Zeal lantas berdiri melangkah kearah pintu, rumah tangga mereka bukanlah urusannya.


"Tinggalah disini. Gunakanlah beberapa hari untuk istirahat , jangan keras kepala demi kebaikan Aiyla. Kau boleh pergi setelah berhasil mengumpulkan modal untuk membayar tempat yang akan kau tinggali bersama Aiyla."


"Untuk urusan pekerjaan, aku akan menyuruh sopirku mengantar jemput kau setiap hari. Jangan khawatir soal biaya, properti gedung ini milik keluarga kami, kau tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Tapi, kalau kau merasa tidak enak hati, rawatlah apartemen ini sebagai gantinya, aku kurang menempati unit ini." Imbuhnya panjang lebar membuat Valerie tidak ada alasan untuk menolak segala kebaikan Zeal.


Lelaki ini tidak berubah, masih sama seperti dulu. Hanya saja, sekarang ia lebih dingin dan sorot matanya penuh kebencian. Bukan seperti dulu yang menatapnya hangat dan penuh kasih sayang. "Ah--makasih Zeal... Makasih banyak.."


"Makasih mulu yang keluar dari mulutmu. Kupingku sampai sakit mendengarnya."


"Ah? Kau punya pakaian?" Zeal kembali membalikkan tubuhnya agar dapat menatap sepenuhnya sosok Wanita dihadapannya.


"Kemarin malam aku tidak melihatmu membawa barang, kau pasti kabur dari rumah secara mendadak hingga tidak sempat mengemasi barang-barang mu. Pakaian Aiyla dan peralatan bayi sebagainya biar aku yang mengurusnya. Kalau soal pakaianmu--untuk sementara kenakanlah pakaian tunanganku didalam lemari, bajunya cukup bagus dan masih bisa dikenakan. Tempat ini akan kami gunakan kalau kami lagi bosan bercinta di hotel. Jadi, kalau kau mendengar suara mesum dari kamar yang satunya, jangan heran lagi."


Valerie hanya bisa mengangguk patuh. "Baik Zeal.."


Sebelum benar-benar keluar dari sana meninggalkan Valerie, Zeal kembali membuka suara sebagai bentuk pamitan yang cenderung menusuk. "Kalau begitu, aku permisi. Waktuku yang sangat berharga harus terbuang karenamu. Kelak, jangan menggangguku kalau bukan aku yang inisiatif mendatangimu lebih dulu. Hiduplah jadi tak kasat mata dihadapanku. Maka, aku akan menganggap kau tidak terlihat."


*****


"Putriku yang cantik lelap banget tidurnya.." Gumam Valerie. Ia meletakkan Aiyla diatas kasur dan meregangkan tubuhnya yang ngilu dan kaku.


"Sepertinya aku harus membersihkan diri dulu mumpung Ai lagi tidur nyenyak..."


Valerie beranjak kearah kamar mandi dengan menyampir sebuah handuk kimono. Tidak berselang lama kemudian Valerie nampak keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan bathrobe setelah menuntaskan ritual mandi. Bahunya yang polos, mengakses banyak luka lebam yang menghias disana.


Ada berbagai macam pakaian Wanita yang tergantung digantungan baju, dimulai dari yang sederhana dan glamor. Valerie memilih yang seadanya saja, yang nyaman untuk dipakai didalam rumah.


Setelah menggosok-gosok surainya yang masih basah dengan handuk, untuk selanjutnya Wanita itu mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


Ia meringis kecil merasakan pundaknya yang nyeri. Selain di bahunya, dipunggungnya juga betis-betisnya terdapat bekas-bekas penganiyaan Suaminya.


Meletakkan benda ditangannya kala perhatiannya teralih kearah ponselnya yang tergeletak diatas kasur mengeluarkan bunyi getaran. Ia meraih ponselnya mengecek siapa yang memanggil.


...Daddy....


Mereka tidak berkomunikasi beberapa bulan terakhir ini, lima bulan setelah Ayahnya menghilang bagaikan ditelan bumi, Valerie sudah mencoba mengirim pesan dan menghubunginya melalui panggilan telepon, naasnya hanya suara operator yang menyambutnya.


Valerie saja hanya menduga-duga bahwa Ayahnya kabur keluar negeri. Sekarang? Tiba-tiba menghubunginya seperti ini?


"Hallo, Dad? Dimana keberadaan mu sekarang?"


"Kenapa Rie? Kau merindukan Daddy..?"


"Sudahlah, Daddy. Jangan banyak omong, kau membawa kabur harta warisan Suamiku. Sekarang, Lewis benar-benar murka, laki-laki itu tidak pernah absen melukaiku setiap saat.."


"Oh my daughter.. hati Daddy tersentil loh.. ternyata Putri kesayangan Daddy tidak merindukanku...Baiklah kalau begitu, Daddy tidak peduli mau kau rindu atau tidak, setidaknya bagi-bagi lah upah kerjamu pada Daddy-mu ini.. Daddy sedang hidup dalam kesusahan sekarang..."


"Apa? Lalu bagaimana dengan harta warisan Lewis?! Daddy membawanya bersama Daddy!!" Ayahnya bahkan tidak bertanya, bagaimana kabarnya? Apakah dirinya baik-baik saja? Atau apakah ia sudah melahirkan Cucunya? Ah sudahlah, Valerie juga tidak ingin menaruh ekspetasi tinggi.


"Kau kira itu cukup bagiku hidup berfoya-foya selama beberapa bulan? Harta warisan secuil itu bahkan tidak bertahan sampai tiga bulan. Come on my daughter.. Daddy sudah menjadi orang tua tunggal untukmu semenjak kita ditinggal oleh Ibumu pergi.. minimal kau tahu balas budi atas pengorbanan yang kulakukan.."


"D-daddy mau berapa?"


Terdengar tawa dari seberang sana. "Kau memang Putri kesayangan ku... Satu juta dolar. Kalau kau mentransfer uang sebanyak satu juta dolar, satu bulan kedepan, aku tidak akan mengganggumu, bagaimana?"


Valerie meneguk salivanya, untuk makan sehari-harinya saja, ia sudah pas-pasan. Lantas, satu juta dolar? Dapat dari mana duit sebanyak itu? Lagi, Ayahnya akan kembali menerornya jika jangka waktu yang sudah dirinya tentukan mencapai batas.


"R-ie gak punya uang sebanyak itu, Dad.. Dimana dan bagaimana Rie akan mendapatkan uang sebanyak itu?"


Ayahnya mengerang kesal, tanduknya mulai muncul. "Kau benar-benar anak yang tidak berguna, sia-sia saja aku membesarkanmu. Ah! Bagaimana kalau aku menghubungi Mantanmu? Kebetulan sekali aku masih menyimpan nomornya. Meskipun hubungan kalian sudah berakhir dari lama, kalian menjalin hubungan selama separuh dari usai kalian. Barangkali saja dia sama denganmu, belum bisa melupakan seutuhnya."


"Jangan! Jangan pernah memanfaatkan Zeal atas dasar kehausan Daddy terhadap harta! Kalau Daddy melakukan itu, Rie benar-benar tidak akan pernah mengirim uang sepeser pun lagi kepada Daddy."


"Kau benar-benar menyayangi Mantanmu itu. Bahkan rela hidup bersama Pria yang tidak dicintai demi menyelamatkannya. Lalu, bagaimana kau akan mendapatkan uang dengan nominal yang aku minta?"


"Beri aku waktu tiga bulan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. Aku akan bekerja keras agar mendapat bonus dari pekerjaanku, kalau nanti gajiku tidak mencukupi, akan kupikirkan lagi bagaimana caranya, aku rela meminjam sana-sini demi mengirimkannya padamu Dad. Jadi, jangan pernah mengusik Zeal lagi. Kami berdua sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi."


"Ahahaha baiklah-baiklah, dengan senang hati ku terima negosiasi mu, Rie. Aku akan bersabar selama tiga bulan ke depan. Tepat tiga bulan, kalau kau masih belum mentransfer uang ke rekeningku. Lihat saja nanti apa yang akan kulakukan dengan Mantanmu.."


Tut..Tut..Tut..


Valerie meremas ponselnya setelah panggilan terputus, ia mengalihkan tatapan sendunya pada Aiyla yang sedang tertidur manis.


"Apa yang harus Mommy lakukan Ai..? Grandpa-mu kembali menghubungi Mommy dan meminta sebuah uang dalam jumlah sangat besar.. Sedangkan, masih ada kebutuhanmu sehari-hari yang harus Mommy tanggung.."


*****