My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.PENOLAKAN



Beberapa hari telah berlalu, Ruby tak pernah lagi mendapat notifikasi dari Athala, padahal ia berharap Athala mau menghubunginya duluan, mereka tak lagi berkomunikasi melalui apapun.


Walaupun ingin, Ruby enggan jika menghubunginya duluan, ia takut menganggu waktu Athala yang sibuk pekerjaan atau--sibuk dengan Wanita lain.


Sepulang sekolah, Ruby memutuskan untuk membuktikan jika penuturan Dokter kala itu benar, ditemani oleh Alan ia membeli berbagai macam testpack untuk kembali memeriksa. Sekarang mereka berdua sedang berada di kost Ruby.


Ditemani raut lesunya Ruby keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat, "Gimana?"


"Positif lagi." Bahu Ruby merosot lemah, untuk yang terakhir ia menunjukkan benda kecil berukuran panjang yang kembali menampilkan dua garis pada Alan, banyak testpack yang mereka beli telah ia coba, hasilnya tetap sama, yakni positif.


Alan mengelus kepala Ruby penuh kelembutan, "Gak papa. Lo harus beritahu tentang ini ke Athala ya? tunjukin benda ini sebagai bukti biar dia percaya."


"Tapi--gue takut.." Ruby takut, hasilnya tak sesuai ekspektasinya. Lebih baik Ruby tak pernah mengungkapkannya untuk menyelamatkan hatinya agar tak kembali terluka.


Melalui pada malam dimana ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kala mana Athala tertawa bahagia bersama perempuan lain, ia di buat sadar, jika dirinya sudah terlanjur jatuh terhadap Athala, ia telah terjebak dalam kesepakatan mereka.


Alan meraih tubuh Ruby kedalam pelukan, ia membelai kepala belakangnya untuk memberikan kekuatan sekaligus meyakinkan Ruby, jika ia tak sendiri. "Gak papa, di coba aja dulu. Kalo dia gak mau tanggung jawab, inget masih ada gue dibelakang lo. Gue siap kok yang bakal ngegantiin posisi dia."


Dengan gelengan, Ruby mendorong tubuh Alan hingga dekapannya terurai dengan sendirinya. Ia menyeka air matanya yang sempat terjun tanpa bisa dicegah.


"Enggak, Gue gak mau ngebebanin lo dengan janin yang jelas-jelas bukan milik lo, gue bisa ngebesarin dia sendiri kalo Ayahnya gak mau tanggung jawab, di luar sana masih banyak cewek-cewek yang lebih sempurna dari pada gue yang udah rusak, gue gak pantes buat lo, lo pantes dapat yang lebih baik dari gue." Ujar Ruby panjang lebar.


Namun badan Alan mau tidak mau malah terdorong ketika Ruby mendorong punggungnya, menggiringnya menuju pintu keluar.


"Mending lo pergi dari sini, gue bakal bilang tentang kandungan gue sama Athala jadi lo tenang aja."


"Makanya, kalo dia gak mau tanggung jawab lo dateng aja ke gue. Kalo lo gak mau gue jadi Ayah dari bayi itu, setidaknya gue bisa bantu lo saat lagi susah."


Ruby cukup tersentuh dengan tawaran Alan, tapi ia sama sekali tak butuh, lagi pula ia masih memiliki keluarga di Australia, jika kelak ia sudah lelah hidup sendiri, ia akan pulang sendiri atau menghubungi mereka. Yah, walaupun Ruby tak tahu apakah keluarganya masih menerima dirinya atau tidak.


Kini Ruby berhasil membuat Alan keluar dari pintu. "Gak perlu! lagian lo udah ada Sandra. Jadi cowok jangan plin-plan. Sandra jauh lebih baik dari pada gue."


"Tapi gimana kalo gue maunya elo..?"


"Jangan ngaco deh! mending lo pergi sekarang, gue mau istirahat."


Ruby menutup pintu membiarkan Alan terusir dengan cara tak terhormat, Alan sendiri masih betah berdiri di depan pintu kost Ruby dengan hati yang retak. Apakah--ia benar-benar tak ada peluang lagi?


*****