My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.KEHAMPAAN



Zeal duduk disebelah Adiknya, sebelum ini dia sempat melihat Ruby menangis diam-diam disofa, namun dengan cepat dia menyeka air matanya kala dia melihat kedatangan Zeal.


"Gak perlu disembunyiin dari aku. Nangis aja.." Isak tangis Ruby tambah tergugu, wajahnya tertutupi oleh kedua telapak tangannya.


"Calix terus tanya keberadaan Papanya.. aku gak kuat Kak.. aku lemah kalo udah bahas tentang Atha.. dimana dia? aku rindu..Calix juga butuh dia.. aku harus gimana biar dia pulang..?"


Telapak tangan kekar Zeal mengelus-ngelus kepala Ruby, "Kan udah sering aku peringatkan, jangan terlalu menaruh harapan, biarpun ada kemungkinan dia kembali, perasaannya gak bakal sama lagi. Bertahun-tahun sudah berlalu, perasaan orang bisa berubah seiring mengalirnya waktu, Ruby.."


"Tapi, aku masih cinta Kak, rasa itu gak pernah berkurang sedikit pun. Sebenarnya, aku tersiksa, setiap hari aku selalu ingin bertemu dengan dia, tapi aku gak bisa, aku gak tahu dia dimana.."


Zeal manggut-manggut, dia membawa Adiknya kedalam dekapannya guna memberinya kekuatan. Dia tidak ingin Ruby berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini.


"Iya Ruby, Kakak tahu, sulit bagimu untuk melupakan dia. Itu karena kamu gak pernah mau menerima orang baru, coba saja kalau kamu masih memberikan orang kesempatan untuk masuk kedalam hidupmu, lambat laun hati kamu akan kembali terbuka untuk orang lain."


Perkataan Zeal ada benarnya, Ruby sampai berpikir, apakah mungkin sudah saatnya dia belajar melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru?


Namun, Ruby segera menepis pikirannya tersebut, dia tidak boleh menerima orang baru jika dirinya sendiri masih terjebak dalam ruang masa lalu.


Ruby mendorong dada Zeal agar pelukan dapat terlepas, dia menggeleng. "Aku gak bisa menggunakan orang agar aku bisa melupakan seseorang.. biarkan aku melupakan dia sepenuhnya dulu.. barulah aku dapat mencoba membuka lembaran baru."


Zeal menghela napas pasrah, Ruby benar-benar batu, tidak bisa dinasihati sedikitpun, Zeal sebagai Kakak hanya bisa mendukung apapun keinginan Ruby, "Yasudah, tapi kamu harus bahagia dengan keputusan kamu, kalau kamu memutuskan untuk tetap menetap diruang masa lalu, endingnya kamu harus bahagia."


Zeal menghapus jejak air mata Ruby, "Jangan nangis terus, Mami Calix harus kuat, gak boleh cengeng, kalau dia gak kembali, kan masih ada aku, Alan, juga Mommy dan Daddy, kami akan selalu ada untuk kamu."


"Thanks Kak Ze.. aku beruntung banget punya Kakak kayak Kak Ze didunia ini, sayang banyak-banyak sama Kak Ze..."


Ruby memeluk Kakaknya erat, dia merasa teramat bersyukur pada Tuhan karena menurunkan Zeal sebagai Kakaknya, dari pada Alan, Zeal lebih berperan penting dikehidupan Ruby.


Dia, selalu berada disamping Ruby, menemaninya siang dan malam, jadi tempat Ruby bersandar, mengeluh, mencurahkan isi hati, bahkan unit apartemen yang ditinggali oleh Ruby sekarang adalah milik Zeal.


"Me, too.." bibir Zeal menyentuh pucuk kepala Ruby.


*****


Diwaktu yang sama namun di lain sisi. Seorang Pria yang terlihat berkarisma terlihat sedang melamun dimeja kerjanya, bahkan sudah beberapa kali wanita didepannya memanggil-manggil namanya, tidak juga kunjung mengeluarkan dirinya kepermukaan.


"Atha?!" Gracia melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Athala.


Lelaki itu terenyuh, kedua matanya mengerjap-ngerjap, rautnya terlihat cengo. "A-ada apa?"


"Kamu ngelamunin apa sih?! dari tadi dipanggilin juga."


Athala menundukkan pandangan, tatapannya jatuh pada kedua telapak tangannya yang dia buka.


"Entah kenapa, aku selalu ngerasa kesepian, padahal ada kamu yang selalu disisi aku selama ini. Bahkan kamu selalu ada menemaniku saat aku melalui masa-masa terpuruk ku di rumah sakit..Tapi kenapa? aku ngerasa hidup aku hampa, ada kerinduan yang bersarang di hatiku, tapi aku gak tahu untuk siapa."


Kedua tangan Gracia terkepal kuat, hati dan ekspresi yang dia tunjukkan benar-benar tidak singkron. Bahkan dalam keadaan hilang ingatan pun, Athala tidak dapat melupakan Gadis itu.


"Mungkin itu perasaan kamu saja Tha..udah, gak perlu terlalu diambil pusing, lagian gak lama lagi pernikahan kita. Gimana, kamu udah menentukan tanggal tepatnya?"


"Eumm? udah." Athala mengangguk, dia beranjak memilih berjalan kearah Gracia yang sedang berdiri di seberangnya.


Athala mengusir rasa ragu yang menghampirinya, dia tidak boleh goyah dengan keputusan yang telah dia buat. Gracia adalah Wanita baik, setia menemani dirinya semenjak bangun dari koma, merawatnya saat dia mengalami kelumpuhan.


"Jadi, kapan kita bakal beli gaun pengantinnya? kita harus segera mempersiapkannya segera."


Ketika Gracia memutar tubuhnya kesamping, otomatis Athala jadi berhadapan langsung padanya. "Humm? besok gimana?"


"Oke!!"


Gracia hendak memeluk Athala saking bahagianya mengingat pernikahan mereka akan berlangsung tak lama lagi, namun belum juga tubuh Gracia menyentuh tubuh kekar Athala, lelaki itu sudah mundur beberapa langkah seolah menghindar atau tidak sudi melakukan sentuhan fisik.


"Ah? m-maaf, bisa beri aku sedikit waktu lagi untuk beradaptasi denganmu? bukan atas kemauanku, tapi sesuai naluri aku, entah kenapa aku kayak--gak bisa berkontak fisik denganmu."


Athala jadi merasa bersalah, karena sampai sejauh ini, mereka tidak pernah genggaman tangan sekalipun, tidak seperti pasangan pada umumnya.


"Oh iya? yaudah gak papa kok, aku bisa menunggu."


Lain halnya dari wajahnya yang melayangkan ekspresi tenang dengan senyuman manis, kedua tangannya kembali terkepal.


Seiring berjalannya waktu, bukannya hubungan mereka bisa berkembang, justru yang ada keadaan Athala makin parah, dulu sebelum koma masih bisa dapat memeluk ataupun menyentuh fisiknya, tapi mengapa sekarang? menjadi seperti ini. Dia memiliki raganya, tapi hatinya bagaikan bintang di angkasa, terlalu tinggi untuk bisa tergapai.


*****