
"Little mother of my child, I love you.." Suara Athala terdengar lirih terpadu serak, namun sukses membuat Ruby terdiam seribu bahasa, lidahnya mendadak keluh, sebanyak-banyaknya kosa kata, ia kehilangan seluruh bait kata, seperti tak percaya sama sekali kala mendengar pengakuan Athala.
"Ruby?"
Melihat Ruby yang hanya bengong tak memberikannya tanggapan sedikit pun, Athala jadi mengguncang bahu Ruby agar dapat menarik arwahnya kembali kepermukaan.
"Eumm? kenapa?" Ruby masih cengo, aish, dirinya sudah layaknya orang dungu hanya karena pernyataan cinta dari Athala.
Menyisipkan helaian anak rambut Ruby yang menjuntai, kebelakang telinga. Athala sontak tersenyum tipis, "Love you.. Do you feel the same way? if yes, will you live with me forever?" (Apa kamu merasakan hal yang sama? jika ya, maukah kamu tinggal bersamaku selamanya?)
"L-lo bilang apa tadi?"
Tuk!
Salah satu di antara lima jemari besar Athala menyentil dahi Ruby cukup kuat, karena itu Ruby mengadu kesakitan. "Lo ada masalah apa sih sama gue?" cetus Ruby dongkol.
Tanpa basa-basi Athala menekan tubuh Ruby agar rebahan dipermukaan kasur sebelum dirinya menyusul diri, ia menaikan selimut bergambar doraemon yang kainnya tak terlalu tebal tersebut agar dapat menutupi tubuh mereka berdua.
Athala membelit pinggang serta kaki Ruby hingga wajah sang empu tersembunyi di dada bidangnya, bahkan bernapas saja terasa sulit bagi Ruby, Athala memeluknya layaknya guling berusaha mencari kehangatan alami dibalik itu.
"Gimana?" Suara Athala berbisik pelan, namun masih dapat ditangkap oleh indera pendengaran Ruby.
"Gimana apanya?" Kepala Ruby menyembul dari dadanya, ia mendongak menatap wajah Athala, pandangan mereka saling bertaut.
Iseng-iseng tangan Athala lihai memainkan tatapan poni Ruby. "Aku mencintaimu, Ruby...apakah kamu juga ngerasain hal yang sama dengan aku? jika iya, aku mau ngajak kamu masuk kedalam duniaku dan hidup bersama denganku, kita rawat calon anak kita bareng-bareng.."
Bibir Ruby masih setia terkatup, ia dibuat tak berkutik, bukannya Ruby tak mau mempertimbangkan, hanya saja ia tak ingin merebut milik orang lain, mengapa demikian? karena ia pernah diposisi yang mana orang yang kita cintai di rebut orang lain dan rasanya sakitnya bukan main.
"Tapi--cewek itu, gimana?" Pertanyaan yang menciptakan sebuah kerutan samar pada dahi Athala.
"Cewek yang mana?"
"Itu loh--yang waktu acara reuni itu.. ih masa nggak inget sih! padahal baru sore tadi kalian tidur di satu tempat tidur yang sama." Karena kesal, Ruby menyungut dengan bibir sengaja dimonyongkan.
Athala berpikir sejenak sebelum akhirnya otaknya connect. "Oh, Cia? maksud kamu Gracia?"
"Iya terserah mau namanya apaan, mau Rica atau Merica, yang jelas gue pengen tahu, kalian ada hubungan apa?" Bukan tanpa alasan Ruby bertanya begitu, pasalnya tatapan dan perlakuan Athala pada Perempuan yang disebutkannya dengan nama Gracia tersebut, berbeda. Apakah perasaannya saja?
"Mau tahu aja atau mau tahu banget nih?"
"Ah, sudah lah! muak gue sama lo!" Tubuh Ruby mulai memberontak ingin lepas dari belenggu Athala, sialnya tenaga Athala amat kuat meskipun lagi tidak fit.
"Dulu, memang dia orang yang sangat istimewa untuk aku, tapi tidak untuk sekarang. Dia, gak lebih hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah sejak lama aku lupakan."
"Beneran? lo gak lagi bohong hanya karena darah daging lo di kandungan gue kan?" Ruby hanya memastikan, ia tak ingin goyah lagi hanya dengan tutur kata, sudah cukup ia selalu dikhianati selama ini, oleh sahabat dan pacarnya sendiri, Ruby tak mau dikelabui lagi untuk yang kesekian kali.
Yah, Athala sudah mantap dengan perasaannya, ketimbang dengan rasa cinta, Athala hanya terlalu terkejut dengan kehadiran Gracia yang mendadak dikantornya kala itu hingga menjadi pemicu rasa yang Athala sendiri ternyata keliru.
Meskipun memang masih ada walau secuil, ia tak akan menjadi lelaki plin-plan yang akan terlibat dalam sebuah pilihan, yang intinya rasa cinta dan sayangnya untuk Ruby lebih besar ketimbang pada Gracia.
Keberadaannya disini menjadi bukti mutlak, jika tidak, mungkin sekarang ia sudah menikmati waktu berdua'annya bersama Gracia dikamar tadi dari pada jauh-jauh mengejar Ruby kemari dalam kondisinya yang belum stabil.
"Terus kenapa kalian berdua tidur satu ranjang tadi sore?!" Tuding Ruby mengamatinya penuh curiga.
"Gak tahu, aku gak terlalu sadar karena aku diserang demam tadi siang, tapi kayaknya dia hanya ngerawat aku soalnya pas bangun sudah ada kompresan di dahi aku."
"Udah berhari-hari aku gak masuk kerja karena gak sehat, aku gampang penat juga pikiran gue lagi kacau akhir-akhir ini. Sedangkan ini saja aku hanya maksa kesini. Kalo gak didorong rasa khawatir sama kamu dan calon baby kita, aku gak bakal mampu kesini." Jelasnya panjang lebar.
Pikiran Ruby dibuat melayang pada saat sore tadi, keduanya memang tidur bersama pada satu selimut, namun seingatnya pakaian Athala dan Gracia masih lengkap saat itu, dari sana Ruby dapat mengambil asumsi jika mereka berdua tak melakukan hal yang lain selain tidur.
Ruby menggigit bibir bawahnya menahan gelombang bahagia yang menggebu-gebu bagaikan bom yang meledak dalam jiwanya, kedua pipinya bersemu bak kepiting rebus, perutnya tergelitik oleh efek kupu-kupu yang berterbangan.
Saking bahagianya ia tak dapat melukiskan rasa yang ia alami dengan kata-kata dan ekspresi. Alhasil, agar dapat menyembunyikan rona diwajahnya, ia malah membenamkan kembali rupanya pada dada bidang Athala.
"Gimana dengan tawaran aku tadi By? aku nunggu jawaban loh.." Tuntut Athala dengan setengah rengekan. Athala mendorong bahu Ruby agar dapat menatap Wanita menawan yang kini sedang mengandung buah hati mereka.
"Jawaban kamu, apa? kalo kamu gak bisa jawab dengan kata-kata kamu bisa jawab dengan isyarat, mengangguk jika iya lalu menggeleng jika kamu menolak."
Bibir Ruby terlipat, dengan malu-malu ia perlahan menganggukkan kepala pelan. Jawaban Ruby tentu saja menciptakan sabit merekah pada wajah Athala, kini hati Athala hanya didominasi bunga-bunga tak kasat mata.
Wajah Athala mendekat, Ruby memejamkan mata saat bibir hangat Athala menyentuh keningnya dalam durasi cukup lama, hingga ia menjauhkan kepala barulah Ruby membuka kembali kelopak matanya.
"Mulai detik ini, aku gak mau tahu, kamu harus berhenti kerja, bumil gak boleh terlalu kelelahan nanti berdampak sama kandungannya, oke? pokoknya aku gak mau denger alasan apapun lagi dari kamu!" Tekan Athala mengurungkan segala protesan Ruby.
Jika Athala sudah berbicara demikian, apa yang dapat dilakukan Ruby selain hanya pasrah saja? perempuan itu pada akhirnya menghembuskan napas pasrah. "Iya deh iya.. cerewet!"
"Terus, mulai besok kamu tinggal di mansion aku biar aku bisa sering pantau kamu."
Ruby mencebikkan bibir sewot mendengar banyak sekali penitahan Athala. "Iya.."
"Oh iya, ngomong-ngomong tanggal kelulusan kalian, kapan?"
"Hmm.. belum tahu, belum diumumin. Ujian nasional juga belum dimulai. Kenapa emang?"
Tak tertahankan bibir pucat Athala menyunggingkan senyum manis. "Setelah kelulusan nanti, aku mau berjumpa dengan keluargamu sekaligus mau melamar mu."
*****