
"Ada apa? ini jam berapa lo suruh gue keluar rumah?"
Sandra benar-benar tidak mengerti, mengapa Athala memintanya keluar sementara malam sudah sangat larut. Jangan bilang, memori Kakaknya ini sudah kembali? Naas sekali, Ruby sudah terlanjur pergi. Kisah mereka berdua benar-benar tragis.
Tubuh Sandra terguncang saat Athala tiba-tiba menekan bahunya lalu mengguncang menuntut sebuah jawaban. "Lo tahu keberadaan Ruby dimana?!" Athala tahu hubungan Sandra dan Ruby merenggang karena Alan, tapi selain Sandra tidak ada orang lain yang bisa Athala korek informasi mengenai Ruby, mungkin saja Sandra memiliki petunjuk.
Melacak keberadaan Ruby benar-benar sulit untuk sekarang, ia kehilangan kontak Ruby setelah sekian lama terpisah dengannya, bahkan ponselnya yang kini bukan lagi yang dulu. Sudah diganti oleh Gracia yang baru.
"Bentar-bentar! tanyanya yang santai dikit napa!" Sandra menepis tangan Athala dengan kasar.
"Kalo lo tahu dimana keberadaaan dia, please kasih tahu ke gue sekarang! gue harus segera menemuinya dan minta maaf dengannya!!"
Kedua mata Sandra memicing mendengar penuturan Athala. Dia berpikir bahwa kepergian Ruby terlalu mendadak, bahkan nyaris lupa berpamitan dengan temannya sendiri. Apakah ada penyebabnya? "Lo ada buat suatu hal yang melukai dia?"
Athala menunduk dengan rasa bersalah yang kian menjadi, kedua tangannya terkepal kuat. Dia memberikan anggukkan pelan. Sandra menarik napas panjang. Sepertinya dia tidak berhak untuk membocorkan keberadaan Ruby. Sudah cukup dia membuat kesalahan selama ini, dia tidak ingin menambah kesalahan lagi.
Melihat reaksi Athala, Sandra dapat mengambil asumsi bahwa kepergian Ruby sudah jelas berhubungan dengannya. "Oh, kalo gitu lo usaha sendiri cari tahu dia dimana. Jadi laki-laki jangan pecundang, lo harus berjuang kalo memang lo sudah lukai dia."
"Kalo lo tahu sesuatu tentang dia, kasih tahu ke gua San! jangan ditutupi, gue pengen ketemu dengan dia, bukan cuma pengen, tapi harus! gue harus ketemu dengan dia!"
Langkah Sandra terhenti diambang pintu. Athala kini hanya menatap punggungnya, berusaha untuk menahan Sandra agar mendapat titik terang. "Maaf, gue gak bisa sembarangan kasih tahu keberadaannya kepada orang yang membuatnya pergi?"
Saat kakinya mulai berayun, dia kembali dibuat terurung mendengar ungkapan Athala selanjutnya. "Anak yang selalu bersamanya adalah Anak gue!"
Sandra berbalik agar dapat melihat Athala, Kakaknya ini terlihat putus asa. "Gue tahu selama ini gue sudah buat kesalahan yang besar, tapi--itu bukan keinginan gue, keadaan yang buat gue lupain dia.. gue hilang ingatan..gue gak tahu apa-apa. Tolong, kasih tahu ke gue dimana dia sekarang.. kami, punya sesuatu yang sangat berharga yang harus kami rawat sama-sama.. please.."
Sandra mengambil napas berat. Jika memang benar Athala adalah Ayah dari Putra Ruby, bukankah tidak ada alasan baginya untuk tidak membeberkan keberadaan Ruby? Kakaknya ini harus bertanggung jawab kemudian mengganti banyak hari yang telah terlalui tanpa Ruby dan Putranya. "Australia."
Kepala Athala sontak terangkat. "Australia?" Beonya mendapat anggukan dari Sandra.
"Thanks San!!" Athala langsung berlalu dari tempat Sandra, dia sudah menemukan jawabannya, jika memang Ruby sekarang ada di Australia, tidak ada tempat lain yang menjadi tempat tinggalnya selain bersama keluarganya, di negara ini, hanya dirinya dan Reygan yang mengetahui jika negara asal Ruby adalah Australia.
*****
Tidak banyak waktu bagi Athala mengurusi berbagai hal, jika ia berangkat menggunakan pesawat penumpang sipil, maka harus ada aturan jadwal waktu. Bermodalkan pakaian yang melekat di badan juga beberapa black card di dompet, terpaksa siang ini juga ia berangkat ke negara seberang menggunakan jet pribadi.
Sebenarnya, ia jarang menyewa jet pribadi untuk bepergian, jika bukan disaat yang terdesak. Namun, demi menjumpai Ruby, apapun ia lakukan. Pukul 12:00 siang ia terbang lalu pukul 19:10 ia sampai di Australia.
Tidak mau membuang-buang waktu, tepat saat pesawat landing, ia langsung bergegas menuju kediaman Levarendo dengan naik taksi. Athala masih ingat, lokasi mansion sahabat Ayahnya, merupakan tempat tinggal Gadis kecil yang waktu itu akan dijodohkan dengannya, jauh sebelum Ayahnya meninggal.
Kini ia berhadapan langsung dengan dua daun pintu berwarna putih setelah sebelumnya harus bercekcok dulu dengan Pak Satpam yang sedang berjaga dihalaman depan mansion.
Tidak terhitung berapa kali sudah ia memencet bel rumah, tidak kunjung ada yang membukakan pintu. Hatinya sudah dilanda keresahan tiada ujung. "Oh ayolah!! Cepat bukakan pintu untukku!!" Athala sangat berharap, yang menyambutnya adalah dia, Ruby. Wanita kesayangannya.
"Bentar! siapa sih?! ganggu banget, orang mau makan malam juga."
Jantung Athala semakin berdegup tak karuan kala mendengar suara samar yang sedang menggerutu. "Ruby.. Gadis kecilku.." gumamnya merasa terharu.
Ceklek...
Tubuh gagahnya seketika menutupi seorang Wanita yang baru saja membukakan pintu untuknya, air matanya menitik saat kedua matanya tertutup menghirup rakus aroma manis khas milik Gadis kecilnya yang amat ia rindukan, Ruby masih bungkam di dekapan erat Athala yang seolah menyalurkan sebuah kerinduan yang hebat melalui itu, tenggorokannya tercekat enggan mengeluarkan suara.
"I miss you so much, my little girl.."
*****