My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.BONCHAP 08 : PENGEN PELUK MANTAN



Sejak tadi Athala betah, tak mau berpisah dari Ruby dan calon dede bayi didalam rahim bidadarinya.


Athala menjadikan pangkuan Ruby sebagai bantalan, sesekali mengajak anak yang masih berbentuk janin dalam perut Ruby untuk berinteraksi. "Debay mau apa hmm? Biar Papi sanggupi.."


Dia meluruskan pandangan keatas, menemukan Ruby yang mana menunduk menjatuhkan pandangan ke wajahnya.


Situasi di mansion sedang damai dan tentram dikarenakan Calix masih ada disekolah. Jika anak kecil itu sudah pulang, mungkin suasana ruangan ini akan rusuh walau penghuninya hanya sedikit. Ada saja berbagai macam topik random yang menjadi percekcokan mereka.


"Adek Calix gak rewel ya By? Gak ada yang dia inginkan gitu? Tenang banget perasaan. Mumpung aku lagi gabut, pengen direpotin nih."


"Wait? Mikir dulu." Mengetuk-ngetuk jari telunjuknya dipipi, Ruby berpikir sesaat. Ada keinginannya yang belum berani ia ungkapkan sejak mengetahui kehamilannya.


"Ada sih--tapi terlalu berat..takutnya--kamu bakal marah dan gak bisa mengabulkan."


Seketika Athala bangun, mengubah posisinya menjadi duduk bersila di karpet bulu tepat dihadapan Ruby, digenggam kedua tangan yang beda ukuran dari tangan besarnya. Pas sekali dalam tangan kekarnya, seolah tangan Ruby diciptakan sudah menjadi takdir mengisi genggamannya.


"Kalau ada kemauanmu, jangan ragu untuk memberitahu sama aku.. apapun itu, akan aku sanggupi. Suami kamu ini serba bisa, Ruby.. keinginan jangan hanya disimpan.. nanti dede bayinya bisa ileran loh.."


"Tapi--janji gak marah?" Tanya Ruby nampak ragu-ragu.


"Janji, sayang.." Athala mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ruby yang terulur hingga terhubung satu sama lain.


Ruby memilin ujung pakaian yang dia kenakan. "Aku--"


"Pengen meluk Alan.." tambahnya mencicit langsung Athala termangu. Menatapnya dengan mulut menganga tak percaya.


"Hah?!!" WHAT?! Ia tak salah dengarkan?! Istrinya ingin memeluk mantannya?!!


*****


"Sayang... Masa kamu beneran bakal meluk Alan..? Aaa aku gak rela ih! Biar bagaimanapun dia serangga dimasa lalu kamu...mana sampe sekarang dia masih lajang lagi.." Rengek Athala, kini mereka sudah sampai di pelataran rumah Alan.


Menepati keinginan Ruby. Ini jadi boomerang, sungguh diluar dugaan Athala jika keinginannya benar-benar diluar angkasa. Jika tahu begini, lebih baik ia tak bertanya apa kemauannya. Lihat lah sekarang, Ruby begitu bersikukuh untuk bertemu dengan Alan.


Bahkan sampai memaksa Athala untuk mengantarnya hingga tiba disini, "Kamu kan udah bilang, kalo aku beritahu pasti kamu sanggupi. Ini kemauan Baby.. pengen meluk Alan, bentar aja. Satu jam doang..."


Athala langsung kena mental. Satu jam?! Doang?! Itu akan terasa berabad-abad bagi dirinya yang tak sudi melihat Ruby bersentuhan sama lawan jenis, apalagi Alan!! Mantan dari Istrinya.


"Bunuh aku aja By bunuh.. asal jangan peluk kunyuk itu..aku gak suka.. tahu gini, gak mau aku nanya-nanya kemauanmu dari awal..."


Rengekannya membuat Ruby menghela napas jengah, sepanjang perjalanan mereka di mobil hingga sampai disini, Suaminya tak henti-hentinya merengek. Mereka sudah sampai sejauh ini, masa iya dibatalkan? Sudah didepan pintu loh, tinggal membunyikan bel, mereka akan bertamu dirumah Alan.


Insting Athala mulai tak enak kala Ruby sudah membunyikan bel rumah, ia masih belum siap menghadapi keadaan.


"Iya, bentar.." Ternyata Ratna, Ibu dari Alan yang membukakan pintu untuk mereka.


"O-oh? Kamu ternyata," Sapanya ganggung, ia tak akan lupa jika pernah mencemooh Wanita yang kini menyandang gelar sebagai nyonya Ragaswara.


Wanita paru baya itu melirik kikuk pada Athala. "Kalian--ngapain kesini?"


"Saya lagi ada perlu sama anak Ibu."


"Oh, Alan? Dia lagi diruang kerja. Silahkan masuk dulu, tunggu di ruangan, Alan-nya nanti aku panggilkan." Mereka berdua mengikuti Ratna yang menuntun mereka keruang tamu.


Ratna pergi ke dapur untuk membuatkan minuman buat mereka berdua, tidak butuh waktu lama wanita itu kembali dengan dua gelas minuman yang ia bawa dinampan.


Setelah menghidangkannya dimeja, ia pun undur diri ke lantai atas untuk memanggilkan Putranya. "Tunggu bentar ya. Aku panggilkan Alan dulu."


*****


"Bentar aja ya? Aku gak tahu kenapa pengen banget meluk Alan, kayaknya ini bawaannya dede bayi deh."


"Lebay!! Posesif banget lu. Peluk doang juga. Sini Ruy.. nanti A'a peluk.." Tukas Alan sengaja mencibir Athala. Ia menyugar rambutnya kebelakang menebar pesona. Membuat Athala makin tak karuan.


"Aaa gak mau!! Jangan Ruby.. jangan...aku gak rela kamu peluk dia!!"


"Tapi ini keinginannya Baby, gimana dong..?"


Athala merenggangkan pelukan agar dapat menatap Ruby, wajahnya terlihat cemberut. "Baby yang satu ini nyebelin hih! Masih mending Calix, meski sekarang dia ngeselin tingkat dewa, di masa dia masih jadi janin, dia gak pengen yang aneh-aneh kek gini.."


Elusan mendarat di rahang tegasnya. Lebih baik Ruby marah-marah dari pada ia meluluhkan pakai cara penuh kasih begini, mana berani ia melarangnya? Ia tak akan berdaya.


"Bentar doang ya Suami..? Pelukan dengan mantan gak bakal bikin aku berpaling dari Suamiku yang tampan ini.."


Berat hati, Athala mengangguk pasrah. Tanamkan dalam hati, bahwa ini adalah keinginan calon anak mereka. Belum lahir saja, sudah bikin Athala frustasi seperti ini, apalagi jika keluar nanti, entah bagaimana keadaannya kelak, mungkin akan masuk rumah sakit jiwa.


"Aku kasih kamu kesempatan satu detik."


"Bentar amat.. lima menit, deh?"


"Satu detik atau gak sama sekali?!" Gertaknya dengan mata melotot marah.


"Y-yaudah iya, satu detik!" Pungkas Ruby mau bagaimana lagi, dari pada tak sama sekali. Akhirnya Athala mengurai lilitan tangannya, mengikhlaskan Ruby yang kini beralih memeluk Alan disisi lain darinya.


"Love you Ruy.. perasaan aku masih sama.." Ruby menegang begitu mendengar bisikan yang mengalun di telinganya, sensasi remasan di pinggangnya juga terasa begitu jelas. Dengan segera ia mendorong dada Alan mengakhiri sesi pelukannya.


Ia kira Alan tak lagi menyimpan perasaan lebih padanya karena dihapus oleh masa yang mengalir bagaikan air. Tak mungkin lelaki itu masih ada setitik rasa setelah deretan waktu yang telah berlalu.


Namun, ternyata sepertinya prasangkanya salah. Jika memang benar, seharusnya ia tak melakukan ini.


"U-udah. Tepat satu detik."


"Humm.." kini giliran Athala langsung menariknya kedalam pelukan menggantikan Alan. Seolah ingin melindunginya dari parasit seperti Alan.


Ia melemparkan leser tajam pada Alan yang kini fokus menatap punggung mungil Ruby. "Jaga mata lo dari Istri orang! Mending lo nikah, dari pada jadi jomblo ngenes kaya gini. Takutnya nanti jadi pebinor."


"Gue nungguin jandanya Ruy, gak papa kan?" Tanya Alan jahil. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Suami Ruby ini, pasti akan tumbuh tanduk diatas kepalanya.


"Lo!! Maksud lo ngedo'ain rumah tangga kami bakal kandas gitu?! Mimpi aja sono!"


"A-alan, kalo bercanda jangan kaya gitu.." Imbuh Ruby lirih, rengkuhan Athala terlepas, ia berdiri dan menarik pergelangan tangan Ruby tak terlalu menggunakan tenaga, agar Ruby tak kesakitan.


"Kedatangan kita kesini cuma peluk doang kan? Berarti urusan kita disini udah selesai. Kita harus segera pulang kalo gitu."


"Tapi--kita belum pamit--"


"Lan! Gue sama Istri gue pamit, mau pulang!" Seru Athala, ia menekan keras di kalimat 'Istri' biar Alan sadar siapa sebenarnya pemilik Ruby mutlak.


Alan tersenyum kecil menatap punggung mereka, ralat--hanya Ruby lebih tepatnya. "Sayangnya, gue gak bercanda, Ruy.."


*****