My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.SI PALING MISTERIUS



"Apa lagi sih?! buruan! udah mau bel masuk ini!" Desak Ruby jengah, bagaimana tidak? Alex terus menghentikannya ketika akan beranjak memasuki gerbang. Ruby tidak tahu lagi apa ke mauan cowok ini, lihat lah sekarang Alex hanya mengusap tengkuknya kikuk nampak ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu.


"Udah lah!" Karena tidak tahan lagi akhirnya Ruby memilih untuk segera menjauh dari sana namun baru tiga langkah, ia kembali di hentikan oleh suara bariton Alex yang mengungkapkan, "Gue-- minta maaf sama lo!" di empat kalimat itu saling berdesakan karena pengucapannya terkesan tergesa atau canggung.


Ruby berbalik badan lagi menatap sepenuh Alex yang masih menaiki motor besarnya, "Minta maaf? untuk apa?"


"Soal yang tadi di rumah sakit, udah nyalahin lo tentang kecelakaan Alan. Saat itu--gue hanya kebawa emosi.." ungkapnya terdengar tulus, ini bukan karena titahan Gatra tadi seharusnya memang karena ia juga merasa tidak enak hati sudah memojokkan Ruby.


Menghembuskan napas ringan, Ruby juga tipe orang yang tidak ingin membesar-besarkan masalah, mengenai insiden yang menimpa Alan, sebagiannya memang ke salahannya yang di karenakan bertemu dengan teman masa kecilnya sampai ketinggalan memberi kabar kepada Alan. Yang intinya, Ruby memang merasa bersalah bukan karena kata-kata Alex mau pun Sandra.


"Oke gue maafin, lagi pula gue gak apa-apa kok dengan kata-kata itu." Kata Ruby melemparkan senyum simpul sebagai bukti bahwa ia benar-benar baik-baik saja. Hati Alex melega mendengarnya, jadi cewek ini lah pujaan hati Alan yang ia bangga-banggakan jika di markas, tidak bosan-bosannya menyebut-nyebut nama Ruby malah justru mereka semua yang jenuh melihat dirinya memamer-mamerkan foto kekasihnya setiap saat dan tiap waktu.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin di obrolkan oleh Alex kepada Ruby entah itu perkara kebiasaan Alan sehari-hari atau pun semua menyangkut Alan, sayang sekali waktu tidak bisa di ajak kompromi. Lonceng bel masuk berbunyi nyaring hingga terdengar di telinga mereka.


"Yaudah gue masuk ya? bye! hadija teman pacar!!" Ruby berlari tergesa-gesa sembari melambaikan tangan kepada Alex yang balas balik melayangkan tangannya, berangsur-angsur wujudnya di halangi oleh pintu gerbang yang di tutup oleh Pak satpam.


***


"Ruby!! lo dapet kiriman!!"


Flora memasuki kelas dengan heboh, kernyitan bingung timbul pada dua kening Ruby melihat di tangan Flora membawa sebuket bunga dengan beragam varian bunga di satukan dalam satu jambak.


Rusuh sekali Flora menggeser kursi dan duduk di sisi Ruby, ia meletakkan buket bunga itu di atas meja dan mengarahkannya kepada Ruby.


"Buat siapa lagi, kalo bukan buat lo!" Ruby meraih buket bunga itu dan membolak-balikannya, tercantum sebuah secarik kertas bertuliskan beberapa kalimat yang berjejer rapi, 'From me, to my little girl'


Pandangan Ruby pindah ke pada Flora yang menampilkan leser curiga, telunjuknya menunjuk Ruby, "Dari siapa? atau jangan-jangan--lo punya kenalan cowok lain selain Alan?"


Spontan Ruby menggelengkan kepala atas tuduhan itu. "Enggak, suer deh!"


Perasaan baru saja Ruby curhat jika ia telah balikan dengan Alan yang tengah berusaha untuk melalui masa-masa di alam bawah sadarnya untuk sekarang. Lalu apa ini? sebuah buket bunga pemberian dari seseorang? Flora yakin pemberinya adalah lelaki.


"Terus, bunga ini dari siapa?" Flora mengangkat bunga yang telah Ruby letakkan kembali di atas meja, andai saja cowoknya bisa seromantis si misterius pemberi bunga ini kepada Ruby, jelas Flora akan mengalami butterfly yang menari-nari. 'Hedehh terlalu ngarep.' Batinnya menurunkan harapannya yang terlalu tinggi.


"Gue gak tahu itu dari siapa. Yang jelas, semalem juga gue dapet kiriman setangkai bunga, lalu nyebut-nyebut gadis kecil kaya gini, awalnya memang gue ngiranya salah alamat. Tapi-- ngeliat kiriman ini lagi berarti itu memang di kirim khusus buat gue dan yang tadi malem memang gak salah alamat."


Antara percaya dan tidak, Flora memaklumi jikalau Ruby memang ada main belakang, bahkan Flora akan mendukung kalau Ruby memang mau membalas dendam terhadap Alan yang telah menyayat kan luka di hatinya.


Sandra yang tengah duduk dari meja yang terpisah tidak jauh dari mereka, hanya mendecih tajam melihat hal tersebut, melipat tangannya di depan dada lalu mulai menyinggung terang-terangan. "Cowok lagi koma, bukannya sedih eh malah gunain kesempatan untuk nyari yang laen!"


Mata Flora merotasi malas, tidak bosan-bosan Sandra mencari perkara. Lain halnya dari Ruby yang memilih abai dari pada berdebat, Flora paling aktif meladeni jika mengenai ini, "Dari pada situ, udah tahu milik temen, masih juga diembat!"


"Heh, cowok yang setia dengan pasangannya gak akan tergoda bahkan dengan segala cara apapun yang di gunakan oleh penggoda." Dengan lagak angkuh langkah kaki Sandra membawanya menghampiri mereka, smirk terukir di bibirnya, "Inget, tamu gak akan masuk, kalo tuan rumah gak ngebukain pintu." ujarnya penuh arti. Jemari-jemarinya lihai menyapu-nyapu pundak Ruby.


***