
Siang berganti malam, pukul sepuluh malam, Valerie selesai bekerja. Ia sedang merapikan tokoh bersama dengan Cloe--teman Valerie satu tempat kerja dengannya.
"Rie, kau konsisten sekali dalam bekerja. Bahkan kau cuti tidak lama dari melahirkan. Padahal, minimal libur untuk orang melahirkan sampai berminggu-minggu untuk memulihkan diri. Tapi kau? Hanya mengambil cuti seminggu." Grania--seorang Wanita dewasa pemilik tokoh atau sebut saja bos mereka.
Nampak Grania mengambil sesuatu dari dalam crossbody bag miliknya, mengeluarkan dua amplop cokelat dari sana. Cloe sumringah ditempat, ia mengusap-usap kedua tangannya tidak sabar ketika bos mereka menyerahkan amplop itu kepadanya juga Valerie satu persatu, "Ini untuk Clo dan ini untuk Rie.. gaji kalian bulan ini. Makasih untuk kerja keras kalian.."
Cloe melirik amplop milik Valerie sebelum menjatuhkan tatapannya pada amplop miliknya, mengapa amplop milik Valerie terlihat lebih tebal dari pada miliknya?
"Madam? Kenapa amplop milikku lebih tipis dari pada punya Rie?"
"Ah iya, saya memberi bonus kepada Rie untuk apresiasi. Jangan berkecil hati, Clo.. kinerja Rie lebih kompeten dari pada kinerjamu. Tidak heran kalau saya memberikan sedikit bonus untuk kompensasinya. Sekaligus saya ingin membantu sedikit keperluan Rie, dia memiliki anak yang belum lama lahir. Biaya kehidupannya lebih besar di banding dirimu Clo.."
"Makasih banyak Madam." Valerie membungkuk atas rasa terima kasihnya. Grania adalah tipikal orang yang baik menurut Valerie pribadi, bukan baru kali ini, Grania sering membantunya dalam keterpurukan.
"Wah! Ini tidak adil! Bagaimana bisa Madam pilih kasih?! Saya tidak bisa menerima ini begitu saja! Bukan hanya Rie, saya juga memiliki keperluan sehari-hari! Lagi pula Rie baru saja mengambil cuti seminggu, kenapa gajinya lebih besar dari pada gajiku?!" Tentang Cloe menggebu-gebu. Lihatlah, kedua tangannya yang berada di sisi tubuhnya sudah terkepal.
Ia tidak akan menerimanya begitu saja, Grania terlalu memanjakan Valerie, hal itulah yang menyebabkan dirinya tidak suka pada Valerie.
"Disini bos siapa? Saya atau kau? Berani-beraninya kau menentangku. Rie baru habis melahirkan, dia membutuhkan biaya dua kali lipat dari pada kau."
Valerie menunduk tak enak hati. "Kalau Clo mau, Rie bisa berbagi separuh dari bonus gajiku agar Clo tidak merasa dicurangi."
"Tidak Rie! Kau jangan naif! Salahkan dia yang tidak konsisten dalam bekerja." Menepis amplop yang hendak di buka oleh Valerie, Grania melarang keras Valerie memberikan cuma-cuma separuh dari bonusnya.
"Madam kenapa sih selalu memihak Rie?! Kami sama-sama pegawai di sini, seharusnya Madam adil dalam memperlakukan kami!"
Grania menyunggingkan senyum sarkas."Kau pikir saya tidak tahu? Hanya Valerie yang fokus bekerja, kau hanya sibuk menggoda setiap pelanggan laki-laki yang mampir."
Mati kutu. Napas Cloe memberat, wajahnya memerah padam menahan emosinya yang siap meluap. Ada dua alasan mengapa ia tidak bisa marah. Yang pertama, ia sadar bahwa orang ini adalah atasannya, yang ada dirinya akan dipecat jika berani membangkang lebih jauh. Kemudian yang kedua, pemaparan Grania tadi adalah fakta yang tidak bisa dirinya sangkal.
"Kalau tidak ada lagi hal penting yang di diskusikan. Sekarang, kalian boleh pulang. Besok kalian bisa datang bekerja lagi."
"Baik Madam. Selamat berjumpa besok, Madam.. Clo.." Sekali lagi Valerie membungkuk sebagai bentuk pamitan pada Grania dan Cloe, ia menyampir tote bag sebelum pergi dari sana.
*****
Valerie tidak bisa menahan senyum ketika masuk kedalam apartemen. Ia mendapati Zeal dan Aiyla yang tertidur pulas di atas sofa, Aiyla masih berada di dalam wrap carrier.
Hati Valerie di diliputi kehangatan. Pemandangan ini seperti keluarga kecil yang sesungguhnya. Ia menggeleng menepis pemikirannya sendiri yang mengada-ada. "Apa yang kau pikirkan Rie? Kau sudah memiliki Suami dan dia sudah memiliki tunangan. Kalian hanyalah sebatas masa lalu, tidak lebih dari itu." Monolognya meyakinkan dirinya sendiri agar tidak goyah.
Sepanjang hidupnya, ia sudah melalui lika-liku yang teramat rumit. Dan kini sudah mencapai di titik ini, pendiriannya tidak boleh terguncang agar upayanya selama ini tidak sia-sia.
Usai membersihkan diri, Valerie menyelimuti mereka kemudian memasak untuk dirinya sendiri dan Zeal berhubungan bahan-bahan makanan di dapur lengkap.
Ditengah itu, Zeal terjaga. Dalam nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia langsung segar mengingat Aiyla.
Sedikit terkejut bahwa dirinya ketiduran, seharusnya ia tidak boleh tertidur dalam mengurus Aiyla. "Ya ampun.. untung saja Aiyla tidak kenapa-kenapa.." Zeal merasa lega melihat baby Aiyla aman, ia hanya takut mengira Aiyla akan jatuh tanpa ia sadari. Terlebih lagi posisinya sedang bersandar.
Hidung Zeal berkedut. Pria itu mengendus-endus mendeteksi sebuah aroma makanan yang menggugah selera. "Siapa di dapur? Apakah Rie sudah pulang?" Gumamnya. Yang tahu password apartemen ini hanya Valerie dan tunangannya.
Akan tetapi, Ivelle tidak ada bakat dalam memasak. Yang berarti sudah dapat di pastikan 100% bahwa yang ada di dapur tak lain dan tak bukan adalah Valerie.
Memutuskan untuk beranjak, Zeal menuju ke dapur bersama dengan Aiyla yang masih tenggelam di alam mimpi, ia menyandarkan bahu di dinding mengamati Valerie yang sibuk berkutat di dapur sambil bersenandung ria. "Sejak kapan kau pulang?"
Atensi Valerie terbagi. Ia mengalihkan pandangannya kearah sumber suara bariton tersebut. "Zeal? Dari kapan kau berada di situ? Kau seperti hantu saja, tiba-tiba muncul di situ tanpa suara sedikit pun."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Dari tadi. Sudah cukup lama, bahkan aku sudah habis membersihkan diri."
Zeal menarik napasnya. Ia mendekati Valerie. "Kenapa tidak membangunkaku?"
"Aku tidak tega. Kau terlihat nyenyak, begitu pula dengan Aiyla." Di detik berakhirnya kalimat Valerie, tangis Aiyla pecah memenuhi area dapur.
"Ssst Aiyla.. Mommy sama Uncle berisik ya?" Valerie meninggalkan kegiatan masaknya untuk sejenak menghibur Aiyla.
"Kau bawalah Aiyla ke kamar. Mungkin dia butuh susu."
"Kau sudah memberinya susu?" Tanya Valerie di sapa anggukan Zeal.
"Tadi sebelum tidur aku memberinya susu. Tapi, mungkin saja dia lapar lagi. Sana bawa dia. Biar aku yang mengambil alih masakanmu."
Valerie terlihat ragu-ragu membiarkan Zeal menangani masakannya. "Umm? Yakin Zeal? Seingatku kau belum pernah memasak selama kita bersama. Apakah kau bisa menjamin tidak akan membakar dapur ini atau membuat makanan gosong?"
Zeal berdecak sebal. Ia menyerahkan bayi kepada sang Ibu. "Enggak, ck. Lagian, kebersamaan kita sudah lama berlalu. Aku belajar memasak. Karena, tunanganku, gak tahu memasak. Katanya, hubungan itu saling melengkapi kekurangan bukan?"
"Wah, kau Pria idaman, Zeal.. jarang-jarang Pria bisa memasak." Valerie merasa takjub.
"Iya kan? Banyak Wanita yang mendambakan seorang Pria serba bisa seperti ku tapi kau menyia-nyiakan ku."
*****