
Pintu kamar Calix dibuka dari luar, Athala masuk menyambangi kamar Putranya, suasana didalam sini sudah gelap, hanya secercah cahaya remang dari lampu tidur yang tertinggal. Calix nampak menggeliat kecil kemudian mengucek-ngucek matanya.
"Papi?" Panggilnya dengan suara serak.
"Maaf, Papi bangunin Calix?"
"Humm. Calix balu tidul, tapi langsung kebangun dengel Papi masuk."
"Papi ngapain disini? Mami mana?" Calix mengarahkan pandangan kearah pintu, mungkin saja Maminya menyusul dari sana, namun sudah beberapa detik berlalu, tak ada yang hadir dari sana.
Athala mendudukkan dirinya ditepi kasur lalu mengikuti arah sorot mata Calix, dia yang cepat tanggap pun berkata pada Calix. "Mami kamu udah tidur. Jadi, Papi yang kesini gantiin Mami."
"Yahh!! Kok Papi sih?!" Sorak Calix merasa kecewa. Ia mendadak terlihat murung. Biasanya Maminya tidak pernah alfa untuk menemani sampai terlelap, menyanyikan lagu pengantar tidur maupun membacakan dongeng untuknya. Kalau itu Papinya, palingan hanya di suruh bobo saja, alih-alih membacakan dongeng, apalagi menyanyikan lagu pengantar tidur.
Athala kembali menata selimut Putranya. "Calix gak boleh terlalu manja. Calix itu anak laki-laki, harus kuat dan mandiri. Karena kelak nanti bakal jadi teman Papi yang jaga dan lindungi Mami dengan Adik-adik Calix dimasa depan nanti."
"Calix bakal punya Adik?" Tanya Calix polos.
"Pasti dong.. Papi sama Mami bakal buatin Adik banyak-banyak buat Calix. Calix kan udah tahu prinsip Papi."
"Pantang menyerah sebelum punya seratus debay!!" Tambah Athala berseru, ia mengepalkan satu tangan antusiasme, disambut wajah datar sedatar-datarnya sang Putra. Melihat hal tersebut membuat tangan Athala turun dengan perlahan.
"Loh? Kenapa Calix kelihatan gak senang gitu? Memang Calix gak suka punya Adik?"
"Suka sih suka. Tapi gak sampai selatus juga."
"Lah apa masalahnya? Harta Papi gak akan habis kalo cuma buat rawat seratus anak."
"Sudahlah, mending Papi bangun panti asuhan aja!" Calix menarik selimut hingga menutupi kepalanya, kini seluruh tubuhnya sudah terbalut oleh selimut tebal. Dari pada berbicara semakin jauh dan tanggapan Papinya semakin ngawur kemana-mana, lebih baik ia tidur.
*****
Seiring langkah demi langkah Ruby berayun mengitari jalan dengan Athala dan Calix yang berada didepan sebagai pemandunya, semakin jauh dia berlari, langkahnya yang semulanya berbalapan kini perlahan mulai melambat sesuai dengan napasnya yang mulai tersendat-sendat, ia mengusap peluh dikeningnya dengan lengan, jalannya sekarang sudah tergopoh-gopoh. "S-sudah.. a-aku gak mampu lagi.."
Dengan kaki bergerak jalan, Athala dan Calix sedikit menghadapkan tubuh agar dapat melihat Ruby. Keduanya menyemangati bidadari cantik mereka. "Semangat Ruby!Lari pagi itu baik untuk kesehatan!"
"Semangat Mami, ayok! Lima menit lagi!"
"Udah--hah.. hah.. A-aku udah gak kuat, huekkk!" Saking lelahnya, ia nyaris saja memuntahkan isi perutnya. "Hiksss.. aku gak kuat lagi.. kalian mau ngelihat aku mati disini?! Hiksss.." rengeknya setengah menangis. Ia menghetak-hentakkan kakinya kesal.
Sepasang Ayah dan Anak itu akhirnya kelabakan melihat Ruby sudah menumpahkan tangisnya, antara khawatir dan juga malu didepan umum, bisa-bisa mereka dijadikan tersangka yang membuat seorang Wanita menangis ditengah jalan.
"I-iya By.. yaudah kita sudahi saja olahraga paginya..." Bujuk Athala.
"Iya Mih, Calix juga udah caaappeeek bingit.. gak kuat lagi buat jalan." Calix menimpali dengan kedramatisannya meletakkan punggung tangannya didahi. Tatapan Ruby turun saat Athala berjongkok.
"Sini, biar aku gendong." Tanpa ragu, Ruby naik ke punggung kokok Suaminya. Athala meringis pelan merasakan berat badan Ruby, kini mereka melanjutkan perjalanan lebih santai dengan Athala menyandang beban dipunggungnya, sedangkan Calix berjalan disamping mereka.
"Humm.." Ruby mempekerjakan sistem otaknya sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya dipipi, terakhir kali ia menimbang berat badan bulan lalu, tak tahu timbangan beratnya badannya sekarang berapa. "Entahlah, aku belum cek timbangan badan. Kenapa memang?"
"Kayaknya naiknya banyak deh. Berat badanmu beratnya jauh beda dari bulan lalu."
"Berarti, sekarang aku gendutan dong?"
"Enggak juga...buktinya saat ini aku mampu gendong kamu." Jawab Athala hati-hati. Bisa berabe nanti kalau ia memberikan jawaban yang tidak dapat menyenangkan Ruby. Puji Tuhan, Ruby hanya memberikan respon angguk-anggukkan kepala, Athala dapat bernapas lega.
*****
Ruby mengibaskan tangannya mengipasi wajah. Sehabis mencari keringat dengan olahraga, kali ini ia kegerahan. Peluh mengucur deras dikeningnya. Tak berselang lama, sebotol minuman air mineral tersodor kearahnya.
"Nih, minum dulu." Tanpa basa-basi, Ruby langsung menyambutnya dan meminumnya hingga tandas untuk menuntaskan dahaganya. Athala mengambil tempat duduk disampingnya lalu menyandarkan kepalanya dibahu Ruby, matanya terpejam menikmati aroma udara sejuk disekelilingnya.
Saat ini mereka sedang duduk istirahat dibangku panjang yang terpatri dibawah pohon rindang terdapat diarea taman luas mansion depan kediaman mereka. Setelah menyelesaikan minumnya, Ruby membuang sampah sembarangan, biar pekerja dilingkungan mereka yang membersihkan.
Kicauan burung yang menari-nari diudara memecahkan keheningan yang melanda. "Mami, Mami! Menurut Mami gantengan siapa, Calix atau Papi?" Celetuknya Calix yang sedang merebahkan kepala dipangkuan Maminya.
"Papi lah! Dimana-mana yang bikin lebih cakep dibanding turunan." Sahut Athala segera.
Calix memutar bola matanya kesal. "Ditanyain siapa yang nyahut siapa! Kenapa? Papi takut jawaban Mami gak sesuai halapan Papi?!" Tantangnya tak mau kalah.
"Heh, jadi anak, durhaka ya kamu! Kamu gak tahu aja gimana usaha keras Papi ciptain kamu, maju-mundur sampai keringetan, kelelahan olahraga sampai dini hari. Mami kamu merintih--aduh aduh, sakit By.."
Ruby menjewer telinga Athala untuk memberinya pelajaran. Mulutnya tak bisa difilter. Lawan bicaranya anak kecil lagi. "Mau sesatin otak anak, hmm?"
"Fakta By.. ih lagian Calix tanpa disesatin, dianya sudah sesat memang. Kecil-kecil suhu.. kalah sama aku. Aku mah kalo pengen tinggal minta sama kamu langsung dikasih..kamu kan baik hati, sayang.." Athala menyengir tanpa dosa.
"Ah iya! Aku baru inget, aku ada nemuin majalah pornografi di perpus mansion. Punya siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Papi!"
"Heh, sekate-kate nih anak fitnah Bapak sendiri! Bohong dia By! Barangkali miliknya, jadi nuduh aku!"
"Mana mungkin anak sekecil aku tahu mengoleksi gituan?!"
"Jangan jadiin usiamu untuk melemparkan kesalahan ke Papi ya! Mentang-mentang bocil, gak mau disalahin, hih!" Dari sini, Athala mendadak jadi ingin kembali menjadi anak kecil lagi, biar apa-apa selalu benar. Jadi laki-laki dewasa itu sulit. Serba salah dimata Istri.
Ruby membuang napas jengah, ia lagi ingin ketenangan bukan perdebatan tak berguna begini, masa bodoh lah milik siapa majalah gak jelas itu, toh bukan urusannya. Biarkan mereka berkembang pada masanya. Ruby menyingkirkan kepala Athala yang bersandar dibahunya juga kepala Calix yang ada dipangkuannya lantas berdiri dari duduknya.
"Dahlah, mending aku bantu-bantu pelayan siapin makan siang. Dari pada dengerin perdebatan kalian, berisik banget ditelinga aku!"
*****