
WARNING!🔞
Kelopak mata Ruby terpejam menikmati sensasi suhu air hangat yang menyentuh tubuhnya yang tidak mengenakkan sehelai benang pun, suasana damai dan tenang, ia sedang berendam di bathub. Berlangsung tidak lama, netranya terbuka saat merasakan pergerakan di air. "Ngapain?"
"Menurut kamu, aku ngapain disini selain mandi?" Athala, sang Suami ikut bergabung di satu tempat yang sama dengannya, ia hanya mengenakkan boxer tanpa atasan, Athala sedikit mengangkat tubuh mungil Ruby dan beralih menjadi dirinya yang berada dibawah dengan badan bagian belakang Istrinya menindih tubuh atletisnya.
"Athala.. jangan mulai deh, aku lagi gak ada energi untuk main-main sama kamu." Ruby mendorong wajah Athala agar tidak seenak jidat mengendus-ngendus dibahu terbukanya. Bisa ia prediksi, jika akan ada fenomena berbahaya yang akan terjadi didepan matanya. Dan waktu mandi yang seharusnya hanya memakan waktu sepuluh menit akan sampai berjam-jam.
"Memang kamu pikir tujuan aku berendam bareng kamu, apa?"
"Mandi saja tanpa melakukan yang aneh-aneh, bisa? Aku lagi lelah, letih, lesu. Lagi gak mood." Ruby menahan pergelangan tangan Athala yang nakal, meraba-raba pahanya. "Udah kuperingat--ah!"
"Atha!!" Intonasi suara manis Ruby terdengar setengah memekik. Bagaimana tidak?! Satu jari telah masuk. Atmosfer dibilik kamar mandi menjadi berubah, dari yang awal adem, kini didominasi oleh hawa hangat yang membara.
Dengan mata terpejam menikmati, belakang kepala Ruby bersandar didada bidang Athala, ia menggigit bibir bawahnya berusaha keras menahan suara mesumnya agar tidak keluar kepermukaan. "H-hentikanhhh.."
"Maunya begitu Babe.. tapi tangan aku gerak sendiri.. pengen masuk sarang.." ujar Athala dengan suara serak-serak basah. Kegiatan sebelah tangannya tidak berhenti, meremas sebuah gundukkan yang empuk. Dengan posisi miring, sisi kepalanya bersandar dibahu Ruby, dari sudut samping, ia menonton bagaimana ekspresi yang ditunjukkan Ruby.
Kini mulut Ruby sedikit terbuka mengeluarkan rintihan vul*gar. Ia tidak bisa lagi berpikir jernih, jiwanya seolah melayang di awan-awan, pahanya terbuka seakan memberi akses Athala agar lebih leluasa dalam memporak-porandakan bagian dari dirinya.
"Baru satu jari loh?"
Matanya sayu, Ruby melenguh, kaki-kakinya bergerak tidak nyaman. Athala mulai menghitung seberapa banyak jari yang ia masukkan ke liang. "Dua.."
"Tiga.." Ruby makin tak karuan.
"A-atha..i-itu mau keluar!!" Ruby mengeratkan cengkramannya di lengan Athala, tubuhnya menggelinjang dengan kaki tertekuk saat ia telah mencapai puncak, Athala mengeluarkan jarinya lalu menjilatnya.
"Nikmat hmm?" Bisiknya lalu menggigit daun telinga Ruby yang sedang mengoptimalkan deru napas. Dengan tangan di dua sisi pinggang ramping Istrinya, Athala membalikkan tubuh Ruby menghadap dirinya. Tangan mungil Ruby memukul kesal dada telanjangnya.
"Nyebelin! Akunya lemes, tahu?" Athala tertawa renyah melihat Ruby dengan ekspresi kecutnya. "Lanjut atau berhenti?"
"Stop aja deh.. gak mampu lagi, ngantuk.." Ruby tidak bohong, pulang malam dan seharian ia beraktivitas dirumah sakit, ditambah lagi dengan kejahilan Athala, stamina tubuhnya benar-benar terkuras habis.
"Yasudah kalo gitu, puasin aku pake tangan aja." Athala menuntun tangan Ruby menuju kesana membuat Ruby merengek malas. "Gak mau Aaa... Aku ingin segera menyelesaikan ritual mandi ku dan segera bobo, Atha!!"
"Bentar doang By.. aku udah muasin kamu, masa gak ada timbal baliknya?"
"Ish!!!"
*****
Pintu kamar sepasang Suami-Istri itu dibuka dari luar, Calix menyembulkan kepalanya dari cela pintu yang terbuka menemukan Papinya sedang menggendong Maminya ala bridal style menuju tempat tidur. "Sst!! Sst!! Papi!"
Athala yang akan meletakkan tubuh Ruby yang telah terlelap diatas ranjang jadi terdistraksi akan suara bisikan dari arah pintu, ia mengalihkan perhatian menuju sumber suara yang terdengar mungil.
"Ada apa?"
Calix melangkah kearah Papinya, Athala menarik selimut tebal hingga sebatas dada Sang Istri "Katanya mau makan malam baleng? Calix udah nunggu lama tadi di meja makan."
"Sssst! Pelankan suaramu!!" Jemarinya Athala letakkan di bibir membuat Calix reflek menutup mulutnya "Mami kamu ketiduran dari kamar mandi."
"Pasti ulah papi kan?!" Calix mengacungkan jari telunjuk, melemparkan aura horornya, ia pengen setiap malam, makan malam bersama Maminya agar lebih asik, tapi sepertinya malam ini makan malam mereka akan hambar karena Maminya akan alfa dimeja makan karena perbuatan Papinya ini.
Sembari cengar-cengir tanpa dosa, Athala menggaruk-garuk sisi kepalanya tak gatal. "I-itu--gak lama, dua jam doang Calix.. Papi mau bikin Adek buat Calix biar Calix ada temen dirumah.." Salah satu bakat terbaru Athala mungkin menjadi penipu handal, ia membohongi Ruby yang katanya memuaskan menggunakan tangan saja, nyatanya ia menerkam Ruby selama berjam-jam didalam kamar mandi.
Dengan tangan bertumpu pada dahi, berdecak-decak tak habis pikir, malang sekali nasib Maminya. "Ck, ck..Papi.. Papi.. setidaknya Papi bialin Mami makan malam dulu balu main.."
"Y-yah, mana tahan?" Calix hanya bisa geleng-geleng kepala, biarlah Papinya berkembang, bahkan Papinya tidak tahu malu mengungkapnya privasi mereka dengan bahasa ambigu pada anak kecil sepertinya.
"Calix gak mau makan sendili, maunya baleng Papi sama Mami bial selu.." Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap, kedua kakinya berayun-ayun diudara, arah pandangnya kearah Maminya, sedangkan Athala ikut naik kesatu ranjang yang sama dengan Sang Istri dan Putranya. Ia memasang posisi duduk bersila diatas tempat tidur, berada persis disisi Ruby yang sedang menyelam di lautan mimpi.
Sepasang Anak dan Ayah itu dengan kompak, menatap lekat Wanita berparas menawan yang menjadi nomor satu dihati mereka, tidurnya terlihat pulas sekali. "Istri Papi cantik banget ya?" Celetuk Athala.
Calix mendelik tidak senang. "Heh, enak aja Istli Papi! Mami Calix kali!!" Bantah Calix tak terima Athala menyebut Maminya sebagai Istri.
"Mami Calix Istri Papi!!" Athala meladeni Calix. Baiklah, perdebatan antara sepasang Ayah dan Anak akan dimulai.
"Tapi Istli Papi, Mami Calix!!"
"Anak doang belagu! antara anak dan Suami, Suamilah lebih tinggi takhtanya dihati seorang Istri! Anak mah bisa disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan kalo perlu!"
"Heh, heh, heh! Enak saja disumbangkan! Kalo kedengalan Mami, Papi bilang begitu, awas saja! Mami bakal malah besal ke Papi! Siap-siap aja diusil dali kamal telus tidul dilual!"
"Gak bakal!!"
"Eunghhh.." Bibir mereka seketika terkatup saat Ruby melenguh pelan, tidurnya sedikit terusik karena argumen Athala dan Calix, ia menggeliat kecil.
"Tuh kan, gara-gara kamu, tidur Mami jadi terganggu!"
"Kok nyalahin Calix doang sih?! Papi juga lebih salah disini!"
"Loh Calix? Athala? Apa yang kalian ributkan?" Ruby meregangkan otot-otot tubuhnya, dengan muka bantalnya, sambil bangun dari posisi tidurannya, ia menatap Athala dan Calix secara bergantian.
"Ini loh By.. Calixnya gak tahu diri jadi anak! Masa dia gak terima aku nyebut kamu sebagai Istri.." dengan manja Athala meraih tubuh Istrinya untuk didekap, dagunya bertumpu dibahu Ruby, tidak lupa menjulurkan lidah mengejek Putranya karena ia merasa telah memperoleh kemenangan dengan pelukan.
"Bohong Mih!! Papi tuh yang mulai duluan! Katanya Calix lebih bagus disumbangkan kepada olang yang lebih membutuhkan.. Ayah yang mana tega menyumbangkan Anaknya ke olang lain.." Ujar Calix memasang ekspresi yang ingin menangis.
Mata Athala membola melihat sandiwara Calix, 'Dramatis banget nih anak?!' Memang ia bilang begitu, tapi bagaimana yah? Calix terlalu melebih-lebihkan ucapannya sehingga hasilnya dirinya menjadi Ayah paling buruk dan seorang Ayah yang tidak ada hati nurani. Dan apa tadi?! Mulai duluan?! Heh perasaan Anaknya ini yang memprovokasinya duluan, bukan dirinya.
Menggunakan segenap kekuatannya Ruby sontak mendorong dada Athala hingga mau tidak mau rengkuhan Athala pun terlepas dengan sendirinya. Ruby mengeluarkan aura-aura tidak bersahabat menyorot sengit kearah Athala, Pria itu menciut melihatnya, sepertinya Istrinya ini percaya dengan perkataan Calix.
Sebagai konsekuensinya, Ruby menjewer kuar telinganya membuat Athala mengadu kesakitan. "Aduh-aduhh, sakit By.."
"Mau menyumbangkan anak kepada yang lebih membutuhkan humm? Kamu gak tahu saja gimana perjuangan aku mengandung, melahirkan dan membesarkan Calix saat Papinya sendiri gak mau bertanggung jawab.."
"Y-yah itukan aku lagi amnesia By.. mana tahu aku tentang kalian saat itu.." Athala melirik Calix, rasanya ia ingin menceburkan bocah lucknut itu keselokan biar tahu rasa. Lihatlah sekarang, ia melayangkan gestur menjulid dengan jari telunjuk, ia menarik pinggir matanya buat mencibirnya. Calix bahagia diatas penderitaan Papinya.
Kepala Athala terhempas saat Ruby melepaskan kasar cubitan tangannya pada daun telinganya. Embun menggenang di pelupuk mata telah siap untuk tumpah, sudut bibirnya melengkung kebawah, ia mengusap-ngusap telinganya yang nyaris koyak akibat jeweran maut Istrinya.
"Calix? Kamu udah makan malam?" Ruby memusatkan perhatian pada Calix setelah sebelumnya memberi perhitungan pada Suaminya.
"Belum Mih.."
"Loh, kok belum?"
"Gak mau makan kalo gak baleng Mami.."
"Yaudah, Calix turun duluan aja, tunggu Mami di meja makan, Mami mau ganti baju dulu." Ruby mengelus pucuk kepala Calix dengan lembut mengabaikan Athala yang kini menggerutu sambil menarik-narik ujung bajunya. Tidak mungkin ia makan malam mengenakkan pakaiannya yang sekarang. Karena saat ini, Ruby masih memakai handuk kimono yang ia kenakan dari kamar mandi.
"Asiapp!!" Calix melakukan gerakan hormat sebelum turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Papi dan Maminya. Ruby menghela napas kasar lalu menepis kasar tangan Athala dari bajunya. "Lepas!"
Athala menyungut sendu. Jujur saja ia takut jika Ruby sudah dalam versi senggol bacok. "Jangan galak-galak By.. Suaminya Ruby ini jadi takut lihatnya.."
"Hih! Najis aku lihat kelakuanmu Tha!" Ruby melempar bantal kearah Athala. Sukses, menimpuk wajah tampannya, Athala hanya bisa elus-elus dada mencoba tabah menerima penganiayaan Istrinya sambil mengamati Ruby yang grasak-grusuk mulai beranjak dari tempat tidur menuju lemari yang terpatri disudut untuk menukar pakaiannya.
*****