My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.JALAN-JALAN



Alan membawa Calix jalan-jalan ke mall, untuk yang pertama-tama mereka ke pusat perbelanjaan pakaian, yang mana ada beragam pakaian yang diperjual belikan disana.


Calix membeli beberapa baju kaos dilengkapi celana dengan motif khusus anak-anak yang menarik menurutnya, tentu hasil dari paksaan Alan, dia sebenarnya tak enak hati jika menerima barang pemberian dari orang lain.


Selesai dengan urusan pakaian, mereka lanjut dengan mengunjungi berbagai pusat permainan, dimulai dari permainan miniapolis, Kidzania, Funworld lalu yang terakhir adalah capitan boneka, Alan setia menemani Calix kemana pun anak laki-laki itu mau.


Melihat pertumbuhan Calix yang hari demi hari semakin berkembang, ada rasa khusus tersendiri untuk Alan, dia merasa seperti melihat pertumbuhan Anaknya sendiri, dia bahagia menyaksikan Calix tumbuh dengan baik. Jika Ayahnya tak pulang-pulang sampai nanti, Alan bisa menjadi Ayah untuknya tanpa harus mengikat Ruby dengan pernikahan.


Kini mereka berdua masih jalan-jalan ditempat umum, menikmati hiruk-pikuk yang padat akan orang-orang, mereka masih bingung akan melakukan apa lagi.


Saat ini Alan sedang mengenggam tangan bocah kecil tersebut. Sebelah tangan Calix memeluk sebuah bola yang dibelikan oleh Alan. Mereka tak mendapat boneka sama sekali saat bermain mesin capit, jadi Alan membelikannya mainan yang sudah ready.


Jika dilihat-lihat dari cara mereka berinteraksi, bagi orang yang sekilas melihatnya mereka berdua memang terlihat seperti sepasang Ayah dan Anak.


"Boy, cacing-cacing diperut kamu, udah pada demo belum?"


Telapak tangan mungil Calix reflek menepuk-nepuk perut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alan. "Sepeltinya udah. Dari tadi calling telus, Paman.. mereka manggil-manggil dari tadi, Calix, kami lapal minta makan."


Alan terkekeh lucu mendengar Calix mencontohkan suara cacing-cacing diperutnya. "Yasudah kalo gitu, kita makan dulu ya?" ujarnya dibalas anggukan oleh bocah kecil tersebut.


Mereka mampir di food court ditempat menyediakan jajanan serba ada, Alan dan Calix mengambil posisi disalah satu meja. Untuk sesaat Alan mengamati menu-menu yang ada disini, setelah meminta pendapat dari Calix soal makanan yang dipesan, Alan pun memesan makanan.


"Boy, mumpung makanan udah dipesan, kamu tunggu disini dulu ya? Paman mau ketoilet dulu bentar, kamu jangan kemana-mana."


Begitu mendapat anggukan patuh dari Calix, Alan bergegas beranjak dari posisinya menuju toilet meninggalkan beberapa paper bag dimeja bersama dengan Calix, Calix menunggu ditempatnya, kedua kakinya yang menggantung, tak tinggal diam berayun-ayun diudara.


Tiba-tiba bola yang ada dipegangannya terlepas, bola itu menggelinding dilantai dengan jarak sedikit jauh, Calix turun dari kursi lalu melangkah menuju bola tersebut.


Tak seberapa jauh lagi jaraknya dari bola itu, Calix tak sengaja menabrak kaki seorang Pria berjas dilengkapi celana formal warna hitam. Tubuh Calix yang kecil dibuat terjerambab kelantai.


"Oh? I am sorry boy, aku benar-benar gak sengaja." Pria itu berjongkok, dia mengusap-ngusap kepala Calix.


"Ada yang luka, Boy? sepertinya aku menabrakmu cukup keras."


Calix tercengang, lidahnya mendadak keluh, pasalnya Pria dewasa didepannya meneteskan air mata. "Paman? kenapa Paman menangis? Paman kan olang dewasa. Olang dewasa gak boleh menangis.


Keningnya mengernyit dalam. "Menangis? Paman tidak--" Kalimatnya menggantung saat dia meraba pipinya, ternyata perkataan anak kecil dihadapannya benar, tangannya basah.


"Ah, mungkin mata Paman kelilipan. Kau mau mengambil bola itu?" Dia menunjuk bola milik Calix, yang ditanyai pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Lelaki itu mengambil bolanya lalu menyerakannya pada Calix. "Ini bolamu. Lain kali hati-hati ya, kau bareng siapa kesini?"


"Sama Pamannya Calix, tapi dia lagi ketoilet."


Dia mengangguk-anggukkan kepala. "Jadi namamu, Calix?" Entah mengapa ada sebuah perasaan aneh yang membuatnya jadi tertarik dengan bocah kecil ini.


"Atha!! buruan kesini! katanya ngajak makan! kok malah ngobrol sama anak kecil sih?"


"Iya iya!" Sahutnya kepada seorang Perempuan yang mendesaknya, dia kembali memusatkan perhatian pada Calix. "Yasudah, Paman permisi ya? calon Istri Paman sudah manggil."


"Makasih ya Paman, Paman olang baik."


Dia hanya membalasnya dengan senyuman manis, Calix ikut bangun dari posisinya saat Pria itu mulai beranjak dari tempat.


"Yah.. udah punya calon Istli telnyata, padahal mau Calix comblangin sama Mami.." Monolog Calix merasa kecewa. Dia menyorot punggung lelaki yang dia sebut sebagai Paman baik.


"Calix ngapain kamu disini? Pamankan sudah pesan, jangan kemana-mana, disini ramai banget, kalo kamu hilang gimana? bisa-bisa leher Paman dipenggal mami mu."


"Tadi Calix cuma mau ngambil bola Calix yang gelinding, Paman."


Alan menghembuskan napas cukup berat, dia membawa tangan kecil Calix kedalam genggaman. "Yasudah, ayok kita kembali kemeja tadi, kita mengisi tenaga dulu."


"Asiap!!" Seru Calix mengangkat kepalan tangannya diudara.


*****


"Sudah gosok gigi?" tanya Ruby mendapat anggukjan dari Sang Putra, dia sedang bersandar dikepala ranjang. Mengalihkan perhatiannya dari majala dalam genggamannya kearah Calix.


"Good boy. Sekarang waktunya bobok."


Calix merangkak kearah ranjang bergabung dengan sang Mami, Ruby meletakkan majalah di atas nakas lalu kembali ketengah ranjang, dia menarik selimut hingga sebatas dada Calix yang telah rebahan, sedangkan dia masih bersandar disandaran ranjang, Ruby mengelus-ngelus permukaan rambut Calix.


"Mami?"


"Eumm?"


Calix mengadakan pandangan kearah Ruby. "Tadi siang saat Calix jalan sama Paman Alan, Calix ketemu sama Paman baik."


"Paman Baik siapa lagi, Calix?"


"Ada Mih. Dia ngambilin bola Calix. Tapi dia Plia dewasa yang cengeng. Dia nangis didepan Calix, masa? Calix aja yang selalu di ejek gak punya Papi gak nangis tuh."


"Nangis? mungkin dia teringat dengan anaknya saat ngelihat Calix."


"Calix pengen punya Papa, Mih.. kenapa Paman gak jadi Papi Calix aja? bial dia tinggal baleng Calix juga Mami?"


Ruby beranjak dari tempat, memperbaiki selimut Calix. "Sudah ya,Calix jangan mengada-ngada, mending Calix cepat bobo biar besok kesekolahnya gak ngantuk."


Mendadak Calix jadi terlihat murung. "Kalo Calix mau menuluti pelmintaan Mami, Mami bakal bawa Calix ketemu Papi? Calix pengen ketemu sama Papi.."


Ruby menghela napas ringan, mengapa belakangan ini, Calix terus membicarakan mengenai Papi? "Nanti aja ya? tunggu Papi pulang.."


"Kapan Mi? dari lalu Mami janji, kalo Papi pulang bakal ketemuin Calix sama Papi, tapi kenapa sampai sekalang, Papi belum pulang-pulang juga? Papi gak sayang sama kita?"


"Calix.." Kedua mata Ruby berkaca-kaca, air matanya sudah berdesakan keluar, dengan mendongakkan wajah, Ruby tetap berusaha untuk menahan sekuat tenaga.


"Mih, Calix pengen ngelasain kasih sayang Papi, pelukan hangat Papi, jalan-jalan sama Papi---"


"Stop Calix!!" Nada suara Ruby naik satu oktaf, "Gak bisakah Calix hidup bersama Mami saja?! kenapa terus nuntut Papi ada?! emang Calix gak puas hidup berdua bersama Mami?!"


Kepala Calix menunduk dalam, dia mengeratkan tangannya yang memegangi ujung selimut. Sepertinya, Maminya marah.


"Calix hanya pengen Papi ada untuk kita, bial Mami gak telalu kecapekan bekelja siang malam hanya demi Calix. Kalo ada Papi, Mami gak akan bekelja kelas sepelti sekalang."


"Papi, Papi, Papi terus yang keluar dari mulutmu! emang kenapa kalau Mami bekerja keras?! Calix itu bukan orang lain, sudah menjadi kewajiban Mami ngerawat dan biayain segala kebutuhan Calix. Jadi, kita tetap bisa menjalani hidup dengan baik tanpa adanya Papi."


"Tapi--tetap saja, Calix pengen--"


"Hentikan! Papimu gak menginginkan kita! dia membuang kita! puas?! itu jawaban yang kamu inginkan?!" Bentak Ruby berhasil membuat tubuh Calix membeku.


Dengan gerakan kasar, Ruby menghapus air matanya yang berjatuhan membasahi pipinya. Dia kemudian mengangkat suara lagi, namun dengan volume yang lebih rendah. "Mami harap, Calix berhenti ngungkit-ngungkit Papi lagi mulai sekarang."


Calix mengangguk lemah, "Iya Mih."


Ruby menarik napasnya dalam-dalam agar dapat meminimalisir rasa sesak didalam dadanya. Dia sedih bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Calix, masih dini harus menjalani pertumbuhan tanpa sosok Ayah.


Alhasil, dia menjadi haus kasih sayang seorang Ayah dan menjadi bahan olok-olok kan oleh teman sebayanya.


"Sekarang, waktunya Calix tidur."


Menegakkan punggung, Ruby mematikan lampu utama kamar Calix, menyisakan secercah cahaya temaram lampu tidur. Dia keluar dari sana tanpa menerapkan kebiasannya, tidak lain mengucapkan selamat malam ataupun memberikan kecupan sebelum tidur untuk Calix.


*****