My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.BONCHAP 09 : PIKNIK AKHIR PEKAN



"Yeay! Akhirnya sampai!!" Calix lari-larian kearah pintu utama villa. Yup, akhir pekan ini, Athala membawa keluarga kecilnya berlibur ke villa pribadi mereka. Sudah sering kali mereka berkunjung kesini setiap hari minggu. Lokasi yang berada ditengah hutan belantara, cenderung bikin adem dan tenang.


"Calix, jangan lari-larian gitu.. jatuh, nanti hidung kamu pindah kepantat, mau kamu?!" Peringat Athala mendapat pukulan dilengannya, siapa lagi pelakunya jika bukan Istrinya.


"Masa iya sampe pindah kepantat, ngawur kamu!"


Rencananya, selama proses masa kehamilan Ruby sembilan bulan kedepan, Athala akan menghabiskan waktu bersama mereka disini, biar pikiran Ruby bisa jernih. Dari pengalaman, Athala sudah mengambil hikmah. Ia pernah mengalaminya dan proses kehamilan itu sangat berat dan sulit untuk dijalani.


Efeknya dapat menimbulkan energi sensitif, mual-mual tak jelas, mudah lelah, pikiran tak bisa tenang sering dilanda kegundahan tanpa sebab.


Athala ingin Istrinya melalui masa kehamilan tanpa dihantui pekerjaan ataupun hal lain. Perkara sekolah Calix, ia bisa menyewa baby sitter untuk mengurusnya dan bisa menyambangi tempat ini apabila di akhir pekan atau libur sekolah.


Mereka masuk kedalam Villa usai dibuka oleh Athala. Tak perlu membersihkan lebih dulu, karena villa ini sering mereka kunjungi, dan tak jarang, Ruby akan bersih-bersih jika bermain ketempat ini.


*****


Cuaca yang cerah, angin sepoi-sepoi bergeser, beradu dengan alam menciptakan aroma mint, mendukung acara piknik mereka dibawah pohon-pohon yang ada di kawasan hutan ini.


Sepasang Ayah dan Anak sedang disibukkan menangkap capung menggunakan jaring. Jalan mereka sudah agak jauh jaraknya dari Ruby yang sedang duduk dikarpet piknik.


"Calix..Atha.. kembali sini, kita makan dulu.."


Ruby memanggil Calix dan Suaminya sebelum mengeluarkan macam-macam jenis makanan dari dalam tas keranjang, menyajikannya diatas karpet piknik. Sengaja mereka belum makan sedari Mansion, agar bisa makan bersama disini sambil menikmati indahnya alam.


"Ayok baby Boy..saatnya kita sarapan!!" Athala mengangkat Calix yang disela lengan. Sang Putra meronta-ronta, amit-amit digendong oleh Athala.


"Tulunin Calix, Ih!! Calix udah gede, bisa jalan sendili!" Celoteh Calix sepanjang perjalanan, tak ketinggalan dengan tubuhnya yang memberontak. Masa bodoh lah, Athala mengabaikan dan tetap terus menggendongnya.


"Gede dari mana? Jangan ngerasa gede kalo nyebut er saja belum bisa."


"Emang nyebut el, bisa dijadikan tolok ukul sebelapa besalnya anak?"


"Iyalah! Kalo kamu belum bisa nyebut er dengan benar, berarti kamu masih bau kencur! Belum bisa disebut gede!"


"Tapi kata Mami, kedewasaan manusia dinilai dali pemikilan bukan dali usia ataupun besalnya fisik. Mau sebelapa tua olang, kalo pemikilannya masih kanak-kanak, belalti belum dewasa."


Athala terperangah, ia serasa dapat motivasi dari seorang bocil. Yang patut diacungi jempol adalah, Istrinya yang telah mendidik Calix. Ia mengajarkan berbagai hal bahkan sampai hal-hal dasar pada Putranya ini.


Calix berlari kearah Maminya begitu diturunkan oleh Athala dari gendongannya. "Mami, Mami!! Kata Papi dia mau cali janda untuk dijadikan selingkuhan!!"


Kedua mata Athala nampak membelalak. Lah?! Perasaan ia tak pernah mengatakan kebohongan itu--dasar anak durjana!


Athala melirik hati-hati memeriksa reaksi Ruby.. tuhkan! aura sang Istri sudah horor. "Bohongnya By bohongnya..udah punya spek bidadari, ya kali nyari lagi..!"


Ruby mencebikkan bibir sewot. Lupakan saja, lagi pula ia percaya sama Athala, yang berbohong memang Calix, mengingat bagaimana tabiat anaknya itu, suka sekali membual, entah ajaran dari mana.


Ia mengalihkan perhatian pada persiapan bekal mereka. Jika tak mengingat mereka harus mengisi perut, mungkin ia akan bercekcok dengan Athala hanya karena kurang pekerjaan.


Athala duduk bergabung bersama mereka dengan perasaan melega, untung saja Istrinya tak mempermasalahkan fitnah yang dilontarkan oleh Putra laknatnya.


Meraih sumpit bersiap akan makan bekal yang ada didepan matanya, Athala pun mengajukan pertanyaan pada Ruby. "Ruby? Baby-nya pengen makan yang mana..? Aku suapin deh."


"Y-yaudah, Mami Baby mau makan apa hmm? Nanti Papi yang bakal suapin.."


Hidung Calix mengerut jijik. Merindinglah tubuhnya. Mami dan Papinya sangat norak, ia berpikir mungkin kah rata-rata hubungan sepasang Suami-Istri selebay mereka? "Alay!"


"Bocil, diem!" Tukas Athala. Ia menyuapkan Ruby menggunakan sumpit.


"Aummm..." Mulut Ruby terlihat bergerak, mengunyah-ngunyah makanan pilihannya yang masuk kedalam mulutnya. "Enak.."


"Istri pintar.." Athala membelai kepalanya yang terlapisi helai rambut. Pria itu ingin memberikan yang terbaik untuk Istrinya dimasa ia tengah mengandung buah hati mereka, ia tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama dimasa lalu.


*****


Dengkuran halus terdengar dari Calix. Anak kecil itu telah tertidur digendongan Athala. Ruby meliriknya hingga mengusap sisi kepala Calix, "Dia, udah tidur Tha.."


Kini mereka masih ada ditengah hutan seusai makan siang, menikmati udara di alam disekeliling yang sejuk, tenang dan tentram.


Athala mengangguki perkataan Istrinya yang kini menyandarkan kepala dibahunya, ia menggenggam tangan Wanita berharga disampingnya itu, "Makasih, ya.." Athala tak tahu harus dengan cara apa menyalurkan rasa terima kasih yang begitu besar pada Istrinya.


"Berterima kasih buat apa, hmm?"


"Makasih untuk semuanya yang kamu berikan ke aku..aku, bahagia banget memiliki keluarga yang tidak aku miliki semenjak Ibu kandung aku meninggal.. kehadiranmu, Calix, plus malaikat kecil kita yang masih tumbuh di rahim mu sekarang..kalian adalah kebahagiaan yang gak terkira dikaruniakan oleh Tuhan untuk Aku.."


Sepasang mata Athala mulai berkaca-kaca, "Saking bahagianya, aku ngerasa ini hanya mimpi.."


Hanya ada kata bahagia yang hebat mendatanginya kala menikah dengan Ruby. Sungguh, ia bahkan tidak tahu harus dengan bentuk apa untuk berterima kasih padanya. Andai saja garis takdir tak mempertemukan mereka pada malam itu, hingga detik ini Athala yakin, ia tak akan memiliki keluarga kecil seperti ini.


Ruby menegakkan punggung, memusatkan pandangan kearah wajah Athala, tangannya terulur kemudian membingkai wajahnya. Ia merapikan sedikit rambutnya yang berantakan diterpa angin.


"Aku gak nyangka, kamu akan mempertahankan dan merawat Calix hingga sebesar ini, sementara aku meninggalkanmu saat lagi mengandung darah daging aku.. aku--aku--" Isak tangis Athala pecah saat itu juga, tenggorokannya tercekat jika mengingat kembali perbuatannya.


Menghamilinya ketika usianya masih terbilang muda, meninggalkan Ruby sendirian saat lagi mengandung benihnya lalu berjanji akan kembali dalam jangka waktu satu bulan. Namun, nyatanya ia menghilang, meninggalkan dirinya selama bertahun-tahun.


Kembali dalam memori ingatan yang terhapus total. Melupakan jati dirinya, melupakan wanita tercintanya dan melupakan segala kenangan indah yang terangkai sedemikian rupa. Selalu menolak keberadaannya kala memperjuangkan dirinya. Betapa bajingan nya dirinya ini..


Mengubah posisi, Ruby duduk bersimpuh agar dapat membawa kepala Athala untuk dipeluknya, ia mengusap-usap belakang kepalanya mengalirkan ketenangan. Seolah membiarkan masalah itu berlalu begitu saja.


"Aku melakukan itu karena aku juga menginginkan Calix.. sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang Ibu untuk merawatnya dan mendidiknya terlepas ada atau gak adanya kamu yang bernotabe sebagai Ayahnya.. bukan hanya berharga bagi kamu.. dia, juga berharga bagi aku Tha.. jadi, gak usah ngerasa bersalah.."


"Kalau boleh jujur, aku sangat terluka kala itu.. tapi, alangkah baiknya kalau kita melupakan masa yang menyakiti hati kita dan fokus dengan masa sekarang. Kita, sudah memulai lembaran baru, dimasa yang akan datang kita akan terus bersama dan menciptakan momen manis bersama. Jadi, come on.. biarkan kenangan pahit itu berlalu.." Tambah Ruby panjang lebar. Berhasil menohok hati Athala, ia semakin merasa bersalah.


Reflek, kelopak netra Athala terpejam ketika Ruby melabuhkan ciuman cukup lama dikeningnya, setelah ia menjauhkan diri, Athala berkata lirih. "Maaf dan terima kasih.. aku, sangat menyayangi kalian.."


"Pih? Papi kenapa nangis..?" celetuk Putranya. Tangan mungil Calix terangkat, menghapus beberapa titik cairan bening kristal di pipi Papinya. Ternyata ia terjaga karena keributan yang diciptakan oleh Athala.


"Oh ini?" Athala menyeka jejak air mata diwajahnya. "Ini namanya air mata bahagia.."


"Calix kebangun gara-gara tangisan Papi ya?" Tanya Athala lagi, ditanggapi oleh gelengan bohong dari Calix. Terus terang, isak tangis Papinya bikin sakit telinganya.


*****