
Acara reunian tersebut diselenggarakan di ballroom hotel dengan meriah, bukan hanya pesta sederhana namun terlihat mewah, banyak yang hadir seperti perkataan Athala, mungkin bukan hanya seangkatan mereka, ada banyak pasangan dari mereka yang hadir.
Ruby memilih mengasingkan diri dimeja pojok menikmati hidangan ringan yang tersedia, Athala sesekali melirik, memantau pergerakannya dari sisi lain, ia sedang asik berbincang-bincang dengan rekannya sewaktu SMA.
"Wihh Atha! makin cakep aja lo! pake skincare apaan lo?!" Nadhif salah satu alumni SMA mereka merangkul Athala dengan jahil. Si paling gaje dan bobrok dalam circle mereka.
"Hihh! lo kira cewek!" Gali menyewot.
"Tapi kalo gue liat-liat lo tambah berkarisma, wajah lo juga tambah cerah aja, kesannya kayak Suami yang lagi bahagia karena Istrinya sedang hamil."
Gali dan Nadhif jadi ikut memperhatikan penampilan Athala dari atas sampai bawah karena timpalan Hansel.
"Emang lo udah punya Istri?"
"Istri matamu! pacar aja gue gak ada! tapi kalo calon, ada." Celetuk Athala meladeni mereka.
"Wuihh yang mana? dateng gak? kenalin dong.."
Mengedarkan tatapan celingukan kemana-mana menguliti penjuru aula, Athala berniat mencari Ruby yang kini sudah tak ditempatnya tadi, namun matanya malah menangkap sosok Gracia yang sedang berjalan sumringah kearahnya. Ketiga kawannya yang sedang bersamanya pun mengikuti arah tatapan Athala.
"Cia?! demi apa? calon istri lo Cia?"
"Kalian berdua masih berhubungan?! wuih awet juga ternyata!" Tuh kan mereka jadi heboh, Athala jadi menggaruk-nggaruk kepalanya yang tak gatal, tak tahu harus membalas dengan apa pertanyaan mereka yang keliru.
"Lo udah lama sampe?" Gracia sudah berada di dekat Athala.
"Udah lumayan lama, katanya lo tadi udah dijalan duluan, tapi kok baru sampe?"
"Oh, tadi gue mampir bentar di suatu tempat, jadi sampenya agak lambat."
Kelihatannya topik obrolan mereka cukup seru hingga membuat mereka tertawa-tawa tak jelas, entah mengapa Ruby tak suka menyaksikan tawa bahagia Athala tercipta karena perempuan lain.
Karena hanya fokus memperhatikan keduanya, Ruby sampai tak memperhatikan jalannya hingga kakinya keseleo dan membuatnya jatuh tersungkur didepan banyak orang, "Awshhh!!"
Sorotan rombongan orang-orang yang ada disekitarnya jadi terpusat kearahnya, begitu pun dengan Athala dan Gracia. Mendadak Ruby merutuki hak tinggi yang dipakainya, seharusnya ia tak mengenakkan high heels jika tahu hanya berfungsi membuatnya malu setengah mati. Dimana saja, ia ingin mencari tempat persembunyian sekarang juga!
Dengan tergesa-gesa Athala bergegas menghampiri Ruby karena khawatir akan kondisinya, Gracia mengikutinya dari belakang. "By? kamu gak papa?" kali ini Athala membantu Ruby untuk bangkit berdiri walaupun Ruby mencoba menepis tangannya.
"Athala, dia apa lo?" Gracia menunjuk Ruby dengan dagu.
"Oh--ini--" Athala melirik Ruby, apakah ia harus mengakui Ruby sebagai pacar atau calon istri? tapi bagaimana jika Ruby tak menganggapnya demikian? ia jadi bingung. "Dia--teman gue."
Pada akhirnya hanya kalimat 'Teman' yang dapat ia sampaikan. Tanpa ia sadari jika jawabannya dapat membuat Ruby merasa--sakit hati? mungkin.
Ruby menatapnya tak percaya, apa tadi? Athala mengakuinya sebagai teman? memang benar jika mereka tak mempunyai hubungan lebih jauh selain kesepakatan yang mereka buat, tapi mengapa--Ruby benci dengan jawaban itu?
Secepat kilat Ruby membalikkan badan dengan rasa sesak yang hebat, ia tak mau menangis didepan umum, jadi ia memutuskan untuk pergi dari sana setelah melepas hak tinggi yang terpasang di kedua kakinya, Athala mencoba mencekal lengannya, namun Ruby menepisnya dengan kasar.
"By, kamu mau kemana?" tanyanya cemas. Apakah ia memberi jawaban yang salah? lantas dimana letak kesalahannya? bukannya selama ini Ruby menganggap hubungan mereka bukan apa-apa?
"Bukan urusan lo!" Sentak nya lalu berlari dengan langkah terpincang-pincang meninggalkan pusat perhatian. Athala hendak mengejarnya, sayangnya Gracia mencegat pergelangan tangannya untuk melarangnya pergi. Niat Athala jadi terurung karena itu.
"Mau kemana? acara belum selesai."
"Tapi---" Athala melirik kearah dimana ada jejak Ruby yang baru pergi dari sana, ia tak mengerti apa yang terjadi dengan Ruby, namun Athala akan mencoba berdiskusi dengannya kapan-kapan.
*****