
"Ruby!!"
Flora berhamburan memeluk Ruby, saat ini mereka sedang ada di bandara. Alan, Adelio, Flora dan Sandra rupanya menyusul Ruby ke bandara setelah tahu Ruby akan segera terbang ke Australia, walaupun sedikit terdesak, akhirnya mereka masih sempat mendapati Ruby disini.
"Lo mau pergi tanpa pamitan sama kami?! kalo enggak dapat kabar dari Alan, kami mana tahu lo bakal pergi!" Omel Flora setelah sesi pelukan mereka berakhir, dia tidak melarang Ruby pergi, tapi dia kesal, Ruby tidak berpamitan dengannya dan yang lainnya, biar bagaimana pun mereka kan sohib dari SMA.
"Maaf banget, gue lupa berpamitan dengan kalian. Soalnya gue juga buru-buru."
Sedangkan Alan memilih menghampiri Calix, tangannya sedang digenggam oleh Zeal, dia berjongkok dihadapan anak kecil itu. "Sehat-sehat terus disana Boy.. jangan lupakan paman ya?"
"Oke Paman! makasih sudah seling temani Calix disini. Calix gak akan melupakan jasa Paman."
Bibir Alan mengukir senyum simpul, dia mengusap-ngusap kepala Calix penuh kasih sayang, padahal dia sudah berharap bahwa nanti dia bisa melihat pertumbuhan Calix sampai dewasa, namun apa boleh buat jika mereka ingin meninggalkan negara ini?
"Masih ingat janji antara Pria yang kita buat?"
Calix mengangguk kuat. "Jangan jadi anak bandel, jangan jadi anak nakal tapi jadi anak yang membanggakan Mami dan jangan membuatnya sedih. Itukan yang di maksud Paman?" tanyanya diangguki oleh Alan.
"Calix harus menepati janji itu sampai nanti. Karena Laki-laki yang gentle itu harus?"
"Menepati janji dan jangan ingkal!!" Seru Calix kemudian.
"Good boy!"
"Anak lo pinter banget, dewasa banget pemikirannya." Celetuk Flora yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
Ruby tersenyum tipis, dia tersentuh mendengar percakapan mereka berdua, Calix memang agak berbeda dari anak seusianya, dan itu yang membuatnya spesial, Ruby mengalihkan pandangan kearah Sandra saat merasa dirinya terus diamati. Salah satu keningnya naik.
"Ada apa? kalo ada yang mau lo omongin sekarang aja. Gue gak punya banyak waktu lagi."
Mendengar perkataan Ruby, akhirnya Sandra memberanikan diri untuk mendekat, dia mengusap tengkuk lehernya nya kaku, dia terlihat canggung, pasalnya mereka tak pernah lagi berinteraksi setelah kejadian dulu, dimana dia merebut Alan dari Ruby.
Jika dipikir-pikir dia menyesal telah melakukannya, saat itu dia masih labil, pemikirannya masih belum terlalu matang, "M-maaf soal yang dulu,"
Ruby terkekeh kecil, "Gak usah dibahas, lo juga gak usah terlalu canggung gitu, anggap saja kita gak pernah berantem sebelumnya."
Seketika Sandra mengangkat kepala. "Lo--udah maafin gue?"
Dia kembali bernostalgia. "Lucu juga kalo di inget-inget.. kita berantem cuma karena Alan. Padahal kalo setelah dipikir-pikir, buat apa coba? gak ada faedahnya sama sekali marahan hanya karena cowok."
Sandra ikut-ikutan tertawa kecil mendengar ucapan Ruby, ada benarnya apa yang dia katakan, mereka memang kekanak-kanakan.
"Ruby? udah pamitannya? panggilan penerbangan kita sudah diumumin. Sekarang, waktunya kita berangkat." Sela Zeal.
"Ah, iya?" Ruby menoleh kearah Zeal. Saking terbawa suasananya dia ngobrol bersama Sandra, Ruby sampai tak menyadari jika penerbangan mereka sudah diumumkan.
"Gue pamit ya San?" Sandra mengangguk. Ruby memperluas jangkauan tatapannya meliputi Adelio, Alan beserta Flora.
"Semuanya, gue pamit ya? semoga nanti kita bisa bertemu lagi! bye semuanya!" Ada titik kesedihan yang menghinggap dihatinya. Dia akan meninggalkan banyak hal disini. Mulai dari teman, tempat tinggal, pekerjaan, kenangan indah.
Berat memang. Tapi ini adalah jalan yang terbaik. Ruby akan belajar melupakan segala kenangan disini.
"Bye Ruy!!" Dengan kompak mereka melambaikan tangan untuk Ruby yang mulai menjauh bersama Zeal dan Calix.
"Jangan lupa untuk terus berkomunikasi lewat hp Ruy!!!" Tambah Flora berteriak. Suaranya tenggelam akan keriuhan bandara.
Ruby menyempatkan diri melemparkan senyum lalu berbalik badan, dia menghirup udara dalam-dalam agar rongga dadanya yang bagaikan dihimpit oleh bongkahan tak kasat mata dapat sedikit terasa ringan.
'Good bye, Athala.. semoga kita tidak pernah berjumpa lagi.. selamat tinggal Indonesia..'
Cinta tidak selalu mengajarkan tentang saling memiliki dan kebersamaan. Kadang kala, cinta mengajarkan kita bagaimana cara mengikhlaskan jika takdir berkata lain. Tidak semua berjalan sesuai ekspektasi.
Takdir mereka telah berbeda. Athala bersama Wanita lain dan Ruby masih menanti titik terbaik menurut takdir.
Kata kita yang dulu akhirnya menjadi aku dan kamu yang tidak mungkin akan bersatu. Part mereka telah usai, pemenang dari mereka adalah perpisahan. Ruby menyerah. Setiap cerita, ada awal dan ada juga akhirnya. Dia memutuskan untuk menutup lembaran lama dan memulai lembaran baru lagi di benua yang berbeda walau akan melewati proses yang amat sulit untuk dijalani.
Meskipun akhirnya tak bersama, setidaknya semesta pernah menjadi saksi, betapa bahagianya mereka ketika bersama.
Kini mereka tidak lebih hanyalah dua insan yang dulunya dipertemukan oleh takdir dan dipisahkan oleh takdir pula. Percayalah, Tuhan sudah menggariskan semuanya, Ruby percaya, akan ada pelangi yang menanti didepan mata. Dan tempatnya tidak disini.
*****