
Mengingat jarak yang cukup jauh, pagi masih buta mereka telah berangkat dari villa agar dapat mengejar waktu, Athala akan mengantar Ruby ke sekolah setelah sebelumnya mampir sebentar di kostnya untuk menukar pakaian.
Sesungguhnya, tujuan Athala membawanya ke villa adalah agar Ruby dapat liburan yang seru dan menikmati suasana-suasana baru seperti honeymoon, tapi salahnya mereka pasangan yang belum menikah. Tujuan utama Athala ingin menanam benih lagi sebenarnya.
Tapi rencananya gagal total, dihambat oleh kondisi Ruby, tak mungkin mereka melakukan itu disaat keadaan Ruby yang sedang tak sehat. Athala bukan orang yang tak sabaran ingin melakukan itu terus-menerus. Ia tidak menderita hiperseksual. Justru sebaliknya, ia hanya Pria impoten yang kini bereaksi hanya dengan seorang Gadis SMA satu-satunya.
Meski misinya rak berhasil, kemarin adalah pencapaian yang cukup besar. Ruby sudah mulai terbuka dan sedikit demi sedikit mau menerima dirinya walau detik-detik akhir mereka sebelum tidur semalam sedikit ada problematika yang bikin nyesek, yang penting ada pencapaian. Ruby pun sudah mulai memanggil namanya, mau menyebut aku-kamu, tanpa canggung lagi. Hal itu diperhitungkan juga, bukan?
Athala menghentikan mobilnya di tepi jalan raya ketika menemukan Sandra sedang jalan kaki trotoar, terlihat memprihatinkan. Dengan pakaiannya yang berseragam putih abu-abu sudah dapat diterka kemana tujuannya. Entah mengapa wajahnya terlihat lesu, ada masalah mungkin.
Ruby yang duduk di jok belakang menekuk alis, heran entah apa yang membuat Athala menjeda laju kendaraannya, "Kok berhenti?"
"Bentar." Athala bergeser kekursi disebelah kemudi, membuka kaca jendela mobil guna melihat Sandra.
"Hei San? ngapain jalan kaki?"
Sandra berhenti ketika mendengar suara bariton yang familiar, ia menoleh sensi kearah Athala. "Urusannya sama lo apa?"
"Galak amat lo jadi cewek, ati-ati aja gak ada yang mau sama lo di masa depan nanti."
Percakapan mereka bukan seperti orang yang pertama kali berjumpa, malah mereka terlihat akrab walau obrolan mereka sedikit mengacu kearah percekcokan.
Ruby juga baru melihat Athala mau inisiatif berbincang dengan lawan jenis. Ia memberengut kesal karena mereka berbicara cukup lama. Membuang-buang waktu saja.
Ada apa ini? kenapa ada rasa tak suka? hal itu masih tanda tanya di batin Ruby.
"Yaudah, nebeng sama gue aja. Kebetulan gue mau nganter orang satu sekolah sama lo."
"Siapa?" Jika tak ada didepan bersama Athala, berarti duduk dibelakang. Sandra melirik kearah jendela mobil yang ada di jok belakang. Orang didalam sana sudah pasti perempuan, tapi wajahnya belum jelas karena kacanya berwarna hitam.
"Masuk aja, lo bakal tahu."
Tak berselang lama bagi Sandra untuk mempertimbangkan tawaran Athala, ia akhirnya masuk kedalam kendaraan itu, dari pada jalan kaki yang menguras tenaga di pagi hari, memang lebih baik Sandra menumpang dengan Athala. Dari segi manapun Sandra yang diuntungkan kali ini. Sedari tadi ia menunggu transportasi umum, tak ada satu pun yang lewat, ponsel Sandra ketinggalan dirumah, maka dari itu ia tak bisa memesan secara online.
Sandra cukup terkejut mendapati mantan sahabatnya dibelakang mereka, ia duduk dijok depan bersama Athala, jadi orang yang dimaksud oleh Athala adalah Ruby.
"Loh? jadi yang lo maksud tuh cewek?" tanpa menoleh kebelakang, Sandra menunjuk Ruby dengan jempol, ia melihatnya melalui kaca depan. Athala tak menanggapi pertanyaan Sandra karena tanpa menjawab ia sudah tahu jawabannya.
"Lo gak mau jelasin nih? kenapa bisa kalian bisa barengan?" Sandra melirik Athala yang sedang mengemudi penuh selidik, yang dilayangkan tatapan demikian malah melirik Ruby lewat kaca, mungkin perasaannya saja, sejak tadi wajah Ruby terlihat masam.
"Gak beda jauh sama lo. Dia tadinya jalan kaki, kelihatan malang banget. Orang mana yang gak kasian liat kalian? seperti gelandangan yang tersesat gak tentu arah."
Ruby mendengus pelan mendengar penuturan Athala yang isinya semua kebohongan belaka. Ia melipat tangannya didepan dada memilih memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
"Cowok lagi terbaring gak berdaya di rumah sakit bukannya sedih, eh malah main sama cowok lain." Ruby tahu siapa menjadi bahan sindirannya. Tak lain dirinya, ia memutar bola matanya malas.
"Lo kalo gak tahu apa-apa, gak usah sotoy." Balasnya tak mau kalah.
Sandra mendelik sinis, "Gak sotoy, tapi memang kenyataankan? gue yang sering nengok Alan gak pernah liat batang indung lo disana. Tapi ada bagusnya juga sih, gue bisa dapet lampu hijau dari Bokap dan Nyokapnya." Ujarnya tersenyum penuh kemenangan.
"Dapet hati orang tuanya tapi gak bisa dapet hati anaknya, buat apa? percuma."
"Yang penting gue bisa dapet rest---Hmpphh." Sandra memukul kesal telapak tangan Athala yang membekap mulutnya.
"Lo jangan nyari masalah sama orang." Pesan Athala sebelum menarik tangannya. Sandra mendengus pelan, akhrinya ia memilih berkompromi mau mengatupkan mulut, setelah itu hanya ada keheningan yang menemani perjalanan mereka.
****
Kendaraan Athala berhenti diambang gerbang yang masih terbuka lebar, menandakan jika mereka datang tepat waktu, tak ada drama lambat-lambatan segala. Ruby termasuk tipikal siswa anti pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Ia adalah anak yang disiplin.
Sandra keluar lebih dulu mendahului Ruby, ia hanya muak berlama-lama di satu tempat bersama Ruby. Dulu mereka memang bersahabat, Sandra cukup bahagia berteman dekat dengannya karena ternyata Ruby cukup asik dan baik hati menurutnya. Tapi semenjak Alan memutuskan untuk meninggalkannya dan lebih memilih Ruby, Sandra jadi menaruh kebencian kepadanya.
Athala menurunkan kaca mobil, "San, lo bawa uang jajan?" Langkah Sandra tertunda ketika mendengar pertanyaannya.
Athala memberinya anggukkan sambil merogoh sakunya, Sandra berlari kecil menghampiri Athala dengan semangat sebelas dua belas membuat tas ranselnya berayun kekanan-kiri. Walau Athala menyebalkan dimatanya, tapi jika cuan yang menjadi iming-iming, siapa saja akan mudah tergiur.
Athala meletakkan lima lembar uang berwarna merah di telapak tangan Sandra, lekas dimasukkan Sandra kedalam saku seragamnya.
Cup.
Dibelakang sana, Ruby yang belum keluar dari dalam mobil jadi saksi bisu bagaiman Sandra mengecup pipi Athala. Ia mengibas-ngibaskan tangannya mengipasi wajahnya yang gerah, hari masih pagi tapi udara disini terasa menipis, seperti ada api yang membakar jiwanya.
"Thanks my enemy.." Sandra mengedipkan matanya jahil setelah memberikan ciuman di pipi kiri Athala. Yang mendapat perlakuan demikian hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Sandra.. Sandra.. gak pernah berubah.." Gumamnya.
BRAKKK!!
Bunyi pintu mobil di banting kasar oleh Ruby terdengar cukup keras, ia berlalu memasuki pekarangan sekolah tanpa sepatah kata pamit mau pun terimakasih karena telah mengantarkan dirinya sampai tujuan.
"Gadis kecil, kalian pulang jam berapa?!" tanyanya sedikit berteriak, Ruby tak merespon sama sekali, ia menganggapnya angin lalu.
Athala jadi terheran-heran melihat perubahan caranya bersikap, selama perjalanan Athala perhatikan sikapnya mirip persis dengan orang yang lagi menstruasi. Barangkali saja benar lagi datang bulan. Tak ingin berpikir lebih rumit lagi, Athala memilih memutar arah mobilnya meninggalkan gerbang sekolah.
****
Baru saja Ruby memasuki pintu kelas, ia langsung disambut dengan suara cempreng milik Flora. "Ruby?! akhirnya lo nongol juga! sehari tanpa lo berasa satu dekade tahu gak? hampa banget!!" ujarnya mendramatis.
"Kemana aja lo? gak ada kabar sama sekali." tanya Elang sok akrab. Ia sedang duduk di bangku yang ada di sebelah bangku Flora dan Ruby, ruangan ini bukan kelasnya tapi entah kenapa bisa ada Elang nyasar di tempat ini.
Di sini sepi, baru mereka bertiga yang mengisi kelas. Mungkin karena waktu yang masih terlalu pagi. Sandra pun entah kemana, Ruby kira sudah ada dikelas. Ada kemungkinan gadis itu kekantin untuk mengisi perut lebih awal, jangan lupakan tadi baru saja ia mendapat uang jajan lumayan untuk hidup sebulan jika bagi Ruby.
"Kamu nanyeak?!" Seruan Ruby membuat Elang berdecak kesal. Sementara Flora jadi terbahak-bahak mencibir Elang.
"Keseringan main tik-tok gitu, lama-lama jadi geser otak lo." Tukas Elang untuk Ruby yang sudah mengambil tempat duduk manis dikursinya.
Ruby hanya menaikkan bahu lantas mengedarkan pandangan menyapu sekitar yang terlihat sepi, dia meletakkan tas ranselnya diatas meja, dapat ditebak hanya dalam waktu lima menit kemudian, kelas akan ramai dengan siswa-siswa yang berdatangan.
"Oh iya Flor, Kak Vino marah gak gue gak masuk kemarin?"
Flora terlihat berpikir untuk sementara, "Hmm, enggak sih. Dia hanya nyari doang, tapi kemarin cukup melelahkan juga karena padat pelanggan, Kak Vino pun sampai ngambil job bantuin gue, biasanya kan dia datang ke cafe hanya meninjau keadaan cafe."
"Aduh, maaf banget ya? gue gak ada maksud untuk biarin kalian bekerja keras, hanya saja kemarin gue punya urusan penting banget diluar kota."
"Luar kotanya dimana emang? mandiri banget lo kemana-mana sendirian." Timpal Elang.
"Kaliankan tahu, dari lama gue memang hidup serba sendirian."
Sekali lagi Flora memastikan. "Tapi beneran gak ada sesuatu yang buruk terjadi ke lo kan?" pertanyaannya mendapat anggukan bohong dari Ruby.
"Ntar malem lo mau gak ikut kami?" Kali ini Elang yang angkat suara.
"Kemana?"
"Jenguk Alan, Geng kami udah nyari tahu jam berapa orang tua Alan gak dirumah sakit, sekitar jam habis sholat Isa. Mereka akan ada di tempat kerja. Kita akan menggunakan peluang itu untuk diam-diam masuk kedalam ruang rawat Alan. Lo kalo mau ikut, bareng kita aja kesana biar ramai-ramai."
"Lo ikut gak, Flo?" Ruby beralih menatap Flora, untuk sesaat Flora mempertimbangkan sebelum akhirnya ia menggeleng menolak mentah-mentah. "Gak deh, ngapain juga? akrab aja kagak."
"Berarti gue doang cewek yang ikut bareng kalian?"
"Emang, siapa lagi selain elo?"
Ruby mengangguk lagi atas ajakan Elang, lagi pula ia juga ingin tahu kondisi Pacarnya. "Oke deh, gue ikut."
****