My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.TERUNGKAP



Pagi hari, Ruby terbangun dalam keadaan sekujur tubuh yang pegal-pegal akibat efek samping dari gempuran semalam. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya ia melirik kesamping, yang mana ada Athala masih terlelap di sisinya, matanya jadi segar seketika karena ia di buat terpanah dengan wajah polos Athala yang sedang tertidur.


'Orang yang memiliki visual sempurna memang berbeda. Walaupun lagi tidur tetap kelihatan menawan.' Batin Ruby merasa takjub. Ia memberanikan diri untuk menoel hidung mancung Athala.


Jika dipikir-pikir, sudah berapa kali, Athala menjadi orang yang pertama ia lihat di pagi hari? dua kali mungkin. Yang pertama, di hotel terus yang sekarang adalah yang kedua kali. Di villa kala itu, Athala yang terbangun lebih dahulu.


Telunjuk Ruby lalu mulai semakin liar menuju bibir Athala yang bertekstur lembut dan kenyal, Ruby terkesiap saat Athala menangkap tangannya yang nakal.


"Nakal.." desisnya dengan suara serak, khas suara yang baru bangun tidur. Kedua netra Athala terbuka, "Mau lagi hmm?"


"A-atha? sejak kapan kamu bangun?"


Tangan Athala terulur mengelus pipi Ruby, "Kenapa? kalo aku terus pura-pura tidur, aku bakal kamu apain aja?" Ruby meneguk salivanya kasar melihat tatapan Athala yang begitu hanyut memasuki kornea matanya, ia telah membangunkan singa yang sedang tertidur sepertinya.


"Cium? atau--" Athala mengangkat sebelah sudut bibirnya, "Memperkaosku?"


"E-enggak apaan sih?" kilahnya. Grusa-grusu Ruby mencoba beranjak dari tempat tidur untuk melarikan diri dari situasi bahaya, tapi sayangnya Athala bergerak cekatan menarik kuat satu tangannya agar kembali berbaring terlentang dibawah kungkungannya, kini Athala sudah menindih tubuhnya.


Athala mendekatkan wajahnya kearah Ruby hingga mata mereka terpaut satu jengkal lagi. "Tanggung jawab.." bisiknya.


"T-tanggung jawab apa?" Ruby jadi tegang ketika melihat mata Athala yang berkabut gairah. Tambah ketar-ketir lagi kala Athala mengambil sebelah tangannya lantas menuntunnya kearah bawah sana.


"Dia, tegang hanya karena sentuhanmu.." lirihnya. "Main, satu ronde lagi ya By?" Suaranya terdengar semakin berat.


"Gak!! aku mau mandi, minggir!!" Ruby mencoba menyingkirkan Athala sekuat tenaga. Kedua kakinya tak tinggal diam, ikut bergerak-gerak memberontak.


"Justru itu, sebelum mandi, ayok main satu kali aja, yah?"


"Enggak!!"


Athala mengerucutkan bibirnya, "Yaudah kalo gak mau, aku kasih keringanan, morning kiss aja. Buat ngisi tenaga, biar semangat jalani hari.." Bibirnya tambah ia menyongkan seperti bebek menunggu bibir Ruby menyentuh pada bibirnya.


Sialnya yang mendarat disana bukannya bibir Ruby melainkan tangan Ruby yang membekap mulutnya, "Huee, ngapain pake morning kiss segala? belum sikat gigi lagi! minggir kamu!"


Mengerahkan energi ekstranya Ruby mendorong dada Athala dengan galak, syukur kali ini Ruby bisa lolos karena Athala pun memilih mengalah karena tak mau membuat Ruby jadi dongkol, walau begitu pada akhirnya ia tetap merengek. "By.. ishh!! cium doang!!"


"Bodo! cium aja tuh guling!!" Cetus Ruby acuh tak acuh. Dibalutan selimut yang besar dan tebal, Ruby agak kerepotan berjalan kearah kamar mandi meninggalkan Athala dalam keadaan tak berbusana.


"Tega kamu!" Kelakar Athala pada Ruby yang sudah ada didalam kamar mandi.


****


Ruby menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Kesal sekali rasanya saat menemukan banyak bercak merah dikolaborasi dengan ungu pada bagian leher jenjangnya, ia menggosok-gosoknya kasar. Padahal sekuat apapun dia menggosoknya tak akan hilang, yang ada ia hanya merasakan sedikit perih dibagian lehernya. Tiba-tiba ia jadi merutuki Athala dalam hati karena itu.


"Ish kok gak bisa kehapus sih?!" Ruby jadi misuh-misuh tak jelas. Bersama dengan itu, Athala keluar dari kamar mandi, ia baru saja menyelesaikan rutinitas paginya. Berbicara mengenai Ruby, ia sudah siap dengan seragam putih abu-abu yang disediakan oleh Athala.


"Kenapa sih? masih pagi-pagi udah marah-marah gak jelas." Athala mengusap-ngusap handuk dipermukaan rambutnya, ia sudah mengenakan pakaian kasual dari dalam kamar mandi.


"Lihat nih! kamu bikinnya permanen, gak bisa hilang!!"


Usai membuang handuk di kasur, Athala buru-buru menahan pergelangan tangan Ruby. "Jangan digosok, ntar luka."


Menundukkan kepala, Athala lantas meneliti dengan tangan menyentuh tiga sampai empat bekas kissmark di area leher jenjang Ruby, "Kayaknya ini gak bakal hilang dalam waktu yang dekat, hmm--mending kamu pake syal aja."


Athala menjauh dari hadapan Ruby menuju lemari, membuka pintunya dan mengobrak-abrik segala isinya, seingatnya ia meletakkannya dengan baik-baik didalam sini.


Dapat! syal bermotif kotak-kotak yang terselip dilautan pakaian itu Athala raih, ia kembali lagi kepada Ruby agar mengalunkan syal milik mendiang Ibunya kepada Ruby.


"Nah beres kan? gini doang solusinya." Athala mengusap-ngusap dagu mengamati Ruby. "Ngomong-ngomong, kamu cocok juga pake barang milik mendiang nyokap aku. Aku harap kamu jaga itu baik-baik yah?"


Tangan Athala terangkat menyapu-nyapu diatas kepala Ruby membuat rambut Ruby yang tadinya rapi kini jadi sedikit berantakan.


"Kok kamu beri aku milik mendiang Ibumu sih? kalo aku secara gak sengaja hilangin, gimana?" Ruby memegang ujung selendang berwarna biru tua berpadu abu-abu.


"Aku percaya sama kamu." Sahut Athala yang sudah sibuk mencari-cari pakaian setelan formalnya dalam almari.


****


"Ada apa ini?!" tanya Gatra pada Athala dan Reygan yang diduga membawa pihak berwajib kedalam basement mereka, memang sudah wajar mereka akan bingung karena Athala tak pernah mengatakan apapun pada anggota Vagos, kecuali satu orang yang menjadi CCTV bernyawa Reygan.


"Tangkap dia!" Titah Reygan, perhatian mereka yang ada didalam ruangan itu sontak terpusat pada dua polisi menuju Alga, mereka tercengang ketika salah satunya memborgol kedua pergelangan tangan Alga.


Dean yang masih tak mengerti pun meminta penjelasan pada Athala dan Reygan. "Ada apa ini?! Bang, seharusnya jelaskan dulu apa yang terjadi!!"


Lalu atensi mereka diambil alih oleh polisi yang menerangkan dengan tegas. "Atas nama Arga Javier Diaskara. Menjadi tersangka atas percobaan pembunuhan terencana dengan menyabotase kendaraan korban atas nama Alan."


Tentu saja anak-anak Vagos yang lain tak terkecuali Gatra selaku ketua masih belum percaya, mereka menatap Alga dengan ketidak percayaan.


Alga palsu atau bisa dijuluki Arga hanya bisa menarik sebelah sudut bibirnya, "Kenapa? kalian pada gak percaya?" Ia tertawa jenaka sebelum kembali berkata tajam, "Benar, gue pelakunya!! gue yang nyelakain Alan, seharusnya dia terbunuh malam itu tapi dia malah selamat, cih!"


Ia sudah prediksi jika cepat atau lambat hari ini akan datang, tapi ia tak menyangka akan secepat ini. Aih, Sandra akan kecewa jika tahu yang sebenarnya.


"A-apa? A-alga? lo---"


"Arga. Bukan Alga." Kali ini Athala yang mencegat omongan tergagap Elang, telunjuknya terangkat menunjuk Arga yang mulai digiring oleh beberapa pihak kepolisian keluar dari markas, "Dia, Alga palsu."


"Terimakasih atas kerja samanya dengan kami dalam menggali informasi mengenai kasus ini." Satu Pria yang berprofesi sebagai polisi mengucapkan terimakasih pada Athala dan Reygan. Mereka pun hanya mengangguk sebagai balasan.


Seluruh anggota Vagos terduduk dengan lemas, "Lalu, Alga yang sebenarnya dimana?" Itu hanya menjadi tanda tanya besar dalam otak masing-masing.


"Gue gak nyangka, jika selama ini kita sudah dikelabui sama Alga palsu itu, sudah berapa lama dia bersama kita? kenapa kita sampai gak ada yang sadar?" Haidar mengedar pandangan kearah para anggota yang lain.


Sementara Gatra, ia menundukkan kepala menjatuhkan tatapannya pada kedua telapak tangannya yang ia buka, "Gue memang ketua yang gak becus. Seharusnya gue gak jadi ketua, kita kacau gara-gara pemimpinnya gak bisa diandalkan seperti gue.." Tangannya menjadi terkepal kuat.


Setengah tubuhnya terdorong kedepan saat Elang memberinya pukulan main-main dipunggung. "Lo apaan sih? siapapun gak akan sadar jika sebenarnya Alga yang selama ini bersama kita palsu. Wajahnya dan postur tubuhnya saja sama. Gak ada yang beda."


Mereka meluruskan arah pandang kearah pintu markas saat seseorang muncul dari sana, berjalan lunglai memasuki ruangan markas mereka. Ia memakai sweater hitam dengan tudung hoodie diselubungkan pada kepala.


Ketika ia berada dihadapan kawanan Vagos, ia menurunkan tudung hoodie yang bertenggar di kepalanya hingga wajahnya dapat terlihat jelas. Dia, adalah Alga yang asli. Apakah alat penglihatan mereka rusak? dia terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya.


"Gue minta maaf sebesar-besarnya mewakili kembaran gue. Dia jadi seperti itu karena sahabatnya yang bernama Sandra. Gue juga gak bisa menahan dia karena gue ditawan selama ini, untung tadi ada Bang Atha dan Rey bantu gue lepas dari tawanan."


Alga sedikit membungkukkan tubuh, anak-anak yang lain belum ada yang mengeluarkan sepatah kata, mereka masih mencoba mencerna baik-baik. Yah, Alga sudah menduga jika mereka tak akan langsung paham. Ia berpindah kearah Athala dan Reygan, satu kali lagi ia membungkukkan badannya.


"Makasih Bang Atha, Bang Rey, kalo gak ada kalian, gak tahu gimana nasib gue dan anggota Vagos yang lain, bisa jadi Arga akan bertindak lebih nekat lagi."


"It's okay, gue ngebantu juga karena kasus Arga melibatkan orang berharga bagi gue." Sahut Athala santai membuat Reygan mendelik sewot.


"Enteng banget tuh mulut, padahal dia hanya enak-enakkan sibuk dengan wanitanya, sedangkan gue yang pusing dengan tugas yang dia perintahkan." Reygan hanya bisa menyinyir sambil elus-elus dada.


Flashback on.


Dalam bangunan yang terbengkalai itu terdengar ricuh akan sebuah pukulan-pukulan juga tendangan. Setelah sepersekian menit, bodyguard mereka berhasil melumpuhkan dua lawan yang mengawasi lelaki yang sedang disandera tersebut.


Athala dan Reygan masuk kedalam salah satu ruangan dimana ada Alga yang terkurung, Alga dapat melihat mereka.


"Bang Atha? Bang Rey? kenapa kalian bisa disini? terus orang-orang yang memukuli orang-orang yang mengawasi gue, siapa? apakah utusan kalian?"


Reygan berdecak kecil, "Dari pada lo bertanya-tanya, mendingan lo ngucapin terimakasih dulu ke kami."


Athala ikut nimbrung, "Arga, dia membuat kekacauan diluar sana. Kalo dia membuat ulah gak melibatkan orang lain, mungkin gue gak akan bertindak sampai sejauh ini. Meski gue tahu pelakunya siapa, gue bakal menyimpan rahasia itu, biarin anak-anak Vagos yang menyelidiki sampai tuntas, tapi dia sudah melewati batas, gue gak akan tinggal diam jika dia nyeret orang berharga bagi gue."


Ia melepas gembok rantai yang menjadi penyebab Alga tak bisa kabur dari sini. Tubuh Alga tersungkur saat ikatannya terurai, badannya meluruh kebawah karena tak ada daya sama sekali, ia sampai tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, makan saja tak teratur, bagaimana bisa ia ada tenaga?


Reygan membantunya untuk berdiri, dalam hal itu, Alga kemudian berkata lagi. "Benarkah? gue sama sekali gak tahu. Gue sudah terjebak disini selama berbulan-bulan. Gue memang gak tahu apa yang membuat Arga berubah seperti itu, tapi gue tahu, pasti ada penyebabnya dalam tindakannya."


"Sandra adalah pemicunya, lo jelas kenal kan sama Sandra? dia, sahabat Arga." Sahut Reygan.


Flashback of.


*****