
"Bukannya itu cewek yang tadi pagi datang di rumah sakit?" celetuk Haidar.
"Oh iya, yang di salahin sama si Alex?!!" Leo juga baru menyadarinya. Bukan hanya dia, yang lain juga baru mengingat jika Ruby adalah cewek yang sama yang mereka lihat di rumah sakit.
Alex melempar PlayStation ke arah Leo sesaat mendengar namanya di sebut, "F.u.c.k! gara-gara nama gue di sebut sama remahan rengginang kayak lo, gue kalah jadinya kan?!!" rutuknya.
Sudah kalah berkali-kali dari Alga terlebih lagi merek namanya di sebut-sebut membuatnya ingin berteriak saking kesalnya. Alhasil, Alex mengacak rambutnya gusar melampiaskan kekesalannya yang meluap-luap.
"Eh si anying! malah nyalahin gue! salahin tuh kapasitas permainan lo yang rendah!" makinya tidak terima. PlayStation kembali terlempar ke arah Alex yang masih kacau gara-gara kalah telak dari Alga. Sebanyak apa ia menantang, sebanyak itu juga kekalahan menimpanya.
"Sudahlah Lex! lo gak bakal menang dari Alga!" kompor Dean salah satu anak Vagos, sengaja menghancurkan mood Alex. Jika itu memang niatnya, selamat! Dean berhasil, Alex bangkit kasar dengan suasana hati yang buruk.
"Dahlah, gua mah apa atuh! kalah ya sudah lah gak pake marah-marah." Bilang seperti itu tapi kursi-kursi tunggal yang tidak bersalah habis ia tendang hingga terguling tidak beraturan setelah menghantam lantai. "Ngantuk gue ngantuk!!" teriaknya ibarat orang sinting, Alex melangkah ke arah pintu keluar.
"Lex? mau kemana?!"
"Mamam di warung Mang Ajo!" sahutnya dari luar.
"Lah? katanya ngantuk tapi kok malah makan?" monolog Leo ngeblank. Seisi ruangan yang di penuhi anak-anak Vagos hanya geleng-geleng, sebagiannya cekikikan merasa lucu. "Palingan hanya pergi nge-serser anak gadisnya si Mamang." Terka salah satu dari mereka tepat sasaran.
"Ngomong-ngomong, soal keadaan Alan gimana? katanya dia kecelakaan. Ada yang tahu gimana kabar mengenai wakil ketua kalian?" tanya Reygan menginterupsi suasana yang tadinya di isi candaan tiba-tiba di liputi oleh keseriusan.
"Dia di nyatakan koma." Gatra yang menjawab atas pertanyaan dari Reygan ajukan.
'Kesempatan.' Sementara yang lain sedang sedih mengingat salah satu kawan mereka tengah berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit.
Athala malah tersenyum penuh kemenangan, tidak kunjung terlepas pandangan lekatnya tersorot menuju Ruby yang kini duduk lesehan di karpet bersama Flora dengan letak posisi berseberangan dari Athala.
Dia lah Gadis SMA yang sukses membuat dirinya yang paling anti wanita dan tak pernah mau berurusan dengan spesies merepotkan seperti betina malah terus di hantui akan dia, Gadis yang berhasil merusak citranya, Gadis kecil yang telah merenggut keperjakaannya dengan tebusan seharga pembeli cilok menurut Athala.
"Jadi bagaimana? kalian sudah yakin kecelakaan itu murni kecelakaan biasa? atau ada penyebab lain?"
"Itu dia yang masih kami gali lebih dalam. Sepulang dari rumah sakit ada beberapa dari kami memeriksa lokasi kejadian, dan sesuai informasi yang kami dapat dari keterangan polisi yang menginvestigasi, katanya kecelakaan itu tidak terjadi secara kebetulan, mereka menemukan rem mobil yang di kendarai oleh Alan blong. Lalu kami menemukan mobil yang sudah rinsek itu ada coretan-coretan pylox gitu."
Otak Ruby di buat berkelana mendengar pemaparan itu, seingatnya semalam ada dua orang misterius yang mengutak-atik mobil Alan, mendadak prasangka negatifnya mengarah kepada mereka. Tetapi---Ruby masih belum yakin.
"Ruy? semalem lo nunggu di dalem mobil Alan kan? habis tawuran kata Alan lo hilang, jadi dia nyari-nyari lo dengan panik dan ling-lung. Yang jadi pertanyaannya, lo kemana semalam hingga Alan gak tahu lo lagi di mana?" Gatra menginterogasi Ruby yang seketika diam tidak berkutik.
Pertanyaan ini menyerupai sianida, racun yang telah di hindari oleh Ruby sejak tadi. Apakah ia harus jujur semalam ia bersama dengan anak-anak Geng Aodra? sedangkan dua belah pihak adalah musuh bebuyutan. Bukannya barang yang di maksud mereka adalah teropong Adelio?
Malam itu sebelum mengurut kaki Ruby, Adelio menyampaikan permintaan maaf kepada Ruby karena benda pemberiannya di hilangkan.
Ruby bisa mengambil resolusi bahwa yang menyebabkan Alan kecelakaan adalah salah satu Geng Aodra atau mungkin adalah ketuanya sendiri.
Tidak! Ruby akan menggunakan cara lain dari pada harus membeberkan hal itu di sini, masalahnya akan makin rumit jika seperti itu.
"Gue---pulang duluan semalam." tuturnya tersenyum garing, oh ayolah Ruby! jangan menunjukkan sisi tegang mu di mata mereka!
Sujud syukur mereka bisa percaya dengan tipu daya Ruby, mereka semua manggut-manggut. "Setidaknya lo ngabarin ke dia kalo udah pulang duluan."
"Semalem--sebenarnya mau ngabarin tapi-- hp gue mati, lupa ngecas." Ruby panas dingin karena baru kali ini membual sesuatu yang tidak benar. Ternyata berbohong cukup berat dan sulit.
"Gue punya kesimpulan. Kalo dalang dari peristiwa kecelakaan yang di alami oleh Alan itu adalah anak-anak Aodra. Mereka yang telah menyabotase mobil milik Alan." Tiba-tiba Alga menimpali, menyumbangkan sebuah pendapat yang cukup logis.
"Tapi--kalo di lihat dari segi waktu kayaknya gak mungkin mereka karena semalem mereka sedang bertarung melawan kita, kalo mereka melakukan trik seperti memblong rem mobil Alan, pastinya nanti sehabis tawuran dong. Nah saat itu juga kita ngumpul di dekat mobil Alan, tapi ketika itu gak menemukan siapa-siapa di sana kan?"
"Atau bisa jadi juga---ada satu sampai dua orang yang berhenti bertarung dan merealisasikan siasat itu. Yang intinya pelakunya bukan ketua mereka karena seingat gue Lio ikut bertempur sampe akhir."
Untuk kali ini, pikiran anak-anak Vagos yang hadir di sana di paksa bekerja keras akan teka-teki tersangka dari tragedi kecelakaan tragis yang menimpa oleh wakil ketua mereka. Insiden itu terduga tidak secara kebetulan mengingat jika musuh Geng mereka ada di mana-mana.
Terlebih lagi dari pernyataan polisi yang mereka dapat. Bisa jadi ulah Anak Aodra tapi bisa jadi juga dari musuh yang tidak di sangka-sangka.
"Tunggu-tunggu! Alga? bukannya lo juga semalam berhenti duluan bertarung karena mendapat luka lebih parah dari yang lain?"
TBC.