My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.PERNYATAAN CINTA



Flashback on.


Kali ini Gracia bertamu di kediaman Athala untuk menyerahkan sebuah proposal yang telah ditugaskan oleh Athala ke padanya, sekaligus Gracia akan menjenguk Athala sesuai berita yang tersebar di perusahaan, ia sempat mendengar kabar para karyawan yang bekerja disana, jika Athala jatuh sakit hingga mengakibatkan ia tak masuk kerja berhari-hari.


"Bi--itu mau dibawah kemana?"


Gracia yang masih ada di ruang tamu tersebut bertanya pada Rabia. Ia melihat Wanita paru baya itu menggenggam sebuah nampan yang berisi bubur dan kompres ditemani obat penurun demam sebagai pelengkap. Gracia bisa menerka dengan pasti jika itu buat Athala.


"Ini--buat mengompres dan makan untuk Tuan, Nona.." Jawabnya sesopan mungkin.


"Yaudah biar saya saja yang bantu bawa ke kamar Athala Bi, sekaligus saya mau bawa dokumen ke pada Athala."


"Tapi---" Rabia terlihat ragu membiarkan Gracia untuk menangani sesuatu yang ada di tangannya, tapi Beliau juga tak ada hak untuk mencegahnya, sedikit berat hati ia membiarkan Gracia mengambil alih nampan tersebut dan membawanya keatas menuju kamar Athala.


Tanpa mengetuk, Gracia membuka daun pintu kamar Athala sambil memanggil nama sang pemilik kamar. "Atha.. gue udah bawa dokumen yang lo minta kemarin."


Gracia melangkah menuju tempat tidur, dimana ada Athala yang sedang terkapar disana, namun sebelum itu, ia menyempatkan diri meletakkan map yang berisi dokumen diatas nakas.


Kini Gracia duduk ditepi ranjang. Ia melihat keadaan Athala yang terlihat menutup mata dengan kelopak mengerut gelisah. Pelipisnya dihiasi bulir-bulir keringat dingin, "By.. Ruby.. jangan pergi..jangan tinggalin aku.."


Lelaki itu melakukan gerakan gundah, ia sedang mengigau sambil meracau nyebut-nyebut nama Ruby. "Ruby siapa? apakah Gadis yang ada di acara reunian itu?" gumamnya menebak-nebak.


Meskipun mereka sudah lama berakhir, salah kah Gracia sedikit merasa sakit hati mendengar Athala mengigau kan nama perempuan lain dan bukan dirinya? ah pasti dia sudah gila. Ia sendiri yang mengakhiri tapi ia juga yang menyesal.


Hingga detik ini, Gracia masih sulit untuk beranjak dari lingkaran masa lalu. Sedangkan Athala? sepertinya dia sudah lama melupakannya, walau Athala bersikap baik kepadanya, Gracia merasa, perlakuan Athala kepadanya sudah tak sehangat dan selembut seperti dulu.


Tangan Gracia menyentuh dahi Athala. Suhu tubuhnya memang tinggi. Oleh karena itu, Gracia mengompres dahi Athala guna sedikit meredakan nyeri kepalanya.


Obat penurun panas masih menganggur karena tak mungkin memberi obat kepada orang yang sedang tidur. Begitu pun dengan bubur.


Setelah selesai dengan kompres, Gracia menyimpan yang tersisa diatas nakas bersampingan dengan dokumen.


Ia memperbaiki posisi selimut Athala lantas menundukkan diri di kursi sebelah ranjang, Gracia menyamankan sisi kepalanya dalam lipatan tangannya. Pandangannya menghadap langsung kearah Athala, sekarang Pria itu terlihat sudah tenang, posisi tidurnya menyamping mengarah pada Gracia.


"Cepat sembuh, Atha.." lirihnya.


Gracia larut dalam memandang wajah yang dari dulu hingga sekarang tetap terlihat rupawan, bahkan jauh lebih mempesona lagi dari sewaktu SMA. Kini wajahnya lebih mulus, rahangnya lebih tegas, satu yang paling penting, penyakitnya sepertinya belum sembuh.


Ah, apakah Athala juga merasakan alergi terhadap Ruby? Gracia bertanya-tanya dalam batin namun hanya dalam waktu sesaat ia mendapat jawabannya, yaitu tentu saja tidak. Seingatnya, bahkan di acara reunian itu Athala mengenggam pergelangan tangannya.


Di sela konflik batinnya, tanpa terhindarkan Gracia di serang kantuk, ia menguap. Gracia tak kuat menopang kelopak matanya hingga berangsur-angsur kedua netranya pun mulai tertutup menyambut alam mimpi.


Namun, baru saja dunia kegelapan menyapa, kesadaran Gracia di tarik keluar kepermukaan oleh suara berat Athala.


"R-ruby?"


Pandangan Athala berputar-putar, penglihatannya kabur, ia tak melihat dengan jelas perempuan yang sedang duduk di sisi ranjangnya, bahkan kesadarannya saja terasa samar.


Gracia menegakkan punggungnya melihat Athala terjaga. Perlahan lelaki itu mencoba bangun, namun tubuhnya tak ada stamina untuk dapat membuatnya bangkit.


"Demam lo sepertinya cukup parah, apa sebaiknya lo di bawah ke rumah sakit aja?"


"Kamu--ngapain tidur disitu?" Tidak nyambung, Athala justru bertanya balik.


"Gue lagi nemenin sekaligus rawat elo. Lo lagi sakit, gak baik kalo sendiri."


"Sini." Athala menepuk-nepuk space kosong disampingnya, ranjangnya berukuran king size, di isi sepuluh orang pun muat sepertinya. "Gak baik tidur disitu.. mending disini, leher kamu nanti sakit dalam posisi itu."


"Yakin?" Gracia masih agak ragu, lagi pula Athala menganggapnya orang lain. Akan tetapi, jika bukan sekarang, kapan lagi dia bisa mendapat kesempatan menikmati momen kebersamaan dengan Athala? akan sulit jika Athala dalam kondisi prima.


Begitu mendapat anggukan lemah dari Athala, Gracia menaiki ranjang ikut bergabung satu selimut bersama Athala, saat sudah didalam helaian kain yang tebal menutupi tubuh mereka, Gracia dibuat tercengang dengan tindakan Athala yang tahu-tahu sudah mendekapnya.


Namun sialnya, hal tersebut tak berlangsung lama, Athala melepas pelukan dalam waktu yang singkat. "Kenapa dilepas?" Gracia menatap Athala heran.


"Aku gak nyaman dengan wangi kamu yang sekarang... gak seperti biasanya..aku gak suka.." Balasan yang berhasil membungkam Gracia, Athala membalikkan tubuh bertolak belakang darinya hingga Gracia pada akhirnya hanya dapat melihat punggung kokoh tersebut.


Flashback of.


Langit malam yang terlihat hitam pekat, tak ada bintang ataupun rembulan yang menghiasi angkasa, air hujan mengguyur deras sebagian permukaan bumi. Ruby melihat keadaan cuaca melalui jendela.


"Apakah dia masih diluar?" monolognya cemas sekaligus gengsi bercampur menjadi satu. Jika Athala masih diluar, Ruby akan dihantui rasa bersalah karena telah membiarkan lelaki itu mati kedinginan.


Hujan diluar begitu lebat, kemungkinan besar jika Athala akan mandi hujan. Sangat malang jika di bayangkan. Tetapi, di satu sisi, ego Ruby mengalahkan rasa iba nya apabila mengingat kejadian beberapa jam lalu.


Seperti perkiraan Ruby, dalam kondisi cuaca yang buruk, butiran-butiran kristal terjun seakan-akan berlomba membasahi kota, ditemani oleh guntur disertai kilat yang menyambar sebagai pelengkap.


Angin kencang mengaduk-ngaduk tumbuhan hingga dedaunan pohon melambai-lambai, namun hal tersebut tak dapat menggentarkan jiwa seorang Athala yang sedang menunggu di tangga kost dengan meringkuk seraya memeluk tubuhnya sendiri.


Jika di hitung, dua jam lebih sudah Athala berada diluar pintu berharap Ruby berbelas kasih mau membukakan pintu yang tertutup rapat itu untuknya, bibirnya sudah membiru dan bergetar, seirama dengan tubuhnya yang menggingil kedinginan. Kondisinya masih belum pulih, namun kini kembali kehujanan, sudah dapat di pastikan demamnya akan tambah parah.


"Ruby.. bukain pintunya.. biarkan aku menjelaskan semuanya.. bukan yang seperti kamu kira.." Gumamnya dengan bibir bergetar.


Berselang tiga jam sampai di jam keempat, Athala akhirnya tertidur dalam kegelisahan, ia bersandar pada daun pintu yang belum ada hilalnya akan terbuka, posisinya masih sama, yakni memeluk lututnya.


Ceklek..


Tubuh Athala terhuyung jatuh kelantai ketika Ruby membuka pintu kostnya, kondisi mengenaskan lelaki itu mampu mengundang pelototan sempurna pada kedua bola mata Ruby.


"Atha?! kenapa lo masih disini?!"


"Ruby.. akhirnya kamu membukakan pintu untukku.." Ujar Athala begitu lemah, lemas tak berdaya. Begitu pula dengan matanya yang hanya setengah terbuka. Untuk itu, Ruby membantu Athala untuk bangun, ia memapahnya menuju kekamar kost yang berukuran teramat kecil jika dibandingkan dengan kamar milik Athala.


Tubuh Athala, Ruby rebahkan di kasur biasa yang beda kelas dengan kasur sprimbet punya Athala. Tempat tidurnya tak memiliki ranjang, tapi meski begitu, setidaknya ada kasur yang masih sedikit empuk, lumayan nyaman untuk dipakai rebahan.


Sampai sebatas dada Ruby menyelimuti Athala agar tak masuk angin, diluar masih hujan, tak mungkin ia mengusirnya dari sini dalam kondisi cuaca seperti ini, ia bukan orang sejahat itu


Jika hujannya awet hingga larut malam, ada kemungkinan Athala akan menginap disini, seluruh pakaian Athala basah kuyup, tak mungkin pakaian basah akan terus dikenakannya untuk tidur. Tapi dari pada itu, ada baiknya sekarang ia menyeduhkan air panas untuk Athala.


Ruby menghela napas rendah. Ia yang hendak beranjak berniat akan melaksanakan kehendaknya, diurungkan oleh tangan Athala yang mencegat pergelangan tangannya. "Jangan pergi.." lirihnya.


"Gue gak pergi, hanya mau nyeduhin lo air panas saja."


Athala menggeleng lemah. "Gak perlu, aku gak butuh itu, aku hanya butuh kamu ada di sisiku."


Lagi-lagi Ruby menghela napas sedikit jengah. Jujur saja ia masih kecewa dengan lelaki ini, tapi melihat kondisinya ia jadi tak tega. Dengan sisa-sisa tenaganya Athala bangun lalu menarik tangan Ruby hingga sang empu berada di tengah kasur, detik berikutnya basah akan air hujan di sekujur baju Athala menular pada Ruby kala Athala mendekapnya erat.


"Makasih dan maaf." bisiknya. Dahi Athala bertumpu di bahu Ruby, ada beberapa titik cairan haru turun tanpa komando.


Lelaki itu tak peduli meskipun Ruby ikut basah dan kedinginan seperti dirinya, ia hanya ingin menyalurkan perasaan yang sulit sekali di deskripsikan melalui kata-kata.


"Lo makasih buat apa? terus maafnya juga buat apa?" Athala tak menjawab dengan kalimat-kalimat, tangannya merambat menyentuh perut Ruby.


"Makasih atas kehadiran dia.. dan maaf, udah buat kamu salah paham. Yang tadi bukan yang seperti kamu kira." Kepala Athala merendah dan meletakkan sisi kepalanya diperut Ruby yang terlapisi kain baju kasual.


"Lo apaan sih?" Ruby ingin menyingkirkan kepala Athala yang dengan seenaknya nangkring disana, namun tangannya sigap ditahan oleh Athala.


"Disini ada malaikat kecil kita?" Ada sebuah perasaan hangat dan bahagia yang tak terhingga menyergap jiwa Athala. Saking senangnya, seketika ia lupa jika dirinya sedang tak enak badan.


Sedari lama ia telah menantikan ini, anak yang terlahir dari rahim Ruby, adalah impian Athala semenjak takdir mempertemukan mereka berdua. Biar bagaimana pun hanya Ruby, karena dirinya yang telah berhasil menciptakan keajaiban untuknya.


"Malaikat kecil kita?" Ruby mengulang tutur kata Athala, "Milik gue aja kali, lo mah tahu produksi doang." Sewotnya memutar bola matanya.


Athala melepas pelukan lalu menatap Ruby dengan sayu. "Siapa bilang? aku sangat sangat menginginkan dia."


"Dia doang?"


"Apalagi Ibunya." Athala membawa tangan Ruby kedepan bibirnya dan mengecup punggung tangannya sekilas.


"Little mother of my child, I love you.."


TBC..