My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.DILECEHKAN



Ruby memasuki mobil lebih dulu, mendahului Athala yang memutar mobil agar bisa naik ke kursi kemudi terlebih dahulu. Kali ini Ruby duduk di sebelah depan atas permintaan pria itu sendiri.


"Mau langsung pulang?" tanya Athala setelah menutup pintu mobil.


"Hmm, aku harus mampir ke kafe biasa, mau kerja kelompok dengan teman-temanku."


Athala mencodongkan tubuhnya ke arah Ruby, membuat perempuan itu lupa cara untuk bernapas, matanya memperhatikan gerak-gerik Athala yang memasang sabuk pengaman padanya. Athala mengangkat pandangan setelah itu.


Ruby terhenyak saat ujung telunjuk Athala menyentuh pipi kanannya untuk membawanya kembali ke permukaan. "Habis kerja kelompok, ada kegiatan lain?"


Ruby akhirnya dapat bernapas dengan tenang kala Athala menarik tubuhnya, di dalam jarak yang sedekat tadi, rasanya sangat berbahaya untuk jantungnya.


"Eumm – aku mau lanjut kerja setelah itu."


Mesin mobil mulai menyala, memutar arah sebelum perlahan-lahan melaju dan akhirnya berlalu dari gerbang. "Gak capek?" tanya Athala.


"Apanya?"


"Mau kerja kelompokkan? Terus setelah itu lanjut kerja? Ternyata kamu punya energi yang cukup besar. Kalau cewek-cewek lain, mungkin tidak akan bisa sekuat kamu." Athala berbicara sambil fokus menyetir, tak sedikit pun menoleh ke samping di mana Ruby mengamatinya.


"Sudah biasa," sahut Ruby sekenanya. Sebelah tangan Athala menjalar, mengusap-ngusap kepala Ruby.


"Kalau lelah, jangan terlalu dipaksakan. Kapan-kapan ambil cuti untuk istirahat. Kamu bukan mesin, kerja seperlunya saja."


Ruby hanya menyungut tak berminat untuk membalas kata-kata Athala. Lagi pula, apa yang dia katakan memang ada benarnya juga. Kadang-kadang Ruby merasa sangat lelah. Tubuhnya terasa ingin remuk, tapi mendengar nasihat dari seseorang yang hidupnya dengan ekonomi kelas atas, terasa aneh. Ia tidak akan bisa memahami hidup yang sulit.


"Oh iya, asistenmu tumben tidak datang bersamamu? Dari villa, perasaanku tidak pernah melihatnya. Biasanya kalian seperti sepasang sepatu, ke mana-mana selalu bersama-sama," kata Ruby tiba-tiba, baru menyadari bahwa dia belum melihat Reygan di sisi Athala dalam beberapa hari terakhir.


Athala mendengus tak suka mendengar pertanyaan Ruby. "Kenapa mencari dia? Cuma asisten kok. Tidak penting-penting amat perannya."


Ruby menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sepertinya dia menanyakan hal yang salah. Tapi di mana letak kesalahannya? "Terus kenapa? Tidak ada salahnya kan? Hanya nanya keisengan saja."


Sekilas, kilatan tajam melayang ke arah Ruby. "Jangan nanya-nanya tentang cowok lain di dekatku. Asisten aku juga tidak terkecuali. Bisa-bisa aku memecatnya karena kamu menanyakan keberadaannya."


"Lah kenapa? Tidak apa-apa kan? Aku hanya bertanya begitu saja."


"Kalau aku bilang jangan ya, jangan! Patuh jadi orang tidak bisa? Lagi pula, membahas Alan di depanku? Kalau kamu ingin mengetahui pelaku yang mencelakai calon mantanmu itu, jangan pernah bahas apapun yang menyangkut dengannya padaku. Ngerti?" Tekan Athala memasang raut sedatar mungkin.


Ruby mengerdip-ngerdipkan kelopak matanya. Ia merasa sedikit cengo dan mulutnya agak menganga, menatap Athala tidak mengerti. Kenapa topiknya sampai terbawa-bawa ke Alan? Kemudian, apa tadi, calon mantan? Bukankah secara tidak langsung, Athala ingin hubungannya dengan Alan kandas nantinya?


Lalu, mengapa Athala merasa gondok seperti ini? Ruby baru mengetahui satu hal sekarang. Jika dia meregangkan memori kembali, Athala selalu sensitif setiap kali Ruby membahas Alan.


 ****


Athala merasa suntuk menunggu Ruby yang belum juga selesai bekerja kelompok. Dia berada di kedai kafe tempat Ruby bekerja.


Sebenarnya Ruby menyuruhnya untuk pulang agar tidak bosan menunggu, tapi Athala bersikeras untuk tetap menunggunya di tempat itu.


Sekalian juga, dia ingin mengawasi Ruby dari meja lain karena ada dua orang laki-laki yang menjadi teman kelompoknya.


Berulang-ulang kali, Athala menggeram tertahan saat berhasil memergoki si cowok berambut gondrong dengan telinga bertindik menyaksikan Ruby. Athala tahu betul arti dari tatapannya yang bukan sekadar pandangan biasa, tetapi penuh dengan nafsu terhadap Ruby.


Jika bukan tempat umum, mungkin Athala sudah menggerebek cowok itu. Kalau perlu, ia siap memukulinya habis-habisan hingga nyawanya melayang. Tapi Athala kemudian memilih untuk menguasai diri karena masih banyak pelanggan di sekelilingnya.


Pada awalnya, Athala mencoba bertahan. Tetapi lama-kelamaan, ia tidak tahan lagi saat si lelaki mulai mepet-mepet dengan Ruby. Dengan kedok bertanya mengenai pelajaran yang bersangkutan dengan tugas, sepertinya ia menolak sadar bahwa Ruby terlihat risih.


Gadis kecil, aku keluar sebentar. Tidak lama, hanya di luar sana. Oh ya, aku ingatkan hati-hati dengan cowok yang memiliki tindik di telinga. Kayaknya, dia berbahaya.


Athala yakin gadis kecilnya sudah membaca pesannya karena ia sempat melihat Ruby memeriksa ponselnya, terlebih saat mereka saling melempar pandangan di antara mereka.


Asap rokok menemani Athala yang sedang duduk di depan cafe, mencoba mengosongkan pikirannya sejenak. Terkekeh lucu meluncur dari mulutnya ketika melihat pesan balasan yang dikirim oleh Ruby.


Kamu lebih berbahaya daripada apapun. Wleee😝


Di dalam kedai, Ruby berdiri dari duduknya ketika merasa tidak lagi tahan menahan buang air kecil. "Kalian lanjut dulu ya? Gue ke toilet sebentar," pamitnya. Teman-temannya mengangguk sekaligus berkomentar bahwa dia berhati-hati.


Tetapi tanpa yang menyadarinya, Bayu berdiri dari duduknya, memilih untuk mengikuti ke mana Ruby bergerak.


Ketika di toilet, Ruby keluar dari bilik toilet usai menunaikan hajatnya. Ia merasa lega karena sudah berhasil menahannya sejak tadi.


Untuk sejenak, Ruby membasuh tangan serta wajahnya agar lebih segar. Ia bercermin di kaca wastafel dan melihat wajah kelelahannya. Dengan tangan bertumpu pada meja wastafel, Ruby menghembuskan napas berat.


Saat ia berbalik, Ruby terkejut melihat Bayu berdiri di belakangnya. "Bayu, ngapain disini? Ini kan toilet cewek?" Ruby mencoba tetap optimis, ada kemungkinan Bayu salah masuk. Namun, aneh jika ia tidak melihat plang di pintu toilet.


Kakinya mundur saat Bayu mendekatinya. Ruby semakin gelisah melihat seringai iblis di bibir Bayu. Ia teringat pesan Athala untuk berhati-hati terhadap Bayu.


Tubuh Ruby terjepit di pinggiran wastafel dan ia tidak bisa menjauh lagi. Bayu semakin mendekat dan memagari Ruby dengan kedua tangannya di sisi tubuhnya.


"Alan bodoh, nyia-nyiain cewek secantik lo, Ruby." Ruby menepis tangan Bayu yang hendak menyentuh pipinya. Ia mencoba mendorong dada Bayu, namun ia tidak cukup kuat untuk mengusir Bayu yang lebih besar dari tubuhnya.


Bayu menangkap salah satu tangan Ruby yang melawan dan mencengkeramnya erat. Tangannya yang lain meraba pinggang Ruby.


"Main sama gue, dari dulu gue suka sama, tapi gue keduluan Alan. Kalau gue memperawanimu, apakah Alan masih akan mencintaimu?" Bayu tertawa mengerikan dan Ruby tidak akan tinggal diam saat dirinya dalam bahaya, ia berjuang sekuat tenaga.


"Lepaskan gue, bajingan!!" Ruby mencoba melepaskan dirinya dari genggaman Bayu, tapi tidak ada hasil. Pergelangan tangannya terasa sakit karena cengkraman Bayu semakin kuat.


"Jangankan Alan, semua cowok tidak akan tertarik lagi pada lo jika sudah tidak perawan. Hanya gue yang akan menerima lo apa adanya." Bayu menatapnya dengan mesum, senang melihat ketakutan di wajah Ruby.


Tangan Bayu menyentuh payudara Ruby tanpa izin. "Lepaskan gue, bajingan!!"


"SIAPAPUN DILUAR, TOLONG!!" Teriak Ruby dengan panik dan takut.


Bayu menjilat bibirnya, "Nikmati saja, Ruby. Gue akan bermain dengan lembut, ok? Nurut yang patuh, sayang. Kita sama-sama tidak akan rugi, saya dapat uang dan kenikmatan dari lo, dan lo juga dapat menikmati g.enj.otan gue."


Air mata Ruby mengalir deras saat Bayu mencumbui lehernya, ia menangis histeris dalam pelukan Bayu. Meskipun kemungkinannya untuk lolos sangat kecil, Ruby tetap memberontak.


Akankah ia diperkosa disini? Hanya Athala yang terlintas dalam pikiran Ruby saat ia dalam bahaya seperti ini. "Hiksss, Atha...tolong!!!!"


BRAKKK


"DAMN! Punya nyawa berapa lo berani sentuh dia?!"


BUGHH!!!


****