
Athala dan Reygan memasuki ruangan kantor pribadi milik Athala. Baru saja keduanya menyelesaikan meeting dengan klien mereka, Athala duduk di kursi kebesarannya kembali disibukkan dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja, sedangkan Reygan duduk di kursi sofa yang terletak diseberang.
"Oh iya, Atha. Ada hal penting yang mau gue bicarakan." Celetuk Reygan. Berhasil mengalihkan perhatian Athala, ia memindahkan pandangannya dari berkas yang ada dalam pegangannya kearah Reygan.
"Ngomong aja."
"Mulai lusa gue izin ambil cuti beberapa bulan."
"Alasan?"
"Tadi pagi adik gue nelepon, kasih kabar ke gue kalo nyokap gue jatuh sakit. Cukup parah katanya. Lo kan tahu? bokap gue udah gak ada sebelum nyokap gue ngelahirin adik gue. Dan adik gue yang kecil mana bisa ngerawat orang sakit."
Reygan membuang napas cukup panjang, sejujurnya ia juga tak tega meninggalkan Athala dan semua pekerjaan yang ada disini, tapi keluarganya yang dikampung juga membutuhkan dirinya saat ini. Tak hanya itu, ia pula merindukan kampung halaman beserta sanak saudaranya disana.
"Sebenarnya, rencana gue, besok gue bakal berangkat, tapi gue keinget kalo besok malem kita ada janji temu di acara reunian. Gue bakal nyempatin untuk datang. Tapi kalo untuk dinas lo minggu depan sepertinya itu akan menjadi yang pertama kalinya gue gak ada untuk nemani lo."
Athala mengangguk-angguk paham, lagi pula ia tak ada hak untuk melarang, keluarga memang jauh lebih utama dari pada pekerjaan. "Oke, tapi sebagai gantinya, lo cariin asisten pengganti lo untuk sementara."
"Soal itu, gue juga masih coba mencari-cari yang cocok." Sahut Reygan.
*****
Diwaktu yang sama namun lain sisi, Ruby dan Flora berjalan di lorong sambil mengobrol ria, jam istirahat pertama sedang berlangsung. Mereka hendak kekantin untuk mengisi perut.
"Ngomong-ngomong, enaknya menu sarapan kali ini, apa ya?" Flora menggumam sembari mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di pipi. Padahal mereka masih dalam perjalanan, namun batin Flora sudah berperang sengit akan makanan apa yang akan mereka santap nanti di kantin.
"Mie Ayam bakso gimana? tapi soto juga enak, apa lagi dicampur pangsit. Nasi goreng juga boleh, dicampur somay, tambah lezat." Flora mengoceh hanya persoalan makanan.
"Menurut lo enakkan yang mana Ruy?" Flora menoleh kepada Ruby meminta saran, namun Ruby kelihatan mengabaikan dirinya, sejak kapan Ruby tak memperhatikannya? apakah sejak tadi? Oh, good! berarti dia ngomong sendiri seperti orang gila.
"Ruy?" Panggilan untuk yang kedua kalinya, tak kunjung mendapat gubrisan. Akhirnya Flora mengikuti arah pandang Ruby yang membuatnya jadi mengabaikan dirinya, ternyata yang menyebabkan Ruby sampai tak mengacuhkannya adalah Alan.
Lelaki itu sedang bermain bola basket solo ditengah lapangan sana, Flora benar-benar tak mengerti, miliaran jenis laki-laki dibumi ini, mengapa Ruby hanya mencintai lelaki bajingan itu? seperti tak ada cowok lain saja. Apakah ia seharusnya menyadarkannya? sepertinya tak perlu karena menasehati orang yang sedang bucin sungguh akan sia-sia ujungnya.
"Sepertinya dia kecapean deh? apa gue beliin minuman aja ya?" monolognya. Ritme langkah mereka jadi semakin memelan.
"Ngapain dibeliin minuman? toh dia aja gak peduli sama lo, ngapain lo sepeduli itu sih?"
"Orang jahat kekita, bukan berarti kita harus perlakuin balik jahat ke mereka kan? paling gak, gue gak kayak mereka yang diam-diam main belakang, kalo gue ngebalas perbuatan mereka, apa bedanya gue sama mereka?"
"Naif, Ruy! itu namanya naif! jangan terlalu baik deh jadi orang. Jatuhnya jadi bego bukan baik lagi." Flora meraup kasar wajah Ruby agar dapat menyadarkan dirinya. Ia jadi greget sendiri dengan Ruby. Seharusnya Ruby jadi jahat sedikit agar orang lain tak seenaknya mempermainkan perasaannya.
"Lo terlalu naif, Ruy.." Flora menggumam sambil hanya geleng-geleng kepala.
****
Sudah cukup lama, Ruby berdiri ditepi lapangan menunggu Alan yang entah kapan berhenti main basketnya. Jika ditanya mengenai Flora, Gadis itu sedang sarapan di kantin. Sementara Ruby memilih untuk berjemur ditepi lapangan yang tak ada tempat berteduh.
Ruby tak tahu entah mengapa lelaki itu hanya main sendiri, padahal bermain bersama anak-anak lain akan lebih menyenangkan dan seru, mungkin Alan hanya untuk mengisi waktu suntuknya di jam istirahat, sekaligus olahraga siang agar dapat berkeringat.
Cowok itu tak lagi mengenakan baju seragam sekolah, hanya mengenakan pakaian kasual yang kini sudah basah akibat banjir keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya, suhu cuaca saat ini amat tinggi, Ruby pun rela berpanas-panasan demi menunggu Alan selesai main.
Berselang lima menit, Alan nampak berlari kearah tepi lapangan, menyudahi permainannya, ia duduk di bangku yang terletak dipinggir lapangan untuk istirahat sejenak, Ruby tersenyum senang lantas tanpa mau berpikir panjang lagi ia menghampirinya.
Ruby menyodorkan sebuah sebuah botol minuman teh pucuk yang ada digenggamannya. Alan hanya menatapnya tak minat sebelum mendongak sekilas. Ia menghembuskan napas jengah.
"Apa lagi?" tanyanya dingin.
"Aku--hanya berpikir, mungkin kamu haus kalo habis main basket, jadi aku beliin minuman buat kamu. Aku inget, kamu paling suka sama teh pucuk soalnya katamu, minuman ini segar."
"Gue gak haus."
Ruby tak berkutik, sejujurnya ia masih mencari kalimat yang pas ia lontarkan untuk membalas perkataan Alan.
"Eumm-- gak papa, kalo kamu gak minum. Tapi terima aja ya? mau kamu buang atau kamu apakan terserah kamu. Yang penting, ambil aja dulu. Sayang kalo kamu gak diambil, aku udah capek-cepek sama makan ongkos, buat belinya."
"Ngelujak." Alan berdecak kesal, sekali lagi ia mengadah agar melihat sinis Ruby yang sedang berdiri didepannya, "Lagian, gue gak ada nyuruh buat lo beli minum. Kemauan lo sendiri kan? jadi gak ada salahnya mau gue nolak atau enggak, terserah gue."
"Kan aku udah bilang, terima saja dulu. Nanti kalo udah jadi milik kamu, terserah mau kamu buang atau kasih orang,"
Dalam rasa muak, Alan berdiri lalu menepis tangan Ruby kasar hingga minuman itu terjatuh dengan sendirinya dari genggaman Ruby. Pandangan nanar Ruby mengikuti gerakan botol yang menggelinding dipermukaan lapangan, menjauh dari arah bertolak belakang dari mereka berdua.
"Kalo gue bilang, enggak ya enggak! lo gak ngerti bahasa manusia?!" hardik Alan benar-benar muak.
Hati Ruby mencelos mendapat perlakuan dan kata-kata yang tak mengenakkan dari Alan, ia meremas sisi roknya. Apakah orang dihadapannya ini benar-benar Alan? mengapa berbeda sekali dari yang dulu. Kedua matanya memanas, sebisa mungkin menahan air matanya yang berdesakkan agar tak tumpah dari sumbernya.
Alan meraup wajahnya gusar, kemudian tatapannya menyebar ke sekeliling dimana ada ramai orang yang memperhatikan mereka berdua sambil bergunjing. Dari pada malu menjadi sorotan warga sekolah, ia memutuskan untuk meninggalkan area lapangan, menyisakan Ruby dalam rasa sesaknya yang teramat.
Ruby menatap sosok Alan yang perlahan demi perlahan mulai menjauh dari hadapannya dengan rumit. "Gue gak ngerti, Alan. Kenapa lo, berubah?" Monolognya. Tanpa ia sadari matanya sudah berkaca-kaca. Mengaburkan pandangannya.
*****