
Semua barang-barang miliknya dan Calix sudah Ruby kemas dalam koper, dia sudah bersiap akan pergi dari negara ini. Meninggalkan segalanya disini, kenangan sekolah, pekerjaannya, momen indah terutama kenangannya bersama Athala.
Dia akan mencoba menghapus segalanya menyangkut tentang Athala, menata kembali hatinya sedemikian rupa. Lalu setelah dia mulai berdamai dengan keadaan, Ruby akan memulai lembaran baru. Biarlah, harapannya membina rumah tangga bersama Athala, menjadi angan-angan saja. Sekarang, ia harus kembali pada realita bahwa tidak semua yang pergi bisa kembali lagi.
Alan tidak mencegahnya saat mengetahuinya, dia menghargai apapun keputusan Ruby, karena menurutnya Ruby dan Calix berhak mendapat kebahagiaan baru disana.
"Ruby, kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Zeal memastikan. Dia tidak mau, Ruby berubah pikiran hanya karena hasutannya. Dia ingin Ruby melakukan apapun yang dia inginkan.
Ruby mengangguk mantap. Alasannya menetap disini hanya karena menunggu dia yang sudah melupakan dirinya.
"Apa lagi yang aku harapkan disini Kak?" Kepalanya menggeleng kemudian. "Harapan aku sudah lenyap Kak. Dia akan menikah dengan orang lain."
Zeal menghela napas ringan. "Yasudah kalau memang itu keputusanmu, Kakak akan ikut kemana kalian pergi, kalau gak ada dia, masih ada Kakak yang akan menjaga dan melindungi kalian," Dia sudah menduga bahwa keputusan Adiknya sudah jelas ada penyebabnya, lelaki itu tentu sudah menyia-nyiakannya.
Perkataan Kakaknya disambut oleh senyum merekah dari Ruby, dia bersyukur memiliki Kakak terbaik seperti Zeal, Ruby mengalihkan fokusnya kearah Calix yang baru saja keluar dari kamar. "Sudah siap Calix?"
"Sudah Mih." Calix sudah rapih dengan pakaian yang dibelikan oleh Alan tempo hari itu.
"Baiklah kita akan segera berangkat." Mereka keluar dari apartemen dengan banyak barang ditangan mereka. Ketiganya akan pergi ke bandara dengan taksi yang telah dipesan oleh Zeal.
Dari balik kaca mobil taksi, Ruby mendongak, menatap gedung besar yang berdiri dihadapannya, dia akan meninggalkan tempat naungannya selama beberapa tahun terakhir ini.
Bahkan ban mobil yang mereka tumpangi sudah bergulir, netra Ruby masih setia terpatri kesana, hingga bangunan tinggi itu sudah tak dapat dijangkau matanya barulah Ruby mengubah arah pandangnya kedepan.
"Rasanya baru kemarin aku kabur dari Australi." Gumamnya samar. Dia menoleh kesamping, melihat Calix yang sedang duduk entang disana. Dia akan menyekolahkan Putranya ini di Australia.
"Ah, enggak kok." Kebohongan besar. Dia menghapus cairan bening kristal cepat-cepat di wajahnya, akhir-akhir dia cengeng sekali, sering meneteskan air mata tanpa alasan.
*****
Diwaktu yang sama namun lain sisi. Di kantin perusahaan Ragaswara lebih tepatnya. Dentingan sendok yang jatuh ke piring terdengar sedikit nyaring.
"Atha? lo kenapa?" tanya Gracia khawatir. Dia cemas melihat Athala yang meremas rambutnya kalut, sepertinya sakit kepalanya kembali melanda.
"Jangan sentuh gue.." Tekan Athala dingin ketika Gracia menyentuh pundaknya. Gracia yang terlalu risau, tidak lagi mendengarkan apa penitahan Athala.
"Lepas bangsat!" Gracia jatuh dari kursi saat Athala menepisnya kasar. Di saat yang bersamaan, kantin dibuat menjadi ricuh, banyak pasang mata yang menyaksikannya menjadikan insiden itu sebagai gunjingan-gunjingan.
Reygan yang baru memasuki kantin, otomatis langsung terpusat kesana perhatiannya. Pasalnya disana sudah ribut, terlebih semua warga disana menyorot kearah mereka. Dia lekas menghampiri mereka. "Tha ada apa? sakit kepala lo kambuh lagi? mau pergi ke rumah sakit?"
"G-gak perlu. Gue-- baik-baik saja."
Saat kepalanya sudah agak mendingan, Athala mengangkat pandangan mengarah pada Reygan, sebentar lalu melihat kearah Gracia yang baru saja bangkit, seketika raut wajahnya terlihat berubah menjadi rasa bersalah, "C-cia? maaf soal yang tadi, aku gak sengaja.."
Athala tak tahu apa yang terjadi dengannya, belakangan ini denyut yang amat nyeri sering menyerang kepalanya, tadi kepingan-kepingan memori yang kerap menghantuinya, bagaikan kaset rusak kembali terbayang-bayang di dalam benaknya, segalanya tidak jelas, ibarat potong-potong puzzle yang terpisah.
Tapi ada suara yang sukses membuat batinnya berkecamuk saat ini, suara manis juga lembut seorang Perempuan, dan terdengar mirip persis dengan suara Wanita yang selalu mengusik hari-harinya, sekarang dia dimana? hari ini Perempuan itu tak terlihat.
*****