My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.MARKAS VAGOS



Hari ini tidak luput dari siklus kegiatan sehari-hari, yakni pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu dan kembali pulang kala lonceng bel pulang telah berbunyi.


Lantaran pelajaran tambahan mendadak yang harus mereka kerjakan, untuk hari ini Ruby dan Flora harus pulang di sore hari. Ruby tidak tahu Flora akan membawanya ke mana, yang pasti gadis itu mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk mencari tetangganya yang hilang, seingat Ruby tadi menemukan Elang di rumah sakit, untuk sekarang Ruby tidak yakin Elang masih ada di sana.


Pandangan Ruby berpencar menyusuri penjuru markas besar Vagos, sesuai rumor yang beredar, markas Vagos memang besar dan luas, baru kali ini Ruby menginjakkan kaki di markas Vagos. Kaki Ruby berayun masuk lebih dalam menyusul Flora yang dengan lancangnya main masuk. Tidak heran lagi, Flora sering kali berkunjung ke sini karena ia berstatus sebagai pacar dari pemimpin Vagos.


"ELANG WOY PULANG! DI CARIIN AMA EMAK LO NOHH!!" teriak Flora lantang terdengar menggema, perasaan Ruby dari luar sebelum masuk Flora sudah menjerit-jerit sambil memanggil-manggil nama Elang. Tidak putus kah itu urat leher teriak terus-menerus? pikir Ruby seraya geleng-geleng kepala.


"Woy kalian para titisan dakjal! si Elang mana?!" Flora berkacak pinggang di depan anak-anak Vagos tengah sibuk berbagai macam kegiatan, ada yang bermain game, telponan dengan ayang, bahkan ada juga yang tengah makan.


Fokus mereka semua secara bersamaan terbelah ke pada Flora yang tidak tahu malu, Jika Ruby yang ada di posisi Flora bisa di jamin mungkin ingin menghilangkan kepala saking malunya, pergi ke warung untuk membeli sesuatu saja akan batal jika ada kumpulan cowok-cowok.


Reygan yang di antara mereka berbisik kepada Athala yang ada di sampingnya, "Itu bukannya cewek yang perjakain elo?"


Dengan ekspresi yang tidak terbaca Athala menatap Ruby yang berdiri tidak jauh dari belakang Flora, ia membelalakkan mata kaget menangkap Athala yang sedang duduk bersama yang lain. 'What?! itu bukannya cowok yang gue bayar lima ratus rebu?!'


"Sayang!! bisa gak jadi cewek feminim untuk sesaat? bar-bar banget sih jadi cewek." Gatra yang baru saja keluar dari toilet itu segera mengarah kepada kekasihnya yang tengah berdiri dengan gaya tomboi-nya, tiba di depan Flora ia langsung bekerja melepas seragam Flora yang sengaja sang empu ikat dengan dua kancing bawah terbuka, telaten Gatra mengancingkan kancing baju Flora dan menurunkan lengannya yang tergulung.


"Ngatur banget sih jadi cowok." Racaunya.


"Demi kebaikan kamu sayang. Jadi pacar itu yang patuh. Kalo aku bilang gini ya gini, kalo aku bilang gitu ya gitu. Jangan kebanyakan nge-bantah."


"Cerewet." Flora memutar bola matanya nyinyir menirukan gaya bicara Gatra yang memutar tubuhnya agar berhadapan dengannya, sentilan menyentuh dahi Flora membuat sang empu menggeram kesal, "Gatra!! nyebelin ih! main nyentil-nyentil! kamu kira gak sakit?!" Flora mangusap-ngusap dahinya yang nyaris benjol, jemari tangan Gatra itu besar jadi cukup berefek di dahinya hanya karena sentilan.


"Norak kamu ah! gitu aja sakit, gimana di masukin nanti? nangis kejer kamu!" ceplos Gatra tanpa filter membuat Flora menendang betisnya kuat, "Tuh kata-kata di jaga! frontal amat!" Gatra meringis merasakan tendangan maut melayang di betisnya yang menekuk sambil mengadu sakit.


"Itu ketua kalian? lemah banget. Hanya di tendang kaki se-mungil itu sudah kesakitan kaya gitu?" kata Reygan sedikit tidak percaya. Agaknya di sini reputasi Gatra sebagai pemimpin Geng sedikit tercoreng gara-gara Flora.


"Yaelah Gatra emang gitu, pinter akting biar dapet perhatian dari Flora. Aslinya gak ada sakit-sakitnya itu mah." Cibir salah satu anggota Vagos bernama Leo tengah makan nasi uduk pun masih sempat-sempatnya menggubris ucapan Reygan.


TBC..