
"Kenapa kalian hanya berdiam diri di sini? kenapa gak menjenguk Alan di dalem?" tanya Ruby yang kini tengah duduk di salah satu kursi tunggu, ia menatap mereka yang sedang berdiri dan duduk di sebelahnya satu persatu, dari tadi pertanyaan ini berputar di kepalanya.
"Di dalem ada keluarganya."
"Emang keluarga Alan gak ngeizinin kalian untuk masuk?"
Menghela napas berat, bahu Gatra menurun, bukan hanya dia, semua yang ada di sana terlihat murung. Melihat bagaimana ekpresi mereka yang terlihat buruk, sepertinya tebakan Ruby memang benar.
"Dari dulu emang orang tua Alan gak suka kalo Alan bergaul dengan anak Geng motor seperti kami. Kata mereka itu bahaya. Jadi, saat musibah seperti ini terjadi, otomatis orang tua Alan nyalahin kami semua yang ngehasut dia masuk pergaulan yang gak bener sehingga menyebabkan dia kecelakaan." Jelas Elang, tidak ada yang membuka suara mendengarkan penuturan Elang.
Sedari semalam mereka sudah di sini berharap bisa mengetahui bagaimana kondisi Alan di dalam sana, tapi orang tua Alan tidak mengizinkan mereka masuk meski hanya sebentar saja. Usai penjelasan Elang, ke heningan mereka hanya di isi riuh rendah orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit yang terdengar di indera pendengaran masing-masing di pasang telinga mereka.
Cukup lama dalam situasi itu, derap langkah kaki yang terburu-buru terdengar nyaring menapak di lantai tegel menuju ke arah mereka memecah pikiran mereka yang melayang entah berantah.
Saat mata Sandra menemukan Ruby di sana, sorot yang tadinya tersirat sebuah kecemasan yang mendalam berubah menyalakan sebuah api permusuhan, melangkah ke arah Ruby memending niatnya untuk sementara.
Salah satu Kening Ruby naik melihat Sandra yang sudah berdiri di depannya dengan raut penuh kebencian. Ia menarik kerah baju seragam Ruby hingga Ruby sendiri berdiri dari duduknya.
PLAKKK
"Ini semua gara-gara lo!!" desis Sandra marah. Ruby menyentuh pipinya yang berdenyut panas karena pukulan yang baru saja ia terima.
"Maksud lo apa hah?!!" Bentak Ruby tidak terima. Mengapa semua orang harus menyudutkan dirinya atas insiden yang menimpa Alan?
"Semalem Alan nelepon gue! dia nuduh gue yang nyulik lo!! padahal gue lagi diem dirumah tapi malah di salahin?"
Ruby hanya menatap Sandra rumit, terus letak kesalahannya di mana?
"Di situ gue denger suaranya khawatir banget nyariin elo! dan asal lo tahu? gimana paniknya gue pas denger suara hantaman mobil yang menabrak sesuatu lalu tiba-tiba panggilan terputus begitu saja? gue stres mikirin itu semua!!" tambah Sandra mendorong bahu Ruby hingga sang empu terduduk di kursi dengan pandangan menerawang.
Kepala Ruby di penuhi oleh suara-suara yang berperang membuat dirinya shock dan stres, ia mencengkram rambutnya kalut, 'Jadi, ini semua salah gue?' tidak di sadari air matanya jatuh membasahi pipinya. 'Apakah Alan kecelakaan karena gue?'
Tiba-tiba Ruby di monopoli oleh rasa bersalah yang besar, ia menyesal mengapa tadi malam tidak menunggu di mobil saja? atau setidaknya ia tidak kelupaan untuk mengabarkan Alan jika tidak ada yang berbahaya terjadi pada dirinya. Jadi, semuanya memang benar adalah salahnya?
Di sela-sela keributan di otak Ruby, Sandra hendak mengambil tindakan lebih jauh lagi dengan menarik baju seragam di bagian bahu Ruby agar bisa berdiri ulang, Elang menarik Sandra duluan untuk menjauhkan Ruby dari jangkauannya.
TBC.