My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.TAMPARAN RUBY



Kini Ruby telah mengenakan style outfit yang menurutnya lebih sederhana di bandingkan yang lain.



Ia di ajak Athala untuk makan malam. Kebetulan sekali, lapar Ruby memang sudah tidak bisa di tahan. Jadi, Ruby ikut saja.


Ketika menuruni tangga, pandangan Ruby terus mengamati mansion yang terlihat megah, perabotan mahal terpajang di tiap sudut ruangan yang dindingnya di dominasi oleh warna putih. Luas dan mewahnya mansion ini tidak mengalahkan mansion milik Ruby di Australia.


Saat tiba di ruang makan, Ruby di sambut oleh makanan mewah banyak tersaji di meja panjang, di mulai dari hidangan utama juga hidangan penutup. Pelayan-pelayan sudah tidak ada yang tinggal mengikuti sinyal dari Athala. Ruby bingung makanan sebanyak ini untuk apa?


"Kalo ada yang gak enak berasa di lidah lo. Lo boleh komplain. Biar, gue perintahin pelayan untuk buat makanan sesuai selera lo."


"Gak perlu. Gue makannya gak pilih-pilih."


Akhirnya mereka menyantap makanan bersama, sesi makan mereka hanya di isi oleh bunyi dentingan sendok yang mengenai pada piring. Sebelum kemudian Athala membuka suara sebagai pihak pertama yang mengawali obrolan. "Jadi bagaimana keputusan lo atas tawaran gue, gadis kecil?"


Gerakan Ruby yang akan menyuapkan makanan kesekian kali itu menggantung, "Apa?"


"Jadi wanitaku dan melahirkan anak."


Ruby meletakan sendok kembali ke piring lalu menghela napas, pertanyaan dari Athala membuatnya mendadak tidak berselera makan, "Kenapa harus gue?"


"Ya karena kita cocok di ranjang."


"Cocok gimana? setiap laki-laki itu kalo udah ada cewek yang telanjang di depan mata dapat di ibaratkan kucing di beri ikan. Cocok atau tidaknya tetap bakal di bawah ke ranjang."


"Iya itu kalo cowok lain. Kalo gue--" Athala ragu mengakui dirinya tidak normal. Mau di taru di mana mukanya kalo cowok se-perfect dia ternyata impoten? dan mempunyai kelainan?


"Kalo lo apa?"


Tangan Athala terjulur untuk meraih gelas dan meneguk isinya setengah, tidak sanggup mengungkapkan kebenaran "Enggak," jawabnya setelahnya.


"Oh iya, lo bisa anterin gue pulang setelah ini? gue gak punya ongkos pulang soalnya." Sebenarnya Ruby hanya ingin mengubah topik obrolan yang hanya mengarah persoalan anak peranakan.


Untung Athala hanya mengangguk saja. "Baiklah, gadis kecil."


"Lo bisa berhenti panggil gue gadis kecil? nama gue Ruby. Lo boleh panggil gue Ruy."


"Emang kenapa?"


"Soalnya gue udah gede. Gak pantes di panggil gadis kecil lagi."


"Gede?" Dari atas sampai turun mata Athala bekerja meneliti Ruby dengan lekat-lekat lalu tersenyum remeh, hal itu terlihat sangat menyebalkan di mata Ruby. Apakah Athala mau bilang dirinya masih kecil?


"Gede dari mana? badan lo aja kayaknya bocil SD."


"Heh enak aja!" Garpu mengacung ke arah Athala, memasang raut tidak terimanya Ruby pun berkata. "Gue udah gede ya! umur gue udah tujuh belas!"


"Tujuh belas doang. Gue lebih tua, dua puluh satu tahun."


"Halahh selisih tiga tahun doang." Cibir Ruby mencebikkan bibir.


"Tapi setidaknya tubuh gue kelihatan dewasa. Dari pada elo, udah SMA tapi mirip bocil SD!" Hinanya lagi-lagi meremehkan.


"Ishh tahu!!" Cetus Ruby merasa kalah, mau membantah juga fakta. Ruby kesal mengapa tubuhnya harus ikut gen Ibunya yang pendek dan kecil.


Ruby malas berbicara lagi, ia menyuap makanan ke mulutnya dengan kasar. Omongan Athala itu adalah akhir dari percakapan mereka, hingga keduanya hanya fokus pada masing-masing makanan di depan mata.


***


Di perjalanan pulang, mereka hanya sama-sama terdiam seribu bahasa. Athala sibuk mengemudi lalu Ruby hanya menatap keluar kaca mobil.


Hanya berselang lima menit kemudian tiba-tiba perhatian Ruby tertarik kearah di mana ada Adelio yang baru saja keluar dari warteg.


"Stop stop stop!!" Interuksi Ruby dengan heboh memukul-mukul belakang kursi jok depan, spontan Athala menginjak rem saat mendengarnya yang otomatis membuat dahi Ruby membentur kursi depan.


"Bisa ngeremnya jangan mendadak?!" marahnya. Jika tidak ada urusan dadakan yang harus segera ia lakukan mungkin mereka akan berdebat.


"Kan lo yang nyuru tadi stop? jadi gue stop-in lah!!"


Ruby memilih tidak menanggapi lagi agar tidak membuang waktu, ia lekas keluar menghampiri Adelio yang hendak akan menaiki motor besarnya, di tangannya menenteng sebuah kantong kresek, Ruby yakin itu adalah makanan yang Adelio beli dari warteg.


"Lio!"


Panggilan itu menghentikan gerakan Adelio yang siap memasang helm ke kepalanya, sedikit saja kepalanya menoleh kepada Ruby yang semakin mengambil jarak mendekatinya.


Ia meletakkan helm ke tangki dan memberikan senyuman saat Ruby sudah di sampingnya, "Ada apa By? kenapa lo bisa ada di sini?"


PLAKKKK


Tamparan keras menapak di pipi kiri Adelio sontak memalingkan wajahnya, seketika pikiran Adelio di buat kosong hanya ada denyut panas di area wajahnya yang terasa, tangannya memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Ruby.


"Ruby? ada apa? kenapa lo nampar gue?"


Tangan Ruby mengepal menahan emosi, "Lo jangan pura-pura gak tahu!!"


Athala hanya memantau dari seberang jalan, menyaksikan adegan kekerasan yang terjadi di sana. Rupanya Ruby ada keberanian juga menampar orang, apa lagi orang yang ia tampar adalah seorang lelaki.


"Gue beneran gak tahu By. Lo tiba-tiba dateng nampar gue tanpa alasan yang jelas?"


"Lo udah nyelakain cowok gue!!"


Tudingan yang di lontarkan oleh Ruby semakin membuat Adelio terbingung-bingung, dahinya membentuk sebuah garisan tidak mengerti, "Maksudnya?"


"Alan! Alan cowok gue mengalami kecelakaan! dia lagi koma, dan itu gara-gara ulah lo!"


Ruby menunjuk Adelio. Dan jujur, baru kali ini Adelio dapat melihat Ruby dari sisi ini. Dulu, Ruby tidak pernah memarahinya walau hanya sekali.


"Ulah gue? nyelakain Alan? gue benar-benar gak mengerti."


"Jangan berlagak sok gak tahu! teropong yang di dapati di sekitar tempat parkir mobil Alan itu teropong yang gue beri ke elo! jadi, siapa lagi pelakunya kalo bukan elo!"


Pikiran Adelio di buat mengembara untuk sekejap menganalisa maksud dari Ruby. Setahunya saat malam kedua belah pihak Geng-nya dan Geng Vagos bentrokan, Saka menghilangkan teropongnya.


"Sepertinya gue mengerti apa yang Lo katakan barusan. Meski gue nakal dan suka berantem, gue juga punya batasan. Gue gak mungkin bahayain nyawa orang yang gak bersalah. Gue berani bersumpah bukan gue pelakunya."


Telunjuk Ruby pun perlahan-lahan menurun, di lihat dari tampilan ekspresi Adelio yang nampak tidak berbohong, sepertinya Adelio benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai insiden kecelakaan Alan. Yang intinya bukan dia dalangnya.


"Kalo bukan lo, siapa lagi?"


"Memang bukan gue pelakunya, tapi kayaknya gue tahu siapa dalangnya."


***


Cerita ini akan aku hiastus untuk sejenak, setidaknya sampai mood menulis aku kembali dan bisa menemukan ide-ide brilian untuk cerita amburadul aku yang satu ini😭


See you di lain waktu reader tercinta😘