
"Atha..Calix.. ya ampun.. ini udah larut, kalian ngapain berendam hah? Ntar kalian masuk angin loh.." Peringat Ruby yang melihat sepasang Ayah dan Anak tersebut sedang berendam di kolam minimalis yang ada di rooftop menggunakan pelampung. Ia baru saja menyambangi area rooftop, mencari udara segar disini.
"Kalo aku sih gak papa soalnya aku udah dewasa. Jadi, stamina aku kebal. Yang perlu diantisipasi, stamina nih anak." Athala menggetok sisi kepala sang Putra membuat sang empu uring-uringan. "Kalo masuk angin, jangan ngeluh kamu!"
"Papi kalo sama Calix suka galak-galak. Tapi, kok sama Mami kaya kucing disilam? Gede doang, penakut sama Istli, huu!!" Ejek Calix.
Tak terima atas ledekan Calix, Athala menampar air hingga terpercik kemana-mana. "Ngejek doang, gak ngaca! Kamu juga pasti takut kan sama Mami?!"
"Iya takut. Tapi wajal kan anak sekecil Calix takut sama olang dewasa? Yang gak wajal itu Papi, udah dewasa kalah sama pelempuan!" Calix tak mau kalah.
Ruby yang kini telah duduk dipinggir kolam sambil memasukan kakinya ke dalam kolam pun menengahi sebelum terjadi bencana. "Udah, Calix. Jangan ejek Papi kamu... Kamu gak akan mengerti karena masih kecil. Nanti kalo kamu udah dewasa terus mendapatkan cewek yang baik hati dan tepat, kamu juga akan jadi penakut dan penurut seperti Papimu."
"Elah! Calix gak akan jadi cowok bucin akut sepelti Papi. Nanti kalo Calix dewasa, Calix akan mengoleksi cewek sebanyak-banyaknya,"
"Kaya ada aja yang mau sama kamu." Athala kini naik ketangga kolam, menghampiri Ruby.
Bersidekap dada mendewakan diri sendiri. Calix pun mengusap hidungnya dengan jempol. "Tampan gini, siapa yang gak mau, coba? Tulunan Athala nih bos!"
"Lagi-lagi kamu menyebut nama orang tua! Awas kualat kamu! Dasar anak gak berbakti!" Rutuk Athala tertuju untuk anaknya. Yang disematkan rutuk pun hanya menjulid tak peduli.
Memilih mengabaikan Calix dari pada darahnya mendidih, Athala kearah sebuah bangku, mengambil sebuah handuk dari sana. Bukannya untuk menghangatkan untuk diri sendiri, ia justru memakaikan kain handuk tersebut di bahu Istrinya.
Kini ia duduk disebelah Istrinya. "Kenapa kesini hmm? Disini dingin, gak baik buat kesehatan baby dan Maminya.. masuk gih, aku nemenin Calix bentar lagi, nanti akan segera menyusul."
"Handuknya buat kamu aja Atha.. nanti kamu kedinginan."
Athala mengusap kening Ruby penuh kelembutan. "Enggak babe..untukmu saja. Mami, harus tetap hangat biar dede bayi juga ikut hangat." Tangan Athala berpindah posisi mengelus perut Istrinya yang belum terlalu buncit.
"Kalo gitu aku tetap disini ya? Mau lihat-lihat kalian, sama pemandangan disini, udara disini juga adem. Aku merasa tenang dan nyaman disini."
*****
Pasca sesi berendam malam-malam lalu habis mengenakan pakaian yang lengkap, Athala celingukan kanan-kiri mencari-cari sang Istri diruangan, ia baru saja dari kamar, tak mendapati Ruby, jadi ia sampai mencarinya kesini. Tapi, hasilnya nihil. Ia tak disini.
Ia mendengar kerusuhan dari dapur, dengan lekas Athala berjalan menuju kesana, menemukan Ruby yang sedang berkutat dengan alat-alat dapur. "Sayang.. lagi ngapain hmm?"
Ruby terjekut merasakan lengan kekar menjalari pinggan rampingnya, "Mau masak buat kalian."
"Kita pesan online aja."
"No! Kamu mau menyiksa kurir?! Coba kamu pikir saja kita lagi tinggal dimana sekarang? Kasian kan kurirnya sampe kehutan belantara hanya untuk mengantarkan pesanan kita."
"Ck, itukan memang tugas mereka. Di bukit sekalipun, mereka gak bisa melalaikan tugas."
Ditepuknya lengan sang Suami yang tidak mau lepas dari posisinya. "Lepasin dulu tangan kamu! Aku mau masakin makanan untuk kamu dan Calix, mumpung bahan-bahan makanan disini lagi lengkap."
Athala menarik bahu Ruby, sedikit menjauhkannya dari meja dapur dan atribut-atribut berbahaya disana. "Kamu gak boleh banyak bergerak. Tugas bumil itu, kalo gak diam, tidur, yah tahu makan aja."
Ruby mendelik sensi. "Kamu kira aku apa?! Bumil juga serba bisa tahu?!"
Memutar-mutar bahunya, Athala pun menaikan lengan bajunya lantas setelahnya mulai memutar arah dengan membelakangi Ruby. "Kamu nganggep Suami kamu ini apa? Pajangan? Aku juga bisa masak loh.. kamu tunggu dimeja makan aja, biar aku yang buatin makanan untuk kalian."
"Awas aja gosong atau buat dapur kebakaran!"
Seraya memotong-motong bawang, Athala menyahuti ucapan sang Istri. "Enggak sayang... Percaya sama Suamimu ini.."
*****