
"Huekkk!! Huekk!!" Sejak tadi Athala hanya bolak-balik, keluar masuk kamar mandi karena hingga kini ia masih terus mual-mual tak jelas.
Athala pikir dengan kepulangannya ke mansion ia dapat beristirahat dengan baik, yang ada justru sekarang ia tak bisa istirahat karena perutnya yang terasa bergejolak tak nyaman. Yang semakin membuat Athala bingung ia muntahkan isi perutnya bukan makanan atau yang lain, hanyalah cairan bening.
Selepas membasuh mulutnya usai muntah yang sama yakni hanya cairan bening, Athala menatap refleksi dirinya pada cermin sambil menumpukkan kedua tangannya dipinggiran wastafel, wajahnya terlihat sangat pucat. Otaknya bekerja untuk sesaat untuk memikirkan, makanan apa saja yang ia makan hari ini? apakah ia keracunan makanan?
Sepertinya tak mungkin. Jika iya, tak mungkin ia masih bisa berdiri sekarang, palingan sudah keluar busa-busa dari mulutnya.
Lelaki itu melangkah gontai menuju tempat tidur yang mana ada Ruby yang sedang memainkan ponsel, kini perempuan itu merubah perhatian kearahnya.
"Masih mual?" Sejujurnya, Ruby juga merasa prihatin dengan kondisi Athala, ia tak tega melihat dirinya yang mondar-mandir keluar masuk kamar kecil hanya karena muntah-muntah.
Athala mengangguk lemas, perutnya masih tak nyaman, tapi setidaknya sudah agak mendingan, ia merangkak keatas kasur mendekati Ruby lalu merebahkan tubuhnya ringkihnya disisi perempuan tersebut, "Peluk By.."
Kedua tangannya terentang mengharapkan pelukan dari Ruby, sekarang ia sedang butuh dekapan dari Wanita didepan matanya ini, tak ada yang ia inginkan selain bermanja-manja dengan Ruby saat ini.
Ruby menghela napas ringan, ia meletakkan handphonenya diatas nakas sebelum mengabulkan permintaan Athala, yakni mendekapnya, ia merengkuh kepala Athala yang kini bersemayam diceruk lehernya.
Athala, lelaki itu menghirup rakus aroma vanilla yang menguar dari tubuh Ruby, apakah aroma gadis kecil ini memang selalu membuat nyaman dan menenangkan seperti ini? entah mengapa malam ini aroma dan pelukan Ruby terasa berkali-kali lipat lebih menangkan dari sebelumnya.
"Terakhir kali, kamu makan apa?" Athala merenggangkan pelukan, agar ia dapat menatap Ruby. Tangan Ruby lihai mengusap-ngusap belakang kepala Athala.
"Nasi padang.." Athala ingat, siang tadi ia makan nasi padang bersama dengan Reygan dikantin perusahaan. Selain itu, ia belum makan apa-apa lagi hingga sekarang.
"Itu doang? gak ada yang lain?"
Athala mengingat-ingat lagi untuk sejenak, mungkin saja ada yang ia lupakan, tapi sepertinya hanya itu yang ia makan hari ini, jadi yang menyambut Ruby hanya gelengan kepalanya.
"Tapi kenapa kamu mual terus? kamu yakin gak ada salah makan?"
"Gak tahu By.." Athala merendahkan kepalanya kemudian kembali merapatkan tubuh mereka, memeluk Ruby seerat-eratnya sampai Ruby sendiri merasakan tercekik akibatnya, Athala lalu menambahkan. "Yang jelas, sekarang maunya hanya pelukan sama kamu, gak ada yang lain.." Suaranya teredam dibalik dada Ruby, wajahnya sudah terbenam disana.
Athala meraih tangan Ruby, tegang melanda Ruby saat Athala ternyata menuntun tangannya memasuki baju yang ia pakai. "Usapin.. perut aku gak enak banget.."
Ruby mengangguk saja walau sempat menelan ludah, lantas mengusap-ngusap perut Athala seperti pinta lelaki itu, beruntung kali ini, aroma Athala sudah tak lagi setidak sedap saat di rooftop gedung hotel tadi, jika tidak, Ruby tak akan mampu berpeluk-pelukkan manja dengan Athala seperti sekarang ini.
Kedua mata Athala terpejam merasakan sensasi nyaman telapak tangan Ruby membelai otot-otot perutnya. "Besok malem, kamu senggang gak?" Celetuk Athala tiba-tiba.
Ruby melonggarkan pelukan, ketika ia menunduk menjatuhkan tatapan kebawah, otomatis bertubrukan dengan netra Athala yang sudah menanti dibawahnya.
"Kenapa emang?"
"Enggak apa-apa sih, hanya saja aku mau ngajak kamu ke acara reunian kami."
"Eumm-- emangnya boleh? aku kan gak seangkatan dengan kalian.."
"Memangnya kenapa gak boleh? kamu boleh hadir sebagai pasanganku. Lagi pula aku yakin, ada banyak yang akan membawa pasangan gak satu sekolah dengan kami waktu lalu."
"Hmm, yaudah deh, aku ikut " Ruby tak ada alasan untuk menolak ajakan Athala, malam-malam Ruby biasanya selalu ada waktu luang karena agendanya hanya belajar, tapi belakangan ini, ia sudah kurang belajar karena sering menghabiskan waktu bersama dengan Athala.
Kehadiran Athala memang membawa efek yang cukup besar, baik mengarah pada energi yang positif maupun negatif.
Negatifnya, keberadaan Athala membuat Ruby jadi sedikit melupakan apa itu belajar, mengajarkan Ruby melakukan hal-hal buruk seperti berhubungan intim, padahal Ruby sadar jika hal begitu adalah salah untuk pelajar sepertinya. Ruby juga tak sepenuhnya menyalahkan Athala karena ia juga menyukai sentuhan-sentuhan yang diterapkan oleh Athala, ia tak munafik.
Disisi positifnya, kehadiran Athala menjadi pengobat tak berbentuk pil saat Alan mengkhianatinya, tanpa Ruby sadari, Athala sudah membawa warna-warna yang tak dapat Alan berikan kepadanya dalam hidupnya, mulutnya selalu berhasil menepisnya, tapi Ruby tak dapat membohongi hatinya, faktanya ia sudah jatuh pada sosok Athala tanpa disadarinya.
*****
Athala mengigit ujung kuku-kukunya berharap dengan kalut panggilan yang sedari tadi ia lakukan untuk Reygan bisa terhubung.
"Angkat dong Rey.. tega banget jadi temen saat orang lagi butuh banget, malah hilang gak tahu dimana rimbanya.." Ia meracau tak tenang. Ingin menangis saja rasanya kala Reygan lagi-lagi tak mengangkat teleponnya.
Jika dilihat sebanyak apa riwayat panggilan yang dilakukan Athala, maka jawabannya adalah dua puluh tujuh kali, hal tersebut yang membuat Athala jadi gelisah sendiri.
Bukannya apa, Athala sedang ingin sesuatu, ia tak tahu harus meminta tolong kepada siapa selain Reygan, sudah tengah malam, tak mungkin ia menyulitkan diri dengan pergi sendiri dan meninggalkan Ruby yang kini sedang terlelap, walau pun ada banyak pelayan, Athala hanya lagi malas sebenarnya.
Jika masih bisa merepotkan orang lain, kenapa harus merepotkan diri sendiri, prinsip Athala yang mungkin akan dapat sumpah serapah dari Reygan. Karena miliaran juta orang yang tinggal di galaxy ini, tak ada orang lain yang akan dibebani oleh Athala selain Reygan selaku tangan kanannya.
Setelah percobaan puluhan kali, akhrinya Athala merasakan jaya karena panggilan akhirnya terhubung yang tandanya telah diangkat oleh orang diseberang sana. Yah, meskipun langsung disapa dengan umpatan.
"Sh*it! ngapain lo telepon tengah malem gini?!"
"Rey.. gue gak tahu deh apa yang terjadi dengan gue, tapi kayaknya ada yang aneh."
"Lo yang aneh ba.ng.ke! tengah malam gini lo mau apa hubungin gue?! sumpah deh, kalo gak penting, selamanya gak mau lagi gue jadi asisten lo." Reygan benar-benar tak habis pikir, jika Athala ada didepannya, ia ingin memukul kepala Athala dengan balok kayu saking geramnya.
"Asal jangan ketawain."
"Terlalu banyak basa-basi, sudahlah mending gue lanjut tur--"
"Gue lagi pengen es krim!"
Hening, cukup lama Reygan tak membuka suara diseberang telepon.
"Rey?"
"Rey? halo? masih ada orang?" Athala menjauhkan handphone dari telinga lalu memeriksa layarnya apakah panggilan masih terhubung atau tidak, tapi rupanya masih tersambung.
"Kok diam?" Athala menggumam heran, sebelum kembali menempelkan ponsel pada daun telinganya.
"Pfffttt.." Reygan melipat bibirnya kedalam mencoba meredam tawanya agar tak meledak, "Kesambet apaan lo sampe mau es krim tengah malam kaya gini? kek anak kecil aja lo!" Ledeknya hanya geleng-geleng kepala.
"Aneh kan? gue juga ngerasa aneh sama diri gue sendiri, tapi gue gak bisa nahan keinginan itu, gue lagi pengen makan es krim, sekarang."
"Jangan bilang lo serius nyuruh gue--"
"Iya.." Athala menyela omongan Reygan. Sukses membuat kedua mata manusia diseberang sana melotot, nyaris keluar dari sarangnya. Ia melirik jam dinding yang terpajang didinding kamarnya, seriusan? sudah hampir jam satu dini hari.
"Sekarang?! jangan ngadi-ngadi lo! cari dimana es krim jam segini njirt?!"
"Itu urusan lo. Gue gak mau tahu, lo cari es krim sampe dapet."
"Wahh gak bisa gi--"
Tut.. tut.. tut..
Sambungan diputuskan oleh Athala secara sepihak, tak menghiraukan akan kemungkinan Reygan melafalkan sumpah serapah untuknya dari seberang sana.
*****