
"Balas ciumanku, Zeal!" Ivelle membentak Zeal setelah pagutan menuntutnya tidak kunjung dibalas oleh Zeal.
Sialnya, kala Ivelle hendak mendekatkan wajahnya lagi bersiap akan menyatukan bibir mereka lagi, Zeal justru mendorong wajahnya menjauh. "Ini di kantor, perbaiki sikapmu. Bersikap selayaknya Wanita baik-baik karena kau ada tunanganku. Jangan sampai kau mencemarkan nama baikku dengan kelakuanmu."
Pandangan Zeal beredar disekitar. Pintu tidak dikunci, takutnya ada yang masuk. "Kita tidak seharusnya melakukan ini di kantor. Kalau ada karyawan lain yang memergoki kita, kita berdua akan menjadi buah bibir. Apa yang akan tersebar? Seorang manager yang yang melakukan hal mesum dengan tunangannya di kantor? Apakah itu bagus menurutmu?"
Yah. Gelar Zeal baru sebatas manager karena yang ada diposisi direktur utama adalah Ayahnya.
Dalam perasaan emosi, Ivelle turun dari paha Zeal yang sedang duduk di kursi kebesarannya. "Aku gak mau tahu pokoknya mantanmu itu harus segera enyah dari apartemen itu!"
"Dia tinggal di apartemenku untuk sementara waktu saja. Bersama dengan bayinya." Zeal memperbaiki dasinya lantas kembali sibuk dengan proposal yang ada diatas meja. Ia merasa Ivelle hanya memperpanjang masalah mereka agar berdebat. Ia malas waktu kerjanya diganggu.
Bokong Ivelle jatuh diatas sofa yang ada diseberang meja Zeal. Kedua tangannya ia lipat didepan dada. Dirinya tidak akan tenang sampai Wanita rubah itu pergi dari apartemen Zeal. "Sampai kapan dia kau perbolehkan tinggal disana hah?! Apakah sampai kita menikah dan kau akan selingkuh dengannya diam-diam?!"
Zeal menarik napas dalam berusaha memupuk darahnya yang tiba-tiba mendidih, ia menurukan berkas ditangannya, sedikit mengangkat kepala menatap tajam sang tunangan yang sejak tadi tidak bisa diam.
"Kau yang paling tahu bahwa aku paling benci dikhianati. Aku sudah pernah merasakan sakitnya difase itu. Untuk itu, aku tidak akan pernah melakukan hal terkutuk seperti itu. Lagi pula dia sudah mempunyai Suami, kau kira aku Pria gila yang akan merebut Istri orang?" Tekannya.
"Siapa yang tahu?!"
"Kau tak perlu merasa terancam. Tenang saja, dia hanya mantanku, hanya bagian dari masa laluku. Sedangkan kau adalah tunanganku. Jelas, status kalian tidak bisa dibandingkan, kau menang diatas segalanya. Selain memiliki gelar calon Mrs Levarendo berikutnya, kau juga memiliki tubuhku. Lantas, buat apa kau merasa terancam?"
"Aku memang memiliki status yang lebih tinggi dan memiliki ragamu. Sayangnya ada satu hal paling berharga dari apapun yang tidak bisa aku miliki. Yaitu, hatimu."
*****
Tiga hari berlalu, mengesampingkan permintaan Ayahnya, Valerie menggunakan waktu beberapa hari ini untuk istirahat seperti saran Zeal, ia juga sudah menghubungi tempat kerjanya untuk mengambil cuti. Berhubung dirinya mempunyai alasan yang klise yaitu baru habis melahirkan, ia mudah mendapatkan izin dari atasannya.
Zeal memberi perintah pada bawahan kepercayaannya untuk menyiapkan segala keperluan Aiyla. Dimulai dari pakaian, popok bayi, bedong selimut, tempat tidur bayi, perlengkapan mandi kemudian botol susu. Tidak perlu disebutkan satu persatu, bawahan Zeal benar-benar menyediakan perlengkapan bayi untuk Aiyla.
Pagi ini, Valerie sudah bersiap-siap pergi untuk bekerja. Aiyla ia gendong didepannya menggunakan di baby carrier.
Ketika ia hendak keluar dari apartemen, ia berpapasan dengan Zeal yang membuka pintu apartemen juga, kini mereka saling berhadapan.
"Zeal, kenapa kau disini?" Pria ini tidak ada kabar sama sekali semenjak tujuh hari yang lalu, entah ia yang terlalu sibuk atau malas menjumpai Valerie.
"Apakah salah aku berkunjung ke apartemenku?" Pertanyaannya yang penuh ketajaman membuat Valerie tidak bisa berkata-kata. Zeal sudah siap dengan setelan kerja.
Zeal memusatkan titik fokusnya pada bayi kecil yang ada di gendongan mantan kekasihnya. "Kau benar-benar membawa Ai pergi bekerja?"
"I-iya. Aku tidak tahu harus menitipkan Aiyla pada siapa, jadi lebih baik aku membawanya.'
"Kemarikan Aiyla. Biarkan aku yang mengurusnya."
Tentu saja Valerie langsung terkejut. Bahkan ia tidak di kasih waktu untuk mempertimbangkan, tahu-tahu Aiyla sudah berada ditangan Zeal, ia merebutnya dari Valerie bersama dengan baby carrier yang ia kenakan.
"Zeal? Tidak apa-apa, aku yang akan menangani Aiyla, aku tidak mau menyusahkan mu lagi. Kau pasti sibuk juga kan?"
"Kau memang merepotkan. Tapi Aiyla berbeda. Dia bayi yang tidak tahu apa-apa."
"Tapi kau juga bekerja." Valerie memperhatikan kegiatan Zeal yang memasang baby carrier selempang pada bahunya dan beralih menggendong Aiyla kecil.
"Tapi--" Valerie hendak kembali berkomentar. Akan tetapi, Zeal selalu ada cara untuk menyela dirinya.
"Sudah-sudah, sana kau bekerja, sopirku sudah menunggumu didepan. Oh iya, kemarikan dot Aiyla."
Tidak hanya bayi Aiyla, Zeal juga merebut botol susu milik Aiyla dari tangan Valerie kemudian mendorong punggung Ibunya untuk menyuruhnya segera pergi bekerja.
*****
Merasakan otot-ototnya yang pegal, pada akhirnya Zeal meregangkan leher setelah dua puluh menit hanya terus berhadapan dengan komputer dan proposal yang ada didepannya. Ditengah itu, suara tangisan sang bayi memenuhi ruangan kerjanya.
Rupanya Aiyla terjaga tidurnya. Jelas, Zeal lekas menenangkannya, ia seperti seorang Ayah yang siaga dan berdedikasi. Sebelum ini banyak pegawai yang bertanya-tanya entah bayi siapa yang dirinya bawa. Bahkan ada yang menduga-duga bahwa anak kecil yang ada di gendongannya adalah bayinya bersama dengan tunangannya.
Pelan-pelan Zeal menimang-nimangnya, mengusap-usap kepalanya penuh kelembutan. Dia tersenyum teduh. Menatap bayi mungil yang menggeliat gelisah dalam baby carrier. "Sssst jadi anak perempuan harus pendiem. Baby Ai, tidak boleh jadi anak yang rewel.. Kalau Mommy Ai dan Ai sudah punya tempat tinggal sendiri, terus jauh dari jangkauan Uncle, Ai jangan terlalu rewel yah? Biar Mommy Ai gak terlalu kesusahan.."
Belum lama Aiyla tenang usai diberi susu, tiba-tiba ada suara bariton laki-laki yang baru memasuki ruangan pribadinya terdengar. "Anak terus yang di urus. Rapat akan segera dimulai. Para klien dan Daddy-mu sudah pasti menunggumu di ruangan rapat." Orlando merupakan ajudan kepercayaan Zeal.
"Dari tadi pagi aku penasaran. Tuh anak, anak siapa atau beneran anakmu, Zeal? Kau belum resmi menikah dengan tunanganmu, berarti anak haram?"
"Sekali lagi mulutmu berbicara yang tidak-tidak, besok pagi bisa dijamin, mulutmu sudah robek."
Orlando membekap mulutnya penuh dramatis. "Wuish! Kejam kali kau, Zeal! Gini-gini aku selalu ada di sisimu disaat kau lagi susah dan senang lalu dengan teganya yang berucap demikian?"
"Saya tidak pernah mengharapkan kau selalu berada di sampingku, karena sejujurnya keberadaan mu malah membuatku hari-hariku memuakkan dan tidak berwarna."
*****
Para direksi-direksi utama sudah berkumpul di ruangan rapat bersama dengan client. Zeal juga tidak terkecuali. Begitu pula dengan sang pemimpin. Edric yang tidak lain dan tidak bukan Ayah dari Zeal.
"Baiklah, berhubungan semua yang bersangkutan sudah berkumpul. Rapat akan segera dimulai." Tegas seorang Pria paru baya yang terlihat dermawan nan bijaksana. Baru saja rapat akan segera dimulai, tiba-tiba tangisan bayi mengganggu suasana didalam ruangan itu.
"Oeek..Oekk..Oekk.." Tangisan nyaring Aiyla mengundang sorotan orang-orang pejabat yang hadir di satu ruangan yang sama dengan Zeal.
"Ssst..Diem baby.. disini lagi banyak orang.. Kamu tidak boleh rewel.." Sebisa mungkin Zeal berusaha menghibur anak kecil itu agar lebih tenang. Pasalnya, disini banyak orang-orang yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Edric memijat pelipisnya frustasi. Meeting ini amat penting, karena membahas mengenai proyek yang melibatkan perkembangan Levarendo group. "Kau mendapatkan bayi itu dari mana, Zeal? Seingatku belum ada kabar bahwa tunanganmu mengandung, kenapa kau sudah membawa bayi ke kantor?"
"Ah ini? Ini anak angkat Zeal, Daddy.."
Sebuah kerutan heran tercipta di dahi Edric. "Sejak kapan kau mengadopsi anak? Kenapa saya dan Mommy-mu tidak tahu?"
"Zeal tidak butuh persetujuan dari kalian jika ingin mengadopsi anak."
"Buat apa juga kau mengadopsi anak. Kau sudah memiliki tunangan, kalian juga sudah ada rencana untuk meresmikan hubungan kalian ke jenjang pernikahan. Kalian bisa membuat anak yang lebih imut dan menggemaskan dari pada bayi yang kau adopsi itu."
Zeal berdehem pelan untuk menangani situasi, mereka berdua telah dijadikan pusat perhatian. Terlebih lagi pembahasan mereka cenderung privasi. "Ehm. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah pribadi."
Tubuhnya bangkit dari duduknya, tidak mungkin dirinya akan menetap disini sementara Aiyla tidak bisa diam. "Lebih baik Daddy mulai saja rapatnya tanpa Zeal. Zeal akan keluar menenangkan baby Ai."
*****