My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.KILAS BALIK



Flashback on


"Pak, jangan lupa singgah sebentar dipusat perbelanjaan." Pesan Athala setelah menutup pintu mobil.


"Lo mau ngapain di pusat perbelanjaan?" Gracia mengajukan pertanyaan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.


"Mau beliin sesuatu buat Ruby. Gak etis banget kan kalo gue pulang-pulang gak bawa oleh-oleh buat dia." Gracia manggut-manggut sambil ber-oh ria.


Athala berniat akan membelikan oleh-oleh dari London sebagai buah tangan untuk Ruby, satu bulan sudah berlalu, dia telah berusaha semaksimal mungkin menahan rindu beratnya dengan Ruby. Selama dia dinas di kota London, mereka hanya berkomunikasi melalui handphone.


Tidak berselang lama, mobil taksi yang mereka tumpangi parkir didepan sebuah gedung, "Lo mau ikut atau tunggu disini aja?" tanya Athala sambil membuka sabuk pengaman.


"Tunggu disini."


Athala pun akhirnya keluar setelah mendapat jawaban dari Gracia. Dia memasuki sebuah bangunan gedung yang besar, ada banyak barang-barang yang tersedia didalamnya.


Sekarang dia ada di tempat belanja perhiasan, seraya mengetuk-ngetuk kaca berukuran besar tempat perhiasan, dia masih memilih-milih yang paling bagus dan pas buat Gadis kecilnya yang tidak lama lagi akan berjumpa kembali dengannya.


Tidak perlu terlalu mewah, karena Athala tahu, Ruby tidak suka kemewahan, dia lebih suka yang sederhana. Jika yang terlalu mahal, nanti Ruby tidak akan menerimanya.


Ah, mengingatnya saja, Athala sudah tidak sabar ingin bertemu, melihat wajahnya, memeluknya hingga kehabisan napas jika perlu.


"Looking for jewelry for whom, sir?" (Cari perhiasan untuk siapa, Pak?)


"For my future wife." (Untuk calon istriku)


Pegawai itu tersenyum. "What are the characteristics of your future wife, sir?" (Bagaimana ciri-ciri calon istri Anda, Pak?)


"Dia--cantik, pendek, terus--belum lama lulus sekolah SMA."


"Kalung pasangan inisial nama, bagaimana menurut Bapak?"


Athala berpikir untuk sesaat, sepertinya menarik juga jika mereka menggunakan kalung couple dengan inisial nama mereka.


Kemudian dia memberikan anggukkan setelah mempertimbangkan. "Boleh."


"Inisial nama Bapak dan pasangan Bapak apa?"


"Saya A dan calon Istri saya R."


Karyawan itu mengambil dua dari banyaknya perhiasan yang berjejer rapi didalam kaca. Dia meletakannya diatas kaca, kalung yang terlihat indah, dengan pola love, di tengahnya terukir dua dari huruf alfabet, yakni A dan R.



"Menarik." Celetuk Athala.


Setelah membayarnya, Athala akhrinya melenggang dari tempat perbelanjaan perhiasan, niatnya hanya membeli itu, tapi atensinya malah tersita kearah boneka beruang yang berukuran sedang. Terlihat imut dan lucu.


"Mirip Ruby." Monolognya dapat di ibaratkan orang yang sedang dimabuk cinta, jatuhnya bagaikan orang tak waras. Setiap melihat yang imut dan gemesin, dia tetap menyamakannya dengan Ruby.



Dan ujung-ujungnya dia malah membeli boneka itu juga, Athala menyunggingkan senyum simpul, sesampainya nanti di Indonesia, dia ingin melihat reaksi Ruby saat melihat hadiah yang dia bawa, apakah dia akan menyukainya? semoga saja sesuai ekspektasinya. Athala berharap dia menyukainya.


Masih sangat jauh jaraknya Athala dari pintu keluar, tiba-tiba bunyi alarm darurat terdengar menggema di seluruh penjuru gedung, Athala mengedarkan pandangan, disana sudah mulai ricuh, orang-orang sudah geger, berlarian tak tentu arah.


"KEBAKARAN!!!"


"Kebakaran?" Monolog Athala masih mencerna keadaan. Kebakaran? tempat seperti ini? apakah mungkin?


Awalnya Athala masih belum percaya, namun melihat adanya api besar yang sudah mulai merembes tak jauh darinya, dia mulai panik.


Dengan kelabakan dia mengambil langkah selaju yang dia bisa, tidak peduli bahkan sudah saling bertabrakan dengan orang-orang, saking paniknya dia tidak tahu lagi kemana arah pintu keluar, otaknya mendadak buntu, sesekali dia sigap menghindar kala ada puing-puing bangunan yang berjatuhan dari atas.


Tidak! dia tidak boleh kenapa-napa! Ruby sudah menunggunya disana, dia harus pulang!


Bugh!!


Athala jatuh terjerembab kelantai saat bertabrakan dengan Pria yang kalah jauh besar darinya, boneka beserta kotak perhiasan yang dia belikan untuk Ruby terlempar tidak jauh darinya.


Dia merintih kesakitan, sikutnya sepertinya terkelupas bergesekan kuat dengan lantai. Begitu kepalanya terangkat, kedua matanya membelalak sempurna melihat sebuah rak jualan yang akan jatuh.


BRAKKK!!!


Naas sekali, tubuhnya tertimpa oleh rak yang berukuran besar, susah payah dia mencoba menyingkirkan benda yang menindih tubuhnya, tapi dia tidak bisa lagi, tenaganya telah terkuras habis.


Dia hanya bisa memejamkan mata pasrah saat melihat kobaran api yang sudah mulai merambat menghampirinya. Diambang maut, hanya satu nama yang muncul dalam benaknya.


'Selamat tinggal, Ruby. Maaf, gak bisa menepati janji.' Kini nyaris seluruh isi gedung sudah dilahap oleh amukan api.


Diluar sana, Gracia kebingungan melihat warga sipil yang berlari bergerombolan keluar dari gedung. "Apa yang terjadi?!"


"Sepertinya ada kebakaran." Sahut Pak sopir. Benar saja, diatas gedung Gracia melihat adanya kobaran api yang melambai-lambai di udara.


"Lepas! teman saya masih ada didalam! saya harus menolongnya!!" Gracia memberontak hebat dari kekangan dua orang yang mencegahnya masuk kedalam.


"Jangan! kalau kamu masuk, kamu hanya akan membahayakan dirimu sendiri!"


*****


Hari demi hari berganti, waktu demi waktu silih berganti, setelah empat tahun tertidur lelap, akhirnya kelopak mata yang betah tertutup itu mulai terbuka menyapa dunia realita.


Matanya menyipit masih mencoba menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan bernuansa serba putih. Bunyi monitor mendominasi suasana, dilengkapi dengan semerbak obat-obatan menyambut dirinya, dia terbangun dalam keadaan ingatan yang kosong, tidak ada sepenggal pun memori yang tersisa dalam benaknya.


"Athala.. akhirnya kamu sadar!" Seru Gracia semangat sebelas dua belas. Tidak sehari pun dia alfa dalam memantau kondisi Athala di rumah sakit, akhirnya setelah sekian lama, Athala bangun dari koma.


"Aku--siapa? aku--dimana?" Athala meringis kecil, kepalanya terasa akan meledak. Sekujur tubuhnya remuk redam. Dia kesulitan dalam bergerak. Matanya berpendar sayu, ia memperhatikan pergerakan Gracia yang memencet sebuah tombol.


"Jangan banyak bergerak dulu. Kamu lagi di rumah sakit."


"Kenapa.. kenapa aku bisa disini..? kamu, siapa..?"


Siapa? Apakah Athala tidak mengingat apa-apa?


"Ah aku--" Gracia sedikit kebingungan. "Aku pacarmu." Walaupun belum tahu penyebab pasti Athala bisa hilang ingatan, Gracia sudah mengaku-ngaku sebagai Kekasihnya.


Tidak memakan waktu lama, Dokter Pria datang beserta beberapa perawat. "Biarkan kami yang menangani Pasien, kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu."


Athala diperiksa dengan stetoskop, tidak ketinggalan mulut dan kedua matanya diperiksa penlight. "Apakah ada keluhan?" Dokter bertanya setelah melakukan pemeriksaan pada Athala.


"Itu Dok--saya bahkan gak ingat siapa diri saya sendiri, dan gak bisa menggerakkan kaki saya." Ujarnya terkulai lemas tidak berdaya. Dia sudah berusaha keras menggerakkan kedua kakinya, namun entah mengapa disana mati rasa, dia seperti tidak merasakan apa-apa.


Menghela napasnya sejenak lantas Dokter itu menoleh pada Gracia yang dari tadi mengamati mereka. "Akibat cedera fatalnya, Pasien didiagnosa mengalami kelumpuhan sementara."


"Apakah bisa sembuh secepatnya, Dok?"


"Tergantung. Jika Pasien rutin melakukan terapi sesuai jadwal lalu tidak lupa ditunjang dengan obat-obatan yang dapat memulihkan bagian otot-otot saraf yang lumpuh, maka ada kemungkinan itu akan membantu mempersingkat jangka waktu kesembuhan Pasien."


Gracia melirik Athala yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit, lelaki itu kelihatan pucat pasi. "Lalu bagaimana dengan ingatannya Dok? apakah benturan di kepalanya cukup serius? kenapa ingatannya bisa sampai hilang?"


"Saya tidak tahu Penyebab pasti dari amnesianya, tapi kemungkinan ada komplikasi saat pasca operasi."


Sejak saat itu, Athala menjalani hidupnya penuh perjuangan, dia harus melakukan terapi berbulan-bulan lamanya, kegiatan yang terbilang cukup berat, Athala ingin menyerah jika dia hanya seorang diri, namun Athala merasa amat bersyukur masih ada Gracia yang menyemangati dan menguatkan dirinya.


Hingga setelah ada perkembangan dia latihan berjalan sampai dia sembuh total. Begitu pun dengan luka-luka bakar yang terdapat pada fisiknya, bisa pudar seiring berjalannya waktu. Meskipun tidak seutuhnya, untunglah luka paling besar yang dia dapat hanya ada dipunggung, tempat yang bisa ditutupi oleh pakaian.


Dia dapat berjalan dengan normal lagi, luka bakarnya dapat sembuh sedikit demi sedikit, namun tragisnya memorinya tidak bisa pulih seperti sedia kala.


Flashback of


Author note: Please disini saya gak tahu apakah ceritanya bisa masuk akal atau tidak, soalnya awrkwrkd banget, nanti saya coba revisi dikit-dikit😭


*****


Australia. Kota Melbourne. Pukul, 19:30.


Bunyi bel pintu yang dibunyikan dengan bertubi-tubi mengusik mereka yang sedang ada dimeja makan. Aktivitas pelayanan yang tengah menyajikan makanan diatas meja terhenti mendengar bel pintu yang ditekan secara beruntun.


"Siapa sih? berisik banget." Cetus Ruby. Mereka sekeluarga sudah siap sedia duduk di kursi meja makan. Tinggal menunggu seluruh makanan disuguhkan oleh para Pelayan di atas meja.


"Ruby? apakah kau ada tamu?" Carlina--Mommy Ruby bertanya. Setahunya Ruby belum ada kenalan di Negara ini selain mereka.


"Tamu apa Mom? baru beberapa hari aku tinggal disini, gak mungkin aku udah ada kenalan yang berani bertamu malam-malam seperti ini."


"Lalu siapa?" Kini gantian Zeal yang bertanya, kini Ruby hanya mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Mungkin saja teman Paman Ze.." Timpal Calix disambut gelengan kepala dari Zeal.


"Nggak mungkin, teman aku biasanya kalau main kesini pasti ngasih kabar."


Salah satu pelayan yang ada disana hendak berinisiatif pergi membukakan pintu, namun ditahan oleh Ruby. "Biar aku saja. Kalian lanjutin aja tugas kalian, siapkan makan malam. Oh iya Mom? Daddy mana? belum kelihatan batang hidungnya. Apakah dia gak ikut makan malam bersama?"


"Diruang kerja kali, Daddy kalian terlalu maniak dengan pekerjaan. Nanti dia makan malamnya belakangan." Sahut Carlina. Ruby hanya mengangguk-anggukan kepala, dia kemudian melangkah kearah pintu utama.


Bel pintu masih terus-menerus berbunyi, seolah mendesak seseorang agar lekas membukakan pintu. Hal itu mampu membuat Ruby menjadi misuh-misuh. "Bentar! siapa sih?! ganggu banget, orang mau makan malam juga."


Ceklek..


Tubuh Ruby seketika terhuyung kebelakang, dia diterjang sebuah pelukan hangat oleh seorang Pria berperawakan tinggi semampai. Wangi maskulin khas yang selalu dia rindukan lima tahun terakhir, menyeruak masuk ke indera penciuman Ruby yang sedang mematung, dia dibuat tidak berkutik saat mendengar bisikan lembut yang mengalun merdu di telinganya.


"I miss you so much, my little girl.."


*****


Kira-kira siapa ya?🥺