My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.TERSESAT DI HUTAN




...Athala's villa...


Di temani secangkir kopi hangat, Athala tersenyum devil memantau gambar di layar komputer sebagai koneksi kamera CCTV yang terpasang di berbagai pepohonan di hutan belantara. Ruby kelihatan ling-lung, tidak tahu jejak arah yang harus ia tuju, tentu saja mengingat lokasi Villa Athala terletak di tengah hutan belantara. Tidak ada kunci jalan lain selain Athala.


"Mari kita lihat, seberapa jauh kamu akan mampu menelusuri hutan, gadis kecil."


Athala memangku satu kaki, senyum penuh kemenangan yang tertampil semakin mengembang kala Ruby makin terlihat bingung, Athala menyaksikan semuanya di balik layar persegi empat tersebut.


Di sisi lain, Ruby kelimpungan karena kehilangan arah, sepertinya ia benar-benar tersesat. Kali ini Ruby mengakui kebodohannya, mengapa ia sok nekat melarikan diri padahal dirinya buta arah.


Ingin menangis saja rasanya ketika sudah berkali-kali Ruby menelusuri jalan yang berputar-putar. Ruby baru menyadari, dirinya hanya di tempat yang sama. Lalu saat ia mencoba di jalur lain, ironisnya hasilnya tetap sama, Ruby kembali ke tempat awal.


"Arghhhh!"


Ruby mendesah frustasi untuk menyalurkan kegusaran, ia mengacak-ngacak rambutnya kacau. Rasa putus asa makin menguasai begitu ia mengecek jam tangan yang mengalun sempurna di pergelangan tangannya. Rupanya sudah cukup lama ia terdampar di hutan dan sekarang waktu sudah menunjukkan masa sore.


Tiba-tiba kemudian sebuah semak-semak belukar yang berada tidak jauh dari hadapannya, terlihat bergemeresak. Ruby jadi was-was saat melihatnya. "Apakah hewan buas?" Gumamnya ketar-ketir.


Menelan saliva susah payah walau dalam keadaan jiwa yang takut luar biasa, Ruby tetap nekat memberanikan diri maju lebih dekat bermodalkan sebuah ranting kayu. Gerakan semakin kentara bersamaan dengan Ruby makin menjelikan pandangan, perasaan Ruby sudah mulai tidak enak, dari suaranya sudah terdeteksi sirine bahaya.


Panik gak?! panik gak?! panik lah masa tidak!


Bagaimana tak panik? ternyata binatang yang keluar dari sana adalah bagian dari kelompok reptil tidak berkaki dan bertubuh panjang yang tersebar luas di Indonesia.


Tanpa berpikir dua kali Athala langsung beranjak kala melihat dari balik layak monitor, di sana tertera jelas bagaimana raut pias Ruby. Dahulu kaki Ruby melangkah mundur secara perlahan agar tidak terlalu menarik perhatian hewan tersebut. Ruby mencoba opsi yang relatif aman menurutnya.


'Sial!'


Ketika Ruby berbalik badan dan mulai mengambil langkah berlari selaju yang ia bisa, ular itu malah mengejarnya dengan kecepatan yang tidak kalah dari transportasi.


Nasib buruk menghantam Ruby habis-habisan. Yang pertama, di culik oleh orang yang tidak waras pola pikirnya, lalu tersesat di hutan saat ingin kabur, seakan dunia belum puas memberinya ujian kini Ruby di kejar oleh ular.


Ruby harus menjadi buronan ular menelusuri penjuru hutan yang asing untuk Ruby.


Bughh


Di lain tempat, dada Athala kempas-kempis berlari dalam keadaan panik. Setitik rasa penyesalan hadir karena membiarkan Ruby melalui hutan yang lebat seorang diri.


"Gadis kecil?!!" Teriaknya lantang, urat-urat lehernya terlihat menegang. Dengan kalut ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, tatkala belum menemukan ada tanda-tanda Ruby di sana, Athala tidak pantang menyerah, ia kembali berlari kencang, namun sebelum itu Athala bergumam cemas.


"Semoga, kamu baik-baik saja, Gadis kecil."


Sekitar tiga menit Athala menyusuri area hutan hingga napasnya mulai tersendat-sendat, Athala menjeda pencariannya untuk sejenak membungkuk, menumpukkan tangan di lutut mencoba untuk menstabilkan oksigen di sekitar.


Di saat yang bersamaan, samar-samar terdengar sebuah suara isak tangis gadis. Athala mengikuti saluran sumber suara tersebut sampai Athala menemukan Ruby meringkuk di bawah pohon besar sambil memeluk lututnya, bahunya terlihat bergetar karena menangis.


Ruby hanya fokus pada rasa takut yang meliputi dirinya sampai tidak sadar Athala sudah berjongkok di hadapannya dengan telapak tangan yang menyentuh bahunya sambil memanggil Ruby. "Gadis kecil?"


Sontak saja tindakan Athala membawa dampak besar pada Ruby, ia berteriak histeris, "Aaaa jangan ganggu aku! pergi! pergi dari sini!" Ruby beringsut ke space yang bisa ia geseri.


"Gadis kecil? ini aku."


Dengan wajah bersimbah air mata Ruby mendongak, seketika tangan Ruby mengalun di leher Athala, memeluk lelaki itu dengan erat sambil menangis sesenggukan, "Huhuhu Atha.. untung kamu ada di sini..aku takut sekali.." Hati Ruby melega melihat ke hadiran Athala.


Athala mengelus belakang kepala Ruby untuk menyalurkan ketenangan, secara berkala kecupan dari bibir Athala di bubuhkan oleh di pucuk kepala Ruby.


'Akhirnya kamu menyebut namaku.' Hanya dengan nama panggilan yang tidak sengaja di sebut oleh Ruby karena panik, hal itu dapat membuat suasana hati Athala melambung tinggi.


"Maaf. Maafin aku udah biarin kamu tersesat di hutan belantara ini."


Ia mengurai pelukan sepihak agar bisa memeriksa kondisi Ruby, "Ada yang terluka?"


Sebagai jawaban Ruby mengangguk kecil, bibirnya melengkung kebawah, hati Athala semakin tersentil kala melihat wajahnya yang penuh memelas. "Aku di patok ular di bagian situ." Tunjuk-nya ke pergelangan kaki.


Benar saja ada tiga titik hasil patokan ular di bagian pergelangan kaki Ruby, "Sakit.." rintih Ruby sambil menganggit jarinya kalut. Nafasnya tidak beraturan, kepalanya terasa berputar-putar hingga bulir-bulir keringat membanjiri pelipisnya. Ia tidak bisa menggunakan pikirannya yang berkecamuk saat ini.


Kakinya di angkat oleh Athala, lelaki itu menghisap darah yang menyembul dari titik luka yang ada di pergelangan kaki Ruby. "Kita kembali ke Villa ya? akan aku hubungi seorang dokter untuk memeriksa lukamu." Ujar Athala setelahnya.


***