
Sepanjang perjalanan, Zeal terus mengamati keluar kaca jendela mobil yang menyuguhkan keramaian transportasi yang beroperasi dimalam hari, ia enggan melihat kearah lain, apalagi ke sampingnya. Mobil melaju sedang membela jalanan metropolitan.
"M-makasih, Ze.."
"Kau tidak boleh memanggilku dengan nama itu. Sangat menjijikan. Yang boleh memanggilku seperti itu, hanya tunanganku dan Adikku."
"M-makasih Tuan Zeal, sudah membantu saya." Koreksinya lebih formal.
"Aku hanya melakukan satu kebaikan, bukan membantu. Memiliki rasa simpati pada anjing terdampar adalah hal yang wajar pada seorang manusia yang mempunyai hati nurani." Dingin Zeal membuat Valerie meremas ujung bajunya.
"Setidaknya aku berterima kasih, kamu udah mengasihani saya."
Zeal berdecih sinis. "Dia, pilihanmu waktu itu?"
"Humm?"
"Rupanya kau salah memilih orang. Bagaimana rasanya menderita dengan pilihan sendiri humm? Mencampakkan ku demi Pria lain lalu tiba-tiba muncul dengan penampilan yang mengenaskan." Zeal tertawa puas dalam hatinya, harapannya benar-benar terwujud.
Zeal akhrinya menggulir pandangan, melirik tajam pada Valerie yang menundukkan kepalanya dalam. Meneliti setiap inci tubuh Wanita itu.
Penampilannya jauh dari kata rapi dan tubuhnya lebih kurus juga tirus dari yang dulu, hanya perutnya saja yang membesar faktor kehamilan, tragis sekali.
Tatapan Zeal terlihat merendahkan. "Asal kau tahu? Penampilanmu sudah seperti gelandangan. Apakah kau mengemis? Heh sepertinya iya, kau saja mengemis-ngemis meminta pertolongan pada seorang mantan yang kau sia-sia kan. Betapa tidak tahu malunya dirimu, biitch." Desis Zeal diakhir kalimat.
Sakit, hati Valerie tergores dalam mendengarnya, tapi ia tidak bisa mengelak. "Maaf udah merepotkanmu Zeal."
"Baguslah kalau kau sadar diri. Kau sungguh merepotkan, dari malam ini saya berharap kau tidak akan mengulang untuk kedua kalinya menunjukan wajah menyedihkanmu dihadapanku."
Valerie mengangguk pelan dan cepat menyeka air matanya yang menitik lagi tanpa permisi. "Baik Zeal, aku akan berusaha agar tidak muncul di hadapanmu lagi dan benar-benar menghilang dari pandanganmu."
"Good."
*****
"Stop! Stop disini saja." Miko menggulir setir membawa mobil menepi dipinggir jalan sesuai pinta Valerie.
Kedua kening Zeal mengernyit samar, masih segar diingatan bahwa daerah ini bukan tempat tinggal Valerie. Lantas, mengapa Valeria meminta untuk berhenti disini?
"Daerah ini bukan tempat tinggal orang tuamu. Kemana sebenarnya tujuanmu? Kau mau menjual diri ditempat ini?"
"Merepotkan sekali jadi kau harus imigrasi kesana kemari."
Valeria hanya bisa tersenyum kecil sebelum keluar dari dalam mobil. "Kalau begitu saya permisi, Ze.. terimakasih sudah memberiku tumpangan." Wanita itu melangkah kearah kaca jendela kemudi, mengetuk-ngetuk nya beberapa kali sebelum disapa oleh wajah Miko yang menurunkan kaca mobil.
Kemudian tampaklah ia mengeluarkan uang dari dalam sakunya dan mengulurkannya pada Miko. "Ini untuk bayar ongkos. Makasih sudah mengantar saya sampai disini."
Miko melirik Zeal dibalik kaca, tidak ada reaksi, ia seolah tidak acuh sama sekali. Setelah akhrinya Miko menolaknya secara halus. "Ah begini. Saya tidak bisa menerima uang dari Anda. Saya sebagai sopir pribadi Tuan Zeal tentu digaji, jadi tanpa upah dari Anda, saya bisa dapat uang. Dari pada hanya untuk membayar kompensasi yang tidak perlu, alangkah baiknya uangnya Anda tabung untuk persiapan persalinan nanti."
"Ah baiklah jika begitu. Sekali lagi terimakasih sudah mau memberikan saya tumpangan. Kalau bukan berkat kalian, saya tidak tahu apa yang terjadi."
"Iya, bukan apa-apa. Seperti perkataan Tuan Zeal, kami hanya melakukan satu kebaikan."
"Kalau begitu saya permisi." Valerie membungkukkan badan sebelum mulai melangkah menjauh.
Tatapan Miko teralih lagi ke kaca mobil dibagian depan. Mempersembahkan wajah Zeal yang sedang menatap punggung Wanita itu lewat celah kaca jendela mobil yang berwarna hitam dari sisi luar.
"Tuan, apakah Tuan benar-benar tidak peduli?"
"Maksudmu, apa?"
"Tatapan Tuan enggan terlepas dari--"
"DAMN! Apa yang terjadi?!" Tanpa Zeal kontrol dirinya sendiri, ia bertindak secara impulsif turun dari kendaraan, menghampiri Valerie yang terjatuh diatas tanah. Bahkan ia sampai mengumpat tanpa disadarinya.
"Sssh... Sakit.. perutku sakit sekali... Tolong, tolong Bayiku.. aku tidak ingin bayiku kenapa-napa.." Lirih Valerie dengan tangan mencengkram sisi pinggangnya dan satunya lagi ia gunakan menopang punggungnya dari belakang.
Air matanya menetes, ia mengalami kontraksi yang hebat, nyaris tidak mampu pemilik tubuh ini menahannya.
"Apalagi dramamu hah?! Apakah kau suka berakting agar mendapatkan perhatian?!"
"E-enggak.. Aku gak lagi berakting, Zeal... Perutku keram, perih.." Mendengar rintihan kesakitannya, Zeal pun menaruh rasa percaya bahwa Valerie tidak sedang pura-pura. Terlebih lagi, menangkap sebuah air bening yang mengalir disela kakinya.
"Kau sungguh menyusahkan!" Bentakannya jadi tidak berarti. Karena ia justru mengangkat Wanita itu dan membopongnya kembali membawanya kedalam mobil.
Tujuan mereka kali ini adalah rumah sakit, karena sepertinya Valerie akan segera melahirkan.
*****