My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.MOMEN DI VILLA{Part 02}



Kebetulan atau tidak, bubur buatan Athala sudah layaknya sihir yang ampuh membuat keadaan Ruby membaik. Setelah makan, panas Ruby sudah mulai turun. Ia merasa mendingan dari sebelumnya.


Kali ini ia ada diatap mencari udara segar sekaligus berniat berendam di kolam renang yang tersedia di rooftop. Cuaca tak terlalu cerah siang ini, mendukung agenda Ruby.


Padahal Athala sudah melarangnya karena keadaannya yang belum pulih total, bukannya apa, Athala tidak mau Ruby sakit kembali, tapi bukan Ruby namanya jika tak keras kepala.


Ruby bersikukuh untuk merefreshkan diri dengan berendam dikolam, bahkan kini ia telah siap dengan swimsuit berwarna biru laut tua, baju sambung dengan celana ketat sepaha. Ruby akui, villa Athala memang bagus, kualitas yang bagus dan fasilitasnya yang lengkap.


Lokasinya pun cukup strategis, bagus untuk memanjakan mata, pemandangan hutan-hutan yang tersuguh, setelah dipikir-pikir tidak ada ruginya Athala membawanya kemari, Ruby jadi suka dengan suasananya yang tenang dan pemandangan disini. Ruby merasa kegiatannya disini seperti liburan.


Dibantu dengan pelampung, Ruby kini sudah mulai menuruni tangga dan berendam dikolam, suhu dingin menusuk permukaan kulit, Ruby dibuat langsung menggigil, tapi sepertinya bagus juga, Ruby suka dengan suhu rendah.


Tak berselang lama, Athala datang hanya dengan celana tak mengenakan baju memamerkan otot-otot perutnya, tubuh Athala benar-benar atletis. Tanpa menggunakan pelampung, ia ikut mencemplung kan dirinya kekolam hingga air terciprat kepada Ruby.


Ia berenang kearah Ruby dan perlahan tubuhnya timbul di sana, Ruby terpukau dengan asupan mata didepannya. Tak munafik, Athala memang memiliki rupa yang sempurna, bahkan melebihi Alan, tapi jika rambutnya basah begini pesonanya bertambah berkali-kali lipat.


Terlebih saat Athala menyugarkan rambutnya kebelakang, Ruby sampai meneguk salivanya kasar. "Berendamnya jangan lama ya? airnya dingin." Salah sepertinya Athala berkata seperti itu karena air memang dingin.


Ruby terkesiap kala Athala sudah semakin mendekat, tanpa diduga ia melepaskan pelampung Ruby dan beralih meraih pinggang rampingnya lantas merapatkan tubuh mereka.


"Biar gak terlalu dingin.."


Athala memeluknya erat, dagunya bertumpu pada kepala Ruby, kedua mata lelaki itu terpejam merasakan sensasi tekstur dua gundukkan yang mengenai dada bidangnya.


Kali ini Ruby tak menolak karena jika Athala mengurai dekapannya bisa dijamin ia akan tenggelam, jangan lupakan satu hal, Ruby tak tahu cara berenang.


Karena sesak, Ruby sedikit mendorong dada Athala agar merenggangkan sedikit dekapannya, ia mengadah agar dapat menatap Athala. "Besok pagi anter aku ke sekolah ya? cukup hari ini aja aku absen, aku harus masuk sekolah."


Athala merunduk menjatuhkan pandangan kearah dimana ada wajah Ruby yang sedang mengamatinya dari bawah. Tangannya bergerak mulai berkerja merapikan anak rambut Ruby yang padahal tak berantakan sama sekali karena basah akan air.


"Kamu udah sembuh total? aku khawatir nanti kamu malah sakit lagi disekolah."


Ruby menggeleng jujur, demamnya sudah turun tapi flunya masih tinggal, tubuhnya pun masih lemas. "Biasanya meski aku sakit, aku tetap akan sekolah."


"Kenapa gitu? gak baik kalo lagi sakit dipaksain untuk tetap sekolah." Athala menuntun Ruby ke tepi kolam, menyandarkan punggung Ruby di dinding kolam.


"Aku harus giat sekolah kalo mau sukses, gak ada waktu untuk aku main-main."


Lamat-lamat Athala menatap wajah Ruby, "Tapi kan sekarang ada aku. Kamu gak perlu terlalu bekerja keras. Berhenti dari pekerjaanmu, kamu fokus sekolah aja, aku yang akan biayain."


Sekali lagi Ruby menggelengkan kepala, "Aku gak mau hidup mengandalkan orang lain."


Athala hanya bisa menghembuskan napas ringan, ia mengusap-usap kepala Ruby. "Yasudah kalo itu kemauanmu. Tapi jika ada sesuatu yang mendesak dan kamu gak bisa mengatasinya sendiri, jangan sungkan minta bantuan keaku ya?" tawarnya mendapat anggukan pelan dari Ruby.


Sedikit demi sedikit saja. Athala rasa lebih baik tak terlalu memaksakan kehendaknya untuk Ruby, nanti jatuhnya Ruby malah akan membencinya. Mulai sekarang, Athala akan menggunakan metode berbeda dari caranya yang biasa, ia tak akan memaksa dan akan melakukan sesuatu jika Ruby mau saja.


****


Usai berendam di kolam, Ruby dan Athala lanjut membersihkan diri di kamar mandi secara bergantian. Tumben, Athala tak mengajaknya melakukan itu pikir Ruby.


Ia rasa sepertinya Athala cukup simpati melihatnya sakit hingga tak mengajaknya melakukan yang iya-iya. Biasanya tanpa izin dari Ruby pun ia suka nyosor-nyosor saja. Tapi, Ruby sepertinya itu tak buruk, malah lebih bagus.


Ketika Ruby sedang mengeringkan rambut dengan hairdryer sambil berkaca pada cermin rias, Athala keluar dari kamar mandi dengan tubuh bawahan terbalut handuk.


Langkahnya menghampiri Ruby, sosoknya dapat Ruby tangkap dibalik cermin, kedua tangannya terulur mengalun indah dipinggang ramping Ruby yang mengenakan baju kingsize berwarna putih. Aroma mint menguar dari tubuh kekar pada Pria yang sedang mendekapnya dari belakang.


Tubuh mungilnya ditenggelamkan oleh baju karena kaos Athala yang dipakainya, kebesaran dengan ukuran badannya. "Kamu sadar gak? kalo kita udah seperti pasturi..." Sambil menatap kearah kaca Athala terkekeh kecil.


Tangannya yang bertenggar diperut Ruby mendapat geplakan dari sang empu, "Udah deh, jangan ngawur ngomongnya."


"Iya deh iya.." Athala memilih mengalah, tanpa basa-basi lagi ia melepas pelukannya dan mengambil alih hairdryer dari tangan Ruby. "Aku bantu keringkan, ya?"


Tanpa bantahan, Ruby mengangguk saja. Dengan lihai Athala mulai mengeringkan helaian rambut Ruby, tak butuh waktu lama surai Ruby berhasil kering seluruhnya.


"Oh iya Tha? aku boleh pinjem hp kamu gak? aku lagi gak bawa hp buat ngabarin ke Flora biar dia gak cemas, soalnya hari ini aku gak masuk sekolah sama gak masuk kerja. Takutnya dia nyariin aku."


Athala berjalan kearah nakas, meraih ponselnya dari sana, ia menyerahkan benda pipi itu kepada Ruby.


Saat Ruby mulai mengetikkan nomor digit di ponselnya, ia dibuat terpekik sambil menutup mata saat Athala dengan gamblang melepas handuknya hingga lelaki itu telah telanjang bulat dengan posisi membelakangi tapi berhadapan dengan lemari, ia mau memakai baju.


Athala merotasikan matanya. "Udah sering lihat juga, ngapain pake nutupin segala?"


Ruby mendengus kesal, tak bisa mengelak karena yang Athala bilang memang benar. Dari pada meladeni Athala yang akan berujung menaikkan tensi darah, lebih Ruby menghubungi Flora melalui ponsel Athala.


Drttt..Drttt..


Panggilan terhubung setelah tak lama bergetar, "Hallo? ini siapa ya?" Terdengar nada bingung diseberang sana, wajar saja karena Ruby menelepon menggunakan ponsel Athala.


"Flo? ini gue Ruby."


"Loh Ruy?! lo lagi dimana?! dari kemarin gue main kekost lo tapi kosong, gak ada orang!! hari ini juga kok lo gak masuk sekolah sih? Kak Vino juga nyariin lo karena gak biasanya lo alfa dari pekerjaan."


"Ada deh, rahasia. Yang penting gue baik-baik saja, gak perlu khawatir."


"Beneran?"


Meski tak kelihatan keseberang sana, Ruby mengangguk-angguk bagaikan lawan bicaranya ada didepan matanya, "Beneran, besok gue bakal comeback. Udah dulu ya? gue mau balikin nih ponsel sama yang punya." Ia berjalan kearah tempat tidur kemudian menjatuhkan bokongnya disana.


"Tunggu eh--"


Ruby benar-benar tak memberikan Flora kesempatan untuk bertanya lebih banyak, takutnya ia ketahuan jika sedang tinggal bersama laki-laki.


"Udah?" Athala menyusul duduk berdampingan dengan Ruby.


Ruby mengangguk atas pertanyaan yang dilayangkan oleh Athala, tak lupa mengembalikan barang yang dipinjamnya tadi kepada pemiliknya. "Thanks."


"Makasih doang? gak ada timbal baliknya gitu?"


Kening Ruby terangkat, pura-pura tak mengerti saja. "Apa?"


Detik berikutnya, Ruby harus tahan napas begitu Athala mencodongkan tubuhnya kearahnya, sontak telunjuknya ia ketuk di pipi kiri. "Cium, sebagai imbalannya."


"A-apaan sih? perhitungan banget jadi orang." Ruby beringsut tak seberapa jauh sambil menepis wajah Athala hingga terpaling kearah lain.


Athala mengerucutkan bibirnya, dengan usil ia memposisikan kepalanya dengan wajah miring tepat dihadapan Ruby hingga kedua pipi yang telah merona itu, terlihat jelas. Ruby membuang muka kesamping, sesungguhnya permintaan Athala tadi menimbulkan efek samping untuk Ruby, yakni pipinya yang ngeblush karena itu.


"Idih, pipinya ngeblush, padahal aku hanya minta cium loh, kita bahkan sudah melakukan hal-hal lebih jauh dari itu." Ledek Athala sambil memencet-memencet pipi chubby Ruby dari samping.


****


Malam harinya, agar tak suntuk Ruby mengajak Athala menonton DVD horor bersamanya diruangan. Duduk disofa dengan satu selimut menutupi dua tubuh mereka, keduanya saat ini sedang menikmati tontonan mereka dilayar persegi yang terpajang didepan sana.


Kadang Ruby dibuat tersentak kaget jika adegan menunjukkan wujud hantu, volume yang tinggi juga menambah kesan horornya, lengan baju Athala sudah kusut gara-gara diremas oleh Ruby meluapkan rasa takutnya.


Dapat Athala rasakan tangan Ruby yang dingin, Athala hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir, ia yang ngajak nonton tapi dia juga yang takut.


Untuk itu, Athala mengambil tangan Ruby membawanya kegenggaman, "Aaaaa!!!" dengan mata di tutupi kedua tangan, Ruby berteriak saat scene yang memunculkan kembali wujud hantu perempuan yang berpakaian serba putih, rambut menjuntai panjang hingga menutupi wajahnya, hal itu makin membuat Ruby jika tak ada sandaran di belakang mungkin saja terjungkal kebelakang saking terkejutnya.


Tawa Athala pecah saat itu juga, "Yang ngajak siapa, yang gak berani nonton siapa." Athala menarik paksa tangan Ruby yang digunakannya untuk menutupi indera penglihatannya, "Gak mau, masih ada hantunya!!"


"Apa gunanya nonton horor kalo mata ditutup? gak seru dong.."


"Masih ada gak, hantunya?"


"Udah gak lagi." Sahut Athala menahan tawa, Ruby mencoba mengintip disela-sela jemarinya, "Aaaa!!!" secara spontan Ruby memeluk tubuh Athala dengan mata tertutup, sialan! ternyata Athala membohonginya.


Athala dibuat tertawa lagi, "Udahan nontonnya ya? nyalimu gak kuat."


Ruby mendongak dengan penuh memelas, Athala menggunakan kesempatan untuk mengecup pelipisnya, dengan gerakan lembut ia melepas pelukan Ruby, ia melangkah kearah televisi dan mematikan benda itu agar Ruby tak ketakutan lagi.


Athala melangkah kearah sofa dimana ada Ruby yang meringkuk disana, "Mending bobo, besok kamu sekolah kan?" Athala merentangkan kedua tangannya memberinya sinyal, sudut bibir Ruby berkedut hingga melukiskan senyum simpul, ia berdiri dipermukaan sofa dan masuk kedalam gendongan Athala ala koala.


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Athala menepuk-nepuk punggung Ruby, kini perempuan itu bagaikan anak kecil yang sedang digendong seorang Ayah untuk pergi ketempat tidur. "Gadis kecilku manja juga ternyata?" kekehnya. Entah mengapa Ruby tak banyak komentar kali ini, justru ia kelihatan nyaman di gendongan Athala.


Ruby menyembunyikan wajahnya diceruk leher Athala dengan kaki melingkar di pinggang lelaki itu, ia menghirup aroma maskulin khas Athala yang menenangkan dan bikin nyaman.


****