My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.BUKTI SEBUAH REKAMAN



Kaki Ruby benar-benar lemas untuk di pakai menopang tubuhnya hingga Athala yang harus menggendongnya di punggung menuju Villa.


Sepanjang berjalanan, Ruby hanya diam tidak banyak bicara seperti biasanya, Athala yakin penyebabnya karena kejadian tadi, sungguh Athala menyesal tidak bertindak cepat saat Ruby sudah terdampar di hutan, jika sedikit saja Athala terburu mungkin kejadian ini tidak akan Ruby alami.


"Atha sebenarnya baik. Hanya saja sedikit menyebalkan." Celetuk Ruby lemah. Kondisi sedang tidak memungkinkan masih sempat-sempatnya mencibir Athala.


"Aku memang baik, tapi aku tidak menyebalkan seperti yang kamu bilang."


"Kamu super duper menyebalkan. Aku nyesal bisa ketemu kamu di malam itu tapi agak bersyukur juga karena kamu, aku bisa sedikit menikmati malam itu. Permainan kamu lumayan juga. Kamu sering melakukan itu dengan Wanita?"


"Hei! kamu pikir aku Pria murahan yang asal coblos!" Sangkal Athala segera, ia menaikan tubuh Ruby saat merosot kebawah, paha Ruby berada di genggaman Athala.


"Masa cowok secakep kamu baru pertama kali melakukan itu? tidak masuk akal!"


"Aku tekanin ke kamu, gak semua cowok ganteng itu mata keranjang!"


Ruby tertawa di buat-buat, "Hahaha iya deh iya percaya saja, asal kamu senang!" Sahutnya mengalah.


Obrolan itu belum berakhir, mereka masih terus melanjutkan percakapan saling tanya jawab. "Apakah pergelangan kakimu masih sakit?"


"Masih lah kan belum di tangani!"


JDERRRR!!


Guntur menggelegar, di lengkapi oleh silau kilat menyambar membuat terasa mencekamkan suasana di area hutan, Ruby di buat tersentak kaget oleh itu. Ruby semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Athala dengan rasa takut yang kembali melandanya. "Takut, Tha.." Lirihnya.


"Tenang, tidak akan terjadi sesuatu jika bersamaku."


Gerimis hujan mulai berjatuhan dari angkasa yang di hiasi awan-awan kelabu, langit pun sudah mulai gelap, awalnya masih rintik-rintik namun berangsur-angsur hujan makin deras menyerbu.


Athala masih di dalam perjalanan membawa beban di punggungnya. Sial sekali, sepertinya Athala juga tersesat, jalan ini belum terlalu ia hapal, akan lebih mudah jika mengandalkan peta. Dan peta tertinggal di Villa, Athala tadi lupa membawa karena terburu-buru.


Syukur di tengah perjalanan, Athala menemukan sebuah pondok kecil yang lumayan untuk di jadikan tempat berteduh berkat itu, sesuai perkiraan Athala mungkin mereka akan bermalam di sini karena hujan akan awet melihat betapa lebatnya turun.


Athala menyalakan sebuah api unggun di perapian agar bisa menjadi penghangat mereka berdua, Athala menatap Ruby dalam geming, gadis itu terlihat pucat. Belum lagi sekujur tubuhnya menggigil termasuk bibirnya yang bergetar. Sudah pasti ia kedinginan.


Ruby menggosok-gosok tangan mencoba mencari ke hangatan yang ada di api.


Sementara Athala membuka baju kemejanya dan mengekspos tubuh kekar yang di hiasi perut enam kotak. Di tariknya Ruby untuk mendekatinya dan mengangkatnya untuk duduk di pangkuan, tubuh Ruby sedikit menghangat berkat pelukan yang di terapkan Athala dari belakang.


"Masih dingin?" Bisik Athala menyimpan wajah di cecuruk leher Ruby, mata Ruby berpendar ia tak ada tenaga untuk memprotes segala perlakuan Athala untuk saat ini, yang penting Athala tak ada maksud buruk.


"Sedikit hangat berkatmu, thanks."


"Eumm," Athala menghirup aroma khas vanilla di leher jenjang Ruby, menenangkan dan bikin nyaman. "Aroma mu enak, aku suka."


Ruby menjauhkan kepala Athala dari jangkauan lehernya, ia terkekeh geli. "Geli!!"


Keusilan Athala mendadak hadir, ia sedikit menggelitik pinggang Ruby agar bisa mencairkan suasana di antara mereka, rupanya gelitikannya berhasil membuat Ruby tertawa keras. "Hahaha, cukup Tha, geli!!"


***


Pagi ini sebenarnya Reygan sedang kelas di kampus, tapi terpaksa ia bolos karena mendapat perintah dari Athala untuk membawakan dokter mereka ke villa.


Jika bukan gaji yang menjadi sasaran, Reygan juga malas harus mematuhinya, masalahnya taruhannya adalah gaji, nafkah untuk kuliah sekaligus biaya makanannya sehari-hari.


Sampai di villa yang Reygan sendiri tak tahu mengapa Athala memutuskan untuk membeli di tengah-tengah hutan, ia segera memasuki ke dalam dengan membawa Pak Dokter.


"Athala!!! lo kena penyakit apa?! kangker otak?! gagal ginjal?! atau keserupan sama hantu penunggu vill--"


"Ssst!" Athala menekan jari telunjuknya di bibir memberi sinyal jangan membuka suara, Reygan mau berkompromi, ia mengatupkan bibirnya serapat mungkin.


Di belakangnya di susul oleh Pak Dokter, aura Athala seketika berubah jadi horor melihat Dokter yang berjenis kelamin laki-laki. "Lo kenapa bawa Dokter laki-laki?!" Desisnya.


"Yah gimana? lagian kan lo gak ada ngomong di telepon soal peraturan hanya boleh dokter perempuan?"


Athala berdecak sebal, sudahlah yang menjadi utama sekarang adalah kondisi Ruby, dengan berat hari Athala membiarkan Wanitanya di sentuh-sentuh laki-laki lain di depan matanya.


"Tidak ada hal yang serius, hanya saja luka gigitan ular di pergelangan kakinya berinfeksi hingga membawa efek demam untuknya, di sarankan segera di obati agar lukanya bisa pulih." ujar Pak Dokter selepas melakukan pemeriksaan pada Ruby.


"Gak ada gejala-gejala lain Dok? seperti---bayi?" Tanya Athala penasaran, ia heran mengapa Ruby belum hamil-hamil juga, padahal ia sudah pengen lihat bayi yang lucu-lucu lahir dari rahim Ruby.


Dahi Pak Dokter berkerut bingung, "Bayi gimana maksudnya?"


"Hamil, maksudnya Dok!" Sela Reygan menjelaskan, ia menyikut lengan Athala, "Lo nanyanya gak jelas, gue juga tadi perlu beberapa detik mencerna apa maksud lo!"


"Apa akhir-akhir ini ada gejala-gejalanya yang di alami oleh perempuan ini?"


"Gejalanya seperti apa ya Pak?" Athala memang genius tapi jika mengenai hal lain, jangan kan untuk kehamilan, percintaan saja dia paling bodoh.


"Seperti mual-mual, sensitif, sering kelelahan."


Pikiran Athala mengembara untuk sejenak lalu menggeleng, memang tak ada gejala-gejala demikian yang di alami oleh Ruby. "Enggak Pak. Kondisinya sebelumnya baik-baik saja tidak sampai semalam karena kami kehujanan."


"Jika memang seperti itu, berarti untuk kehamilan maaf sekali Pak, Perempuan ini belum ada tanda-tanda mengandung jika memang belum ada gejalanya."


Bahu Athala merosot, cukup kecewa bahwa benih-benihnya belum membuahkan hasil. Athala hanya takut, jika Alan telah sadar dari koma sebelum Ruby mengandung anaknya, Ruby akan membatalkan kesepakatan yang telah mereka buat.


Reygan menepuk-nepuk bahu Athala yang menunjukan sebuah mimik kekecewaan terpatri jelas di wajah Athala. Ia menunduk dalam, tak bisa menutupi rasa kecewanya.


"Gue harus gimana Rey? jangankan bisa ngikat nih gadis di sisi gue, bahkan alasan untuk menjeratnya saja belum ada. Gue harus apa?" Lirihnya.


Athala sadar sejak lama, hati Ruby memang tak pernah ada untuk dirinya walau hanya secuil, hanya ada Alan yang menjadi takhta tertinggi.


Tapi bukan berarti Athala akan menyerah semudah itu, akan tetap Athala perjuangkan meski perjalanannya untuk meluluhkan hati Ruby masih sangat-sangat panjang.


Jahat tidak Athala berharap Alan bisa koma dalam waktu yang panjang atau jika perlu Athala mau dia tak bangun-bangun.


Saking besarnya keinginan Athala untuk memiliki Ruby, sampai terlintas sebuah ide jahat di otak Athala untuk membunuh Alan mumpung masih ada kesempatan untuk sekarang.


Namun, Athala menghempas jauh-jauh akal busuk itu, ia tidak mampu melakukan yang dapat membuat Ruby membenci dirinya.


"Itu berarti lo di suru tuhan untuk berusaha lagi, jangan masang wajah putus asa gitu dong, sohib gue gak gitu orangnya!" Reygan menepuk punggung Athala yang murung untuk memberinya support.


"Oh iya mumpung kita lagi bahas Alan. Gue, udah nemuin petunjuk mengenai pelakunya." Nada Reygan mulai serius, Athala masih menunggu informasi yang akan di sampaikan oleh Reygan. "Suruhan gue ada nemuin gelang di sekitar parkiran mobil Alan. Dan setelah di selidiki lo tahu gelang milik siapa?"


Kening Athala mengernyit penasaran, "Siapa?"


"Sandra!"


"Gelangnya Sandra?" Memori Athala berputar ke masa lalu, ia ingat pernah melihat Sandra memakai gelang sederhana bertali warna hitam dengan mainan inisial S. "Yang mainannya inisial S bukan?"


"Nah, emang yang itu! ternyata setelah kami gali lebih dalam mengenai gelang itu memang sudah di berikan kepada orang lain yang di duga sahabat Sandra, demi Tuhan cok, gue gak nyangka jika yang nyelakain Alan rupanya hanya bagian dari inti Geng Vagos, di generasi kita gak ada kan kasus kaya gini? kacau banget generasi sekarang, gak sesolid kita yang dulu."


"Lo udah pastiin itu beneran pelakunya? gak ada kekeliruan?" Athala takut malah salah sasaran.


"Elah Tha, lo kayak gak tahu gue aja. Gue gak bakal ngasih info kalo memang gak ada bukti yang kuat. Mata-mata gue ada di mana-mana, Gue ada sebuah rekaman yang bisa meyakinkan bahwa dugaan gue benar. Ntar lah gue kirim ke lo lewat wa,"


Sekali lagi Reygan menepuk bahu Athala, ada beberapa resep obat yang ditebus oleh Athala kepada Pak Dokter, mengingat ia masih memiliki kesibukan yakni mata kuliahnya yang ditinggalkannya, lalu setelahnya tanpa banyak berbincang lagi, tidak lupa Reygan lekas pamit kepada Athala sebelum pergi berlalu dari Villa mengantar pulang Dokter yang telah selesai bertugas.


***