
...My Little Girl...
^^^P^^^
Hm? siapa?
Aku, Athala yang akan di panggil oleh anak-anak kita nanti dengan sebutan Papa.
Gaje
Ruby mendelik ketika membaca pesan dari Athala, kata-katanya memang bikin diabetes mengalahkan gula. Huh, Ruby tidak akan percaya dengan semua kata senjata lelaki yang semuanya dusta belaka.
Alan saja yang kelihatan bucin sekali kepadanya masih juga pernah mengkhianatinya, apa lagi yang baru kenal dalam tempo waktu yang cukup dekat?
Dpt no w dr mn?
^^^Aku^^^
Sorry lupa,
^^^Keyboard kamu rusak?^^^
G
^^^Kok nulisnya gak lengkap gitu?^^^
Trs hrs gmn?
^^^Setidaknya jgn singkat-singkat amat.^^^
Apaaa akuuuu harusss ngetiiikkk kayaaa giniii biarrr di bilanggg panjanggg lebarrrrr??
Gk gitu juga kali.
Keramaian kantin kampus meluap entah ke mana, Athala hanya sibuk dengan ponselnya.
Reygan rasa otak Athala sudah miring karena terus senyam-senyum sendiri, lelaki itu sedari tadi hanya fokus memandangi ponsel. Reygan sering melihat Athala bermain ponsel namun untuk kepentingan pekerjaan, kali ini berbeda sepertinya, tidak mungkin pekerjaan bisa membuatnya senyum-senyum tidak jelas.
"Sehat Tha?" Telapak tangan Reygan menyentuh dahi Athala untuk mengecek suhu badan Athala, ia curiga keadaan Athala cukup memprihatinkan.
"Apa sih?!"
Datang lagi mode cetusnya, perasaan baru tadi suasana hati Athala terlihat baik-baik saja, hanya dalam hitungan detik kembali berubah drastis menjadi Athala sesungguhnya, tetapi Reygan rasa lebih baik Athala normal seperti biasanya dari pada yang senyum-senyum ibarat orang tak waras.
"Lo kayak orang yang baru lepas dari rumah sakit jiwa, tahu gak?"
"Masa bodo!"
Lihatlah kini Athala kembali larut dalam dunia maya, di mata Reygan, Athala benar-benar telah berubah dari yang awalnya paling anti jamet, kini bahkan lebih dari jamet tidak tertolong.
...My Little Girl...
^^^Aku punya pertanyaan untuk kamu^^^
Apa?
^^^Bahasa inggrisnya 'bilang' apa?^^^
Say
^^^Kalo 'abcdef' huruf berarti '12345' apa?^^^
Angka
^^^Manchester united di singkat jadi apa?^^^
MU
^^^Coba di gabungan kata-katanya^^^
Sayangkamu
Anj*ing!
^^^Sayang kamu juga:^)^^^
Keanehannya tambah parah lagi kini Athala tertawa, Reygan benar-benar di buat speechless. Sudahlah, Reygan membiarkan saja.
"Oh iya Rey?" Athala mengangkat wajah, mengalihkan diri untuk sejenak dari ponsel.
"Kenapa?" Reygan mengangkat alis penuh tanda tanya. Sekarang setelah Athala memanggil namanya baru merasa dirinya di anggap ada.
"Lo bisa selidiki mengenai peristiwa wakil ketua Vagos?"
Reygan sedikit penasaran dengan Athala yang tiba-tiba jadi mengungkit perkara kecelakaan Alan. "Bisa sih bisa. Tapi boleh lo bilang alasan dan keuntungan gue untuk nyelidiki itu?"
"Gak ada alasannya. Ini atas perintah dari gadis kecil gue dan harus gue tepati. Untuk keuntungan gak perlu khawatir, gaji lo bisa gue naikin puluhan kali lipat kalo mau."
"Really?" Reygan takut Athala hanya akan menjadikan gaji sebagai iming-iming agar dirinya bersuka rela.
Sebagai tanggapan Athala mengangguk. "Tergantung dari kinerja lo."
***
Athala memarkir mobilnya tepat di dekat cafe tempat kerja Ruby, saat ia memijakkan kaki memasuki lebih dalam seketika lelaki yang terlihat berkharisma mengenakan mantel hitam tersebut menjadi pusat perhatian pelanggan seisi cafe.
"Wahh liat deh ganteng banget tuh cowok."
"Dateng sendiri lagi, apa dia masih jomblo kali ya?"
"Gak masuk akal cowok seganteng itu belum punya pasangan."
"Coba lo minta nomor Wa-nya."
"Gak ih, takut di gampar pawangnya."
Banyak bisik-bisik kagum selama Athala berjalan menuju barista di mana ada Ruby berada, gadis itu terlihat sibuk membuatkan hidangan para pelanggan, Flora sibuk melayani dari meja ke meja.
"Hai, Gadis kecil. Masih lama kerjanya?"
"Sayang banget ya udah ada pasangan, padahal masih berharap dapetin tuh cowok."
Keramaian isi cafe seketika patah hati berjamaah menyaksikan Athala dan Ruby bercakap-cakap di meja barista.
"Lah? kok kamu ada di sini? ngapain?"
"Liat kamu, gak boleh emang?"
Ruby menghela napas sebelum menjawab, "Yaudah, kamu tunggu dulu di salah satu meja yang kosong, ntar kalo udah waktu istirahat aku temuin."
Entah kerasukan apa Athala malah patuh, Ruby kira bakal ada percekcokan lagi antara dia dan Athala, rupanya cukup mudah juga, semoga nanti Athala akan begini terus tidak banyak tingkah, Ruby akan banyak bersyukur.
Sekitar lima menit Athala menunggu sambil mencicipi menu yang tersedia di sini, tiba-tiba hadirlah lah dari pintu masuk Karvino, bos cafe sederhana ini. Karvino masih belum percaya dengan apa yang ia lihat di bagian ujung sana sampai ia mengucek-ngucek matanya, mungkin saja ia benar-benar salah lihat. "Kok ada Athala di sini?" monolognya terheran-heran.
"Woy Tha! busett kirain gue salah lihat! gak nyangka banget seorang Athala si pengusaha yang tersohor se-Indonesia mau berkunjung ke tempat gue yang gak selevel sama kriteria sama holang kaya."
Karvino menepuk berulang kali punggung Athala hanya bergurau, kalau kalian ingin tahu Karvino dan Athala satu kampus. Juga Karvino selaku salah satu inti Vagos generasi terdahulu.
"Suka-suka gue dong." sahut Athala cuek. Ia santai menyeruput cofee yang telah di pesannya tadi.
"Ada perlu apa gerangan? gak mungkin lo kesini gak ada tujuan?" Karvino mengambil tempat duduk bersebrangan dengan Athala.
"Nunggu pacar."
"Pacar? yang mana?"
Athala menjawab dengan mata menuju Ruby, Karvino pun akhirnya mengikuti arah pandang Athala, "Ruby? cewek lo Ruby?"
Anggukan dari Athala yang menjadi tanggapan, Karvino cukup terkejut dengan kabar yang tiba-tiba ini, padahal setahunya Ruby dan Athala tidak pernah kenal sebelumnya. "Serius pacar yang lo maksud Ruby?" tanyanya masih belum percaya.
"Hm.. She, mine." Klaim Athala tersenyum penuh makna.
***
Ruby memperhatikan beberapa anak-anak yang bermain bola di sekitar taman bermain. Ruby tidak menyangka bahwa di sore hari ini Athala akan mengajaknya ke taman bermain anak-anak. Sebelum sampai di tempat tujuan, Athala membeli cemilan berupa cilok untuk Ruby lebih tepatnya ke mauan Ruby. Tanpa cemilan suasana tidak bermakna.
Sambil duduk di ayunan Ruby menikmati cilok selagi menunggu Athala yang entah ke mana, di tambah lagi dengan tontonan anak-anak yang tengah bermain di depan matanya, Ruby merasa ini bisa di definisikan kebahagiaan sederhana.
Asik dengan aktivitasnya sampai ia tidak menyadari Athala telah kembali dan duduk di ayunan bagian sisinya, barulah atensi Ruby terbagi kala Athala menyodorkan es cream ke arahnya. "Mau?"
"Es Cream! kamu beli di mana?" dengan antusias Ruby meraih satu dan mencicipi manisnya, es cream salah satu desert favorit Ruby, rasa manisnya lumer dan enak di mulut.
"Tuh di sana." Athala menunjuk sebuah pedagang kaki lima. "Aku pikir, mungkin kamu suka jadi aku beli aja dua."
Ruby yang awalnya menatap lurus mengubah arah pandangan ke arah pedagang yang di maksud Athala sebelum memperhatikan lelaki yang ada di sisinya. "Kamu juga suka es cream?"
"Suka. Kalo gak suka ngapain beli?"
Ruby hanya manggut-manggut paham, tanpa sadar Ruby jadi tahu salah satu kesukaan Athala, ia tidak menduga juga ternyata lelaki berwibawa seperti Athala suka juga yang manis-manis.
"Kamu tinggal sendiri?" Mereka melanjutkan obrolan tanpa saling pandang, hanya sama-sama menikmati pemandangan yang tersuguh di depan mereka.
"Siapa?"
"Kamu."
"Eum, iya." Ruby mengangguk atas pertanyaannya Athala. "Kalo kamu? saat aku kamu bawa ke mansion kamu, aku lihatnya hanya ada banyak pelayan, apakah kamu tinggal sendiri juga?"
"Iya, sama seperti kamu."
"Omong-omong-- orang tua kamu, kemana emang?" Seketika Ruby meringis sambil memukul bibirnya yang berani-beraninya menanyakan urusan pribadi orang. 'Ruby! kamu tidak ada hak untuk menanyakan masalah pribadinya!' rutuknya dalam hati
Athala yang melihatnya sigap menahan aksi Ruby yang mendaratkan beberapa kali geplakan di bibirnya. "Jangan. Jangan di pukul nanti bibirmu luka." Ruby baru menjumpai diri Athala yang perhatian bahkan dalam masalah kecil.
Athala menarik tangan Ruby dan mengenggamnya, jemari besar Athala saling menyelip di sela-sela jemari mungil Ruby hingga tangan mereka bertautan satu sama lain.
Seharusnya Ruby tidak menanyakan perihal itu, tetapi Ruby tidak bisa mengontrol rasa penasarannya terhadap Athala.
Tatapan Athala menerawang ke depan. "Orang tua? Bokap dan Nyokap aku udah cerai dari dulu, aku tinggal sama Bokap aku tapi sudah meninggal tahun lalu." Athala rasa tidak perlu menceritakan sedetail mungkin termasuk Ayahnya menikah lagi, ia benci dengan Ibu tirinya dan tidak akan pernah menganggap Wanita itu seumur hidupnya.
"Oh? sorry, seharusnya aku gak menanyakan itu.." Ruby merasa tidak enak hati telah memberikan pertanyaan yang sudah pasti menorehkan luka pada diri Athala.
Cup
Bibir Athala menyentuh punggung tangan Ruby hanya sekilas, tetapi membuat Ruby tidak bergeming. "Gak papa. Malah aku senang kamu ingin tahu tentang aku."
Athala menatapnya sangat intens, sebelah tangannya berpegangan di tali ayunan sementara yang lain mengenggam es cream, tubuhnya tiba-tiba condong ke arah Ruby hingga saat itu juga perempuan itu menahan napas dengan dada yang bergemuruh hebat, "K-kamu mau ngapain?"
Ruby tidak tahu apa tujuan dari Athala mengikis jarak, apa lagi lelaki itu tidak memberikan jawaban untuknya sampai di mana lidah Athala menyapu ujung hidung Ruby menjilat sisa es cream yang melekat di hidung mungilnya.
"Manis." Celetuknya menjilat bibir bawahnya. Ruby hanya terbengong, tindakan Athala benar-benar bahaya untuk jantung.
Dengan jarak yang hanya berkisaran empat meter, tempatnya di salah satu sudut rumah warga, diam-diam seorang lelaki yang berpakaian serba hitam di lengkapi slayer, memotret pemandangan yang ia saksikan dari posisinya lalu mengirimkannya kepada seseorang di seberang sana.
***
Di lain tempat, tepatnya di negara besar Australia. Kota Melbourne.
Lelaki berpakaian kamisa berwarna dongker memasuki ruangan kerja sang Ayah. Dia, adalah Zealander Achraf Levarendo. Panggil saja Zeal.
Usai mendapat konfirmasi sebuah gambar dari utusan mereka di negara seberang sana, ia berinisiatif datang langsung menemui Ayahnya walau tahu jika Pria paru baya itu sedang sibuk dengan pekerjaan.
Menurutnya ini berita paling penting baik untuknya mau pun Ayah dan Ibunya. Saat Zeal baru memasuki ruang kerja, atensi Ayahnya belum langsung tersita. "Dad, looks like our plan that night worked." (Ayah, sepertinya rencana kita malam itu berhasil)
Pernyataan tersebut cukup efektif hingga mampu membuat pekerjaan Sang Ayah terjeda, ia menatap Putranya serius. "Really?"
"Here's the proof." (Ini buktinya)
Zeal memberi ponselnya kepada Ayahnya agar bisa melihat bukti foto yang di kirim kepadanya. Ayahnya mengamatinya dengan teliti. Mungkin saja hanya editan tetapi foto ini terlihat terlalu asli untuk bisa di bilang editan.
"Our emissary secretly took pictures of the closeness of the two of them." (Diam-diam utusan kita mengambil gambar kedekatan mereka berdua.) Ungkap Zeal menerangkan.
Sebuah lengkungan licik terukir pada sudut bibir Ayahnya, yah Zeal sudah menduga Ayahnya akan senang mendengar kabar ini. "Everything went according to my prediction." (Semuanya berjalan sesuai prediksi ku.)
***