
π Matahari telah terbenam,berganti dengan rembulan yang mulai muncul menghiasi malam.
Sepasang insan yang saling terhubung karena cinta yang terpaut saling terpaut sama-sama terpejam karena didera oleh rasa lelah.
Hingga sang wanita mulai terjaga dari lelapnya efek anestesi yang telah di berikan ke tubuhnya. Lily mulai membuka matanya, Meksipun rasanya masih sangat lemas dan tak bertenaga namun Ia merasa tubuhnya sudah lebih baik.
Rasa nyeri yang kemarin sangat menyiksa kini tak lagi Ia rasa. Lily berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. Terakhir kali ia sedang berada di ruangan David.... Astaghfirullah! David????
Lily seketika melebarkan matanya dan hendak terbangun namun sesuatu membuatnya berhenti bergerak.
Tangannya... digenggam seseorang??
Lily seketika menoleh kepada sang pemilik jemari kokoh yang tengah menggenggamnya erat.
Wanita itu berkaca-kaca. Benarkah yang Ia lihat ini? Ia tidak sedang bermimpi bukan?
Davidkah yang ada didepannya kini?
Lily mengulurkan tangannya, ingin mengelus rambut cokelat terang milik pria itu.
"David ..."
Lily terisak. Dia sungguh tidak mempercayai penglihatannya. Cintanya, belahan jiwanya, benarkah sudah kembali padanya? Benarkah David sudah sadar.
"David. . . "
Lily kembali memanggil nama pria itu, membuat David yang tidak sengaja tertidur itu mulai terbangun...
"Eemmmh .... ho-honey? Kamu sudah siuman?" David bertanya dengan antusias. Lily hanya tersenyum lebar seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Syukurlah, apa Kamu baik-baik saja? bagaimana perasaanmu? ada yang sakit? atau apapun katakanlah biar Aku panggilkan Dokter"
David mengajukan pertanyaan kepada Lily bertubi-tubi membuat Lily terkekeh kemudian menjawab.
"Aku baik-baik saja, Perasaanku bahagia karena akhirnya kamu.... kembali" Bulir bening kembali mengalir dari sudut mata wanita ayu itu. Tapi kali ini Lily menangis karena bahagia sekaligus lega... Davidnya sudah sadar dari komanya, Pria itu sudah kembali padanya dan Alice....
Mereka berdua saling menatap penuh rasa cinta dan rindu yang mendalam, hampir 4 bulan, Lily dan David terpisah, bukan raga melainkan jiwanya.
"Will You marry me again?"
Ucap David tiba-tiba membuat Lily membeku seketika.
"David... Kamu..."
"Maukah, kembali menikah dengan pria idiot ini?"
Kali ini David memintanya dengan diiringi air mata kebahagiaan, Dulu mereka menikah karena keadaan, David belum memiliki perasaan apapun pada wanita di hadapannya kini, Saat itu yang ada di pikirannya adalah melindungi Lily dan bayi mereka karena David tahu persengketaan harta Ayahnya bisa jadi akan membahayakan mereka.
Dan benar saja Martin memang berhasil mencelakai Lily, bahkan saat itu David sama sekali tidak bisa melindunginya, malah Dia menjadi salah satu orang yang paling menyakiti Lily.
Seharusnya David memang tahu diri untuk tidak mendekati Lily lagi. Tapi cintanya yang besar kepada wanita itu membuatnya menjadi pria yang tidak tahu malu.
Tidak apa, David sama sekali tidak keberatan asal Lily bisa kembali ke sisinya.
"Maukah? jangan membuatku patah hati.."
Ucapan David membuat Lily tertawa di sela-sela tangisnya.
"Yes ... I Will"
David nyaris berjingkrak dan menghambur ke pelukan Lily namun Pria itu sadar bahwa kondisi tubuhnya sedang tidak bersahabat dengannya.
"Sayang sekali, Aku tidak bisa memelukmu, Kamu lihat keadaanku Honey"
"Tidak apa, setelah sah menikah kita bisa berpelukan sampai puas"
"Ouhh Ya.. tidak hanya akan memelukmu Honey... Aku akan memakanmu"
Ucap David seraya mengerling nakal. Lily hanya menggeleng pelan dan berkata,
"Melihat kemesumanmu itu Aku benar-benar yakin bahwa kamu sudah pulih Dave..."
"Hahahaha" Keduanya tertawa keras hingga tak menyadari ada 4 orang yang melihat mereka dengan berbagai ekspresi, ada yang senang, ada yang terharu, ada pula yang sedih siapa lagi jika bukan Marry dan James.
'Congrats Dave ...Aku doakan semoga kalian bahagia' Marry berucap dalam hati.
Sementara itu James sedih sama sekali tidak ada hubungannya dengan David, melainkan Fany (sahabat Lily) yang sudah seminggu ini sama sekali tidak ada kabarnya, membuat James yang tadinya tidak terlalu perduli pada pacar sampingannya itu tiba-tiba merasa kehilangan.
Keesokan harinya,
David dan Lily sudah di perbolehkan untuk pulang. Alice tentu sangat bahagia. Tadinya David memaksa Lily untuk tinggal bersamanya dan Alice, Tapi Lily dengan tegas menolak. Bagaimanapun mereka bukanlah pasangan suami-istri yang sah, maksud Lily belum sah, jadi Lily merasa sangat tidak nyaman untuk tinggal bersama.
Pada Akhirnya David pun menyetujuinya. DNA tanpa di sangka-sangka, entah bagaimana tiba-tiba Leon datang membawa Fany untuk merawat Lily selama masa pemulihan di Macau ini.
"Fany????"
"Kok kamu bisa disini...?"
"Tanya aja sama Mr. Davidson mu itu. Masa tiba-tiba Aku d interminit sama bosku"
"What???"
"Iya... trus pas udah nyampe agency eh udah ada Leon disana"
Lily pun menatap David penuh intimidasi, sementara David hanya mengendikan bahunya pura-pura tidak tahu.
Kedatangan Fany tidak hanya membuat Lily terkejut, melainkan James juga. Pria itu sedari tadi tak lepas memandang ke arah wanita yang sama mungilnya dengan Lily itu. Namun James harus menelan kekecewaan karena Fany sama sekali tidak melirik kearahnya, seolah-olah tidak melihat Dia disana.
"Baiklah Honey, Kamu akan tinggal dengan sahabatmu ini sampai benar-benar pulih, baru kita akan menikah"
"Waaw... Congratulations! akhirnya balikan juga euy!" ucap Fany meledek Lily, lagi-lagi tak memperdulikan James disana.
"Baiklah semuanya, Kita pergi ke Apartemen sekarang karena waktunya sudah cukup siang"
Semua orang mengangguk. Fany dengan semangat membantu mendorong kursi roda Lily mengikuti David dan Leon yang sudah beranjak terlebih dahulu.
Sementara itu, Marry yang sedari tadi menyadari kemuraman sahabatnya James, menepuk pelan pundak pria itu, kemudian berkata.
"Kalau Kau mencintainya, kejarlah Dia. Jangan sampai menyesal James. Percayalah perasaanmu padaku bukanlah cinta, Kau hanya merasa simpati karena kita berteman sejak lama dan kamu mengetahui setiap masalahku"
"Mer... Aku..."
"Dengarkanlah Aku... turuti kata hatimu, maka kau tidak akan pernah menyesalinya James. Jangan pikirkan tentang Aku. Aku masih punya orang tua, Aku tidak sendirian di muka bumi ini, dan Aku yakin suatu saat aku akan mendapatkan seseorang yang tepat untukku. Jangan bebani dirimu dengan keadaanku James. Kita ini sahabat dan selamanya akan seperti itu, hmn...?"
James hanya terdiam dan menunduk, perasaannya sangat galau.
"Pikirkanlah baik-baik semua nasihatku" Marry tersenyum lembut kemudian berlalu meninggalkan James yang masih terpaku disana.
Pria itu masih bingung dengan perasaannya pada Fany. Dia nyaman saat bersama dengan gadis itu. Fany juga tidak pernah banyak menuntut, sangat penurut dan menyenangkan.
Tapi James mulai menjauhi dan mengacuhkannya saat gadis itu berani menyatakan cintanya pada James. Sekarang James malah kebingungan sendiri saat Fany berbalik menjauhinya.
Apakah perasaan cinta Fany hanya sebuah candaan? kenapa gadis itu cepat sekali berubah?
Sementara itu...
"Jadi kita tinggal bersebelahan?" Lily membola sempurna saat melihat apartemen David dan dirinya yang saling berhadapan.
"Yups... Kita tetangga sekarang. Aku tidak bisa jauh darimu Honey. Kalau kita tinggal berdekatan seperti ini Aku bisa menemuimu kapan saja saat aku rindu"
Wajah Lily memerah seperti kepiting rebus mendengar ucapan David yang terlalu jujur itu. Bahkan wajah pria itu seperti tak berdosa, tersenyum lebar dengan wajah polosnya.
Astaga, David tidak ingat umur sama sekali
Fany dan James hanya bisa cemberut melihat dia pasangan yang sedang dimabuk cinta itu. Mereka merasa seperti jadi obat nyamuk diantara David dan Lily.
Sementara Alice hanya tersenyum melihat kedua orangtuanya sudah kembali harmonis.
"Ya udah yuk, Kita masuk Li, Alice... Kalian pasti capek"
Akhirnya Fany memberanikan diri untuk membuka suara, yang untungnya disambut antusias oleh Lily.
"Aku akan masuk dan beristirahat, Kamu juga David, dan Kamu Leon, istirahatlah kalian pasti lelah"
"Oh My God, kenapa kamu jadi perhatian pada Leon juga Honey?
Lily kehabisan kata-kata, David ini kenapa sih?
"Ayolah Tuan Davidson, jangan berlebihan seperti anak-anak. Leon juga pasti lelah karena dia juga menjaga kita selama ini"
"Ya baiklah..."
David menjawab dengan wajah muram, sementara Lily dan Alice hanya menggeleng pelan melihat kelakuan pria berusia 43 tahun itu.
"See you, selamat beristirahat calon suamiku"
Ucap Lily dengan malu-malu, kemudian berlalu masuk kedalam apartemennya,
Sementara David yang wajahnya tadinya muram tiba-tiba bersinar terang.
"Ya Honey .. selamat beristirahat juga... calon istriku, Aku akan merindukanmu!" Seru David yang sontak membuat Leon malu bukan kepalang. Meskipun kondisi tempat ini sepi tapi bisa saja suara David yang menggelegar itu di dengar oleh penghuni apartemen yang lain bukan.
Pria imut itu hanya bisa menghela nafas dalam-dalam agar tetap bersabar, hatinya berucap,
'Kalau saja dia bukan bosku yang Aku hormati, Aku pasti sudah menendangnya, Astaga setelah sadar dari koma dia jadi sangat memalukan'
Leon pun mendorong perlahan kursi roda David yang masih setia menyerukan kata-kata cintanya untuk Lily masuk ke dalam Apartemen dengan hati dongkol setengah mati. π Sabar ya Leon, bosnya lagi puber kedua βΊοΈ
Bersambung