My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Pengorbanan Charlotte (1)



Lily berlari keluar dari ruang kantor Robinson Factory setelah mendengar dari laki-laki asing yang mengaku tengah menculik Alice. Lily tidak akan mempercayainya begitu saja jika Dia tidak mendengar suara isakan Alice seraya memanggil namanya.


Ibu sambung Alice itu sedikit kesal pada Leon karena pria itu berbohong, untung saja Alice memiliki handphone sendiri. Jika tidak, bisa dipastikan wanita itu tidak akan mengetahui apapun.


Di negara Hongkong handphone untuk anak-anak sebenarnya tidak dianjurkan. Karena pelajaran sekolah dan les mereka bisa dikatakan sangat banyak, jadi keberadaan Handphone dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasi belajar terutama anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (seperti momonganku dan teman-temannya, hampir semuanya ngga boleh main handphone)


Tapi untuk Alice, itu menjadi pengecualian karena saat usia 8 tahun Dia sudah belajar mandiri, Granny-nya berada di Amerika, sementara David selalu bekerja siang dan malam seperti orang gila karena frustasi dengan penyesalannya. Alice hanya didampingi oleh Cece setelah kepergian Lily sampai usia 8 tahun, setelah itu Alice menolak untuk diasuh oleh Cece baru karena selalu mengingat Lily.


Setelah nya, Alice hanya menghabiskan waktu di sekolahnya untuk mengikuti berbagai ekstrakulikuler dan juga beberapa les pelajaran dan pulang jm 7 malam, jadi Leon hanya membayar Cece dengan sistem stayout atau tidak tinggal di dalam apartemen David.


Diluar gedung perkantoran Robinson, Aston yang baru saja turun dari mobil Limousine hitamnya terkejut melihat Lily tengah berlari dari kejauhan, Pria itupun mempercepat langkahnya mengejar wanitanya itu.


"Lira!" Seru Aston yang kini berada beberapa meter di belakang Lily.


Lily yang mendengar panggilan itupun berhenti berlari, kemudian menoleh ke arah sumber suara.


"El! " Balas Lily


"Ada apa? kenapa kamu berlari seperti itu?"


"Aku sedang terburu-buru El, keadaannya sangat gawat"


"Tenang dear, Relax. katakan pelan-pelan agar Aku mengerti. Keadaan siapa yang gawat? hmn?"


Lily menarik nafas dalam-dalam kemudian berkata,


"Alice, putri David diculik, tadi Aku berbicara langsung dengan penculiknya El! Aku.. Aku harus kesana menolongnya"


Ucap Lily dengan panik.


"Sayang, apa Kamu tidak waras? Kamu ingin menolongnya sendirian dengan tangan kosong? Kamu pikir penculikan itu seperti game princess subway?"


"El!!! Aku sedang sangat khawatir, kenapa Kamu malah meledekku seperti itu! ini masalah serius, menyangkut nyawa seseorang,El!"


Sungut Lily kesal bukan main. Wanita itu pun melanjutkan langkahnya dan hendak meninggalkan Aston, namun dengan cepat Aston meraih pergelangan tangannya.


"Sorry Sweetheart. Aku menyesali perkataanku, baiklah kemana Kamu akan pergi, Aku akan mengantarmu"


"Tapi ini berbahaya untukmu El"


"Oh ini berbahaya untukku dan aman untukmu, begitu?


"Tidak, bukan begitu.. Aku"


"Sudahlah, Kamu bilang kita tidak punya banyak waktu, sekarang katakan dimana tempatnya?"


"Orang itu baru saja mengirimkan lokasinya, ini"


Jawab Lily seraya menyodorkan gawainya untuk menunjukkan isi pesan dari Martin.


"Baiklah, Ayo kita kesana, jangan buang waktu"


"Kamu benar El, Ayo kita pergi sekarang!"


Aston menggandeng tangan Lily dan berjalan cepat menuju mobil Limousine yang baru saja mengantar Aston.


Aston kemudian meraih gawai di sakunya dan menelepon seseorang.


"Lee, Siapkan beberapa bodyguard andalan kita dan suruh mereka menyusulku, Aku akan berikan alamatnya"


"......"


"Segera, Terima kasih"


Aston mengakhiri panggilannya kemudian tersenyum ke arah Lily dan berkata,


"Paling tidak kita juga butuh penjaga, Lira"


"Hmn, Baiklah. Ayo kita pergi"


"Hmn, Ayo"


Mereka pun melaju menuju tempat dimana Martin telah membagikan lokasinya pada Lily.


#


#


Ciiit.... Suara decitan rem mobil David menandakan benda beroda 4 itu telah berhenti. David turun dari mobil dengan gagah, meskipun langkah pincangnya masih samar-samar terlihat.


David mengedarkan pandangannya ke seluruh gedung yang tampak sangat lengang itu. Pria itu kemudian mengambil benda pipih dibalik jaket kulitnya untuk menghubungi Martin.


"Keluarlah Kau bajingan! Aku diluar" Desisnya tajam kemudian mematikan panggilannya.


Tak berselang lama satu persatu orang berbadan kekar dengan banyak tato di tubuhnya bermunculan dari kegelapan bangunan itu. Tapi bukannya takut, David malah tersenyum sinis.


"Apa Martin sedang gemetar ketakutan sampai tidak berani muncul dan menyuruh kalian menemuiku?" Ucap David dengan nada mengejek.


"Tentu saja, Aku tidak pernah merasa sepercaya diri ini sebelumnya, menghadapi pecundang-pecundang seperti kalian yang beraninya menggunakan anak-anak untuk mengancam korbannya, menjijikan"


"Heiii! Diamlah Kau bedebah. Mau mati saja banyak sekali tingkahmu"


"Kau yang jangan banyak bicara! katakan dimana putriku?!!"


"Hahaha tenang, Kau akan segera bertemu dengannya asal menurut pada kami"


"Cih" David berdecih pelan seraya memutar bola matanya jengah mendengar ocehan para preman di depannya.


"Sesuai permintaan Tuan kami seharusnya Anda datang sendiri"


"Tentu saja. Aku orang yang tepat janji"


"Periksa Dia dan mobilnya!" Seru seseorang diantara mereka yang sepertinya adalah pimpinan dari kelompok itu. Dan benar saja, orang-orang yang bisa disebut anak buah pria yang berseru tadi langsug bergegas memeriksa David beserta mobil yang di kendarainya.


"Aman Bos, semuanya kosong"


Ucap salah satu diantara mereka, Pria yang dipanggil Bos itupun menganggukkan kepalanya.


"Bawa dia" Sambungnya lagi


Dua orang kemudian mencekal kedua tangan David kebelakang dan membawanya masuk kedalam...


Sementara itu, Leon mulai keluar dari persembunyiannya.


#


#


Charlotte berusaha keras agar bisa terlepas dari ikatannya. Wanita itu menajamkan penglihatannya ke setiap sudut ruangan, berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa membantunya memotong ikatan di tangan dan kakinya.


Sampai wanita itu memicingkan matanya menatap sesuatu di pojok ruangan yang kebetulan tidak jauh darinya...


Botol kaca??


Charlotte kemudian mendapat ide, Dia harus memecahkan botol itu dan menggunakan pencahayaannya untuk memotong tali di tangannya.


"Tidak apa-apa walaupun akan lama tapi aku akan tetap berusaha" Gumam Charlotte bertekad.


Wanita itu kemudian berusaha menggeser kursi beserta tubuhnya untuk mendekati botol itu meskipun dengan susah payah.


Sementara di sisi lain....


"Selamat Datang Keponakanku yang Tampan dan kaya raya hehehehe" Ucap Martin dengan tersenyum lebar diiringi tawanya yang terdengar menjijikan di telinga David.


"Heh, Kau masih sama menyedihkannya seperti dulu, sepertinya waktu 5 tahun sama sekali tidak merubahmu, Kau tetap menjadi pecundang menjijikan"


"Hehem, Bicaralah sesukamu Davidson, Aku akan membiarkannya dan kuanggap itu sebagai pesan terakhir sebelum kau menuju ke neraka"


"Jangan yakin dulu Martin. Kau fiki RS, Kau adalah Tuhan yang menentukan hak hidup seseorang? Bisa jadi hari ini malah menjadi hari terakhirmu untuk bisa berceloteh ria"


"Oh Tidak Tuan Davidson. Hari ini tentu saja akan berjalan sesuai dengan yang Aku tentukan, benar anak-anak?"


Ucap Martin seraya menoleh ke arah anak buahnya yang kemudian menyahuti,


"Benar Tuan"


"Kau dengar David?"


"Berhentilah berbicara omong kosong, sekarang dimana Alice??!!"


Ucap David yang mulai tidak sabar.


"Tenanglah, Aku bukan orang yang suka ingkar janji. Hei Kau, bawa cucuku yang cantik itu kemari"


"Baik Tuan"


Setelah itu Martin tersenyum lebar ke arah David yang hany membalas dengan tatapan sinis.


#


Sretttt Crakkk!!!


"Oh My... Akhirnya" Charlotte dengan usaha kerasnya bisa berhasil melepaskan ikatan Di tangannya. Wanita itupun bergegas memlepaskannukatan lainnya id kaki dan juga tubuhnya.


"ssssshhh, Aw..." Charlotte berdesis pelas saat merasakan perih ditangannya akibat pecahan botol kaca tadi. Namun wanita itu tak mau membuang waktu dan menghayati luka kecilnya yang tak seberapa.


Charlotte segera berdiri dan kemudian mengendap-endap menuju pintu keluar ruangan yang minim pencahayaan itu.


Sesampainya di luar ruangan wanita itu mendesah pelan.


"Ya Tuhan, bangunan ini luas sekali, kearah mana Kau harus mencari Alice?" Charlotte menggigit bibir bawahnya dengan sedikit keras. Wajah cemasnya kebingungan karena tak tahu arah, Namun sejurus kemudian wanita itu meneguhkan hati, mengikuti perasaannya untuk melangkah kemanapun hati nuraninya menunjukkan jalan....


Bersambung