
Keesokan paginya, Lily menjalankan aktivitasnya sebagai sitri dan Ibu yang baik.
Setelah menyiapkan keperluan suami dan Putrinya, Alicia.
Kini, wanita itu menunggu kedua orang kesayangannya serta mertuanya untuk sarapan bersama.
"Sweetie, selesaikan sarapanmu. Daddy yang akan mengantarmu hari ini" Ucap David setelah selesai menyantap sarapannya.
"Okay Dad" Jawab Alice sambil mengunyah sandwich nya.
"Honey, jam berapa kamu akan bertemu Fany?" Tanya David pada Istrinya.
"Jm 9 Aku berangkat Biy, setelah membereskan rumah"
" Baiklah, jangan terlalu lelah. aku akan meminta supir mengatarkanmu"
"Hmm, baiklah"
"Lily akan pergi hari ini?" Tanya Nyonya Charlotte tiba-tiba.
"Ya, Mom. Lily bilang temannya meminta tolong untuk di temani melaporkan kehilangan kartu identitasnya. Mommy tahu bahwa kartu identitas di Hongkong sangatlah penting, apalagi untuk pendatang seperti mereka" Jawab David dengan gamblang, berusaha memberikan alasan yang kuat kepada ibunya.
"Oh begitu" ucap Nyonya Charlotte seraya mengangguk paham.
"Baiklah, kamu sudah selesai, sweetie? kita berangkat"
"Sudah Dad, Ayo!"
Kedua Ayah dan anak itu pun bangkit, setelah berpamitan dengan Nyonya Charlotte dan Lily, David dan Alice kemudian berlalu keluar rumah.
Nyonya Charlotte terus memperhatikan menantunya, dengan tatapan seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup.
sementara Lily berusaha acuh dan tidak memperdulikan tatapan mertuanya. setelah membereskan meja makan, kemudian Lily bergegas melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya. hanya saat ini Ia lebih terburu-buru. mengingat sekarang sudah pukul 08.00 am, sedangkan Ia janji bertemu dengan Fany pukul 09.00.
setelah selesai melakukan pekerjaan rumah, Lily masuk ke kamarnya, bersiap-siap untuk pergi.
Lily mengirimkan pesan kepada Fany lebih dulu sebelum keluar dari apartemennya.
"Mom, Aku pergi dulu. kemungkinan Aku akan kembali setelah jam makan siang" Pamit Lily berbasa-basi kepada mertuanya itu.
"Yah, hati-hati" Jawab Nyonya Charlotte yang sangat kentara memaksakan senyumnya.
Tak mau terlalu memikirkannya, Lily segera berlalu dari sana.
"Halo, Paul. Ikuti istri David. dia baru saja keluar rumah. jangan sampai kehilangan jejak. paham?"
"Baik Nyonya" Jawab Paul dari seberang sana.
"Hmmm... Bagus"
Charlotte pun mengakhiri panggilannya.
"Kita lihat menantu, apa yang sedang kamu rencakan sebenarnya" Gumam Charlotte dengan seringai devilnya yang menakutkan.
30 menit kemudian, Lily baru saja turun dari Busway.
Dengan otaknya yang cemerlang, Lily berhasil mengerjai supirnya dengan mengempiskan ban mobil suaminya. Alhasil dia bisa pergi menemui Fany tanpa di awasi oleh supirnya itu.
Dari kejauhan Lily melihat Fany yang berdiri menunggunya di tengah taman Causewaybay yang luas. Lily tersenyum pada sahabatnya itu.
Begitu juga Fany yang sudah menunggu sejak tadi. ia tersenyum melihat kedatangan Lily, namun senyumnya seketika memudar saat melihat dua orang berpakaian serba hitam mengekor di belakang Lily.
Fany berusaha memberikan kode kepada sahabatnya itu melalui gerakan matanya.
Kedua mata wanita itu saling melempar kode. Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal, Fany tiba-tiba berjalan menjauh, sambil memainkan ponsel pintarnya,bersikap seolah tidak mengenal Lily. Lily pun tetap berjalan lurus meskipun bingung dengan sikap Fany yang terlalu tiba-tiba.
Ting! gawai Lily berdering. Fany!
"Li, ada yang ngikutin Kamu!" Ucap Fany dari seberang telepon, membuat jantung Lily seperti jatuh, lututnya mendadak lemas. Lily kemudian hendak menoleh ke belakang namun suara Fany tiba-tiba menginterupsinya.
"Jangan nengok ke belakang Li. jalan terus ke Mall emporium setelah lampu merah, Aku akan berusaha ngalihin perhatian orang-orang itu"
Tidak mau membuat mereka curiga, Lily berusaha menetralkan emosinya agar kembali tenang dan berjalan dengan santai.
Sementara di belakangnya, Fany bergegas mengeluarkan Hoodie Yeng kebetulan selalu ia bawa kemana-mana. Mengenakannya hingga menutupi kepalanya. Ia berjalan cepat menyusul Lily dan dua orang yang sudah sedikit jauh dari tempatnya kini berada.
Lily sudah sampai di Mall emporium ya g dimaksud Fany, untungnya suasana mall cukup ramai. Sambil mencuri-curi pandang Lily menoleh ke belakang dan dilihatnya dua orang tinggi tegap menatap ke arahnya. Lagi-lagi jantungnya mencelos, tapi itu tak berlangsung lama karena keinginannya untuk mencari tahu kebenaran Nyonya Charlotte semakin besar.
Lily yakin, dua orang menyeramkan di belakangnya adalah suruhan mertuanya itu.
Tiba-tiba. Brukkk.. terdengar suara bertubrukan dibelakangnya. Lily sontak menoleh ternyata Fany yang sengaja menabrak kedua orang itu. lilyy pun segera berlalu untuk bersembunyi di toilet wanita, saat Fany memberikan kode melalui lambaian tangannya.
"I'm sorry Sir! saya sedang terburu-buru" Ucap Fany kepada salah satu diantara dua laki-laki yang membuntuti Lily. Laki-laki itu tampak tidak perduli dan ingin menyusul Lily yang sudah tidak nampak batang hidungnya.
Fany kembali berusaha mengalihkan perhatian dua orang itu dengan berceloteh kesana-kemari seolah ingin meminta maaf dengan setulus hati.
"Shut Up!!" Sentak salah seorangnya.
"Ups.. I'm so sorry Sir... I'm just..."
"What the fvck have you Been! Just Go away!" sentaknya lagi. Fany pun tak mau menambah masalah, Ia segera ngacir dari sana. kemudian meraih gawainya.
"Li, kamu dimana?"
"Toilet Fan"
" Oke aku nyusul sekarang" Fany pun bergegas menyusul sahabatnya itu.
Sesampainya di Toilet...
"Ya ampun Fany, kamu baik-baik aja?" Tanya Lily dengan cemas begitu melihat sahabatnya itu.
"Aku baik-baik aja. sekarang kita harus cepet pergi dari sini sebelum dua orang itu nemuin kita"
"O-ke... Ayo!" Ajak Lily dengan sedikit panik.
"Bentar, gue buang jaket ini dulu, kalo ngga mereka bakal ngenalin Aku"
"Dibuang?" Tanya Lily dengan raut bersalah.
"Ngga apa-apa, kan Kamu bakalan ganti nanti" Jawab Fany sambil nyengir kuda.
"Siapp! nanti Aku ganti" sahut Lily mantap.
"Okee... Bye-bye jaket 500 dolarku :(" Ucap Fany kemudian gadis itu mengendap-endap ke arah pintu toilet sambil melihat-lihat, barang kali duang orang penguntit itu masih ada disana.
"Aman. Ayo Li, cepetan"
"Ayo!"
Mereka pun bergegas keluar dari toilet menuju pintu keluar. dan tanpa di duga Dua orang itu berhasil menemukan mereka.
"Itu dia!" seru salah seorang diantaranya.
"****!! cepetan Li kita lewat eskalator aja" Seru Fany dengan raut panik.
"Ayooo cepetan Fan, cepetan!!" Sahut Lily yang tak kalah panik. Keduanya kemudian berlari menuju tangga berjalan untuk mencapai pintu keluar mall itu.
Dengan kaki yang panjang, dua orang suruhan Nyonya Charlotte itu dengan cepat hampir menyusul keduanya.
Lily dan Fany yang ketakutan semakin mempercepat larinya hingga lupa bahwa Lily sedang hamil muda.
sampai mereka berhasil keluar dari Mall dan langsung berlari menuju stasiun MTR untuk bersembunyi, karena mereka yakin dua orang itu akan sulit menemukan keduanya, mengingat stasiun MTR Causewaybay selalu ramai orang. Namun belum sempat mereka mencapai pintu stasiun itu tiba-tiba
Grep!
Ada yang menarik tangan keduanya dan kemudian mendorong mereka masuk ke dalam mobil!
Dan Wuush! mobil Porsche Carrera yang berkecepatan tinggi itu melaju indah meninggalkan tempat itu.