
Gara-gara kejadian sarapan pagi yang mengejutkan itu Lily semalaman tidak bisa tidur nyenyak hingga pagi, jadilah sekarang Lily tampak sangat berantakan dengan mata panda yang besar menghiasi wajah ayunya.
"Gara-gara bule itu aku jadi ngga bisa tidur huhu"
Lily sedang menggerutu seraya menggosok giginya,
Waktu menunjukkan jam 06.30, jadi Dia harus segera bersiap-siap menuju Bandara untuk pergi ke Macau, penerbangannya jam 1 siang tapi Lily tidak ingin terlambat jadi memutuskan untuk berangkat lebih awal, Lebih baik menunggu dari pada terlambat, pikirnya.
Setelah hampir 30 menit Lily bersiap diri dan memoles wajahnya dengan makeup tipis membuatnya tampil lebih segar dari sebelumnya.
Wanita itupun menggeret kopernya untuk segera check out dari Hotel dan mencari taxi untuk pergi ke Bandara.
Ting
Satu pesan masuk di ponselnya mencuri Atensi Lily yang tengah menunggu resepsionis memproses check out nya.
Elena?
"[Aku sudah mengirim jemputan untukmu Sayang, Dia menunggu di depan Hotel]"
Lily secara otomatis melangkahkan kakinya untuk melongok ke arah depan, dan benar saja sebuah mobil Maybach hitam sudah terparkir gagah di depan hotel. Lily pun tersenyum manis kemudian membalas pesan Elena.
"Terima kasih sayangku, Kamu benar-benar menghemat uangkua hahaha"
Sent to Elena.
"[Aku sangat mengerti, Pengusaha muda memang harus menghemat uang agar tidak cepat bangkrut 🤪]"
Lily tertawa terbahak-bahak membaca pesan itu. Elena memang gila.
"Terima kasih atas pengertian Anda Nona Elena Lowe"
Lily kemudian meletakkan gawainya, kemudian pamit kepada Resepsionis Hotel dan berjalan menuju Mobil yang sudah menunggunya.
"Silahkan, Nyonya"
"Terima kasih, Siapa Nama Anda Pak?"
"Saya Stuart Nyonya"
"Okez Terima kasih Stuart, Penerbanganku jam 1 siang, jadi Kamu tidak perlu terburu-buru"
"Baik, Nyonya"
Lily pun tersenyum kemudian menutup pintu mobil, sementara Stuart dengan cepat bergegas masuk ke dalam kursi kemudinya, Melakukan mobilnya ke arah Bandara
#
#
"Tuan Davidson, Aku membantumu karena aku percaya Kamu bisa membahagiakan Lira, kalau kau menyakitinya sekali lagi, maka dengan senang hati aku akan membuatnya kembali pada kakakku Aston"
David tersenyum puas pada wanita di hadapannya itu. Entah bagaimana caranya membalas kebaikan Elena, wanita itu tiba-tiba menemuinya dan mengatakan bahwa Dia akan membantu David mendapatkan kembali Lily. Selain karena Lily adalah sahabat baiknya, juga agar Aston menyerah dan bisa membuka hatinya untuk Rosie, calon istri Aston.
Kalau Lily sudah menjadi milik orang lain, tentu saja. Aston mau tidak mau harus menyerah. Elena sangat tahu persis watak kakak sepupunya itu, bukan tidak mungkin Aston yang sudah tergila-gila pada Lily akan kembali berusaha untuk bisa mendapatkan Lily lagi. walaupun kemungkinannya kecil karena Aston kini sangat menyayangi putrinya, Angel.
"Aku berjanji kepadamu dengan sepenuh jiwaku, Aku pasti akan selalu berusaha membahagiakan Lily. Aku akan menebus semua kesalahanku dimasa lalu padanya. Terima kasih Nona Elena, Aku tidak tahu bagaimana cara membalas bantuanmu ini"
"Tidak perlu, Cukup bahagiakan Dia dan menjaganya dengan baik, itu sudah cukup untuk membalasku"
"Tentu saja, Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini"
"Bagus. Aku sudah menjalankan tugasku, selebihnya itu adalah bagianmu Tuan Davidson, semoga berhasil"
"Danke"
(Terima kasih)
"Gerne geschehen"
(Terima kasih kembali/Sama-sama)
Elena pun berlalu meninggalkan David menuju penerbangannya ke Macau..Aston, Rosie, Bibi Jean serta Angel sudah berada di sana.
"Leon, apa semuanya sudah siap?"
"Tentu Tuan, sebaiknya kita segera ke lokasi, sebelum Nyonya kebingungan dan mengamuk"
"Haha, Oke, let's go"
Leon pun mempersilahkan David untuk memasuki Mobil terlebih dahulu sementara disisi lain, Lily tidak menyadari bahwa tujuannya kali ini bukan ke bandara melainkan tempat lain.
Hampir satu jam perjalanan telah di tempuh Lily dan Stuart, Lily mulai celingukan karena kini mereka berhenti disebuah gedung yang bisa dikatakan sangat sepi. Tidak ada orang disana.
"Stuart, Kamu yakin tidak salah tempat?"
"Tentu saja Nyonya, mari ikut dengan Saya"
Stuar yang telah membukakan pintu mobil untuk Lily pun mengangguk hormat kemudian mempersilahkan wanita itu untuk turun, tapi Lily sepertinya ragu bahkan mungkin sedikit takut.
"Stuart, Kamu tidak sedang membohongiku kan?"
Lily bertanya dengan suara bergetar, wanita itu tampak melirik ke kanan dan ke kiri. Stuart tersenyum simpul, kemudian berkata,
"Nyonya bisa menghubungi Nona Elena njika ragu, Saya akan menunggu"
"Mm b-baiklah"
Lily pun tak membuang waktu dan langsung menghubungi Elena. Syukurlah wanita itu menjawab telepon dari Lily pada deringan pertama.
"Ele, kenapa Stuart yang kamu kirimkan untuk mengantarku ke bandara malah membawaku ke gedung yang sepi? Jangan membuatku takut Ele"
Suara Elena dari seberang terdengar serius dan bersungguh-sungguh. Membuat Lily terpaksa mengiyakan,
"Baiklah, Awas saja kalau Kamu membohongiku Ele"
"Ya, ya, Kamu bisa memukuliku sampai babak belut jika Aku berbuat tidak baik padamu"
Lily pun mematikan panggilannya dengan ekspresi muram. Lily kemudian mengalihkan pandangannya pada Stuart yang lagi-lagi menunduk hormat padanya. Kemudian Stuart mempersilahkan mLily untuk berjalan terlebih dahulu, sementara pria itu mensejajarkan diri berjalan di samping Lily.
Mereka berdua menaiki Lift yang lagi-lagi sunyi senyap tanpa ada seorangpun disini, Lily sangat tegang hingga saat lift berhenti wanita itu pun tersentak kaget.
"Mari Nyonya"
Blammm.... Drrrrrrrdddd...
Sebuah pintu besi raksasa yang besar dan lebar tiba-tiba terbuka perlahan dan Lily membola sempurna saat melihat pemandangan dihadapannya.
"David???"
Lily menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.
Ya Tuhan, Lily benar-benar sangat terkejut melihat Pira itu dengan sebuah Helikopter??? yang benar saja. Apa David akan mengajaknya shooting film?
David yang melihat pujaan hatinya itu terkejut, kemudian berjalan pelan menghampiri Lily yang sepertinya hampir pingsan.
"Surprise!"
Pria itu tersenyum sangat manis kemudian meraih jemari Lily dan membimbingnya menuju Helikopter yang akan mengantarkan mereka ke Macau.
"David... Ini..."
"We will ride it, Baby..."
"We??? Maksudmu Kita?"
"Yes, of course"
"Oh My Godness..."
Lily menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang benar-benar bermaraton ria.
"Naiklah, Aku akan memamerkan kemampuanku mengendarai benda ini"
"Jangan bercanda David"
"Jangan meragukanku Nona"
David pun mengangkat tubuh Lily hingga terduduk di kursi penumpang helikopter itu. Lily yang tadinya memekik kaget akhirnya tertawa kecil saat menyadari apa yang akan dilakukan mereka berdua?
"Ya Allah, ini beneran Aku naik helikopter? Ya Ampuuun"
David hanya tersenyum menyaksikan wajah lucu Lily yang tengah panik dan bingung sekaligus bahagia, David tahu Lily belum.pernah merasakan hal seperti ini, dan Dia senang menjadi yang pertama memberikan pengalaman ini untuk wanita itu.
"Pakai sabuk pengamannya"
Davin mencondongkan tubuhnya kearah Lily hingga jarak diantara menjadi sangat dekat.
Deg...
Keduanya saling menatap, Namun sejurus kemudian David tersenyum dan berkata,
"Du bist wunderschön"
(Kamu sangat cantik)
"Apa?"
Lily yang tidak paham bahasa yang digunakan David hanya bisa mengernyit bingung.
"Tidak Apa-apa, Are you ready?"
"Y... yups, I think"
"Oke, Let's Go. Enjoy Our TRIPS, Sweetie"
Davidpun mulai menyalakan berbagai tombol yang Lily sendiri tidak mengerti, kemudian benda dengan baling-baling raksasa itu mulai berbunyi dengan keras dan perlahan meninggalkan pijakannya dari landasan pacu itu....
"Ya Allah... Bismillahirrahmanirrahim"
Lily memejamkan matanya erat-erat, kemudian perlahan membukanya saat Laju kendaraan itu mulai tenang dan terasa nyaman.
"Sangat indah...."
wanita itu bergumam pelan saat melihat pemandangan yang ada di bawahnya,
"Do you like it?"
"Hemm... Thank you, David"
"Sama-sama"
Keduanya saling berpandangan, Bahkan langit di awan tahu bahwa tatapan mereka masih syarat akan cinta dan kasih yang menyambut satu sama lain.
Hanya saja keyakinan untuk melangkah lebih jauh tentu saja menjadi pertimbangan yang penting bagi seorang Lily....