My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Kembalilah Bersamanya



David terbangun, matanya menyapu setiap jengkal tempat yang kini ada di hadapannya.


Semuanya serba putih dan sangat terang.


Pria itu diserang rasa penasaran. Ia kemudian melangkahkan kakinya menyusuri ruangan yang nampak tak berbatas itu.


Pikirannya bertanya-tanya, dimanakah ini?


Pri itu terus berjalan hingga nampak siluet tubuh seseorang dari kejauhan. David pun mempercepat langkahnya menghampiri orang itu.


Seorang laki-laki?


Tapi David tidak melihat jelas wajahnya, dilihat dari ujung rambut hingga ujung kaki David sepertinya sangat asing dengan orang ini.


David mengerucutkan keningnya.


Siapa?


Dia sungguh tidak mengenalnya.


"Nak....."


Pria itu memanggilnya? David berjalan mendekat.


David tidak tahu bahasa apa yang laki-laki itu gunakan, tapi anehnya, Dia memahaminya.


"Anda siapa?"


Pria paruh baya dengan wajah teduh itu tersenyum. Kemudian meraih tangan David, membuat David terkejut tapi Dia menuruti langkah kaki pria yang kini mengajaknya berjalan entah kemana.


Sampai mereka sepertinya tiba di suatu tempat. Tidak lebih tepatnya itu pintu besar, pintu raksasa berwana keemasan.


Pria itu kemudian menarik David menuju pintu itu, dari depan pintu, David menatap takjub pemandangan indah di hadapannya, hingga tanpa sadar kakinya ingin melangkah masuk ke dalam tempat yang indah itu.


Namun Pria paruh baya tadi mencekal langkahnya.


David seketika menoleh ke arah Pria itu.


"Nak .. Kamu lihat disana"


Pria itu menunjuk ke dalam tempat indah itu, tepatnya ada seorang anak laki-laki kecil yang sangat imut dan tampan, melihat senyum cerianya David ikut tersenyum.


"Dia adalah putramu" lanjut pria paruh baya itu membuat David terkejut dan membuka matanya lebar-lebar, Putraku?


David seketika hendak berlari menuju ke arah anak laki-laki itu namun lagi-lagi, Pria paruh baya yang tak dikenalinya itu menghalangi langkahnya.


"Kamu yakin ingin kesana?"


David mengangguk mantap, Dia terus memperhatikan anak itu, Dia anak yang pernah dia sia-siakan, anak yang tak berdosa namun harus menjadi korban keegoisan keluarganya.


Mata David berkaca-kaca,


"David, David, David..."


Suara familiar itu seketika membuat David yang tengah fokus melihat Anak laki-laki itu menoleh ke sumber suara.


David memicingkan matanya karena pandangannya menjadi buram hingga sosok dari kejauhan tidak terlihat jelas.


David terus memperhatikan sampai bayangan tubuh seseorang itu nampak jelas,


"David..."


"Dia mencariku?" David bertanya pada Pria paruh baya di sampingnya itu.


"Iya, lihatlah dengan jelas..."


David terus memperhatikan sosok itu semakin dekat, bayangannya semakin lama semakin jelas...


"Honey???" David berseru dengan semangat.


Lily menoleh ke arahnya, tapi tidak mendekat. Lily tetap tersenyum dan berdiri disana. David bingung kenapa Lily tidak menghampirinya?


Lily melambai-lambaikan tangannya, kemudian membuka lebar keduanya seolah meminta David memeluknya.


David tersenyum bahagia, Namun wajah pria itu kembali murung, Dia menoleh ke arah tempat yang indah itu, melihat putranya yang kini juga menatapnya.


David kebingungan. Dia ingin menemani putranya, tapi... bagaimana dengan Lily?


Melihat kebingungan David pria paruh baya itu tersenyum lembut, kemudian menepuk pelan bahu David.


"Kembalilah bersamanya"


Pria itu menunjuk ke arah Lily, kemudian melanjutkan,


"Anak itu, Aku yang akan menemaninya, Dia juga adalah cucuku"


David semakin mengernyit bingung,


"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, Kembalilah, Kembalilah bersamanya nak"


David mengikuti kemana arah pria paruh baya itu menunjuk, namun David sungguh ragu.


Dia sudah membuat Lily terjebak dalam banyak penderitaan, Wanita itu tidak bahagia bersamanya. David merasa sangat sedih. Dia tidak mampu membahagiakan Lily, Dia telah menyakiti wanita itu begitu dalam. Bahkan sampai kehilangan putra mereka. Itu adalah karenanya, karena kesalahannya.


David menunduk. kemudian berkata 'Aku tidak pantas bersamanya, Dia tidak bahagia"


Pria paruh baya itu menjawab,


"Mungkin saja" jawab David meskipun hatinya terasa sakit.


"Kalau begitu keputusan ada di tanganmu nak, Kamu ingin kembali atau ikut bersamaku kesana?"


"Aku...."


David menunduk lagi,


"David...."


Lily kembali memanggil, wajahnya sangat lembut dan sendu, membuat David ingin sekali memeluknya.


David ingin melangkah ke arah Lily, namun kemudian Dia melihat ke arah putranya juga.


Kenapa harus salah satu? kenapa tidak bisa memilih keduanya??


"David ... David....."


"Lily"


"Mommy?"


Alice dan Marry memanggil secara bersamaan saat melihat Lily mulai siuman, Syukurlah. Batin mereka.


Lily sudah pingsan lebih dari 3 jam yang lalu dan belum siuman sampai sekarang. Membuat Alice, Marry serta James dan juga Leon ikut khawatir.


Lily perlahan membuka matanya, wajahnya yang pucat tampak semakin kurus dan memprihatinkan.


Alice benar-benar lega, akhirnya Lily siuman. Tadinya gadis itu sudah sangat ketakutan, Daddy-nya masih belum sadar, sekarang Mommy-nya pun jatuh sakit.


Gadis kecil itu mulai terisak, mengingat kedua orangtuanya sama-sama menderita saat ini.


"Alice"


Suara serak itu mencuri Atensi Alice. Gadis kecil itu kemudian menghampiri Lily.


"Mom...."


"Sayang... bagaimana keadaan Daddy?"


"Daddy baik-baik saja Mom"


"Apa Daddy-mu sudah sadar?"


Lily bertanya penuh harap. Namun Alicia malah menunduk begitu juga Marry.


Lily mengerti, kemudian wanita itu tersenyum dan hendak mendudukkan tubuhnya.


Marry dengan cepat membantu Lily.


"Aku akan menemani David lagi"


Lily tersenyum ke arah Marry. Sementara Marry menggeleng cepat.


"Tidak, Kamu harus istirahat. Kamu mengalami radang usus buntu, Dokter menyarankan agar kamu di operasi"


Lily pun menggelengkan kepalanya. Kemudian menjawab,


"Tidak, Aku tidak mau Marry, Aku ingin menemani David, Aku mohon"


Alice segera memeluk tubuh lemah Mommy-nya itu, sementara Marry yang melihat mata Lily sudah berkaca-kaca akhirnya tidak tega pada wanita itu.


Diapun berkata,


"Baiklah, Aku harus izin dulu pada Dokter apakah kamu boleh menemani David atau tidak"


"Tidak perlu, Dokter pasti tidak akan mengizinkan, Aku mohon Marry, biarkan Aku menemani David, Aku yakin Dia akan segera sadar, Aku... mohon"


Lily sampai menyatukan keduanya tangannya agar Marry bersedia menurutinya.


Marry yang bingung kemudian menoleh ke arah James dan Leon, ke-dua laki-laki itu hanya memejamkan matanya, Marry pun mengerti.


"Baiklah, tapi berjanjilah kalau Kamu merasa sakit atau apapun, Kamu harus memberitahuku atau Alice, Okay?"


Lily mengangguk cepat dan mengucapkan terima kasih pada Marry.


Marry dan Alice pun memapah Lily untuk duduk di kursi roda dan kembali ke ruang perawatan David.


Sesampainya di ruang rawat mantan suaminya itu, Lily tersenyum senang. Dia ingin sekali ada disaat pria yang sangat di cintainya itu membuka mata.


Lily ingin David melihat bahwa Dia masih sangat mencintainya dan tidak akan meninggalkan David dalam keadaan apapun.


Lily meraih jemari David yang tampak lebih kurus sekarang. Lily menggenggamnya dengan erat. Meskipun saat ini wanita itu tengah merasa nyeri yang hebat di perutnya namun Lily tidak mengindahkannya, Dia tetap mendampingi David. Lily menyandarkan kepalanya di sisi ranjang yang kosong.


Kepalanya yang berdenyut dan suhu tubuhnya yang memanas membuatnya ingin berbaring.


"Dave... Bangunlah, Aku disini. Aku akan selalu disini untuk menemanimu, sampai kamu kembali membuka mata, kembalilah pada kami..."


Lily perlahan memejamkan matanya, genggamannya pada jemari David mulai melemah karena suhu tubuhnya yang semakin panas diiringi dengan radang usus buntunya yang seharusnya segera di obati membuat tubuh Lily menjadi lemas.


Saat Lily sayup-sayup mulai kehilangan kesadarannya, wanita itu merasa tiba-tiba jemarinya di genggam erat oleh seseorang, Lily masih bisa melihat jika yang menggenggam jemarinya itu adalah.... David.


"Honey...."


Bersambung....