
Lily baru saja menjatuhkan bokongnya di kursi penumpang bussines class Pesawat Garuda Indonesia untuk penerbangan ke Hongkong pagi ini, Lily sengaja memilih penerbangan pagi di hari Minggu karena Fany yang akan menjemputnya di Bandara nanti.
Lily sangat menikmati perjalanannya kali ini, jika dulu Ia menuju Hongkong dengan perasaan berdebar karena menerka-nerka apakah bosnya akan baik padanya atau tidak, kali ini Lily begitu santai karena tujuannya hanya untuk membahas kerjasama dan selebihnya Ia akan liburan saja.
Wanita cantik itu mulai mengantuk dan akhirnya tertidur meresapi indahnya perjalanan ini hingga 5 jam kedepan.
#
#
Hongkong International Airport, Chek Lap Kok, New territories.
Lily berjalan menyusuri koridor bandara dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya. Perasaannya bisa dikatakan sangat bahagia, apalagi sebentar lagi Ia akan bertemu dengan sahabat yang sangat di rindukannya.
Fany mungkin tak terlalu terkejut dengan kenyataan bahwa Lily masih hidup, tentu James sudah menceritakannya, mungkin. Karena waktu itu mereka sempat bertemu sebelum proses kremasi jenazah mending Nyonya Charlotte.
Lily terus berjalan hingga akhirnya sampai di Lobby bandara internasional Hongkong, Lily menoleh kesana-kemari mencari sosok sahabatnya, Fany.
"Dorrrr!!!!"
Lily terpekik kaget mendengar seruan keras tepat di telinganya.
"Astaghfirullah Fany ... Ya Ampuuun"
"Aaaaaauwwww akhirnya kita ketemu lagiii"
"Heummmmm kangennnn"
Merekapun saling berpelukan erat hingga berputar-putar seperti anak kecil.
" Ya udah yok, udah sore nih, laper juga Aku"
"Kasiaan... Ya udah nanti Aku traktir makan okay?"
"Harus dong, secara udah jadi bos sekarang"
"Hehehe Aamiin, Ngomong-ngomong gimana kamu sama James?"
"Aku ceritain nanti deh ya, sekarang Kita otewe dulu"
"Oke, Kemana nih?"
"Causewaybay aja sekalian booking hotel buat kamu"
"Oke"
Merekapun berjalan bergandengan keluar dari bandara kemudian menaiki taxi menuju Causewaybay.
Ditengah perjalanan, Fany kemudian bertanya,
"Kamu di sini sampe kapan Li?"
#
#
"Hanya tiga hari, atau paling lama satu Minggu, waktu peluncuran mobil itu tinggal menghitung hari, Aku harus segera membereskan segala sesuatunya yang tersisa agar tidak menjadi kendala nantinya"
David yang baru saja mendarat dari New York terlihat terburu-buru berjalan menuju mobil Porsche Panamera turbo yang menjemputnya, sementara di belakangnya 2 orang bodyguard dengan sigap membantu David menyeret kopernya yang nampaknya sama sekali tak berisi, sambil sesekali mengawasi keadaan disekitar bosnya.
Yups, David saat ini berada di Hongkong. Ingat sebelum Charlotte meninggal? David dan Aston telah menjalin kerjasama dalam sebuah produksi mobil sport terbaru sekelas Ferrari dan juga Lamborghini yang pusat produksinya berada di Macau?
Meskipun tempat produksinya ada di Macau namun pusat perusahaan David adalah di Hongkong, karena di negara itulah David mendirikan perusahaan miliknya dari 0, tentu saja Dia juga akan ke Macau setelah dari Hongkong ini untuk melakukan pengawasan singkat, setelahnya Ia harus kembali ke Amerika karena masih banyak urusan yang harus Ia selesaikan di Perusahaan milik Ayahnya, Arthur Crambhell yang hampir pailit karena kasus penggelapan dana.
"Selamat datang Tuan"
"Hai Leon, How are you?"
"I'm good, Thanks Mr. Davidson"
" Hehe berhentilah bersikap terlalu formal padaku"
"Baik Tuan, Ngomong-ngomong Nona Alice tidak ikut?"
"Tidak, Dia sedang menikmati liburan musim panas dengan teman-teman di sekolah barunya"
"Hmn kedengarannya bagus, Nona Alicia cepat beradaptasi di sana"
"Ya, Kau benar, Aku jadi tidak perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya"
Leon pun mengangguk mendengar jawaban dari atasannya itu, Pria itu kemudian menilik arloji di tangannya,
"Tuan, waktu makan siang sudah terlewat, apa Anda ingin makan sesuatu terlebih dahulu sebelum ke apartemen?"
"Boleh, kebetulan Aku belum makan apapun, dan sedikit lapar"
Ucap David seraya tersenyum membuat Leon ikut tersenyum. Sepertinya suasana hati bosnya sedang baik. itu bagus, daripada sebaliknya dan bisa dipastikan akan membuat dirinya serta seluruh staff kantor kerepotan karena akan selalu kena semprot.
Leon pun mengatur makan siang mereka di sebuah restauran mewah di kawasan Causewaybay, karena apartemen bosnya ada disana, maksud hatinya adalah agar jaraknya nanti untuk menuju Apartemen setelah makan siang yang terlambat ini tidak terlalu jauh.
#
"Wah... Asli Kamu sekarang uwaw banget Li"
"Mosok? hehehe Baisa aja Fan, lagian ini juga ga sepenuhnya karena usaha Aku. seperti yang Aku ceritain tadi, Aston yang bantuin Aku makanya bisa dapat kontak supplier brand-brand ternama itu"
"Gila, Kamu emang ajib banget, bule-bule tajir pada nemplok sama kamu Li, keren keren keren"
Fany ikut terkekeh kecil, kemudian melanjutkan rasa penasarannya dan kembali bertanya,
"Asli, Aku tuh penasaran banget sama yang namanya Aston itu, ganteng ngga? hmn?"
"Idiih kepo, udah ngga usah kepo, udah ada James juga"
"Au Ah, James sama Aku tuh ya cuma gitu, simbiosis mutualisme, Dia.... cintanya sama Marry"
Meskipun Fany berusaha tersenyum selebar mungkin, Lily bisa melihat jika sebenarnya Fany tengah terluka, seperti dirinya dulu, sangat mudah bagi wanita kurang pengalaman seperti mereka untuk jatuh cinta jika diperlakukan dengan lembut dan tulus. Itu sebabnya dia bisa jatuh cinta kepada David, tapi... kenapa tidak berlaku pada Aston? padahal jelas Aston jauh lebih berkorban daripada David.
Malah jika di ingat-ingat lagi sebenarnya Ia dan David menikah karena sebuah *ac***cident**.
"Terus kenapa Kamu ngga berhenti aja Fan, Kamu akan semakin tersakiti"
" Aku ngga tersakiti kok, biasa aja"
"Bohong... Aku tahu perasaan kamu. Mata kamu yang berbicara Fan"
Fany membuang wajahnya untuk menghindari tatapan Lily. Karena tak ingin merusak momen bahagia ini, Fany pun mencoba mengalihkan pembicaraan mereka tentang James.
"Udah dong, Kita kan ketemu buat senang-senang, kenapa malah membahas hal yang menyedihkan sih?"
Lily menghela nafas dan tersenyum, Dia tidak mau memaksa Fany agar mau bercerita dengannya. Jika sudah siap Fany pasti akan terbuka sendiri nantinya.
"Ya udah kita nikmatin makanannya dulu mumpung masih hangat, nanti lanjut cerita lagi sampai malam"
"Oke, Anyway, Aku nginep di hotel kamu yah, kan Aku udah minta ijin 2 hari sampai Senin besok"
"Siap gerak!!!! nanti kita ghibah sampai pagi"
"Hahahah, oke shayyyy"
Mereka pun menyantap makan siang yang terlambat itu dengan riang. Terlihat sangat bahagia dengan canda tawa.
#
#
Britania Raya, United Kingdom
Aston menatap layar gawainya seraya tersenyum bahagia. Besok Ia juga akan menyusul Lily ke Hongkong.
Haahhh betapa Aston sangat merindukannya. Senyumannya, tawanya, dan semua yang ada pada diri Lily. Tidak apa jika Lily masih belum menerimanya, tapi Aston tidak akan menyerah. Hanya Lily satu-satunya wanita yang berhasil membuka hatinya setelah kepergian sang kekasih secara misterius, tanpa kabar berita meninggalkan dirinya begitu saja.
Senyum di bibir Aton seketika meredup, mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu, Rosie, mantan kekasihnya tiba-tiba kembali lagi dalam hidupnya dengan sebuah kejutan yang... menyakitkan.
Jujur saja Aston sudah tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu, karena kekecewaannya sudah terlalu besar. Kenapa setelah menghilang selama 7 tahun tiba-tiba dia datang kembali? dan mengatakan bahwa Aston adalah ayah biologis dari anaknya. Mustahil. Jika saat itu wanita itu hamil, kenapa tidak mengatakannya? tentu saja dengan senang hati Aston akan menikahinya karena pada saat itu Ia sangat mencintai wanita itu.
"Rosie, Rosie, Rosie Kenapa Kau lakukan ini padaku? pergi dan datang sesuka hatimu, Kau pikir aku ini apa????!!!"
Crakkkk!!!!! Aston melempar gelas yang ada di genggamannya. Hatinya gundah dan bingung, ingin sekali Ia menolak anak itu tapi, kenapa wajah anak perempuan itu sangat mirip dengannya???
Sungguh! Dia sudah tidak mencintai wanita itu, bagaimana mungkin Ia akan menikahinya?
Saat ini di hatinya hanya ada satu nama, yaitu Lily!
Tapi jika Lily mengetahui tentang fakta ini, Aston yakin Lily pasti akan menjauh darinya.
Atau.... Aston harus melakukan sesuatu yang lain agar Lily mau tidak mau harus menikah dengannya?
'Tidak, tidak, tidak. Aku tidak ingin menyakiti Lily, tapi... bagaimana jika Lily mengetahui tentang anak itu?'
Batin Aston mengeluh.
Pria itu memijat dahinya yang terasa pening. Meskipun ragu tapi Aston sedikit mengakui jika mungkin saja anak yang di bawa Rosie memang adalah anaknya. Mereka sering melakukan olahraga ranjang selama menjalin kasih meskipun Aston sepertinya tak pernah melupakan pengaman, tapi bisa saja saat itu dia lalai kan?
Wajah anak perempuan berusia 6 tahun itu terus muncul dalam pikirannya, kemudian wajah Lily, bayangan kedua orang itu menari-nari dihadapannya seperti sedang mempermainkan dirinya.
"Arrrrgggh!!!!!! Kenapa??? Kenapa semuanya jadi begini Tuhan!!!!!"
Brak brak brak, suara pintu di gedor dengan keras.
"Aston!!! Aston apa yang Kamu lakukan nak? buka pintunya"
Itu adalah suara ibunda Aston, Jean Claude Robinson. Wanita itu panik luar biasa mendengar teriakan disertai suara bising di ruang kerja anak semata wayangnya itu.
Jean mengetahui apa yang sedang menimpa asmara putranya, terutama soal Rosie. Apakah Jean harus jujur jika dialah yang menyuruh Rosie untuk menjauhi Aston?
"Oh God, Aston buka pintunya Nak, Mommy mohon, Jika tidak Kamu akan melihat mayat Mommy, As..."
Ceklek , Akhirnya Aston membuka pintunya.
"Thank, God!"
Wanita itu mengucap Syukur.
"Masuklah Mom"
Aston dengan lesu mempersilahkan ibundanya untuk masuk.
Wanita itupun mengangguk kemudian segera menyusul putranya, masuk ke dalam ruang kerja itu.
Yah, ini saatnya Jean menceritakan kejujurannya pada putranya itu. Aston harus menikahi Rosie, demi putri mereka yang berarti adalah cucunya juga. Toh, Lily juga sudah menolak Aston bukan? lalu untuk apa Aston menunggu wanita cantik yang sebenarnya juga sangat diidamkan Jean menjadi menantunya itu?
Perasaan tak bisa di paksa, Jean juga harus menebus kesalahannya pada Rosie. Meskipun alasannya sangat kuat, tapi Dia tetap bersalah hingga menyebabkan cucu yang baru diketahuinya itu hidup selama 6 tahun tanpa kasih sayang seorang ayah...
Bersambung...