My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Mimpi Buruk



"Terima kasih, El"


Ucap Lily setelah sampai di pintu kamar Apartemennya.


"Hmn, Istirahatlah, Besok Aku akan menjemputmu" sahut Aston seraya mengacak rambut Lily dengan lembut.


"Oke, Kamu juga, pulang dan istirahatlah"


"Oke. sampai jumpa besok"


'Hmn, Bye! hati-hati di perjalanan"


"Bye"


Aston pun berlalu dari sana sementara Lily masuk ke dalam Apartemennya dengan langkah gontai.


Pertemuannya dengan David membuat perasaannya kembali kacau.


"Huuuuft" Lily membuang nafas lelah. Wanita itu sampai di kamarnya sudah hampir dini hari. Mungkin karena kelelahan tubuh dan batinnya, dengan mudah terlelap,


Dalam tidurnya Lily berjalan menyusuri sebuah taman, taman itu sangat indah tapi kenapa dari kejauhan seperti ada.... Asap?


Lily setengah berlari menuju ke arah sumber kepulan asap itu kemudian terdengar suara teriakan.


Ada sebuah Mobil tersangkut di pepohonan dan nyaris terjatuh


"Nyonya! keluarlah!"


"Tidak Max! Aku tidak mau!"


"Jangan keras kepala Nak. Jangan pikirkan pak tua ini. Kau harus hiduppp!!!!"


Dan entah apa yang pria itu lakukan tiba-tiba pintu disamping Lily terbuka dan Max dengan cepat bergerak ke belakang mendorong tubuh mungil Lily yang sudah terlepas dari sabuk pengaman.


Srakkkk!!!


"Maaxxxx" Tubuh Lily terlempar keluar sementara mobil beserta Max yang ada di dalamnya terjungkal berkali-kali hingga ke dasar jurang dan.. meledak!


"Akkkhhhhhh Maxx.... Akhhhh huhuhu" Lily terlempar dari ketinggian dan jatuh di bebatuan. Wanita itu mengerang hebat merasakan cairan hangat mengalir dari pangkal pahanya disertai rasa sakit yang hebat.


"Jangan nak, jangan pergi.. Ibu mohon jangan tinggalkan Ibu huhuhuhuuu" Lily menangis diantara rasa sakitnya, saat tidak merasakan apapun lagi dari bayinya. Tidak Ya Allah, jangan ambil bayinya.


"Jangan pergi seperti ini nak, Kamu harus hidup. kita harus hidup dan bersama. bertahanlah!! huhuhuhuuu jangan. jangan"


Lily terus terisak hingga suaranya terdengar melemah, pendarahan hebat dan luka di sekujur tubuhnya membuat wanita itu hampir kehilangan kesadarannya karena menahan sakit yang luar biasa. Lily berusaha bergerak sebisa mungkin, berusaha mencari pertolongan untuknya dan Bayinya.


Lily mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk merangkak dari Pinggir jurang yang curam itu, nafasnya sudah tersengal-sengal, kepalanya berdenyut hebat, ditambah nyeri yang teramat sangat di perutnya membuat wanita itu bergerak dengan gemetaran.


"ttttooolong.. ttttolong" Bibirnya berusaha meneriakkan suara dengan keras namun yang keluar hanya suara rintihan yang menyedihkan.


Lily menyerah. Dia tidak mampu lagi bergerak. dalam hatinya merapalkan do'a dan dzikir semampunya.


'Yaa Allah jika memang ini Akhir hidupku, semoga Engkau mengampuniku. Semoga Engkau menjaga Ibu dan Adikku, serta... suamiku David"


Matanya mulai terpejam, cahaya yang ia lihat mulai menggelap, hingga sekelebat bayangan seseorang seakan berlari menghampirinya.


'Mungkin Dialah malaikat maut' Lily malah memejamkan matanya. Seolah sudah sangat siap menjemput kematiannya.


Dan srap... semua nya menjadi gelap.


Lily mencium aroma obat-obatan yang kuat, wanita itu mendesah pelan, Ia mencoba membuka matanya perlahan hingga terbuka sempurna, Yang pertama kali dilihatnya adalah pria yang tampan seperti di cerita-cerita Novel. Aahh Ya Lily ingat, dia sudah mati, syukurlah jika ada pria tampan berarti dia masuk surga, karena ada bidadara, Alhamdulillah. Ternyata Allah Maha Baik tidak melemparkan hamba-Nya yang penuh dosa ini ke neraka.


"Kamu sudah sadar??"Tanya pria tampan itu.


Lily tersenyum. Bidadaranya bisa bicara.


Dokter? apa di akhirat juga ada dokter?


Lily yang baru tersadar dari komanya masih belum sepenuhnya mampu berfikir. Wanita itu sontak mengedarkan pandangannya. Gorden berwarna putih dan ruangan ini semuanya putih ada meja, ada buah-buahan. Apa ini Rumah sakit?


Lily seketika bangkit untuk mendudukkan tubuhnya di ranjang putih itu.


"Akhhh" Lily merasa semua bagian tubuhnya sakit dan linu secara bersamaan.


Apa ini artinya Dia.. masih hidup?


Belum terjawab pertanyaannya, pria tampan barusan tiba-tiba muncul bersama seorang dokter dan juga seorang perawat.


"Nyonya, Bagaimana keadaan Anda? apa yang Anda rasakan?"


Pria itu berbicara dengan bahasa Inggris, Lily sedikit paham maksudnya dan bertanya,


"Saya di mana?


"Kamu di Rumah Sakit?" Kali ini bukan Dokter yang menjawabnya, melainkan pria tampan itu.


"Rumah sakit?"


"Yes, Kamu sudah koma selama hampir 2 bulan, Saya yang menemukanmu di tengah hutan, tepatnya di pinggir jurang di negara Hongkong. Kamu terluka parah jadi setelah membawamu ke rumah sakit darurat, Saya membawamu ke sini, Karena saya berasal dari sini"


"Memangnya ini dimana?"


"Britania raya, Inggris "


Lily sangat terkejut karena dia terdampar jauh sekali, Inggris? Ya Allah....


wanita yang kini mengernyit bingung itu tiba-tiba memucat, ingatannya kembali pada kejadian itu. Max jatuh ke jurang dan... bayinya???


Lily meraba-raba perutnya ya g kini sudah rata. Ia menoleh ke arah 3 orang Yanga da di hadapannya secara bergantian.


"Bayi Saya? dimana bayi saya???" Tanya wanita itu dengan mata memerah. Bayinya masih hidup kan? Dia tertolong berarti bayinya juga selamat bukan?


"Maaf Nona, Bayi Anda sudah meninggal saat pertama kali Saya membawamu ke rumah sakit. Janin itu sudah tidak bernyawa dalam kandunganmu karena kamu terluka sangat parah"


"Tidak, tidak mungkin.. Anakku, Anakku yang malang, maafkan Ibu nak... Anakku! Anakku!"


Lily menjatuhkan Tubuhnya terbarin di ranjang dan menangis pilu. membuat dokter dan juga pria tampan yang tak lain adalah Aston juga merasakan kepedihannya. Kehilangan seorang anak, apalagi dengan cara seperti itu pasti Lily sangat terluka.


#


"Anakku... Bayiku.. jangan pergi nak" Lily bergumam dengan mata terpejam...


"Bayiku...!" Wanita itu tampak terkejut dan membuka matanya. Dia kembali bermimpi buruk dan mimpi yang sama. Mimpi tentang kecelakaan yang merenggut nyawa bayinya dan juga.. Max.


Lily kembaki menangis, Ia tahu menangis tidak akan membuat Max ataupun bayinya hidup kembali, tapi paling tidak Lily bisa meluapkan kesediaannya yang selalu ia tanggung sendiri. Ia tak ingin membaginya pada siapapun sekalipun itu Aston mauounibu dan Adiknya.


Seketika Lily juga teringat akan pertemuannya dengan David. Kemarahan dan kekecewaan wanita itu kembali mencuat.


Bagaimana bisa David dengan tidak tahu malunya masih mengakui dirinya sebagai istri? setelah apa yang dia katakan?


Katakanlah, kecelakaan itu memang bukan perbuatan David. Tapi jika saja saat itu, David mempercayainya dan bisa melindunginya seperti janji pria itu padanya. Semua ini mungkin tidak akan terjadi, Bayinya mungkin masih hidup dan sekarang sedang lucu-lucunya berusia 4 tahun, begitu juga dengan Max, Pria paruh baya itu juga mungki masih Mengantar-jemput Lily setiap hari seperti biasanya.


"Katakan David, katakan dengan alasan apa Kau harus memaafkanmu? Kamu bahkan tidak mempercayai darah dagingmu sendiri?" Lily bermonolog, bertanya.pada seseorang yang tak ada di hadapannya, Tapi Lily juga membenci dirinya sendiri. Benci karena nyatanya, perasaan terhadap pria yang sudah sangat menyakitinya itu masih tertanam kuat di hatinya.


"Apa aku harus mempercepat pertunanganku dengan Aston? agar David menjauhiku dan mau menceraikan Aku?


Lily tiba-tiba terbersit ide gila itu. Tapi lagi-lagi hatinya merasa berat. berat untuk melupakan seorang Emiliano Davidson.


Bersambung