My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Cinta Itu Sudah Mati



David menatap gedung Apartemen mewah yang menjulang tinggi dihadapannya.


David berhasil menemukan tempat tinggal Lily selama di Macau ini, tentu saja berikan asisten abadinya ya g selalu bisa diandalkan, Leon.


Tidak hanya Alamat tempat tinggal, Leon bahkan berhasil mendapatkan nomor handphone Lily, yang kini tengah dipandangi oleh David di layar gawainya dengan nama 'My Soul'.


Sedikit ragu, David menghubungi nomor itu dan.... tersambung. Jangan tanyakan jantungnya yang kini jedag-jedug ria seperti genderang mau perang.


"Halo.... siapa?"


Deg!


For God sake, David benar-benar merindukan suara itu. Suara lembut yang menghiasi setiap pagi dan malamnya dulu. Suara manis yang selalu membuatnya tertantang untuk mengalunkan ******* indah seperti lulabi yang merdu saat berada di bawah kungkungannya.


"Halo...."


Lily mengerucutkan bibirnya sebal.


'Siapa sih malam-malam begini nelpon ngga jelas?'


batinnya menggerutu.


"Halo, Ini siapa?" Lily kembali mengulangi pertanyaannya. Mendengar tidak ada sahutan dari 'si penelepon' Lily hendak mematikan panggilan itu.


"Halo"


Terdengar suara yang sangat tidak asing di pendengaran Lily. Suara Dari seseorang yang Ia benci tapi dengan bodohnya juga wanita itu.... rindukan.


'David?' Batin Lily menyebutkan namanya.


"Kamu..."


"Ya, Honey . Ini Aku, Dave".


Jawab Dave dengan suara berat dan dalam membuat Lily rasanya ingin menangis. Darimana David mengetahui nomor ponselnya?


Tapi, mengingat bahwa David masih bersama dengan Leon, maka Lily pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Bisakah kita bicara?"


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan"


Jawab Lily dengan ketus. Dia sama sekali tidak ingin bicara dengan David. Lagipula apa yang harus dibicarakan? Semuanya sudah jelas sejak awal. Hubungannya dengan Pria itu sudah berakhir. Lily tidak mau berurusan dengan David lagi kecuali tentang kerjasama perusahaan dan... Alice tentunya.


Selain dua hal itu, Lily merasa sudah tidak ada lagi urusan dengan David.


"Aku mohon, sekali saja beri aku kesempatan untukku menjelaskan semuanya?"


"Apa yang ingin Anda jelaskan, Tuan Davidson. apa yang terjadi diantara kita semuanya sudah jelas, dan Aku sama sekali tidak ingin membahasnya"


Ucap Lily dengan telak, membuat yang ada di seberang telepon terdengar menghela nafas berat.


"Setidaknya, izinkan Aku menyampaikan permintaan maafku"


Baru saja Lily ingin memarahi Pria yang keras kepala itu, David menambahkan,


'Aku di luar kamar Apartemenmu"


Lily "....."


What the hell! David benar-benar membuat Lily kehabisan kata-kata, baru saja dikejutkan dengan kenyataan bahwa David mengetahui nomor ponselnya, sekarang Pria itu sudah didepan kamarnya?


"Pergilah, Aku tidak akan membukakan pintu"


"Kalau begitu Aku akan berteriak sampai seluruh penghuni Apartemen ini keluar"


Apa??


Apa David... Gila??


Tiba-tiba Lily merasa kepalanya mendidih hingga rasanya ingin mencekik seseorang. Ya Allah bagaimana bisa ada orang sekeras David. Lily dengan langkah kesal menghampiri pintu dan..


"Apa yang Kau..." Lily menghentikan kata-katanya saat melihat tak ada siapapun disana.


'David membohongiku?' Batin Lily mencelos. Dia merasa aneh sendiri, bukankan baru saja Lily merasa sangat kesal? tapi kenapa saat mengetahui kenyataan David tak ada di depan pintu apartemennya, Dia malah merasa.... kecewa?


"Apa kamu sedang kecewa karena Aku tak ada, Honey?" Suara serak David terdengar dari belakang tubuh Lily. Wanita itu sontak menoleh. tubuhnya mematung karena syock melihat wajah tampan pria yang masih berstatus suaminya itu mulai mendekat.


"Hmn?" Gumam David yang kini tepat berada di hadapan Lily hampir tanpa jarak.


Lily tak bersuara sedikitpun. semua kata-kata umpatan dan makian yang sudah ingin iya lontarkan seperti tersangkut di tenggorokannya.


David tersenyum kemudian berjalan melewati Lily dan melenggang masuk kedalam Apartemen itu.



David melangkah ke ruang tamu yang cukup mengesankan, design monochrome dengan warna pastel membuat ruangan itu tampak sangat nyaman sekaligus elegan.


Tiba-tiba hatinya berdesir nyeri, mengingat kini Lily nya sudah banyak berubah, menjadi wanita mandiri yang sukses. Meskipun David tahu itu tidak lepas dari bantuan Aston. Justru kenyataan bahwa Aston yang membantu Lily sampai menjadi seperti sekarang ini membuat David lebih menyesal.


"Cepat bicaralah, Aku tidak punya banyak waktu"


Suara ketus itu menyadarkan David dari lamunannya.


Pria itu kemudian mengalihkan perhatiannya pada sumber suara itu, Lily.


Melihat David hanya diam saja sambil menatapnya lekat, Lily menjadi sedikit salah tingkah. Wanita itu, hanya penampilan dan gaya nya saja yang berubah, tapi perilaku dan sifatnya sama sekali tidak, masih pemalu seperti dulu.


"Masih sama" Bibir pria itu melengkung keatas, menerbitkan senyum manis yang mampu menghipnotis Lily.


"Tidak ada yang sama lagi Tuan Davidson, semuanya sudah berubah. Jika Anda datang hanya untuk berbicara omong kosong, maka pergilah"


Lily berbicara dengan suara bergetar. Entahlah, tapi berdua saja dalam satu ruangan bersama David membuatnya sedikit cemas.


Wanita itu kemudian melanjutkan,


"Lagipula, tidak baik menemui seorang wanita yang sudah bertunangan Tuan, citra Anda akan menjadi buruk"


Lagi, setelah mengucapkan itu Lily rasanya ingin menggigit lidahnya sendiri karena mengatakan hal itu tanpa tahu malu. Lily hanya ingin Dave pergi dari apartemennya sesegera mungkin.


Sementara David, Pria itu menunduk sedih. Ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata,


"Aku hanya ingin bertanya, Apa kau masih mencintaiku? walaupun sedikit saja?"


Lily terperangah, Dia sungguh tidak siap dengan pertanyaan itu. Lily memalingkan wajahnya dan dengan cepat Dia menjawab:


"Tidak. Cinta itu sudah mati, hangus terbakar api"


David mendengarnya dengan senyum simpul, Wanita di hadapannya ini memang tidak bisa berbohong. Buktinya Dia tidak mau menatap mata David. Tapi Pria itu memilih diam dan tidak menanggapi, malah memberikan pertanyaan lain.


"Apa Kamu bahagia dengannya, Honey?"


"Tentu saja, Anda bisa melihatnya sendiri, Aston lebih dari mampu untuk membahagiakanku"


Lily menjawab dengan lantang.


"Bukan itu maksud dari pertanyaanku, Aku bertanya tentang perasaanmu Honey, apa Kamu bahagia?"


"Ya, Aku bahagia. Apa Anda sudah puas?"


Lily menjawab dengan datar. Sungguh Lily merasa lelah dan ingin menyelesaikan urusannya dengan David secepat mungkin, Kemudian wanita itu melanjutkan,


"Aku harap Kita bisa mengurus perceraian secepatnya, karena Aku...."


"Aku sangat merindukanmu, sangat rindu sampai rasanya hampir mati" David menyela Lily, matanya berembun dan memerah.


"Semuanya sudah terlambat David" Lily pun tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya saat ini.


"Apa sama sekali tidak ada kesempatan untukku?"


"Sayangnya, tidak. Kamu tidak tahu penderitaan seperti apa yang sudah Aku lewati, Kamu tidak merasakan kepedihan yang aku alami saat bayiku mati perlahan didalam perutku, sementara Aku tidak bisa melakukan apapun. Dan bodohnya, Aku... Aku mengharapkan Kamu datang untuk menyelamatkan kami, tapi pada kenyataannya Kamu bahkan meragukannya"


"Sorry, Honey, Sorry..."


"Aku bisa saja memaafkanmu, tapi untuk kembali bersama, maaf Aku tidak bisa. Aku akan selalu mengingat apa yang sudah Kamu lakukan padaku. angin yang sudah berlalu tidak akan kembali ke tempat yang sama"


"Honey..."


"Pergilah, Aku memaafkan apa yang pernah terjadi, hiduplah lebih baik dan bahagia, Biy"


Bulir bening itu mengalir bebas dari netra hazle Lily, Akhirnya Lily mengucapkan panggilan kesayangan yang pernah Ia sematkan pada Pria dihadapannya itu.


David kehilangan kata-katanya, bagaimana bisa dia hidup bahagia jika kebahagiaan itu menolak untuk bersamanya. Tapi, Lily benar. Kesalahannya terlalu besar untuk bisa dimaafkan"


"Kamu benar, Aku memang tidak pantas dimaafkan, seorang suami dan ayah yang tidak bisa menjaga istri dan anaknya memang tidak layak untuk mendapatkan maaf, apalagi sebuah kesempatan"


Laki-laki itu tersenyum sambil menangis, kemudian melanjutkan.


"Aku tidak berhak memaksamu lagi, Honey. Kau berhak bahagia dan Aku tahu, Aku tidak mampu memberikannya. Aku akan melepaskanmu, semoga Kamu bahagia dengan Robinson, Honey"


"David..."


"Bolehkah, Aku menciummu untuk terakhir kalinya?"


Lily terperangah, permintaan David membuatnya terkejut, tapi belum sempat bereaksi, Lily merasakan benda kenyal dan sedikit basah menyentuh bibirnya. David sudah menciumnya!


Ciuman itu sangat lembut membuat Lily terbuai dan membalas ciuman David itu. Suara decapan menggema diruang yang lengang itu.


'Wanita rendahan yang bisa saja melemparkan tubuhnya pada laki-laki manapun'


Lily seketika mendorong pelan David dan melepaskan tautan bibir mereka.


David seolah mengerti penolakan Lily, Dia pun tersenyum dan mengatakan,


"Selamat tinggal, Honey"


Pria itu pun berlalu dari sana, kemudian berlalu meninggalkan Lily yang berdiri seraya menunduk dalam.


Blamm.


Pintu itu tertutup. Lily menjatuhkan tubuhnya ke lantai.


Kenapa? kenapa hatinya merasa sakit? harusnya Dia senang bukan karena David akhirnya melepaskannya?


Lily menangis sesenggukan. Merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri. Benarkah Dia masih mencintainya?


#


"Awas Kau Leon, kalau idemu ini tidak berhasil dan Lily akhirnya terlepas dariku aku akan memenggal kepalamu" Gumam David.


David berjalan dengan wajah berseri menuju mobilnya. Pria itu menyentuh bibirnya sendiri, mengingat ciuman panjangnya bersama Lily.


"Masih manis seperti dulu" gumamnya kemudian menyalakan mobilnya meninggalkan parkiran Apartemen mewah itu.


Bersambung...