My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Let's Start This War!



David dengan segera turun dari ranjangnya.


"Akhh, Oh My..." Laki-laki itu mengerang kesakitan saat kaki kirinya yang terluka menyentuh lantai. Leon yang berada diluar seketika masuk kedalam ruangan itu.


"Tuan? Ada apa? apa Anda butuh sesuatu?"


Leon bertanya dengan cemas saat melihat David tiba-tiba turun dari ranjangnya.


"Alice diculik oleh Martin"


Ucap David dengan rahang mengeras menahan amarahnya.


"Apa? Tapi bukankah Alice sedang jalan-jalan dengan...."


Leon terkejut bukan main, Pria itu ingat betul beberapa waktu lalu dia baru saja menghubungi Charlotte dan wanita itu bilang Alice sedang jalan-jalan dengannya? atau jangan-jangan...


"Tuan, Apa menurut Anda Nyonya Charlotte terlibat dalam masalah ini?"


"Bisa saja. Mereka sama-sama licik. Aku fikir Mommy Charlotte telah bertaubat ternyata Aku salah. Laki-laki itu sudah lama menghilang dan tiba-tiba muncul disini, bukankah terlalu kebetulan jika bukan Mommy yang memberitahunya?


"Benar Tuan. Dan satu lagi, Aku baru saja mengecek hasil rekaman CCTV gudang yang dikirimkan oleh pabrik Robinson. Anda pasti tidak akan menyangka bahwa ternyata, Martin bekerja disana selama 2 hari ini"


"What the fvck! Bagaimana bisa?"


"Saya sendiri tidak tahu Tuan, tapi menurut informasi yang saya dapat, Martin dibawa oleh salah satu kaki tangan kepala gudang, namanya Andreas"


"Baiklah, suruh anak buah kita mencari orang itu dan buat orang itu mengatakan dari mana dia mengenal Martin"


"Siap laksanakan Tuan. Oh ya, Lalu apa rencana Tuan selanjutnya untuk membebaskan Nona kecil"


"Martin menginginkan nyawaku, tapi.."


David menatap lekat Leon, sebuah senyuman mengerikan terbit dari bibirnya, kemudian David berkata,


"Martin tidak tahu jika Davidson yang sekarang bukan lagi laki-laki bodoh seperti dulu. Aku sudah berubah, dan Dia akan benar-benar menyesal telah berani membangunkan sisi iblisku"


Leon mengangguk dan bertanya


"Tuan punya rencana khusus?"


"Hemm... tentu saja, Kau akan mengetahuinya nanti, sekarang cepat kumpulkan anak-anak kita, ada misi yang harus mereka selesaikan"


"Dengan senang hati Tuan"


Yess! Leon sangat mencintai peperangan dan pertarungan. Dengan semangat Ia menghubungi semua anak buahnya dan David yang sudah terlatih dengan khusus.


Setelah Leon menghubungi semua anak buahnya yang selama ini dilatih secara khusus seperti kura-kura ninja, Leon kembali menghadap David.


"Semua sudah sesuai perintah Tuan"


"Bagus, sekarang kita bersiap Leon, Kau tahu apa yang aku butuhkan"


"Bagaimana dengan luka Anda Tuan?"


"Terpaksa, Aku harus minum obat penahan sakit"


"Anda yakin?"


"Apa Aku punya pilihan lain, Leon?"


Leon menunduk saat mendengar pertanyaan David, yah mau tidak mau mereka harus melawan Martin yang entah mendapatkan dukungan dari siapa, yang jelas saat ini keselamatan Alice menjadi prioritas.


#


#


Robinson Factory, Macau...


Lily tak bisa fokus untuk mengerjakan tugasnya hari ini, perasaannya tiba-tiba gelisah dan cemas. Entah sedang ada apa. Sampai-sampai Lily menghubungi Ibunya di Kampung karena takut jika telah terjadi apa-apa pada mereka. Tapi Syukurlah, Ibu dan Adiknya dalam keadaan sehat walafiat.


Akan tetapi, perasaannya masih belum bisa tenang. sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu pada David? Lily sontak menutup mulutnya sendiri. Jangan-jangan Pria itu..... Tidak, tidak. Pasti Dia baik-baik saja bukan?


'Apa Aku telepon Leon aja ya?' Batin Lily bermonolog. Lily pun meraih gawainya dan mencoba menghubungi Leon.


Lama panggilan itu berlangsung, tapi masih tidak ada jawaban dari asisten pribadi David itu.


Lily semakin berfikir buruk. Tidak mau berputus asa, Lily kembali menghubungi Leon.


"Angkat dong Leon, please?" gumam Lily seraya menggigit bibir bawahnya.


Klik


"Halo" Suara Leon menjawab dari seberang sana.


Alhamdulillah dijawab juga.


"Halo Leon, apa Aku mengganggu?"


"Tidak Nyonya, tapi saya cukup sibuk. Ada apa?"


Leon bertanya dengan tergesa-gesa.


"Oh, maaf Leon, Aku hanya ingin menanyakan kabar tuanmu, apa Dia baik-baik saja?"


"Ya, Tuan baik. Ada lagi Nyonya?"


"Emm... Tidak, tidak. Terima kasih Leon, maaf mengganggu"


"Tidak masalah. Saya akan mematikan teleponnya".


"Baiklah, terima kasih"


Panggilan pun berakhir, Lily menatap kosong ke arah layar gawainya. Batinnya merasa, Leon sedang menyembunyikan sesuatu, tapi apa?


"Hai, Lira!" Seru seseorang yang tak lain adalah Elena, membuat Lily terpekik kaget.


"Ya Tuhan, Ele, Kamu sangat menyebalkan. Hampir saja jantungku terbang ke awan beserta nyawaku"


"I'm Sorry Darling, Aku hanya gemas melihatmu yang melongo terus dari tadi. sekarang katakan, apa kau punya masalah? beritahu Aku, siapa tahu Aku bisa memberimu somasi"


"Solusi Ele"


"Ya, itu maksudku, Ya ampun jangan dianggap serius Aku hanya bercanda Lira. Ya Ampun Kau ini kaku sekali?" Elene mencebik kesal.


"Aku tidak punya masalah Ele, Kalaupun ada aku tidak membutuhkan solusi darimu karena Aku yakin pasti masalahku akan bertambah berat"


"Isssh... Kau ini kejam sekali"


"Sudah sana, kerja kerja"


"Iyaa, iyaa... hemm Kau pasti merindukan si gila Aston, makanya uring-uringan seperti itu"


"Diamlah Ele, pergilah ke meja kerjamu atau sebaiknya kau pulang saja"


"Iyaa baiklah ibu Manager yang terhormat, huuuu"


Elena berlalu seraya mengerucutkan bibirnya lucu. Lily pun jadi tersenyum melihatnya. Tapi sejurus kemudian wanita itu kembali murung, kegelisahannya masih belum hilang. Sebenarnya ada apa?


Alice??? anak itu?? apa Terjadi sesuatu pada Alice??


Lily pun meraih gawainya dan menghubungi Alice.


lama panggilan itu terhubung, tapi belum ada jawaban dan akhirnya... Klik


"Halo Mommy"


Lily mengernyit bingung. Suara laki-laki? Siapa?


#


#


David dan Leon sudah hampir sampai di tempat yang Martin tentukan, Namun Leon saat ini bersembunyi dibagian bawah jok mobil yang sudah di modifikasi khusus.


Mobil ini memang rancangan khusus orang-orang David dan Leon, hanya digunakan di saat-saat seperti ini atau saat mereka harus menghadapi tantangan rival bisnis mereka yang tak jarang menggunakan cara yang licik.


"Leon, Apa kau aman dibawah sana?"


"Tenang saja tuan, semuanya aman"


"Bagus, sebentar lagi kita sampai"


"Hmn, Baik Tuan"


David mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meskipun jalur yang mereka tempuh sepertinya adalah area perbukitan yang menanjak, tapi David sama sekali tidak kesulitan saat mengikuti jalan yang cukup terjal itu.


"Aku tidak akan melepaskanmu kali ini Martin, apalagi jika Kau berani menyentuh Alicia"


David mencengkeram erat kemudinya. Pria itu memakai shirt polos berwarna hitam dengan Jaket kulit dan jeans hitam, ringkasnya serba hitam.


Pria itu juga sudah mengenakan jas Anti peluru yang hampir tidak dapat terdeteksi secara kasat mata olih orang awam.


Bagaimanapun, David belum mengetahui dengan siapa Martin bekerja sama. Meskipun percaya diri, Dia juga harus berhati-hati.


Ting ting


Gawainya berbunyi


"Cih, penjahat kel*min itu benar-benar sudah tidak sabar rupanya! brengsek!"


David pun menjawab panggilan dari Martin itu.


"Halo Keponakanku, Apa Kau sudah hampir sampai?"


Sapa Martin dengan suara menggoda yang sangat menjengkelkan.


"Apa kau sudah tidak sabar tua bangka?"


"Hahah, terima kasih. Aku anggap itu adalah pujian. Aku hanya ingin mempersiapkan sambutan terbaik untukmu, Kita sudah lama tidak bertemu, Kau ingat?"


"Yah, siapkanlah. Jangan lupa siapkan peti matimu juga. Karena Aku tidak sudi membelikannya untukmu"


"Hahaha, Kau memang sangat sopan, Aku mengagumi itu"


"Jangan banyak bicara bajingan sialan. Tunggu saja Aku datang dan siapkan dirimu untuk pergi ke neraka"


David mematikan panggilannya, mendengar suara Martin membuat emosinya semakin memuncak.


"Leon, Kita sudah sampai, bangunannya ada didepan kita, bersiaplah. Bagiamana dengan orang-orang kita?"


"Baik Tuan... mereka di belakang kita"


"Ingat, jangan sampai ketahuan kita membawa pasukan"


" Baik Tuan!"


David menyeringai lebar kemudian dengan penuh kobaran api di matanya dia berkata,


"Get ready Martin! Let's start this war!!"


Mobil mereka pun melaju dengan cepat dan gagah sampai di bangunan kosong tempat Martin menyekap Alice dan Charlotte.






Daddy David, Leon dan pasukannya udah siap banget mau perang sama Martin dan komplotannya si mucikari ternama Gween Kwok Yang nih gaess, kira-kira bakal makan korban ngga yah, kalo Aku kayaknya korban perasaan deh, pas liat babang Leon eh kok manis 🤣