
Aston Berjalan dengan tangan mengepal, ekspresinya yang tenang berubah menjadi dingin dan suram seperti peti mati.
Pria itu kemudian teringat wanitanya yang kini sedang menikmati waktu bersama gadis kecil asing yang entahlah, membuat Aston sedikit kesal.
'Apa Lily akan luluh dan kembali pada bajingan itu karena gadis kecil yang baru saja datang' Batin Aston sedikit cemas.
Pria itu perlahan memejamkan matanya dan membuang nafas berat. Dia meraih gawainya untuk menghubungi pujaan hatinya. Aston pantang menyerah. 5 tahun Dia menjadi laki-laki tidak tahu malu mengejar wanita yang sekalipun tak pernah memancarkan tatapan penuh rasa cinta untuknya.
Ayolah kawan, Kalian tidak tahu rasanya, seorang laki-laki yang sangat terbiasa digilai oleh wanita, bahkan Aston yakin tak akan ada wanita yang menolaknya walau hanya untuk bercinta dengannya selama satu malam saja.
Tapi Lily, wanita itu seperti batuan beku dari letusan gunung berapi yang sangat sulit untuk di lelehkan. Dia kaku dan dingin.
Tapi justru itulah yang membuat Aston tergila-gila, Dia membutuhkan wanita seperti Lily. Cuek dan mandiri, yang tidak akan terus menempel padanya seperti lintah.
Hingga akhirnya wanita itu menerima lamarannya, walaupun Aston tahu Lily masih belum mencintainya, Aston yakin jika mereka sudah menikah, Lily lambat laun pasti akan mencintainya juga.
Wajah Pria itu sedikit lebih cerah sekarang, setelah mengingat pada akhirnya Lily bersedia menerima lamarannya. Ia meraih gawainya kemudian menghubungi pujaan hatinya itu.
Klik
"Halo, Lira kamu sekarang dimana?"
"....."
"Baiklah Aku kesana sekarang"
Panggilan berakhir. Aston memasukkan kembali benda pipih itu kedalam saku coat nya. Kemudian bergegas menuju ke tempat Lily berada.
#
Dan disinilah Lily serta Alicia kini berada, Di sebuah Cafe Dessert di Venetian Macao Resort, Tempat yang indah dengan pemandangannya yang memanjakan mata.
Lily memandangi gadis remaja dihadapannya dengan takjub dan haru. Betapa waktu sangat cepat berlalu. Alicia yang imut dengan pipinya yang gembul kini menjelma menjadi anak remaja yang cantik, usianya hampir menyentuh angka 11 tahun. Tapi percayalah, gadis itu memiliki tinggi badan setingkat dengan Lily yang memang bertubuh mungil. Maklumlah, Bule memang pertumbuhannya sangat cepat.
*Alice remaja menjelang 11 tahun, credit 📱 Instagram
Alice pun tak kalah mengagumi wanita di hadapannya itu, Mommy-nya semakin cantik. Tidak! Mommy-nya benar-benar berubah, benar-benar mature dan Elegan. Sangat berbeda dengan Mommy-nya yang dulu terkesan sederhana dan polos.
"Jangan melihatku seperti itu Mom, Mommy membuatku takut"
"Takut? kenapa?"
"Yah, Mommy seperti ingin memakanku"
"Hahaha, Yah, betul sekali. Mommy memang ingin sekali memakanmu gadis kecilku yang manis dan imut!!!" ucap Lily seraya mencubit gemas pipi Alice yang tak lagi tembam.
"Stop Mom, Ayolah, Aku sudah bukan gadis kecil lagi sekarang"
"Ya, baiklah, Alicia ku yang sekarang menjadi remaja, hehehehe"
Alice tersenyum lembut, kemudian pandangannya berubah sendu, membuat Lily secara impulsif mengangkat kedua alisnya seolah bertanya, Ada apa?
"Apa yang terjadi?" Alice menatap lekat netra hazle wanita yang masih Ia panggil Mommy itu.
"Apanya?" Tanya Lily pura-pura tidak mengerti kemudian mengaduk-aduk minumannya asal.
"Apa yang terjadi pada Mommy selama 5 tahun ini? kenapa Mommy menghilang?"
"Alice, terkadang tidak semua masalah orang dewasa bisa dimengerti oleh anak-anak sepertimu, kamu akan sulit memahaminya karena...."
"Mom, please. I'm not a kid anymore!" suara Gadis itu sedikit meninggi, kemudian melanjutkan:
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Mommy dan Daddy? Daddy juga sangat kacau selama 5 tahun ini. Aku tidak pernah bertanya padanya karena Aku tidak mengerti apapun"
Ucap gadis itu dengan mata memerah. Lily tentu saja merasa bersalah dan menjawab,
"Maafkan Mommy Alice, masalah yang menimpa Mommy dan Daddy bukanlah masalah yang bisa dengan mudah dijelaskan. seiring berjalannya waktu Kamu akan mengerti dengan sendirinya sayang, bahwa kami memang tidak bisa bersama. Aku yakin Daddy-mu akan menemukan pasangan yang tepat suatu saat nanti".
Lily berusaha tetap tersenyum dan tenang tanpa menjelaskan alasan sebenarnya Dia bisa pergi. Karena Lily tahu, Alice akan sangat terluka jika mendengar bahwa orang yang sangat disayanginya, Granny nya adalah penyebab Dia pergi sekaligus kehilangan bayinya.
"Apa kesalahan Daddy sangat besar? hingga Mommy tidak ingin kembali?" Alice kembali bertanya dengan mata berkaca-kaca.
'Ya' Jawab Lily hanya dalam hati. Tapi tubuhnya memberikan jawaban lain dengan menggelengkan kepalanya.
"Kami berdua sama-sama bersalah dan harus memperbaiki diri kami masing-masing, Tapi, Mommy berfikir jika kami memang tidak mungkin lagi bersama Sayang"
"Hemm, Aku mengerti. Tapi Mom, Bolehkah Aku mengatakan sesuatu?"
"Tentu, katakanlah".
"Apapun kesalahan Daddy yang membuat Mommy marah. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Pria itu sangat kacau dan hancur selama 5 tahun ini Mom, Dia bekerja seperti orang gila, berangkat pagi pulang pun hampir pagi. Dia kehilangan senyuman dalam kehidupannya. Selama 5 Tahun, Daddy selalu menyendiri, Dia bahkan rutin datang ke apartemen lama kalian dan duduk disana hingga berjam-jam seperti orang bodoh, menangis seperti anak kecil yang menyedihkan. Aku mengtahui itu karena Aku sering mengikuti Daddy diam-diam"
Tanpa sadar wajah Alicia sudah basah dengan air mata, gadis itu kemudian melanjutkan,
"Aku tidak tahu Mom bagaimana mengatakannya pada Mommy, tapi aku bisa pastikan bahwa Daddy sangat mencintaimu melebihi dirinya sendiri"
"Alice...."
"Maaf Mom, Aku mengatakan ini, Aku hanya ingin Mommy tahu bahwa Daddy juga sangat menderita atas kepergian Mommy, Aku bisa melihatnya. Daddy benar-benar tidak bahagia Mom"
"Ehem.... apa Aku datang diwaktu yang tidak tepat?"
Suara berat dan maskulin itu menarik perhatian Lily juga Alicia, Kedua wanita itu sontak menoleh.
"El? Kamu Sudah lama disana?"
Lily bertanya dengan lembut, sementara Alicia menatap kedua orang itu secara bergantian.
'Siapa paman ini?' Tanya Alice dalam hati.
"Yaa, cukup lama sampai Aku mendengar bahwa Ayah gadis ini sangat menderita"
Ucap Aston dengan santai kemudian duduk dihadapan kedua wanita beda usia itu dengan santainya.
"Apa Paman baru saja menguping"
"Hei gadis cantik, Kau berbicara dengan sangat keras, bahkan mungkin ikan-ikan yang ada di sungai itu bisa mendengarmu. Jadi bisa dikatakan Aku tidak menguping, suaramu yang terlalu keras"
Alice mencebik kesal dan menatap Aston dengan tidak senang.
Aston kemudian menambahkan,
"Dan, berhentilah mempengaruhi wanitaku untuk merasa kasihan pada Ayahmu itu, Karena Dia sekarang adalah milikku"
Ucap Aston tak berperasaan membuat Lily sontak mendelik dan mencubit lengan pria itu.
"El, hentikan..."
"Aku benar kan? Kita memang akan segera bertunangan. Aku hanya memberitahunya agar Dia mengerti"
Lily menarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan matanya. Beginilah Aston, selalu berbicara terlalu terang-terangan jika tidak menyukai sesuatu, tanpa peduli jika lawan bicaranya balita sekalipun. Benar-benar Arogan, walaupun pada dasarnya dia pria yang baik, hanya saja Aston selalu ingin menang sendiri dan dominan. Sifat yang 90% mirip dengan David. Itu sebabnya, Dua pria itu dipastikan akan sulit akur.
"Tapi dia masih anak-anak El, Kamu ini terlalu keras!"
"Aku tidak peduli"
"Tapi Aku peduli, Tuan Aston Robinson"
Aston seketika memutar lehernya mendengar suara rivalnya itu tiba-tiba muncul. David.
Melihat Dua pria dihadapannya itu Lily mendadak di serang rasa pusing. Ini pasti akan berakhir buruk.
Sementara Alice segera menghambur ke pelukan David yang baru saja berdiri diantara mereka.
"Dad...."
"It's Okay, Daddy's here"
"Manis sekali...." Ucap Aston seraya tersenyum mengejek.
"Tuan Robinson, Saya tidak menyangka jika Anda bisa sangat kekanak-kanakan, bagaimana bisa Anda bersikap seperti pada seorang bocah?"
"Apa And tidak salah? Anda lah yang kekanakan, dengan memanfaatkan gadis kecil ini untuk merayu Lira-ku?"
"Aku tidak pernah menyuruhnya untuk melakukan apapun pada Lily"
"Tapi kenyataannya..."
"Sudah cukup, apa kalian berdua tidak malu? ingatlah usia kalian tuan-tuan, jangan mempermalukan diri sendiri di depan umum dengan bertengkar seperti anak kecil"
"Sorry Lira"
"Maaf, Honey"
Kedua pria itu mengucap secara bersamaan, Namun seketika Aston melotot mendengar panggilan David untuk Lily.
"Kau beraninya memanggil Lira seperti itu?"
David hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa rasa bersalah.
"Sudah cukup El, sebaiknya Kita pulang. Jamgan membuat keributan lebih banyak lagi, Ayo"
"Lira..."
"Kalau Kamu masih mau disini, baiklah, Aku akan pulang sendiri"
"Oke, Fine" Aston pun mengalah kemudian menggandeng tangan Lily hendak melewati pasangan Ayah -Anak itu.
Alicia melepaskan diri dari pelukan David kemudian menatap kepergian Lily dengan tidak rela. Lily seperti merasakan isi hati Alice, wanita yang kini sudah berjalan itu berhenti, kemudian memutar langkahnya kembali ke arah Alice.
Lily mendaratkan kecupan di puncak kepala Alice, kemudian berkata.
"Alice, ingatlah apapun yang terjadi, Aku tetap Mommy-mu sampai kapanpun"
Lily mengecup singkat gadis kecil yang tengah berkaca-kaca itu dan dengan cepat berjalan meninggalkan Alice serta David yang sama-sama terpaku menatap kepergian Lily dengan mata memerah.
Lily hanya tidak ingin menjadi lemah. Lily menyayangi Alice, sangat. Tapi Dia juga tidak ingin kembali ke masa lalu nya yang pahit.
Bersambung