My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Pertemuan Yang Tidak Disengaja



"Lily!!! sebelah sini?" seru seorang gadis cantik dengan rambut panjang berwarna Bronze pada Lily.


Gadis cantik bernama Fany itu melambai-lambaikan tangannya kearah Lily agar sahabatnya Nyang sedang celingukan itu bisa melihat keberadaannya.


"Haiii" Akhirnya Lily menemukan makhluk yang sama mungilnya dengan dirinya itu. Ah sungguh kangen dengan gadis setengah pemuda ini. hehe


bagaimana tidak sejak di penampungan, Fany memang terkenal tomboy, selalu memakai kaos dan celana macam laki-laki, untung saja tertolong wajahnya yang imut dan cantik.


Kadang Lily bertanya-tanya, sepertinya Fany bukan orang miskin seperti dirinya, kenapa pula menjadi TKW?


Tapi itulah hidup, sawang sinawang kalo orang Jawa bilang. Kehidupan orang lain terlihat sangat sempurna, padahal kita tidak tahu kenyataan sebenarnya.


"Ya Allah, akhirnya bisa ketemu kitaa" Seru Lily yang kemudian memeluk sahabatnya itu erat-erat. benar-benar kangen.


"Iyaa, Kamunya sibuk, Aku juga jarang libur" balas Fany yang tak kalah bahagia bertemu dengan sahabatnya ini.


"He'embh, Alhamdulillah yang penting sekarang kita bisa ketemu. Oh ya kamu udah makan belum Fan?"


"Belum nih, Yok kita cari makan, kasian bumil 'ntar pingsan lagi hehehe" goda Fany yang kemudian mengedipkan sebelah matanya.


"Hihihi, tau aja Kamu kalo bumil cepet laper..Yuk ah keburu siang, Aku ngga di bolehin main sampe sore soalnya" Jawab Lily dengan wajah sedikit cemberut kalau mengingat ucapan suaminya yang membatasi waktu bermainnya dengan Fany hanya sampai jm 2 siang.


"Ya udah Ayok.... Aku juga udah ngga sabar dengerin cerita kamu Li" sahut Fany yang kemudian menggandeng tangan Lily.


Mereka berjalan bersama menuju cafe langganan mereka, MC Donald Causewaybay.


Sesampainya di Sana, Fany membantu Lily mengantri pesanan, sementara Lily duduk di sudut kanan ruangan, yang tidak terlalu penuh orang.


"Taraa.. ini makanannya Nyonya Davidson hehehe" Ucap Fany yang memang sedari tadi menggodanya dengan panggilan menggelikan itu.


"Iiishh... jangan panggil Aku kaya gitu dong, geli tahu dengernya" Jawab Lily dengan ekspresi malu-malu..


"Lah kenapa, kan suami kamu namanya Davidson kan?


"Iya tapi aku kurang nyaman sama panggilan itu. pengennya dipanggil nama Aku aja"


"Dih aneh kamu mah" balas Fany seraya menggeleng kecil.


"Oh ya, Dewi apa kabar? kok jarang aktif sih WA nya akhir-akhir ini?" Lily menanyakan Dewi bukan tanpa alasan. Dia dan satu sahabatnya itu sudah hampir sebulan ini tidak berkomunikasi sama sekali. Dewi seperti hilang ditelan bumi.


"Aduh jangan cari si Dewi. lagi kasus dia" Jawab Lily ditengah kegiatannya mengunyah cheese burger favoritnya.


"Kasus? kasus apaan?" Tanya Lily terkejut. kasus apa?


"Hutang piutang di bank, dia sekarang jadi buronan sesama TKW"


"Innalilahi, Kok bisa Dewi terlibat hutang bank?" Lily benar-benar syock. Mengingat Dewi adalah sosok yang pendiam dan tidak banyak tingkah selama di penampungan dan beberapa kali dia pernah bertemu saat masih baru beberapa Minggu bekerja di rumah majikan masing-masing.


"Salah pergaulan. Dewi sih ngga punya pendirian, kebawa arus pergaulan sama TKW2 yang hedon, jadi lupa tujuan awal kesini. Terlalu banyak foya-foya" Jelas Fany gamblang, karena itulah kenyataannya.


"Ya Allah, kasian... ada-ada aja Dewi" sahut Lily prihatin, bagaimanapun Dewi jugabteman baiknya.


"Makanya Aku bilangin sama kamu Li, kalo Dewi tiba-tiba chat kamu minta pinjam duit jangan di kasih, ngga bakal di ganti. Dia udah berubah 180 derajat Celcius" Fany memberi nasihat pada Lily agar gadis itu tidak di bohongi.


"Hemmm... Iya Fan, makasih ya infonya"


"Sama-sama, Oya ceritain dong tentang suami kamu yang Hot itu.. hahaha"


Ditengah perbincangan seru dua wanita itu, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan ke-duanya, terutama Lily.


Untuk memastikan bahwa yang di lihatnya adalah benar-benar Lily, seseorang yang ternyata adalah James itu pura-pura menelepon dan melangkah ke arah Lily dan Fany.


Kedua wanita yang sedang sangat terkenal dengan obrolan mereka sama sekali tidak merasakan jika mereka tengah diperhatikan seseorang.


Setelah yakin bahwa yang dilihatnya adalah istri Emiliano Davidson, James langsung menghubungi Marry.


"Marry, tebak aku sedang bersama siapa sekarang?"


"....."


"Oh ayolah, jangan sok sibuk Marry, aku yakin saat ini kau sedang menonton drama bodoh kesukaanmu itu"


"....."


"Baiklah-baiklah, dasar wanita! Aku sekarang sedang bersama istri Davidson itu di MC Donald Causewaybay, datanglah kemari kalau Kamu.... Halo? Halo?"


James merengut ketika panggilannya sudah diakhiri begitu saja.


"Fvck! Dasar perempuan! tidak pernah menghargai laki-laki " desisnya sebal.


Sambil menunggu Marry Yang sebentar lagi datang karena Apartemen yang mereka sewa masih berada di wilayah yang sama, James sesekali melihat ke sekeliling Lily, memastikan apakah David mengirimkan seseorang untuk menjaga istrinya seperti biasanya atau tidak. Tapi, sepertinya hari ini takdir memang sepertinya berpihak pada dirinya dan Marry, wanita itu sepertinya sendirian.


Tak lama kemudian, James melihat Marry yang berlari kecil menuju ke arahnya, James pun melambaikan tangannya agar Marry bisa langsung menemukannya.


"Tidak bisakah kamu berbasa-basi dulu? Menanyakan kabarku misalnya?" Tanya James dengan nada kesal.


"James, berhentilah bersikap kekanak-kanakan, sekarang katakan padaku dimana istri Dave" Jawab Marry tak kalah sebalnya.


"Baiklah, Itu dia disana" Ucap James seraya menunjuk ke arah tempat duduk Lily dan Fany dengan isyarat dagunya. Marry pun segera menoleh, mencari sumber yang ditunjukkan oleh sahabatnya itu.


"Yang mana?" Tanya Marry saat melihat ada dua orang gadis muda di sana.


"yang berambut hitam panjang, dan.... cantik" Jawab James tersenyum jahil. Marry hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian atensinya beralih pada gadis yang dimaksud oleh James.


"Dia .... Sangat muda" Ucap Marry menilai Lily yang memang terlihat sangat muda.


"Yah, usianya mungkin baru memasuki 20 tahun"


"Hmn, pantas saja David menikahinya, dia terlalu cantik untuk ukuran seorang pengasuh" Ada raut sedih saat Marry menyampaikan kalimatnya itu. Yah, bagaimanapun David masih menjadi penguasa di hatinya.


Mengetahui bahwa pria itu sudah menikah, jelas Ia merasa kecewa. Tapi, saat ini prioritasnya adalah keselamatan David, perasaannya biarlah waktu yang mengikisnya.


"Jadi apa rencanamu?"


"Aku juga tidak tahu, dia tidak mungkin begitu saja mau berbicara denganku kan?"


"Hmm, tapi aku punya ide"


"Apa itu?"


"Kamu lihat saja"


Marry menjadi penasaran, namun sedetik kemudian Marry tersenyum melihat apa yang dilakukan sahabatnya itu.


"Selesai!" Ucap James seraya tersenyum puas setelah menyelesaikan tulisannya.


"ternyata Anda cukup cerdas, tuan James"


"Tentu saja, aku adalah kaum VVIP saat Tuhan membagikan otak pada manusia" balas James dengan bangga.


"Cih... Lalu bagaimana kau akan memberikan catatan ini padanya?"


"Haiish.. drama bodoh itu benar-benar membuat otakmu tidak berfungsi Mer, apa gunanya uang jika tidak digunakan?"


"Berhentilah mengataiku James, katakan saja apa yang akan kamu lakukan pada catatan itu" sungut Marry kesal karena terus di katai oleh James.


"Aku akan meminta petugas kebersihan itu memberikannya pada Istri Dave. Tapi, kita harus pergi terlebih dulu agar dia tidak melihat kita"


"Hmm, ide bagus. Baiklah ayo!"


James dan Marry pun bangkit dan menghampiri wanita tua yang sepertinya adalah seorang petugas kebersihan, setelah memberikan catatan sambil mengucapkan mantra-mantra serta pelicin beberapa lembar dolar berwarna merah,. James dan Marry segera berlalu dari tempat itu.


Sementara, petugas kebersihan tadi menghampiri Lily dan Fany.


"Muisi a, ada seseorang menitipkan ini, untuk Anda Amui" ucap wanita itu sambil menyerahkan lipatan kertas pada Lily.


"Seseorang? Untukku?" Tanya Lily bingung.


"Iya Amui, ini untukmu"


"Tapi, untuk apa?" Lily semakin bingung dan sedikit takut, karena Lily tidak mengenal siapapun Disini tentu saja jika itu teman atau suaminya, untuk apa memberi catatan seperti itu?


"Saya tidak tahu Amui, saya hanya diminta memberikan ini padamu" ucap wanita itu kemudian berlalu.


Lily masih terpaku, kemudian dia dan Fany saling berpandangan.


"Dari siapa sih Li? Serem amat"


"Aku juga ngga tahu fan"


"Udah buka aja, dari pada penasaran kan"


Lily pun mengangguk setuju, perlahan ia membuka lipatan kertas itu dan membacanya.


"Kamu dan suamimu dalam bahaya. Nyonya Charlotte tidak sebaik yang kamu lihat.


Jika kamu ingin menyelamatkan suamimu, datanglah besok di Lin Zhi House 11F/203 pukul 10.00 am HK Time"


Lily dan Fany kemudian saling menatap lekat. Tepatnya kedua mata wanita itu mengisyaratkan ketakutan yang sama.


'Apa ini??'


*Kamus kata


Amui \= panggilan yang digunakan untuk memanggil perempuan yang lebih muda darinya, kalau di Indonesia itu misalnya "dek"