
James berulang kali menekan bel apartemen sahabatnya yang menyebalkan tapi sangat disayanginya, Marry.
Setengah jam yang lalu Marry menghubunginya, wanita cantik itu mengatakan sedang tidak enak badan dan seperti biasa, memaksa James membelikan makanan kesukaannya.
Padahal ini masih pukul 07.30, masih sangat pagi. harusnya James masih menikmati mimpi indahnya mandi di danau bersama gadis-gadis cantik. Dasar otak mesum!
Sudah 15 menit berlalu, Namun tidak ada tanda-tanda bahwa sahabatnya itu akan membukakan pintu.
Tiba-tiba James diserang kepanikan. Tidak! jangan sampai hal mengerikan itu terjadi.
James kembali mencoba menghubungi nomor telepon Marry, namun tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya James putuskan untuk meminta pertolongan pada petugas apartemen itu untuk membuka pintu apartemen Marry.
Setelah berdebat cukup lama, Akhirnya pihak Apartemen bersedia memberi kunci cadangan pada James asal di dampingi oleh pihak Apartemen juga, Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Blam..
Pintu Apartemen akhirnya terbuka, dan.... Kosong.
Tidak ada Marry disana.
#
Marry berjalan cepat ke arah kerumunan, keringat dingin membanjiri pelipis dan punggungnya yang tertutup Hoodie hitam.
Wanita itu sesekali menoleh ke belakang dengan cepat dan panik, saat melihat ada beberapa orang yang terliblhat setengah berlari ke arahnya, Marry seketika mempercepat langkahnya. Gila! ini masih sangat pagi dan manusia-manusia itu sudah sangat bertenaga mengejarnya, padahal Marry yakin mereka pasti belum sarapan seperti dirinya.
Masih beruntung karena Marry terlebih dulu memergoki mereka yang hendak membobol Apartemennya.
Namun sialnya, belum sempat dia melangkahkan kaki untuk kabur, orang-orang itu sudah melihatnya. Jadilah sekarang Dia berkejar-kejaran ria dengan beberapa orang. Yah. bukan hanya satu atau dua orang. Jumlah mereka lebih dari 5 orang. Benar-benar totalitas sekali Bibi Charlotte itu.
Flash Back On
Marry terbangun karena merasa Kedinginan menusuk tulangnya. Padahal seingatnya, Ia sama sekali tidak menyalakan pendingin ruangan.
Kepalanya nugabterasa berat seperti ditimpa beban seberat 50 kilogram.
"Ehemm" Sepertinya Ia terserang flu. Kemarin dia baru saja selesai bersih-bersih dan membereskan barang-barangnya di Apartemen barunya ini.
Kurang istirahat membuat tubuhnya kelelahan.
Marry meraih ponselnya diatas nakas, Siapa lagi kali bukan James yang akan dia ganggu. Bagaimana lagi, hanya pria itu yang Ia kenal dekat di negeri asing ini.
"Hai Bodoh"
"......"
Terdengar James mengumpat di seberang sana.
"Aku sakit James, tolonglah Aku"
"......"
"Hehe, Kau memang terbaik. Aku ingin makan bubur labu kuning dan soup ginseng di restauran favorit kita itu"
"....."
"Tidak perlu. Aku menyimpan obat dari dokter pribadi-ku. Aku hanya butuh asupan makanan untuk perutku ini"
"....."
"Hahahaha, Kau sangat menjengkelkan, tapi terima kasih sekali lagi, Bye!"
"....."
Marry pun menutup panggilannya, tadinya ia berniat untuk kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, tapi tiba-tiba Marry membatalkan Niatnya.
Menunggu James datang mungkin membutuhkan waktu Setidaknya 40 menit, sedangkan perutnya saat ini sudah berteriak-teriak minta di isi.
"Sepotong roti tidak akan membuatku kekenyangan untuk menikmati bubur nanti"
Dengan malas Marry turunh dari ranjang, kemudian berjalan ke arah lemari untuk mencari jaket, karena tubuhnya terasa dingin.
Wanita itu turun ke lantai dasar, kebetulan tidak jauh disana ada penjual Roti yang buka pagi-pagi sekali.
setelah membeli roti isi custard favoritnya, Marry pun melangkah kembali ke Apartemennya nya,
Saat berada di lantai 12 tempat Flatnya berada, Marry terkejut bukan main, Melihat segerombolan laki-laki berpakaian preman sedang berada didepan pintu Apartemennya.
'Oh My God!' Marry berteriak dalam hati. sementara Tubuh dan kakinya mendadak kaku. Sulit untuk digerakkan. Ketakutan dan kepanikan dengan cepat merayap hingga membuat wajah putihnya semakin pucat seperti tissue toilet.
"Itu Dia disana!" Seruan seseorang yang berasal dari gerombolan itu membuat Marry tersentak kaget. kesadarannya yang sempat menguap kembali ke sarangnya dengan cepat.
Wanita itu segera tancap gas dari sana.
Tentu saja sekelompok pria itu langsung mengejarnya tanpa basa-basi.
Flash Back Off
Marry Malihat dari kejauhan ada pangkalan Taxi. Yah, Taxi adalah pilihan terbaik, terserah pergi kemanapun asal bisa terbebas dari kejaran orang-orang Charlotte itu.
"Oh, ****!" Marry mengumpat geram saat gerombolan itu semakin dekat, bahkan tidak sampai setengah meter dari keberadaannya kini.
Oh, Ayolah pangkalan Taxi itu hanya beberapa meter, kenapa rasanya jauh sekali.
Dan tiba-tiba
Greppp!!!!
"Emmmhhh" Marry berteriak tanpa suara.. tangan seseorang membekap wajahnya yang mungil. bau obat menyengat hidungnya. Marry sempat membelalak terkejut, hingga sepersekian detik matanya tertutup sempurna, Wanita itu kehilangan kesadarannya.
#
Suara James dare seberang sana membuat Jantung Lily serasa jatuh ke tanah.
"Apa? Bagaimana bisa??"
Pekik Lily dengan suara tertahan, kemudian kepalanya secara otomatis menoleh ke kanan dan ke kiri, mengawasi karena di rumah ini ada tukang 'nguping'
"Aku tidak tahu, Aku masih mencarinya. Aku juga sudah menghubungi... Leon"
"Ya Tuhan, bagaimana ini"
"Mmmm, maaf Nyonya Davidson, apakah kau bisa menemuiku? Aku rasa membicarakan ini di telepon sama sekali tidak efisien"
"Hmn, Aku mengerti. Aku akan usahakan bisa keluar menemuimu Tuan, tapi aku harus meminta izin dulu pada Suamiku"
"Baiklah, Aku akan menunggu"
"Hmn, Baiklah, sampai jumpa"
Lily pun mematikan panggilannya. Wanita itu mendesah pelan. Tidak tahu bagaimana mencari alasan yang tepat untuk bisa menemui James tanpa ada yang curiga, termasuk Ibu mertuanya, Charlotte.
Tiba-tiba, Lily mempunyai ide bagus! Lily yakin David tidak kan melarangnya.
Lily mengatur nafasnya untuk menenangkan diri, Lily bukanlah orang yang dengan mudah berbohong. Dia menjunjung tinggi kejujuran, bahkan bisa dibilang terlalu jujur. Jadi, melakukan kebohongan seperti ini adalah hal menakutkan tersendiri bagi wanita itu.
Setelah dirasa siap. Wanita itu pun mengetikkan Nomor Pria kesayangannya, David.
Satu kali...
Dia kali....
Tiga kali....
Sudah tiga kali panggilan namun tidak ada jawaban dari suaminya itu. Lily kembali menekan nomor yang sama, berharap kali ini akan ada jawaban.
Tut
"Halo, Honey?"
Akhirnya. Batin Lily berucap lega.
"Biy... Apa Kamu sibuk? maaf jika.Aku menganggu pekerjaanmu"
"Tidak Honey, katakan saja, Ada apa? hm?"
"Hmmm, begini Biy, Aku ingin... makan seafood, tapi dari Restauran favoritku dan Fany, di Central Park"
"Tapi itu jauh sekali, Honey"
"Hemmm... Tapi aku sungguh ingin makan disana, disana seafood nya masih fresh dan sangat lezat"
"Bagaimana jika dikirim ke rumah saja, Honey?"
"Tidak mau Biy, Aku rasa bayi kita yang menginginkan untuk makan di tempat, dikirim ke rumah rasanya akan berbeda"
"Benarkah? bayi kita yang menginginkan? hehehe"
"Iyaa... Percayalah Biy. Kalau tidak di turuti rasanya Aku ingin menangis"
"Baiklah Honey, tapi ada syaratnya"
"Syarat? apa?"
"Tidak boleh pergi sendiri. Kau harus diantar oleh sopir, Okey?"
"Hmmm, Yah baiklah" daripada tidak sama sekali, batin Lily.
"Good Girl! Jangan lupa imbalan untukku juga"
David berkata dengan suara berbisik menggoda.
"Imbalan? kenapa harus ada imbalannya?"
Sungut Lily sebal.
"Tentu saja, Honey. Tidak ada yang gratis di dunia ini"
Suara maskulin nan seksi itu terkekeh geli. Menggoda wanita kesayangannya akhir-akhir ini sudah menjadi hobby barunya.
"Hmm.. Ya sudah, apa imbalannya?"
"I wanna Fvcking to You all night!"
"iiiih Daddyyyyy.....! Dasar mesum!"
Pekik Lily dengan wajah merah merona. sungguh malu mendengar kalimat vulgar suaminya, yang dihadiahi gelak tawa dari seberang sana.
"Deal"
Pria itu belum juga puas menggoda istri cantiknya itu.
" Au Ah sebel!"
Ucap Lily sengaja menggunakan bahasa Indonesia, kemudian menutup panggilannya.
Suaminya akhir-akhir ini memang menyebalkan... bagaimana bisa mengeluarkan permintaan tidak tahu malu seperti itu, padahal jelas-jelas setiap malam pria itu selalu menjajahnya hingga berjam-jam. membuat Lily kadang kesal meskipun juga..mm menikmatinya. hihihi
Lupakan!. Sekarang Lily kembali fokus pada masalah Marry. yang terpenting dia sudah mendapatkan izin dari David. Dan bisa segera pergi menemui James.
'Maafkan istrimu ini karena membohongimu Biy, Ini semua demi kebaikanmu' batin Lily memohon maaf pada suaminya.