
Lily kembali dari toilet dengan wajah cemberut. Moodnya benar-benar rusak dan nafsu makannya menguap enta kemana. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi pelanggan dengan kesal, membuat Aston mengernyit bingung.
"Ada Apa?"
"Tidak apa-apa" Jawab Lily singkat, tapi jawabannya jelas berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang sangat terlihat tidak senang.
Disaat yang bersamaan David juga kembali dari arah yang sama.
Seketika Aston memicingkan matanya, dan berkata,
"Apa Tuan Davidson yang menganggumu?"
Pertanyaan dari Aston tentu saja membuat Lily terkejut, dengan cepat wanita itu berusaha tersenyum dan mengatakan,
"Tidak, tidak. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Dia, Aku hanya mendadak kesal karena sesuatu yang pribadi, ini... Masalah perempuan"
Lily menyempurnakan kebohongannya dengan suara berbisik di akhir kalimatnya, Aston pun tersenyum, memahami maksud dari wanita pujaan hatinya itu.
"Aku fikir ada yang mengganggumu, Jika benar maka akan aku buat dia menyesal telah lahir kedunia ini"
"Hemm, jangan berlebihan. Tidak baik"
Aston hanya terkekeh. Tapi ucapannya bukanlah isapan jempol semata.
Karena Dia adalah Aston Elnathan Robinson.
Pria yang di juluki Harimau Putih dari barat di kalangan pebisnis itu memang dikenal dengan tangan dinginnya dalam mengelola raksasa bisnisnya yang menggurita hampir di seluruh penjuru Eropa dan Asia.
Dan tidak sedikit yang tahu bahwa Aston juga memimpin sebuah kelompok mafia yang cukup di segani di benua Eropa.
Laki-laki dengan tinggi 185 cm, tubuh atletis dengan roti sobek yang mampu membuat wanita manapun akan berliur jika melihatnya.
Namun siapa sangka, Lelaki yang sempat di gosipkan sebagai pecinta sesama jenis oleh sebuah majalah bisnis (yang pada akhirnya perusahaan majalah itu hancur tak berbekas), karena sama sekali tidak pernah terlihat bersama dengan pasangan wanitanya itu kini tergila-gila pada wanita yang 5 tahun lalu di temukannya di pinggir hutan dalam keadaan sekarat.
Awalnya pria itu hanya merasa sangat iba. Wanita itu benar-benar mengenaskan dengan sekujur tubuhnya yang penuh dengan luka, bahkan pakaiannya tak lagi utuh. Yang lebih mengejutkannya adalah wanita itu ternyata tengah mengandung meskipun bayinya sudah tidak bernyawa lagi saat di tangani oleh Dokter pribadinya.
Tapi, saat Lily sadar dari komanya yang terjadi selama hampir 2 bulan, dan Aston sendiri yang merawatnya, membuat pria itu lama kelamaan menaruh hati pada wanita itu. Apalagi sikap Lily yang sama sekali berbeda dari wanita -wanita lain yang dengan cepat tergila-gila padanya bahkan tak sedikit yang tanpa malu merayunya.
Lily sangat dingin dan pendiam. Dia selalu berucap bahwa dia akan berusaha membalas semua kebaikan Aston. Dari sanalah, Aston benar-benar merasa Lily adalah wanita idamannya. Wanita yang mampu mengimbanginya, karena Lily juga orang yang tekun dan pekerja keras. Tidak akan mau menerima sesuatu secara instan. Dia hanya mau meraih sesuatu dengan usaha kerasnya. Dan Aston benar-benar menyukai itu.
Apalagi, setelah di ingat-ingat Aston pernah tanpa sengaja bertemu dengan Lily. Yah, saat itu dia sedang terburu-buru dan kemudian menabrak seorang wanita hamil ya g sepertinya sedang menjaga seorang anak perempuan di sebuah taman. Jadi Aston fikir, Lily adalah wanita baik-baik, dan Dia yakin tidak salah jika Dia menjatuhkan hatinya pada wanita yang kini ada di hadapannya itu.
"Pulanglah bersamaku, Aku ingin membeikan sesuatu padamu"
"Sesuatu apa? Jangan membuatku penasaran El"
"Tentu saja ini akan menjadi kejutan, jadi kamu harus penasaran"
Lily tersenyum, wanita itu diam-diam melirik ke arah tempat duduk David, dan ternyata pria itu sudah pergi dari sana. Tapi entah kenapa, ada sedikit rasa kecewa di hatinya. Bukankah seharusnya Ia senang?
Oh ayolah Lily, kenapa kamu sama sekali tidak berubah? tetap lemah jika berhadapan dengan David!
"Lira?"
"Ya?"
"Ada apa, hmn?"
"Tidak ada, sudah kubilang kan, Aku sedang tidak mood karena 'itu' "
"Ya baiklah"
"Hmn... Ayo kita kembali ke kantor, atau pekerjaanku yang menumpuk akan membuatku pulang tengah malam"
"Hahaha kau bisa meninggalkannya atas namaku"
"Issshhh, Aku bukanlah penjilat atasan, Tuan Robinson!" Sungut Lily kesal.
"Ya, ya baiklah. Selesaikan pekerjaanmu, Aku akan menunggu"
Lily berusaha tersenyum dengan tulus.
#
Aston sudah bertengger didepan mobil kesayangannya Rolls Royce Hyperion yang harganya mencapai puluhan milyar.
"Berhentilah bersikap sok romantis El, Kamu membuatku geli"
"Hahahaha, seleramu memang aneh, wanita diluaran sana akan menangis meraung-raung jika aku memperlakukan mereka seperti ini, Nona"
"Dan, sayangnya Aku tidak termasuk dalam gerombolan wanita-wanita itu"
" Yups.. itu sebabnya aku tergila-gila padamu"
"Sudah, Kamu mau mengantarku atau meledekku terus?"
"Tentu saja aku akan mengantarmu, Ratuku"
Ucap Aston seraya membukakan pintu mobil untuk Lily yang lagi-lagi membuat Lily berdecak sebal.
Selama perjalanan, Aston bersenandung ria mengikuti alunan musik yang berputar di audio mobil mewah itu. Sungguh, pria ini menjelma menjadi pribadi yang lain saat bersama dengan Lily, seperti siluman. Di kantor siapapun itu, sampai menahan nafas jika Bos besar ini tiba di kantor dan berjalan melewati mereka. Aura dingin dan kejam menguar di setiap langkah pria itu. Tapi lihat, disamping Lily, Aston seperti remaja gila yang sedang dimabuk asmara.
"Kamu terlihat sangat senang El"
"Yah, tentu saja, besok perusahaan rekanan kita, mengadakan pesta dansa untuk merayakan ulang tahun perusahaannya. Dan tentu saja kita akan datang"
"Kita? Maksudmu Aku juga ikut?"
"Tentu saja Lira, apa kau tega membiarkan tunangan tampanmu ini berjalan sendirian seperti jomblo kesepian?"
Ucap Aston dengan wajah dibuat sedih tapi malah terlihat menyebalkan di mata Lily.
"Ya, Baiklah Tuan tukang perintah!"
"Oh ya! Bukankah Aku mengatakan ingin memberimu kejutan?"
"Ehemmm" jawab Lily manggut-manggut
"Ini, bukalah di rumah. Aku ingin Kamu memakainya saat pesta dansa nanti"
"Apa ini?" Lily membolak-balik paper bag yang masih tertutup rapat itu.
"Lihat saja nanti saat berada di rumah, Okay?"
"Baiklah, terima kasih "
Lily mengangguk paham dan tersenyum lembut kearah Aston.
"Sama-sama"
#
Leon susah payah memapah David yang sudah tak sadarkan diri akibat mabuk berat. Benar-benar melelahkan. Sepanjang perjalanan bosnya itu terus meracau tak jelas. Bahkan sesekali pria itu menangis dengan sangat menyedihkan.
Jujur saja, Leon sangat iba melihat keadaan David yang bukan hanya sekali ini mabuk seperti itu.
Bahkan pri itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit karena terlalu banyak mengkonsumsi Alkohol.
"Honey... Honey..."
Pria yang kini meringkuk di ranjang seperti bayi itu terus bergumam, dan Leon tahu panggilan itu ditujukan kepada siapa.
Tapi, Leon sendiri tidak yakin jika Lily dan David bisa kembali bersama. Melihat sikap Lily yang sangat acuh dan dingin pada bosnya itu, ditambah juga ada Aston yang sepertinya memiliki hubungan khusus dengan Lily...
"Kasihan sekali Anda, Tuan"
Leon menghela nafas berat kemudian menjatuhkan tubuh lelahnya di sofa dekat ranjang David. Biasanya memang begini, Pria yang kini berusia 33 tahun itu akan menunggui David sampai menjelang pagi. Takut jika bosnya itu tiba-tiba nekad terjun dari atas gedung.
Leon kembali melihat David yang sepertinya sudah terlelap, Pria itu pun ikut memejamkan matanya...
Bersambung
Visual Aston Robinson (credit by 📱 Instagram)
ganteng nggak? ganteng dong hahaha