
*Episode ini full adegan kekerasan yah jadi harap bijak dalam membacanya yaa reader ku yang budiman, budiluhur dan budidaya, karena Saya sangat menggemari baku hantam 😂😂
Byuuuuurrrrr'
Pria setengah telanjang yang terikat di sebuah tiang besi diguyur dengan seember air es oleh seorang pria bertopeng yang misterius.
Dinginnya air itu seketika membuat pria yang tak lain adalah Martin tersentak dan seketika membuka matanya. Martin dengan kondisi setengah sadar menoleh kesana-kemari seolah sedang mencari sesuatu.
Tuk tuk tuk
Seorang Pria dengan pakaian rapi lengkap dengan dasi kupu-kupu duduk dengan anggun di sebuah kursi. Kaki jenjangnya bertumpu pada meja, Jemarinya yang langsing namu kokoh itu mengetuk2 bahu kursi yang Ia pakai untuk bersandar. Jangan lupakan cerutu yang ada di bibir tipisnya yang menawan. Pemandangan ini mirip seperti seorang raja yang mempesona namun dengan aura kekejaman yang kental.
Martin memicingkan matanya menatap sosok itu karena pandangannya yang masih buram. Detak jantungnya berdegup kencang, firasatnya mengatakan, sesuatu yang buruk akan segera terjadi padanya..
"Apa tidurmu nyenyak putra kedua Crambhell?"
Tanya lelaki itu, suaranya sensual dan sedikit serak.
"Si-siapa Kau??"
Martin tergagap karena panik. Pria bertopeng di hadapannya tampak berbahaya. Aura bengisnya menguat memenuhi ruangan pengap yang minim pencahayaan itu.
Dan, pria itu memakai topeng. Tidak, tidak hanya pria itu. tapi beberapa orang yang berdiri mengitarinya, Semuanya bertopeng!
"Aku adalah utusan Dewa yang akan memberimu sedikit demi sedikit pelajaran tentang nikmatnya, kematian!"
Perkataan dingin pria bertopeng itu sukses membuat bulu kuduk Martin bergidik ngeri. Dia adalah sejenis psycopat yang keji, tapi pria di hadapannya ini terlihat lebih mengerikan dari seorang psycopat.
Gluek... Pria yang kini terikat itu menelan ludahnya dengan kasar. Kemudian merubah ekspresinya menjadi bodoh.
"Anda, anda mungkin saja salah orang! Saya-saya adalah pendatang baru disini dan tidak pernah terlibat masalah apapun, hehe hehe"
Mendengar ucapan Martin, Pria bertopeng itu langsung menghentikan aktivitasnya dan tiba-tiba mematung. Matanya yang tajam meskipun sedikit tertutup oleh topengnya masih bisa terlihat dengan jelas. Pria bertopeng itu tampak marah.
Brakkkk, Pletak!!!!
Meja yang tak berdosa pun kini terbelah dua dan teronggok mengenaskan di hadapan Martin.
"Aku paling tidak suka kebohongan"
Martin menatap ngeri pada pria yang kini berdiri sembari memainkan sebuah pisau yang terlihat mengkilat seperti pecahan kaca.
"Edrick, sebelum Aku mulai melukis di kanvas 4 dimensi baruku itu, berikan dia kenang-kenangan manis dari jemarimu yang terlatih itu"
"Heheheh dengan senang hati Tuan, Anda sungguh pengertian, tahu saja jika jari-jari saya sedang butuh pemanasan"
"Lakukanlah, Aku akan menonton dengan damai. Ken, ambilkan Aku kentang goreng. Sangat tidak seru menonton film action tanpa makanan ringan"
"Baik Tuan"
Pria yang dipanggil Ken itu segera berlalu mengambil pesanan Tuannya. Sementara Pria yang dipanggil Tuan itu sudah duduk manis dengan satu kaki bersila.
Tak lama kemudian terdengar suara pukulan dan tamparan yang menggema di ruang kedap suara itu.
Plakkk
Bukk bukk bukkkk bukkk
Martin menjelma menjadi samsak tinju bagi Edrick, pria itu mengerang kesakitan tanpa bisa melakukan apapun karena tubuhnya terikat.
"Uhukkk Uhukkk" Cairan kental berwarna merah mengalir dari mulut Martin.
"Pengecut haha haha, kalian semua pengecut. Beraninya cuma pada orang tak berdaya seperti Aku"
Cratt, Martin kembali memuntahkan darah dari mulutnya.
"Lepaskan Aku, Ayo kita bertarung secara jantan, jangan jadi pecundang"
"Hahahaha" Pria bertopeng yang sepertinya adalah pimpinan kelompok itu tertawa keras seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat lucu. Pria bertopeng lainnya pun ikut tertawa, membuat Martin bingung sekaligus merasa takut.
"Seorang pengecut kelas kakap baru saja mengataiku pengecut? Aku rasa pria ini tidak punya cermin di rumah, bagaimana menurutmu Ken?
"Hehehe sepertinya begitu Tuan"
"Baiklah, jika manusia lucknut ini ingin bertarung secara terbuka, maka Kita harus mengabulkannya bukan? Anggap saja ini permintaan terakhir sebelum Dia lenyap dari muka bumi ini"
Pria itu kemudian memberikan kode kepada anak buahnya agar melepas ikatan Martin. Kemudian dia sendiri beranjak berdiri, melepaskan pakaiannya hingga memperlihatkan ototnya yang kuat dan kekar.
Gluek..
Martin Yang belum sepenuhnya terlepas menelan ludahnya kasar. Meskipun dia juga bukan pria yang kurus ataupun gemuk dan cukup berotot tapi jelas bahwa melawan pria dihadapannya kini sama saja menyerahkan nyawanya dengan suka cita.
#
Suara histeris itu bukan berasal dari Martin melainkan Charlotte yang saat ini sedang menyaksikan kekasih hatinya di hajar habis-habisan melalui video live yang sengaja disambungkan melalui jaringan nirkabel.
"Hentikan!!!? Dia bisa mati! lepaskan Dia!
"Hahahaha enak saja. Kami sudah bersusah payah menangkap buruan Kami dan Kau seenaknya meminta Kami melepaskannya"
Pria dihadapan Charlotte yang juga bertopeng tertawa mengejek. Membuat Charlotte merinding ngeri!
"Siapa kalian sebenarnya! Apa mau kalian! Uang??? Aku akan memberikannya sebanyak yangkalian mau. Tapi... tapi... Aku mohon lepaskan kami"
Suara Charlotte mulai melemah diiringi isakan tangisnya, tapi bukannya malah iba, para pria bertopeng itu malah semakin tertawa keras.
"Bos kami mempunyai uang yang lebih banyak darimu Nyonya, kami tidak membutuhkan uangmu"
"La-lalu apa mau kalian?"
"Mudah saja Nyonya, Akui kejahatanmu, semuanya, tanpa ada yang terlewat, setelah itu kami akan melepaskanmu"
"Cuihhh... Jangan Bermimpi! lebih baik Aku mati daripada melakukan permintaan konyol Kalian!!"
hardik Charlotte menantang.
"Oh Ya, baiklah... Jika itu maumu maka, Kami akan mengabulkannya dengan senang hati, lagipula tanpa Kau bicara pun kami bisa membuktikannya"
Charlotte membisu, tapi untuk mengakui semuanya itu juga bukan pilihan yang benar baginya.
""Baiklah Nyonya, Kita akan memulainya dari mana, Aku ini mantan tukang daging, Aku sangat suka menyayat-nyayat hewan yang aku jual, Jadi, bagian mana dulu yang harus aku sayat? wajah? leher? perutmu? atau bagian yang lain, Kamu bisa me-request nya"
Ucap Pria itu seraya mengeluarkan belati yang mengkilat dari balik jaketnya, membuat Wajah Charlotte seketika memucat seperti kertas tissue.
Pria itu berjalan mendekat kemudian mulai mengarahkan ujung belati itu di wajah cantik Charlotte.
Charlotte menahan nafasnya, matanya menatap ngeri pisau yang kini menari-nari dihadapannya.
"Jangan"...
"Kau yang memintanya" Ucap pria itu dan...
Sraaaasssshhh Pisau itu menyayat indah wajah Charlotte hingga menimbulkan garis sayatan yang sangat panjang disertai darah segar yang mengalir dari luka itu.
"Aaarrrrrgggghhh huhuhuhu sakit, Hentikan!"
Wanita itu menangis perih merasakan nyeri yang teramat sangat dari luka di wajahnya.
"Kita lanjutkan ke bagian favoritku yang lain"
Sraaaasssshhh, kini bagian leher yang menjadi sasaran pria bertopeng itu, membuat Charlotte kembali menjerit kesakitan...
"Hentikannn! Aku... Aku akan mengatakan semuanya!Aku akan mengakui semuanya"
"Bagus sekali.... Apa yang mau kau akui Nyonya? katakan?"
Lembut, tapi suara pria bertopeng itu jelas lebih menyeramkan dari mantra pemanggil arwah kuntilanak.
"Semuanya akan aku katakan semuanya, tapi Aku mohon lepaskan Aku dan Martin"
Charlotte kembali menangis saat melihat kekasihnya sudah tergeletak di lantai dengan mengenaskan dari layar monitor di hadapannya.
"Jangan membuat penawaran denganku Nyonya, Katakan, atau .."
"Baiklah-baiklah, Aku akan mengatakannya.
Aku sudah membunuh Sarah dan juga suamiku Arthur. Huhuhuhuuu"
"Itu saja?" Pria itu kembali mengarahkan ujung belati itu di dagu Charlotte membuat wanita itu terpaksa harus mengakui kejahatannya yang lain.
"Aku juga yang telah mensabotase mobil Lily sehingga wanita itu sekarang tewas!!! aku juga yang tidak sengaja membuat Dominic... putraku.... meninggal huhuhuhuuu"
Pria itu tersenyum puas, kemudian Charlotte kembali berteriak.
"Aku tak tahu siapa yang memerintahkanmu tapi Aku melakukan semua ini karena anak haram itu, anak sialan yang dibawa Arthur dari pelacur simpanannya! Emiliano Davidson! Aku membencinya, aku membenci anak haram itu hingga ke lapisan kulit terdalamku! Aku membencinya!!!
Charlotte kembali menangis. Yah, dia mengakui kejahatannya. Tapi dia selalu membenarkan dirinya sendiri. Dia tidak akan melakukan hal-hal keji itu jika saja Arthur tidak memulainya, mulai menyakitinya dengan menolak pernikahan mereka dan berselingkuh dengan wanita yang di cintainya hingga memiliki Anak.
"Aku sangat membenci anak haram itu. Aku membenci Davidson! karena dia aku selalu teringat penghianatan suamiku. Aku selalu teringat dengan wajah pelacur itu!!!!!"
"Tapi Anda juga berselingkuh Nyonya, bukankah Dominic adalah hasil hubungan Anda dengan Martin? Lalu apa bedanya Anda dengan Suami Anda?
Charlotte menganga, Bagaimana bisa pria dihadapannya itu mengetahui tentang identitas Dominic?
Bersambung