
"Tidak bisakah Kamu mengerti, bahwa apa yang aku lakukan adalah karena aku sangat mencintaimu Dave" Ucap Marry yang kini tak mampu menahan air matanya lagi.
"Omong kosong. Cinta seperti apa yang kau maksudkan itu? Itu bukanlah Cinta Marry, tapi obsesi. Kau hanya terobsesi padaku. Kalau Kau benar-benar mencintaiku, Kau tidak akan melakukan hal rendah seperti itu untuk memisahkan Aku dengan Sarah"
"Kau masih mencintainya? Dia sudah tiada Dave"
"Tentu saja tidak. Aku sudah menghapus Perasaanku padanya semenjak dia memutuskan menikah dengan Dominic, tapi bukan berarti aku berhenti membencimu Marry. Lagi pula aku sudah menemukan belahan jiwaku saat ini" Jelas David berterus terang.
"Belahan jiwa? Apa maksudmu?"
"Aku sudah menikah, dan... Sebentar lagi kami akan memiliki seorang bayi" Jawab David tersenyum puas.
"Bohong. Kau pasti sedang berbohong" Balas Marry tak percaya.
"Terserah padamu Nona Maribeth Johnson, Aku sungguh tidak perduli kau mau percaya ataupun tidak" Ucap David tajam dan dingin.
"Apa Aunty Charlotte tahu?"
"Tentu saja, Kau boleh bertanya padanya tentang pernikahanku. Sekarang pergilah. Aku rasa tidak ada hal penting yang ingin Kau katakan padaku, jadi berhentilah menggangguku!" Usir David dengan kejam dan berlalu begitu saja meninggalkan Marry yang masih terpaku.
'Dave sudah menikah? Dan Aunty mengetahuinya? Bagaimana mungkin?' Batin Marry bermonolog. Tak mau semakin bodoh karena ketinggalan informasi, Ia segera bangkit dan pergi dari Perusahaan David itu untuk menemui seseorang.
"Halo, James. Temui aku sekarang di tempat biasa. Ada hal penting yang harus aku sampaikan"
Setengah berlari, Marry menuju Lift untuk segera turun ke Lobby.
'Bagaimanapun caranya, Dave dan siapapun itu istrinya, jika benar Dave sudah menikah, mereka harus segera dipisahkan. Apapun caranya' Batin Marry yang terlihat serius saat ini.
--++++-----
"Huuuuft akhirnya... kita sampai juga di rumah, Mommy, Aku sangat lelah" Seru Alice yang benar-benar tampak kelelahan.
Yah, bagaimana tidak lelah, selama lebih dari 2 jam mereka berkeliling untuk berbelanja ria.
"Mommy juga lelah Lengloi"
"Ups. I'm so sorry Mommy, karena Aku Mommy jadi kelelahan. Apakah Adik bayi peanuts baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa sayang, Adik bayi baik-baik saja. Apa kau lapar?"
" Ya, Mommy, sangat lapar! " Seru Alice lucu seraya mengelus-elus perutnya sendiri.
"Mommy juga, bagaimana kalau kita makan Mie Ramen dengan bakso ikan dan daging sapi?"
"Heeuuummm sepertinya sangat enak"
"He'embh... Mommy pesan sekarang yah"
"Oke Mommy" seru Alice antusias.
"Baiklah, sekarang Alice mandi dulu sambil menunggu pesanan kita sampai, Okay?"
"Okay, Mommy"
"Anak pintar" Puji Lily kemudian mengecup singkat pipi tembam Alice, gadis itupun langsung menghambur ke kamar mandi, sementara Lily bangkit untuk menyiapkan handuk dan pakaian ganti untuk Alice.
Setelah itu Ia membereskan belanjaan mereka dan menatanya ke dalam lemari kosong yang ada dikamar lamanya.
Yups. Sekarang David dan Lily sudah tidur dalam satu ranjang bahkan rutin melakukan piket malam.
Ditengah aktivitasnya yang tengah menata berbagai jenis pakaian dan pernak-pernik bayi yang baru saja Ia beli, tiba-tiba gawainya berdering.
'Daddy'
"Halo Daddy"
"Hai Honey, apa yang sedang kamu lakukan sampai melupakan suamimu yang tampan ini?"
"Aku memang tampan Honey, kau tidak boleh mengingkari kenyataan itu" Ucap David dengan tidak tahu malunya.
"Yah, baiklah baiklah suamiku yang sangat sangat sangat tampan hehe"
"Terima kasih pujiannya Nyonya Davidson, sekarang katakan padaku apa yang sedang kamu lakukan sampai melupakan Aku, Honey"tanya David dengan suara dibuat merajuk seperti anak kecil. Sangat tidak cocok dengan jambang yang melekat di wajahnya.
"Maafkan Aku Daddy, Peri kecil mengajakku berbelanja di mall Daddy, untuk membeli pakaian bayi" Jawab Lily terus terang.
"Pakaian bayi? Alice? yang benar saja, anak itu ada-ada saja tingkah lakunya"
"Yah, dia sangat antusias dan bersemangat. Kamu akan tertawa kalau melihat kelucuannya memilih pakaian" Ucap Lily yang tiba-tiba tertawa saat Alice memaksa dan terus merengek pelayan mencopot pakaian anak dengan model Baby Sharks yang sedang dikenakan pada boneka pajangan disana.
seperti Ibu-ibu yang sedang mengidam. Alice hanya mau pakaian yang sedang d pakai itu. tidak mau yang lain Meskipun modelnya sama. Sangat aneh bukan?
"Aku senang karena Alice tidak cemburu pada Baby peanuts, Honey"
"Aku rasa tidak Daddy, dia bahkan lebih bahagia daripada kita"
"Syukurlah. Oh ya.. apa Kamu sudah makan Honey?"
"Belum, tapi Aku sudah memesan makanan. Daddy, jangan khawatir"
"Baguslah. Kalau begitu cepat makan begitu pesanan kalian sampai. Hari ini aku pulang sedikit larut, Okey?"
"Baiklah, hati-hati Daddy, Kamu juga jangan terlambat makan"
"Pasti.. terima kasih sudah mengingatkan, Love you so much My Sexiest"
"Hihihi, Love you more My Hot Boss" Ucap Lily yang seketika mengundang gelak tawa David.
"Hahaha, bye Honey"
"Bye"
Panggilan pun berakhir. Lily masih tak percaya jika kini Bos nya menjadi suaminya dan begitu menyayangi dirinya.
"Terima kasih Ya Allah atas kebahagiaan yang Engkau limpahkan kepada Hamba-Mu yang masih sangat jauh dari kata taqwa ini" Ucap Lily memanjatkan syukur.
Sementara David yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya dengan Lily, kembali mengingat pertemuannya dengan Mary beberapa saat lalu.
David masih tidak mengerti bagaimana Marry bisa mengetahui keberadaannya di Kota ini. Padahal hanya Ibunya, Nyonya Charlotte Crambhell yang mengetahui Alamat apartemen dan perusahaannya. Jangan bilang Marry juga sudah mengetahui Apartemennya.
Apa Ibunya yang memberitahu Mary? Tidak. Itu tidak mungkin. Ibunya adalah orang yang sangat bisa dipercaya, dan lagi Beliau seperti nya tidak begitu mengenal Mary, kecuali saat kasus skandalnya dengan Mary di masa lalu.
Lalu dari mana Mary mengetahuinya?
Kemudian David memanggil Leo kedalam ruangannya melalui pengeras suara pada sambungan nirkabel ruangannya.
"Ada yang bisa Saya bantu Tuan Dave?"
"Ya, Leon. Selidiki dan sekaligus Awasi gerak-gerik Marry. Saya sudah kecolongan dengan Dia mengetahui tentang perusahaan ini. Dan satu lagi, saat di Pesta tuan Albert Chan, Marry datang bersama James. Cari tahu apa yang mereka lakukan dan rencakan disini"
"Baik Tuan"
"Dan ingat satu hal Leon. Mary adalah wanita yang cerdik. Jadi usahakan jangan sampai dia tahu bahwa kita mengawasinya"
"Tentu, Tuan. Semua akan berjalan sesuai perintah Anda" Ucap Leon dengan senyuman yang seketika dipahami oleh David.
"Bagus. Kau memang selalu bisa diandalkan Leon" Puji David kemudian memberi kode bahwa Leon boleh keluar dari ruangannya.
Leon pun bergegas ke luar setelah memberi hormat pada atasannya itu.
"Kita lihat saja Mary. Apa yang sedang kamu rencakan, tidak akan pernah aku biarkan terjadi. Apalagi jika menyangkut keluargaku" Ucap David dengan seringai devilnya.
Bersambung