My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
SAH!!! (END)



"I ACCEPT HER MARRIAGE AND WEDDING :


LILY RAHMAWATI DAUGHTER OF MR. AHMAD SANUSI WITH THE DOWRY MENTIONED ABOVE IN CASH."


David mengucapkan Qabul Akad nikahnya dengan lantang dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana, kedua saksi? sah?"


Penghulu yang adalah seorang ustadz asal Indonesia itu bertanya kepada kedua saksi yang hadir.


"Sah!!"


"Alhamdulillahirabbil'aalamiin...Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih"


Aamiin,


Setelah itu penghulu mempersilahkan mempelai wanita yang duduk di tirai pembatas untuk menuju ke meja akad menandatangani sertifikat pernikahan dan menerima buku nikah.


Lily didampingi Diva dan Ibundanya tampak sangat cantik dan menawan dengan balutan kebaya pengantin modern masih dengan ciri khas Indonesia.



David begitu terpana melihat pujaan hati yang kini sudah sah menjadi istrinya. Dia merasa tidak salah meminta bantuan Elena untuk memilih gaun pengantin untuk Lily. Istrinya benar-benar cantik.


Lily tersenyum malu-malu melihat David yang sejak tadi tidak berkedip menatapnya. Hingga wanita itu duduk di samping suaminya pun David masih terpaku di tempatnya, membuahkan tawa kecil dari para tamu yang hadir.


"Tuan Davidson" Akhirnya pak penghulu yang tidak tahan memanggil David agar acara ini dapat dilanjutkan ke acara-acara selanjutnya.


"Ya?"


"Saya persilahkan untuk menyematkan cincin di jari manis mempelai wanita"


"Oh, ya... terima kasih"


David dengan senyum cerahnya, menyematkan cincin pernikahan di jari Lily, begitu juga sebaliknya Lily pun melakukan hal yang sama.


Selanjutnya Acara dilanjutkan dengan sesi foto dan makan bersama. Acara akan berlanjut hingga resepsi malam hari nanti.


Malam harinya,




Suara tepuk tangan riuh para tamu yang hadir di wedding party Presdir D.L dan Crambhell Company, Emiliano Davidson dan Lily Rahmawati Davidson, membuat suasana pesta semakin meriah.


Kedua mempelai terlihat sangat bahagia begitu juga orang-orang di sekitarnya, terutama orang-orang terdekat yang mengetahui sejarah percintaan mereka yang penuh duri dan luka.


Akhirnya kedua manusia yang saling mencintai itu dipersatukan kembali dalam ikatan pernikahan yang suci.


Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka berdua hingga akhirnya hayatnya. Kira-kira begitulah doa dari keluarga dan sahabat yang hadir di pesta mewah dengan tema serba violet itu.


Acara demi acara berjalan dengan baik dan meriah,


Di tengah hingar-bingarnya ternyata ad seseorang yang hatinya patah. James yang di tolak oleh Fany.


"Kita berteman saja Tuan James, lagipula setelah ini Aku akan kembali ke Indonesia dan melanjutkan hidup yang baru di sana. Selamat tinggal. Aku yakin Kamu akan bahagia seperti Lily dan Tuan Davidson suatu saat nanti"


Fany tersenyum kemudian berlalu meninggalkan James yang terpaku, kembali ke meriahhnya pesta dan menghampiri Ibu serta Adik Lily.


Sementara Leon yang juga sangat berbahagia terus melihat ke arah David dan Lily yang kini tengah berdansa, Dia tersenyum lebar sampai tepukan dari seseorang membuyarkan lamunannya.


"Kau tidak ingin seperti mereka?"


Lagi-lagi Aston yang datang bersama Rosie merusak suasana hati Leon yang tengah berbunga-bunga menjadi layu seketika.


"Sebaiknya Anda yang segera menyusul Tuan Aston, tidakkah Anda kasihan pada Pasangan Anda ini?"


Sarkas Leon sinis kemudian berlalu meninggalkan Aston dan Rosie yang cekikikan.


"Kau sangat jahat Aston"


"Haaah, Aku hanya iseng Ros"


Jawaban Aston membuat Rosie hanya menggeleng pelan,


"Daddy, Aku ingin makan cake itu!!!"


Angel yang datang bersama Jean menghampiri kedua pasangan itu menunjuk ke arah kue-kue di meja hidangan yang terlihat sangat menggoda.


"Oke Sweetie, Let's Go"


Aston meraih Angel ke dalam gendongannya kemudian berjalan menuju ke arah kue-kue itu seraya menggandeng Rosie juga. Pemandangan itu tentu saja membuat Jean ikut bahagia, Akhirnya Aston bisa membuka pintu hatinya untuk Rosie.


Sementara itu, Leon yang otaknya masih mendidih berjalan ke arah bartender untuk meminta minuman segar agar bisa mendinginkan otaknya.


Ini adalah pernikahan dengan tamu undangan dari berbagai kalangan, jadi Leon juga menyediakan mini bar untuk para tamu yang tentu saja mengkonsumsi alkohol.


"Hai Tuan Leon, sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik"


Tanpa diduga orang yang membuat Leon mendapatkan mood yang buruk tiba-tiba muncul, Elena.


Entah karena efek wine yang dia minum atau karena diselimuti rasa kesal Leon tiba-tiba berkata.


"Nona Elena, Menikahlah denganku"


"Apa kau.... sinting??"


Elena dengan kesal meninggalkan Leon.


"See?? Yah Aku memang sinting, Semua orang di sini sinting, terutama sepupumu itu (maksudnya adalah Aston)"


Leon menenggak habis wine nya. Suasana hatinya bertambah buruk karena di tolak secara blak-blakan, dikatai pula. Lengkap sudah.


***


(21+ yang sopan dan bersahaja)


Pesta sudah berakhir, Semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, hanya David dan Lily yang masih tinggal di kamar Hotel tempat resepsi mereka diadakan.


Lily baru saja selesai membersihkan diri, Wanita itu terkejut melihat David yang duduk di tepi ranjang seraya melihatnya dengan tatapan kagum dan....lapar.


Sikap David itu tentu saja membuat Lily bertambah gugup, wanita itu hanya menunduk dan langsung berjalan ke arah meja rias yang ada di sudut kamar.


"Biar aku yang mengeringkan rambutmu, Honey"


David dengan cepat meraih hairdryer, pria itu sedikit membungkuk ke arah istrinya. Namun, bukannya mengeringkan rambut Lily, David malah menurunkan bathroob mendaratkan kecupan di punggung mulus Lily yang terekspos dengan nyata. Membuat Lily mencengkeram erat meja riasnya merasakan kembali sensasi panas dan dingin yang pernah dirasakannya dulu.


"Dave..."


"Hmn?..."


"Apa yang kamu lakukan?"


"Memakanmu"


David bergumam pelan tanpa lepas dari kegiatannya menyusuri kemolekan yang ada didepannya.


Dengan pelan pria itu menuntun Lily agar berdiri sejajar dengannya hingga Lily yang tadinya berdiri membelakangi David kini berhadapan dengan suaminya itu hampir tanpa jarak.


Lily bisa melihat kilatan api dari mata sebiru lautan milik Suaminya. Wanita itu bertambah gugup saat merasakan aroma mint di indera penciumannya semakin mendekat, Secara naluriah Lily memejamkan kedua matanya.


Seperti mendapat lampu hijau, David tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk segera memburu bibir manis istrinya yang sudah sangat lama Ia rindukan.


Ciuman yang tadinya berlalu dengan lembut berangsur menjadi lebih membara dan panas bak magma pegunungan.


"Mmmhhh..." Suara indah itu lepas dari bibir Lily, membuat David semakin bersemangat. David menanggalkan bathroob milik Lily hingga lepas sempurna menyajikan pemandangan indah yang membuat David dengan cepat menerkam istrinya.


"Oh my God!!!" Pekikan David seketika membuat Lily terkejut.


"Ada apa Dave??"


"Kakiku... Honey" David merasakan nyeri di kakinya karena terlalu bersemangat ingin melahap sajian didepan matanya.


Lily menggeleng pelan dan tersenyum.


"Makanya jangan terlalu bersemangat, Kamu belum sembuh betul. Padahal di pesta saja kamu lebih banyak duduk Dave"


David menjadi muram. Namun saat melihat supplement kesehatan yang menggantung indah di bagian depan tubuh istrinya itu, tiba-tiba Pria itu tersenyum misterius dan menatap istrinya.


"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Lily yang masih belum menyadari jika dia duduk dengan tubuh polosnya yang masih terekspos.


"If I can't, then you will lead me honey" David melebarkan senyumnya.


"Maksud Kamu?" Belum terjawab pertanyaannya ,David tiba-tiba mengangkat tubuhnya dengan mudah seperti kantong kresek hingga tiba-tiba Lily sudah terduduk di atas tubuh suaminya itu.


"Dave...!!! Lily terpekik kaget


" Lead me, Baby..."


"Aku...."


"I'll help you, go ahead..."


Dengan penuh semangat David memburu perpotongan leher istrinya membuat Lily terkejut namun sedetik kemudian mulai terbuai dengan kelihaian David memberikan stimulasi indah di setiap jengkal tubuhnya.


Dengan hati-hati David mengangkat sedikit tubuh istrinya untuk melakukan penyatuan.


"Dave..."


Lily meringis saat merasakan benda keras itu menyeruak masuk kedalamnya, dengan lembut David membantu Lily bergerak berirama menciptakan lulabi indah yang selalu menjadi lagu favoritnya itu.


"mmmmmh.... Dave...."


"Yes Baby, Call me like that...."


Kamar itu bergemuruh dengan suara nyanyian cinta yang bersahut-sahutan hingga yang mendengar mungkin saja akan merasa malu.


kedua pasangan itu saling melilit dan merambat seperti tanaman melon.


Hingga mereka berdua sama-sama mencapai kenikmatan surga dunia secara bersamaan, dan ambruk karena kelelahan.


"I love you so much, Honey...."


"Love you too, My Hot Boss"


David memeluk erat tubuh istrinya, pasangan itu bersama-sama menjemput mimpi indah dengan saling berpelukan hingga pagi menjelang...


End