
"Nyonya Charlotte yang terhormat, Apa menguping sekarang menjadi hobby baru Anda?"
"Hehehe, tidak perlu ketakutan seperti itu menantu, Aku hanya kebetulan mendengar, jadi kau tidak perlu merasa risau"
"Oh tentu Nyonya, tidak ada yang saya risaukan sama sekali. Tapi, bolehkah Saya memberi sedikit nasihat untuk Anda?"
Charlotte mulai terpengaruh dengan cara bicara Lily yang terdengar sangat menyebalkan. Wanita itu pun tak lagi membalut wajahnya dengan pura-pura tersenyum.
"Baiklah, Aku ingin mendengar nasihat apa yang ingin kau katakan, menantu?"
"Hemm, Nyonya tidakkah Anda merasa jika mungkin saja umur Anda tidak lama lagi? Maksudku, Anda sudah tua, bukankah bertaubat akan menjadi pilihan terbaik untuk bekal anda nanti menghadap Tuhan? Apa yang akan Anda katakan pada malaikat maut jika tiba-tiba dia mencabut nyawa Anda saat sedang berbuat kejahatan? Jadi, nasihat saya adalah... Pergunakanlah masa-masa usia Anda yang sudah menua ini untuk berbuat kebaikan, belajar agama misalnya, atau perbanyak sedekah dan ibadah juga bisa menjadi opsi lainnya"
Terang Lily panjang lebar, membuat Wanita di depannya berang bukan main. Berani-beraninya wanita kalangan rendah dihadapannya itu menyumpahi dirinya dan mengatakan dirinya tua? Kurang ajar!
"Lidahmu ternyata sangat tajam menantu"
Desis Charlotte dengan tatapan sengit.
"Itu baru pemanasan, Ibu mertuaku"
Balas Lily dengan bangga.
"Honey!! Dimana kopinya!" suara bariton kesayangan Lily itu membuyarkan perseteruan dingin dua wanita beda usia itu.
"Suamiku sudah menunggu, istirahatlah Nyonya, setidaknya istirahat lebih awal bisa mengurangi keriput diwajahmu"
Ucap Lily dengan senyum puas. rasain! Baru tahu kan kalau emak-emak Indonesia anti di bully!
Lily pun berlalu menuju dapur, meninggalka mertuanya yang sudah merah padam menahan amarah.
Selesai membuat kopi, Lily pun berbalik hendak kembali ke kamarnya, dan...
Pyuuurrr
"Awwww panas! Panas! Oh My.... tanganku terbakar"
Lily terkejut bukan main, Ibu mertuanya yang dermawan tengah bergulung seperti ulat bulu dihadapannya.
Bukan hanya Lily, David pun segera berlari menuju dapur saat mendengar suara teriakan Ibunya, begitu juga dengan Alice.
"Ada apa? Mom?"
"Ada apa Granny?"
Alice dan David bertanya secara bersamaan. Sementara Charlotte dengan pandainya memasang wajah yang sudah basah dengan air mata.
"Aku tidak tahu, baru saja aku masuk ke dapur dan menyapa Lily, entah dia sedang melamun atau bagaimana, kopi yang sangat panas itu menyiram tanganku"
David dan Alice saling pandang, kemudian segera memapah Nyonya Charlotte yang tangannya tampak memerah. Sementara Lily masih mematung, belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
"Granny, Aku yakin Mommy tidak sengaja"
"Ya, Mom, Lily pasti tidak sengaja, iya kan Honey?"
David mengalihkan pandangannya ke arah istrinya,
"Ya? Oh... Ya Tuhan, Mommy maafkan Aku, Aku sungguh ceroboh"
Seru Lily dengan ekspresi wajah yang sangat menyesal.
"Aku minta maaf Daddy, sungguh Aku tidak sengaja, Aku sedang tidak fokus barusan"
"Tidak apa-apa, Honey, ayo kita segera obati luka Mommy"
"Yah, Ayo Mom, sekali lagi Aku minta maaf ya"
"Hemmm, tidak apa sweetie, jangan terlalu difikirkan"
Ujar Nyonya Charlotte berusaha memaksakan senyumnya. Lily pun membalas senyuman itu tak kalah manisnya.
David bergegas mengambil kotak P3K yang tersimpan di lemari ruang tamu kemudian memberikannya pada Lily.
"Terima Kasih, Daddy"
Lily pun dengan cekatan menuangkan obat ke lapas dan mengoleskannya ke tangan Nyonya Charlotte yang melepuh.
"Auuuww perih, Oh my God apa yang kau lakukan!" Pekik Charlotte saat merasakan sensasi panas dan perih luar biasa dari luka bakarnya.
"Aku mengoleskan obat Mom"
"Obat apa yang kamu berikan? kenapa sangat perih?!!!"
"Alcohol??? kau menggunakan Alcohol? What the fvck!"
"Mom???" David terkejut mendengar pertama kali ibunya mengumpat kasar, apalagi ada Alice disana. David pun memberi kode pada putrinya itu untuk masuk ke kamar.
"Sorry, son! rasanya sangat perih Aku tidak sengaja berkata demikian"
Kali ini Charlotte benar-benar menangis karena rasa sakitnya ternyata ngga bohongan.
"Maaf Daddy, Aku pikir ini obat untuk luka seperti itu, aku biasa menggunakannya saat tergores pisau, memang sedikit perih, tapi..."
"Ini luka bakar, Honey.."
"Aku... tidak tahu Daddy, maafkan Aku"
"It's Okay, Honey"
David mengangguk pelan sebagai tanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Dave, bawa Mommy ke dokter, Mommy tidak tahan! ini Perih sekali!"
"Yes Mom, Oke! Kita pergi sekarang. Honey Kau di rumah saja ya, jaga Alice, Okey? Aku pergi dulu"
"Oke, Daddy, Hati-hati"
"Cepatlah Dave!" Seru Nyonya Charlotte yang sudah sangat muak melihat drama romantis di hadapannya.
"Oke Mom, Come On!"
David pun bergegas memapah Nyonya Charlotte berlalu meninggalkan Lily yang diam-diam tersenyum puas disana.
"Mom! Aku benar-benar minta maaf " Lagi, Lily seperti belum usai menggoda mertuanya itu.
Charlotte hanya melirik sinis dengan tatapan membunuh ke arah menantunya itu dan...
Blam
Mertua dan juga suaminya menghilang di Balik pintu.
Lily tersenyum bahagia, Bisa membalas rubah tua yang licik itu.
Namun, Lily tidak menyadari bahwa Charlotte bukanlah lawan yang sembarangan, sama sekali bukan tandingannya.
Sikap Lily yang terlalu frontal bukan tidak mungkin malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri, yang akan Ia sesali.
Jangan sampai Lily mengulangi kesalahan yang sama seperti Sarah. Terlalu gegabah.
Menghadapi ular berbisa tidak bisa dengan tangan kosong, harus ada alat yang tepat untuk bisa melawannya, dan yang harus dilakukan bukanlah langsung menyerangnya, melainkan menghilangkan 'bisa'nya terlebih dulu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ternyata Nyonya Crambhell itu sangat mengerikan"
Gumam seorang pria yang sepertinya baru saja mendengarkan sebuah audio, dilihat dari headphone yang masih terpasang cantik di telinganya.
"Halo"
Ucap pria yang tak lain adalah Leon pada seseorang di seberang sana yang baru saja ia hubungi.
"Martin?"
"....."
"Baiklah, tidak perlu khawatir, lakukan pengawasan seperti biasa, jangan terlihat mencurigakan dan satu lagi, Aku juga ingin kamu menjaga seseorang mulai sekarang"
"......"
"Nyonya Davidson dan Juga Nona Johnson karena Aku yakin Martin si cabul itu tidak akan melepaskan kedua wanita itu, sebab itu dia menyusul Nyonya Crambhell kemari"
"......"
"Terima kasih, bekerjalah dengan baik"
Leon menutup panggilannya. Kemudian beranjak ke arah jendela kaca yang tak tertutup tirai, melemparkan penglihatannya menikmati pemandangan malam yang indah di kota Hongkong.
"Martin, Martin. Sayang sekali kau datang kemari, hanya untuk mengantar nyawamu padaku, kau hanya akan mati konyol di tanganku!" Ucap Leon seraya menyesap lembut wine ditangannya.
Martin tidak pernah tahu, mungkin dia bisa dengan mudah membunuh Robert Chan yang sudah berusia lanjut. Namun tidak dengan putra dari pria itu. Leon Lin Yi, kepala Gangster, Guangzhou China dengan segala kecerdasan dan kemampuannya yang memukau.
Bersambung